
"Itu lho, Sayang, yang ajep-ajep," jelas Papa Reynaldi yang sudah tidak karuan penjelasannya entah lari ke mana-mana.
"Ajep-ajep?" lirih Hayra yang kini makin pening karena harus mencocokologi antara celap-celup dengan ajep-ajep. "Ajep-ajep kan joget-joget, Pah," celetuk gadis itu.
"Iya, Sayang." angguk Papa Reynaldi. "Joget-joget di atas ranjang sambil piiip piip piip piiiiiip," ucapan lelaki tua itu yang langsung disensor secara mandiri oleh dirinya sendiri.
"Idih pake disensor segala," kesal Hayra yang kini sudah melemaskan tubuhnya, saking lelahnya otak dan tubuh gadis itu setelah barusan berusaha keras memeras otak minimalis nya untuk memecahkan teka-teki paling sulit di dalam hidupnya saat ini.
"Masa kamu nggak paham-paham sih, Sayang," gemas Papa Reynaldi dan Mama Anyelir.
"Ya, gimana mau paham," protes Hayra kesal. "Wong Mama sama Papa ngejelasinnya gaje banget."
"Masa kamu nggak paham celap-celup sih, Sayang," ucap Papa Reynaldi mempertanyakan kembali.
"Dah ah~ Aku males dan capek mikir mulu. Udah sebutin aja sini! Jangan pakai kode-kode atau kiasan segala," putus Hayra.
__ADS_1
Kedua orang tua gadis itu kini saling senggol menyenggol satu sama lain agar dia saja yang menjelaskan secara jelas tanpa ada sinonim lagi kepada putri semata wayangnya itu.
"Nggak usah saling senggol, Pah, Mah," lerai Hayra. "Suit aja cepetan!" saran gadis itu.
Papa Reynaldi dan Mama Anyelir pun mulai bersiap-siap untuk suit semut, gajah, manusia.
"Bay, bay, hup!" ucap mereka cukup kencang sembari bersuit ria.
"Aaaaa," respon Mama Anyelir yang kalah dalam suit semut, gajah, manusia itu.
Meski dengan tampang yang kesal karena kalah suit dan rekor kemenangannya dipatahkan. Mama Anyelir bersikap sportif dan kini mulai ancang-ancang untuk menjelaskan kepada anak gadisnya tentang celap-celup dan ajep-ajep yang mereka maksud.
"Ayo, Ma, jelasin!" pinta Hayra yang sudah tidak sabar.
"Mama bisikin aja boleh nggak?" tawar wanita tua itu.
__ADS_1
"Terserah Mama deh," sahut Hayra pasrah.
"Sini!" lambai wanita itu pada anaknya agar lebih mendekat ke arahnya.
Hayra pun mulai sedikit mendekatkan tubuhnya pada tubuh Mama Anyelir.
Mama Anyelir pun mulai membisikkan sebuah kalimat yang sedari tadi gagal dipahami oleh Hayra.
"Kamu sudah pernah buat anak sama cowok lain belum?" lirih Mama Anyelir ke telinga kanan putrinya.
"Huaaaaaa," Hayra malah langsung menangis kembali. "Belum, Ma, Pa, masih perawan ting ting nih, huaaaaaa," tangis gadis itu. "Padahal aku tuh pengen banget hidupku kayak di novel-novel yang ceweknya hamil duluan terus hidup bahagia selamanya sama duda tampan mapan dan kejam yang menghamilinya," cakap Hayra yang mulai berkhayal tentang fantasi liar dan tidak mendidik yang sering dia baca di novel-novel. "Tapi sayang nggak ada duda tampan, mapan, dan kejam di sekitar aku. Padahal aku tuh udah siap banget dititipin benih unggulan duda itu yang pasti langsung tokcer, sekali semprot langsung jadi kayak di novel-novel."
"Alhamdulillah," ucap syukur kedua orang tua Hayra yang sangat senang ternyata anaknya belum berzinah seperti cerita novel yang anaknya baca.
"Mama, Papa, aku sebel, kenapa sih di sekitar aku para dudanya nggak ada yang ganteng?" kesal gadis itu, "Sekalinya ada yang lumayan, dia nggak mapan, terus nggak kejam juga. Malah ramah banget, kan aku jadi illfeel, huft,"
__ADS_1
Bersambung ....