
Di sebuah sekolah menengah atas yang bangunannya sangat besar dan mewah, banyak sekali muda-mudi yang sedang merayakan hari kelulusannya di sekolah ini.
Mereka pun saling berfoto bersama layaknya mahasiswa yang baru di wisuda.
Kedua orang tua atau kakak adik mereka pun turut hadir di acara kelulusan ini yang memang sengaja diadakan saat malam hari.
Sepulang dari acara kelulusan itu, Hayra yang merupakan pemeran utama di cerita ini ditanya oleh kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu abis lulus SMA mau melanjutkan kuliah ke Universitas mana?" tanya Papa Reynaldi selaku ayah kandungnya Hayra.
"Mama sudah siapin uang sebanyak 500 juta khusus untuk proses masuknya kamu ke Universitas yang kamu inginkan. Kamu tinggal sebut saja ingin kuliah di mana? Jika nilai-nilaimu tidak mencukupi untuk masuk Universitas itu, uang Mama sama Papa yang akan berbicara dan menghandle semuanya," ujar Mama Anyelir selaku ibu kandungnya Hayra.
"Aku nggak mau kuliah, Ma, Pa," jawab Hayra dengan senyum yang mengembang.
"Kenapa?" tanya kedua orang tuanya Hayra kompak.
__ADS_1
"Eh," kedua orang tua itu saling berpandangan dan berdehem untuk menenangkan jiwa mereka yang baru saja sedikit terguncang.
"Hayra sayang, kamu mau langsung mulai merintis bisnis kah?" tanya Papa Reynaldi yang masih berpikiran positif thinking dengan jawaban anaknya barusan.
"Nggak juga," geleng gadis itu yang masih mesem-mesem tidak jelas.
"Lalu kamu mau apa dong?" tanya Mama Anyelir yang belum bisa menebak dengan pasti keinginan atau tujuan hidup anak semata wayangnya itu untuk saat ini. "Lanjut kuliah bukan, merintis bisnis juga bukan."
"Jangan bilang kalau kamu mau mencari jati diri dan berkelana ke seluruh dunia," tebak Papa Reynaldi yang kini hatinya sudah mulai was was karena takut anak kesayangannya itu akan mulai kelayapan meninggalkan kedua orang tuanya di rumah. "Tidaaaaaak," pekik Papa Reynaldi lebay. "Kamu nggak boleh lakuin hal itu, Sayang," tuturnya dengan air mata yang hampir bercucuran saking sedihnya jika tebakannya itu benar.
"Syukurlah," ucap Mama Anyelir yang langsung memeluk erat tubuh Hayra saking terharunya. "Mama kira kamu mau pergi ninggalin kita."
"Ma, Ma, sesak, Ma," cicit Hayra yang tidak bisa bernapas saking kuatnya pelukan Mama Anyelir.
"Eh, maaf, maaf, Sayang," tutur Mama Anyelir yang sangat merasa bersalah sembari mengecek kondisi tubuh anaknya apakah baik-baik saja atau tidak.
__ADS_1
"Hm," jawab Hayra singkat yang kini sedang sibuk mengatur napasnya agar normal kembali.
Setelah keadaan Hayra normal kembali dan lebih tenang, Papa Reynaldi mulai bertanya lagi tentang tujuan anaknya di masa mendatang yang masa depannya masih panjang membentang bak samudra luas di segitiga bermuda.
"Aku mau nikah muda, Ma, Pa," jawab Hayra dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya.
"Oh~ mau nikah muda toh, kirain apa," sahut Mama Anyelir.
"Iya, kirain apaan, udah bikin was was aja kamu, Ra," cakap Papa Reynaldi.
Sedetik kemudian, kedua orang tua itu baru sadar akan keinginan Hayra yang sebenarnya tidak biasa itu.
"Apah?!" pekik kedua orang tua Hayra kaget karena gadis kecil mereka sudah ingin menikah di usianya yang masih terbilang belia seperti ini.
Bersambung ....
__ADS_1