
Saat ini suasana hati team Yardan sedang kesal karena pelaku utama pembunuhan seorang wanita di salah satu kamar Motel D telah melarikan diri ke luar negeri.
"Haish, pintar sekali taktik pembunuh itu," ujar detektif di tim Yardan. "Bisa-bisanya dia menyewa semua kamar di lantai dua agar mayat perempuan yang dia bunuh -lama untuk ditemukan. Dan saat sudah ditemukan, pelaku itu sudah berada di luar negeri."
Yardan hanya diam saja tidak menanggapi ocehan bawahannya itu. Otak cerdas Yardan mulai memikirkan ulang kasus yang sedang dia tangani saat ini.
Penampakan Yardan yang saat ini sedang serius malah semakin menambah ketampanannya berkali-kali lipat. Bahkan asisten lelaki itu pun ikut terpesona oleh aura maskulin yang selalu menguar dari sosok Yardan.
"Ini, Pak," ucap Dilla perhatian kepada atasannya itu.
Dilla adalah asisten Yardan yang sengaja bekerja di bidang hukum karena dia ingin mengejar duda tampan itu.
Padahal Dilla adalah anak seorang pengusaha kaya raya, namun karena rasa cintanya sangat besar untuk Yardan membuatnya rela bekerja di bidang hukum seperti ini.
Meski gaji yang didapatkan oleh Dilla tidak seberapa dibandingkan dengan uang yang terus masuk ke dalam rekeningnya setiap hari, akan tetapi gadis itu dengan suka rela bekerja di bidang ini.
"Hemph, percuma saja kita menyelidiki kasus tadi kalau ujung-ujungnya tidak bisa menangkap pembunuh itu," celetuk Ardi yang merupakan detektif yang berada di bawah naungan Yardan.
Brakk!
__ADS_1
Yardan yang sedang makan tiba-tiba menggebrak meja di depannya.
Dua rekan teamnya langsung kaget dengan sikap atasannya itu.
Sang detektif yang tadi sedang nyerocos pun langsung terdiam.
"Sudah berapa lama kau menjadi seorang detektif di kejaksaan?" tanya Yardan dengan raut wajah dinginnya.
Detektif itu hanya terdiam karena dia tidak berani menjawab.
"Kalau kau merasa bahwa semua penyelidikan kita tadi itu sia-sia, resign saja kamu!" titah Yardan tegas.
"Maaf, Pak," cicit detektif itu yang bernama Ardi.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Apa kamu tidak merasa janggal dengan latar belakang pelaku itu?"
Sang detektif masih diam ....
"Dia itu orang dari kalangan bawah, tapi dia mampu menyewa semua kamar di lantai dua motel itu. Lalu sekarang dia kabur keluar negeri. Coba kamu pikir! Itu uang dari mana?" terang Yardan.
__ADS_1
Detektif itu serasa ditampar secara tak kasat mata oleh Yardan.
"Cepat selesaikan acara makan kalian! Kita akan melanjutkan penyelidikan lagi," tutur duda tampan itu yang langsung pergi meninggalkan mangkuk makannya yang masih belum habis dia santap.
"Baik, Pak," jawab keduanya.
Dilla secara tergesa-gesa menyusul Yardan yang pergi duluan, sedangkan Ardi yang kebagian untuk membayar biaya makan mereka bertiga pagi ini.
Plakk!
Ardi menampar mulutnya sendiri.
"Bodoh," omelnya pada diri sendiri. "Bisa-bisanya kamu ngeluh di depan Jaksa."
Setelah merutuki dirinya sendiri, Ardi segera bangkit dari duduknya dan membayar biaya makan mereka bertiga, lalu menyusul rekan lainnya yang sudah berjalan lebih dulu.
***
Di rumah Hayra ....
__ADS_1
Saat ini gadis itu sedang melakukan perawatan wajah dan tubuhnya di klinik kecantikan pribadinya bersama dengan Harris yang tadi datang berkunjung ke rumah ini.
Harris masih mesam-mesem saat melirik ke arah Hayra karena teringat dengan perkataan Pamannya tadi yang bilang bahwa dirinya akan dilamar oleh kedua orang tua gadis itu untuk menjadi suami Hayra.