
"Aku hanya gemas sama yang lainnya sayang, karena aku khawatir sama kesehatanmu juga. Setiap hari kamu bolak balik urus sana dan urus sini.'
Suara Kiki meninggi, namun Arina mengerti apa yang dimaksudnya. Kiki hanya mengkhawatirkan dirinya.
Arina menggenggam tangan Kiki dan menciumnya sesaat. Arina bisa menatap wajahnya yang dingin.
"Seandainya semua keluarga kompak, akan terasa ringan jadinya. Bukan seperti ini, yang repot ya repot, yang santai ya santai. Yang pusing, pusing banget. Yang cuek ya enak aja," kata kiki dengan mata ke arah tv yang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola.
"Harusnya kamu jangan manjakan mereka. Kamu harus tegas dengan keluargamu sendiri. Kalau memang mereka nggak bisa dan nggak mau ya sudah, nggak usah kasih info apa-apa lagi."
Kiki menarik nafas berat, matanya tak lepas dari acara sepak bola itu.
"Sekarang kita fungsikan saja yang mau diajak kerja sama."
Akhirnya nada suara Kiki menurun juga. Kini tangannya membelai ke rambut Arina yang panjang sebahu.
"Aku juga heran, mengapa masih ada saja orang yang berpikiran kolot, nggak boleh pakai pembalut, nggak boleh CT scan, nggak boleh ke dokter, aneh. Kita ini di jaman milenial bukan dijaman batu." Akhirnya arina mulai berinteraksi dengan Kiki lagi.
"Ya itu lah kalau orang bergaulnya hanya di kandang. Ada yang mudah kok mencari yang susah. Tega banget kalau kita membiarkan ibu menanggung sakitnya sendirian. Nggak ada yang menemani atau membawanya ke rumah sakit. Justru itu yang kejam. Inilah kesempatan kita berbakti," kata kiki masih dengan nada kecewa pada orang-orang yang tak peduli.
"Iya mas, bagaimanapun selagi masih ada orang tua, kita harus bisa menjaga dan merawatnya. Karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Terimakasih ya mas atas pengertianmu.' Senyum Arina akhirnya mengembang.
"Yang penting satu pesanku, kamu juga harus bisa bagi waktu dan jaga kesehatan. Aku nggak
mau kamu jadi sakit karena kelelahan. Aku sayang sama kamu," kata kiki sambil mengecup kening Arina.
"In syaa Allah lelahku menjadi Lillah mas."
Semua keresahan akhirnya terbayar lunas. Yang selama ini terlihat berkilau ternyata hanya fatamorgana. Mereka pun akhirnya tahu bahwa sesuatu yang salah dan melenceng dari koridor tak perlu disokong.
***
Suatu sore, Ruslan datang dengan kendaraan keangkuhannya. Sorot matanya tajam dan dingin. Masuk ke rumah ibu dan mengacak semua hal yang telah tertata dengan omongan pedasnya.
"Perjuangan masih terus berlanjut, jangan panik atau gusar. Hanya ikhlas yang akan meringankan langkah. Allah akan selalu membantu, percayalah. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?" Batin Arina membentengi hatinya yang kalut.
Berkutat dengan kenyataan membuat hati meringis dan merindu. Apa makna hidup?
"Lu orang semua kejam sama ibu, tega lu ya melakukan hal yang berbahaya begini."
__ADS_1
Dengan gila Ruslan meracau sesuka hati, tanpa tedeng aling-aling, hanya tau dengan kedangkalan.
"Siapa yang kejam? Siapa yang gila? Lu aja nggak pernah mau ngurus ibu. Seenaknya ngomong nggak pake disaring," kata Arina mulai berontak dengan segala tuduhan.
"Apa lu mau tau siapa yang jaga sekarang? Apa lu peduli dengan kesulitan kami di sini? Dipikir dulu bro, jangan cuma bisa melihat dari sudut tipisnya pandangan lu," kata Arina lagi semakin menjadi, emosinya meradang.
Setiap jengkal kehidupan yang terlewati selalu mentah dimatanya. Hanya dia yang matang dan cumlaude. Mengapa serantang tak berisi lauk yang sama lezatnya?
***
Komunikasi adalah jembatan dan pintu gerbang silaturahmi. Bagaimana caramu berkomunikasi?
"Apa yang harus aku lakukan, semua jalan serasa menjadi mentah kembali." Arina hanya bisa duduk diam membisu, patah hati dan lemah tak berdaya. Jalan yang sedang Arina lalui memang penuh onak dan duri tapi tak gentar dia melewatinya. Arina bertekad harus sanggup dan bisa. Kuat menghadapi segala yang ada.
Dduuueeeerrrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong.. Bapak mengeluarkan mantra yang tak pernah Arina duga.
"Sudah, ibu jangan kau ganggu lagi, jangan dibawa-bawa lagi ke rumah sakit. Kasian harus dibopong-bopong begitu. Biarkan saja bapak bisa terapi sendiri."
Dengan angkuhnya bapak bersikap tak harmonis diantara sakitnya ibu.
"Egois."
"Untuk hal begini harusnya bisa dirembukin dulu, bukan asal main ambil keputusan. Bapak kepala keluarga harus bisa memberi komando pada anak-anak yang lain. Bermusyawarah belajar berkomunikasi pak."
Ruangan yang berukuran 20x10 m itu nampak pengap dan menyesakkan dada.
"Emang kenapa sih, kenapa bapak nggak mau ngomong dulu sama anak-anak bapak? Kenapa?" kata Arina dengan geram dan semakin memanas.
"Biarlah ini udah jadi keputusan bapak sebagai penebus kesalahan bapak sama ibu," katanya pasrah dengan tangan yang masih memijit kaki ibu.
"Terserah bapak mau pakai cara apa untuk merawat ibu, tapi tolong ngobrol pak, ngobrol. Kami ini bukan anak kecil lagi, kami udah dewasa. Hal begini juga tanggung jawab anak-anaknya semua."
Arina melemahkan suaranya yang hampir bercampur dengan tangisan. Ibu masih dalam keadaan lemah dan tertidur pulas namun Arina yakin ibu mendengar percakapan mereka.
Ibu yang semasa dulunya sering dikecewakan bapak, sering tak didengar suaranya, sering merasa dibodohkan, sering sakit hati dan memendam semua kecewanya. Dalam keadaan lemah begini masih saja bapak angkuh dengan keputusanya. Hati ibu selalu menjerit dalam tangisannya.
"Ya Allah, ampunilah kami yang selalu mengecewakan dan membuat pikiran ibu berat." Desah Arina dalam nafas yang berat.
__ADS_1
Arina mencoba membuat mantra ajaib agar hatinya menjadi tenang, karena situasi saat ini begitu panas. Panas akan jiwa yang diselimuti amarah dan ego . Arina menarik nafas panjang, membaca istighfar, solawat dan sambil menghembuskan nafas perlahan. Lanjut dengan alfatihah.
Ketenangan datangnya dari Allah dan kembalikan segala permasalahan hanya kepadaNya. Maka in syaa Allah semua akan baik-baik saja.
Perempuan letaknya dibawah dan tak ada hak untuk berbicara, benarkah?
"Picik sekali pikiran bapak. Apa bapak anggap semua wanita seperti itu? Sungguh kerdil." Amarah Arina memuncak dan tak terkendali.
Arina hendak berjalan keluar menghindari perdebatan yang kian meruncing. Namun seketika tangan Dika menangkap pergelangan tangannya.
"Astagfirullah.. istigfar de, udahlah, cukup," jerit suaraa Dika menggema memecah kesunyian malam.
Arina adalah anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara tapi bapak tak pernah peduli sedikitpun padanya. Perempuan juga manusia, mengapa selalu diremehkan?
Kakak ketigalah yang menjadi kebanggan bapak. Ya mas Ruslan selalu diagungkannya. Mungkin karena sifat dan perangainya yang sama membuat mereka klop. Selalu mau seenaknya sendiri.
Bertahun-tahun hidup dalam himpitan ekonomi yang hidup segan mati tak mau. Membuat bapak pasrah pada keadaan. Beliau selalu bertumpu pada kekuatan ibu. Tak pernah mau berpikir mencari solusi namun selalu setia bersahabat dengan masalah yang ada.
Dulu ibu yang bekerja mencari sekedar untuk makan. Untungnya ibu bisa menjahit jadilah seorang penjahit yang selalu di cari orang, Alhamdulillah berkah. Bisa untuk makan dan biaya sekolah empat anaknya.
"Alhamdulillah, kalau masih kurang enak, bawa lagi ke sini ya Bu, masih garansi kok." Begitulah ibu selalu ramah melayani pelanggan.
"Saya sudah cocok dengan ibu. Besok kalau ada acara kantor, saya ingin ibu yang menjahit seragamnya," kata pelanggan ibu waktu itu.
Alhamdulillah uang mengalir, kadang sampai bisa membeli cincin emas, walupun pada akhirnya cincin itu dijual kembali saat tak ada orderan sementara makan harus jalan terus.
Saat Dika diterima bekerja di satu perusahaan yang bonafid saat itu pula angin segar untuk ibu, walaupun begitu, ibu bukan tipe peminta-minta. Ibu hanya menggunakan seperlunya saja uang pemberian dari Dika. Untuk makan sehari-hari ibu tetap berusaha mencarinya sendiri, masih dengan menjahit.
"Pak, rasanya kok nggak enak kalau bapak di dalam rumah saja sementara tetangga kerja bakti di luar. Ikut aktif bersosialisasi gitu loh sekali-sekali," kata ibu yang gerah melihat bapak santai saja di dalam rumah.
Bbbbrrrraaakkkk...
Tetiba tangan bapak sudah mengeluarkan ajian pamungkasnya dengan menggebrak meja makan yang sudah tua. Hingga gelas kaleng yang ada disana ikut gelondangan.
"Kamu nggak perlu ngurusi aku, biar saja mereka kerja bakti, apa peduliku dengan mereka. Mereka saja nggak pernah peduli kalau aku sakit?"
"Masya Allah pak.. " hati ibu langsung ciut dan diam membisu. Selalu begitu, bagi bapak, perempuan itu tak perlu banyak bicara, tak pantas dan memang tak punya hak suara.
Kesabaran ibu tak pernah berbatas ruang dan waktu. Bertahun-tahun mendampingi bapak yang egois dan paling tau segalanya. Hanya ditanggapi ibu dengan rintihan rinai yang selalu setia menghiasi pipinya dan ucapan istighfar.
__ADS_1
Kemanakah senyum ibu yang meneduhkan? Kadang Arina rindu dengan senyum ibu yang membuat pipi ibunda memerah.
Jangan pernah sia-siakan ibu, karena ibu adalah pelita dalam keluarga. Masihkah ada suara bawel dan teriakan dari seorang ibu dirumahmu?