
Belajar memahami adalah proses dari kekuatan diri. Ikhlaskah hati pada ketetapanNya?
"Bu, jangan nangis. Dhika sedih kalau lihat ibu nangis."
Dhika terbangun melihat ibunda menangis disisi ranjang.
"Iya nak, tidur lagi ya sayang. Masih gelap.'
Ibu buru-buru menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Tapi ibu janji, nggak akan nangis lagi."
"Iya, ibu sayang Dhika."
"Dhika juga sayang ibu."
Mereka saling berpelukan. Ibu tidur di samping Dhika, sementara Yusup masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Ibu menatap langit-langit kamar yang tak berbintang, hanya ada sepasang cicak yang saling berkejaran. Ibu kembali mengingat saat bapak berlaku kasar pada kedua anaknya. Dielus perutnya yang makin membuncit.
"Ampun pak, ampun. Aaww sakit pak." Tangisan Dhika terus membuat hati ibu perih.
"Sudah pak, dia anakmu. Sudah cukup." Teriak ibu tapi tak pernah bapak hiraukan. Tangannya masih saja melayangkan pukulan di bokong dan kaki anak itu.
Setelah dirasa puas, bapak melemparkan gagang sapu itu ke lantai. Kemudian dengan kasar, tangannya menggebrak pintu yang tak bersalah. Dibuka paksa lalu bapak meninggalkan ibu dan kedua anaknya dalam keadaan saling memeluk dan bersimbah air mata.
Yusup menggeliat dan terbangun melihat ibu masih menatap kosong ke atap yang berpeta bekas rembesan hujan.
" Bu, ibu kenapa? Tidur Bu, istirahat."
"Iya sayang, kamu yang kuat ya nak. Jangan pernah benci bapakmu. Dia lagi pusing makanya kamu kena sasaran. Ibu kasihan sama kamu nak."
Tangisan ibu pecah lagi. Dhika juga ikutan nangis sambil memeluk ibunda.
"Biarkan saja bapak pergi Bu, mau tidur di masjid, di kolong jembatan sekalipun nggak usah ibu khawatirkan."
Yusuf masih memendam kebencian rupanya.
"Yusuf benar-benar nggak rela kalau ibu sama Dhika selaku diperlakukan begitu."
"Sudahlah nak, sudaaah.." ibu berteriak dalam Isak tangisnya yang tak berkesudahan.
"Tolong maafkanlah dia. Seburuk apapun dia itu bapak kalian."
"Aaagghhh.. ibu selalu begitu, selalu membela dan melindungi bapak. Padahal sudah jelas-jelas bapak sering nyakitin hati ibu."
"Kau akan mengerti suatu saat nanti."
"Dhika sayang ibu." Dhika tak mau melepaskan pelukannya, malah semakin erat.
__ADS_1
"Ibu tuh kelewat sabar Bu. Kalau ibu diam saja, bapak semakin semena-mena."
"Sssttt.. sudah, sudah. Semoga Allah akan memberikan hidayah pada bapak. Aamiin."
Kini perih itu masih terasa, luka itu masih menganga. Namun ibu tak pernah sekalipun berpikir untuk meminta lepas dari bapak.
"Astaghfirullah, ya Allah berikanlah kekuatan padaku untuk menerima ketetapanMu. Aku akan jaga amanahMu dengan sebaik-baiknya. Bismilah, alfatihah."
Dalam hitungan detik, mata ibu telah terpejam menyusul mimpi kedua anak yang ada disampingnya.
***
"Assalamu'alaikum"
Suara kakek diikuti dengan bapak. Dhika kembali ngumpet dibalik tubuh ibu.
"Wa'alaikum salam" sahut ibu sambil menenangkan Dhika.
Yusuf nampak acuh tak acuh melihat kedatangan bapak.
Ibu yang sedang membuatkan teh manis, langsung tersenyum melihat kedatang bapak dan kakek. Ibu mencium punggung tangan mereka, diikuti oleh kedua jagoannya. Ibu memberikan segelas teh manis yang masih berasap ke tangan bapak, dan segelas susu kambing untuk kakek.
***
Pagi tadi kakek mendapati bapak tergeletak di pojok masjid yang tenang dan damai.
'Ya Allah.. ngger ngger.. kenapa kamu tidur di sini?' batin kakek.
Bapak hanya menggeliat, mengubah posisi tidur.
"Duuh Gusti, Bambang ayo bangun. Subhanallah susah sekali kamu."
Pletaaak.. sandal bakiak nyasar di tubuh bapak.
"Duuh, sakit. Bapak?? Kok ada di sini?"
"Lha piye to, ini masjid. Ya mesti orang-orang ke sini untuk sholat. Kamu nggak dengar suara adzan apa tadi?"
"Eh.. ehhmmm... Eeeh... Iii... Iiyaaa pak"
"Cepat ambil wudhu sana, apa kamu mau disholatkan?"
"Ya jangan to pak, ya ini saya ambil wudhu."
Bapak mulai berdiri dan berjalan ke arah toilet masjid.
Selesai sholat mereka nampak ngobrol serius. Bapak hanya manggut-manggut saja, sementara kakek berbicara dengan tenang.
Walaupun kakek sering mengagungkan dirinya, menceritakan masa kejayaannya dulu waktu jaman perang. Tapi sikap dan pola berpikirnya amat bijak.
__ADS_1
Tak pernah kakek menyalahkan bapak yang selalu saja pasif dan manja dalam menghadapi roda kehidupan. Tapi justru kakek memberikan pandangannya dengan santun, sehingga bapak suka tak enak hati bila kakek sudah mulai bicara serius.
Memahami sesorang tidak bisa hanya melihat dari sampul depannya saja. Tapi perlu waktu untuk melihat kejelasan yang nyata.
Mengkritik orang yang tak berilmu sama saja membuat satu kesalahan karena dia pasti akan marah dan tidak terima, namun bila kita mengkritik orang yang berilmu maka sesungguhnya dia akan mengerti.
Banggakah kamu dengan ilmu yang hanya setipis kulit bawang?
***
Perjumpaan yang tak diinginkan harus diakhiri. Mengapa?
Semakin hari semakin memanas saja rumah kakek. Dua orang dewasa yang penuh ego saling baku hantam.
"Mengapa kau sangat tak menyukaiku, karena aku tak bekerja saat ini?"
"Pikir aja sendiri.. buat apa kau tinggal di sini kalau bukan untuk menggerogoti harta bapak?"
"Oou begitu pikirmu? Makin hari makin kurang ajar. Pantas saja kau membujang seumur hidupmu."
Tangan bapak mulai gemas. Semua jari mengepal penuh siap untuk melayangkan tinju bogem.
"Mana ada perempuan yang betah dengan sifatmu?"
Om Rinto pun tak mau kalah, layaknya pendekar yang siap menyerang lawan. Kuda-kuda sempurna sudah dipamerkan.
Sementara mereka berdebat kusir dan adu atraksi, di dapur ibu memasak air untuk kakek mandi.
Mendengar suara berisik di ruang tamu ibu jadi terburu-buru mengangkat air panas tersebut.
"Aaaaauuuu... Oooh... Astaghfirullah...." Teriak ibu dari arah pintu kamar mandi.
Rupanya air panas sudah terlepas dari tangan ibu dan membanjiri kedua kakinya.
Bapak berlari ke arah ibu, begitu pun om Rinto. Bapak menggandeng ibu masuk ke kamar mandi untuk menyiram kaki ibu dengan air keran.
Kakek yang sedari tadi rebahan di kamarnya juga ikut terbangun mendengar teriakan ibu.
"Rinto, ambilkan terigu untuk mba mu."
Om Rinto dengan sigap mengambil sekantung tepung terigu untuk dibalurkan ke kaki ibu.
Kebiasaan di keluarga kakek bila kena luka bakar dan semacamnya memakai tepung terigu sehingga tidak melepuh.
"Nih mba terigunya, cepat dibalurkan semoga ga jadi parah. Kasihan itu si calon bayi kalau mba kenapa-napa."
"Iya, makasih. Habis ini kita harus tetap ke dokter ya pak?" Ibu merajuk sambil menggigit bibirnya menahan sakit.
Bapak memapah ibu dan membawanya ke kamar. Membalurkan terigu ke kaki yang nampak memerah.
__ADS_1
Kedengkian dan amarah hanya mendatangkan bencana. Mencela hanya menimbulkan perpecahan. Sanggupkah manusia hidup sendiri?