Nun : Hanya Rindu

Nun : Hanya Rindu
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Malam yang hening. Arina duduk di serambi depan rumah Ruslan. Memandangi bintang di langit. Apa imajinasimu saat ini?


Arina menatap gawainya, lalu mencari nama belahan jiwanya.


"Halo mas" diam sesaat, menahan genangan dalam kelopak mata yang hampir tumpah.


"Ada yang menusukku dari belakang." Tangis Arina pecah saat bicara dengan orang diseberang sana.


"Siapa? Ada apa? Kenapa?" Orang yang di seberang bertanya estafet.


"Nggak tau siapa, nggak ngerti apa maksudnya." Jawab Arina masih dengan tangis yang sesegukan.


"Ya sudah, kamu tenang dulu. Tunggu aku ya, aku jemput kamu sekarang."


"Iya, aku tunggu."


Dewi menghampiri Arina sambil membawakan segelas teh manis panas. Arina buru-buru menghapus air mata yang masih ingin keluar. Dia tarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Kamu nangis Rin?"


"Eh.. hhmm.. engg.. enggak.'" Arina berusaha menutupi resah hatinya.


"Yaelaah, jangan bohong. Ini minum dulu Rin."


" Iya, makasih mba." Jawab Rina sambil menyedot ingus yang tersisa.


Arina meneguk teh manis buatan Dewi.


"Hhhhhh... Alhamdulillah, enaak sekali. Berasa sampai ke otak."


Diam sesaat, kemudian Arina kembali menghembuskan nafas berat.


"Makanya, aku tanya sama kamu Rin. Karena aku nggak percaya kamu begitu sama orang tua." Kata mba Dewi memecah kesunyian.


"Gila aja kali mba kalau aku begitu." Arina emosi.


"Ngapain aku ngaji kemana-mana, kalau ilmunya nggak aku pakai."


"Ya sudahlah. Kamu tetap fokus aja dengan niat baik kamu. Nggak perlu mikirin hal lain." Ruslan ikut nimbrung.


"Ya, nggak habis pikir aja, kenapa sih orang tega banget." Netranya kembali berkaca-kaca.


"Kenapa Rin? Kamu kecewa ternyata orang yang selama ini kamu percaya, selalu dibanggakan sama ibu ternyata busuk?" Tanya Dewi dengan tawa sinisnya.


"Biarkan saja mereka dengan keculasannya. Kalau memang kamu nggak begitu kenapa harus dipusingkan?" Kata Ruslan menenangkan Arina.


"Aku saja di sini kerja keras untuk kesembuhan bapak. Apa mereka mau tau?" Ruslan mulai memprovokasi Arina.


"Istri dan anak-anakku jungkir balik di jalanan, hampir tetabrak mobil truk kalau mereka nggak banting ke stir ke kiri." Tangan Ruslan mematikan rokok yang dihisapnya.


"Alhamdulillah cuma nyusruk ke parit. Itu masih kelihatan lukanya.' Ruslan menunjuk luka di tangan dan kaki Dewi.


Dewi yang duduk disamping Arina menunjukkan beberapa luka yang menghiasi tangan dan kakinya. Beberapa luka diperban, ada yang bengkak dan lebam.


"Tapi aku nggak pernah mengeluh Rin, semua yang terjadi ya harus diikhlaskan. Beberapa tetangga di sini meninggal itu menggantikan posisinya bapak. Sebenarnya bapak itu udah nggak ada kemarin. Kalau kamu mau tau." Ruslan menekankan suaranya.


Arina terkejut dengan tetiba netranya beradu pandang dengan Ruslan sambil mengerutkan alisnya.


'Astaghfirullah, apa maksud kata mas Ruslan? Bapak udah nggak ada? Trus tetangga sebagai tumbal? Apa itu artinya?' pekik Rina dalam hati.

__ADS_1


"Sekarang kamu lihat sendiri kan, bapak sudah mulai sehat. Nggak perlu ke dokter. Karena Allah yang akan menyembuhkan bapak, bukan dokter.'


Rusla berdiri menghadap ke atas langit yang penuh bintang, bahasanya begitu angkuh.


Arina terdiam dalam kegusaran. Dia menyeruput teh yang mulai menghangat seteguk, dua teguk dengan jari yang di jentik-jentikkan ke badan gelas.


Mmbbreemm.... Mmbbreemm....


Motor Kiki masuk ke dalam gerbang yang pintunya terbuka. Setelah mencari posisi parkir yang dirasa pas, Kiki menghampiri kami.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam" jawab kami bersamaan.


"Iih.. ini kucing ngintil aja. Ngeri keinjak buntutnya." Kata Kiki sambil kakinya mengusir kucing kecil.


Arina mencium tangan Kiki dan menyuruhnya duduk.


Kiki menyalami satu persatu, Ruslan dan Dewi..


"Mau teh hangat mas?" Tanya Arina.


"Boleh." Jawab Kiki masih dengan keribetannya mengusir kucing kecil, pushi yang menggemaskan.


Arina berjalan ke arah dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuk cintanya.


"Bagas, si pushi kasih makan dulu sana. Itu gelayutan aja dia nih, di kakinya om Kiki." Teriak Dewi.


"Mungkin si pushi mengira kakinya om Kiki itu mainan yang bergerak kali ma.' kelakar Bagas.


Bagas mengambil sepotong sosis, kemudian memberikannya pada pushi, si kucing kecil.


"Jiiiiaaahh.. kamu kapan kaya nya sih om, tongpes melulu. Kasiaaan deeh.." balas Dewi sambil tertawa.


Arina kembali dari dapur dengan membawa teh manis hangat dan sepiring pastel.


"Mba aku minta pastelnya ya" kata Arina


"Iya ambil aja, tapi itu sisa dari pasar tadi sore.'


"Nggak papa. Masih enak kan?"


Arina memberikan gelas yang berisi teh manis kepada sang suami tercinta. Kemudian mengambil satu buah pastel, menyuapi kiki sekali, kemudian sisanya dimakan Arina.


"Ibu mana?" Tanya Kiki pada belahan jiwanya sambil menerima teh penghangat raga.


"Sudah tidur di dalam, ngantuk katanya."


"Tika sama Bagas nggak belajar?" Tanya Kiki melihat kedua anak itu asik dengan gawainya masing-masing.


'Miris melihatnya, handphone sebuah alat yang lebih menarik dibandingkan dengan buku pelajaran' gumam Arina dalam hati.


"Ya begitu itu kerjaannya om. Disuruh belajar alasannya seribu." Kata Dewi menimpali.


"Bapak gimana mas?" Tanya Kiki akhirnya.


"Alhamdulillah sudah mulai sehat. Itu sekarang lagi istirahat. Ibu juga. Biarlah mereka di sini dulu." Jawab Ruslan.


"Alhamdulillahnya lagi, bapak sekarang sudah mulai ikhlas dengan penyakitnya. Sudah mau berserah diri dan siap, kalau Allah sewaktu-waktu akan memanggilnya."

__ADS_1


'Duh, ini orang dari tadi ngomongnya nggak jelas banget. Apa memang dia berharap bapak segera mati?' rutuk Arina dalam hati.


"Kalian hanya tau nya kan sakit bapak secara dzohir, hanya aku yang bisa lihat apa yang bapak butuhkan. Persiapan jalan untuk pulang.' Ruslan mencari asbak untuk teman rokoknya.


"Nabi Isa saja hanya bisa menghidupkan orang mati. Aku yo bisa menghidupkan hati bapak yang mati. Maka dari itu aku butuh dukungan kalian." Ruslan asik mengepulkan asap rokok yang kesekian kalinya.


'Astaghfirullah.. tobat mas, tambah nggak ngerti aku' Tangan Arina memutar-mutar tali tasnya yang menjuntai.


Mas Kiki nampak kaget, dengan mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya ke arah Arina. Dialog dua hati tanpa suara itu, hanya dapat dimengerti oleh keduanya.


"Aku nggak bisa berjalan sendiri. Kalau kita bersama-sama, bapak yo pasti akan lebih baik dari sekarang."


Kiki hanya manggut-manggut sambil tersenyum tipis. Segelas teh ditangannya diteguknya perlahan.


"Ya kalau dari kami sih, hanya bisa semampunya aja ya mas, mohon dimengerti." Kata Kiki tanpa maksud mengeluh.


"Iyo ngerti.' Jawab Ruslan singkat.


" Tadi kenapa kamu nangis?" Tanya Kiki setengah berbisik melihat Arina menunduk.


"Nanti saja di rumah ceritanya. Sekarang pulang yuk."


"Iya sudah, sudah malam. Nanti anak-anakmu mencari mak bapaknya." Kata Dewi dengan nada melengking.


"Yo wis nanti bisa disambung lagi ceritane, yang penting kalian sudah tau to, biang keladinya?" Kata Ruslan dalam kepulan asap rokok.


"Maksudnya opo to mas?" Jiwa kepo Kiki makin naik.


"Udaaah, nanti aku ceritain. Yuuk."


Arina mengguncang lutut Kiki yang masih duduk di bale bambu.


"Sik to, aku habiskan ya tehnya." Kiki menyeruput sisa teh dalam gelas.


Dewi memasukkan beberapa pastel yang masih tersisa di meja ruang tamu ke dalam plastik kiloan.


"Udah ah nggak usah, buat anak-anak aja kalau iseng." Kata Arina enggan menerima.


"Udah bawa saja, disini sudah sering makan beginian. Masih ada mie instan kalau buat mereka." Dewi memaksa untuk menyuruhnya mengambil bungkusan itu.


Keramaian dan cahaya lampu yang terang disepanjang jalan, membuat hati ikut berdendang. Angin semilir mampu melemaskan urat syaraf yang sedikit tegang.


Arina memeluk pinggang Kiki dengan mesra. Mengendarai motor hanya berdua, mengingatkan Arina pada masa-masa pacaran dulu.


"Kamu tadi nangis kenapa cinta?" Bukan Kiki namanya kalau ga kepo.


"Aku nggak ngerti mas, aku ngerasa dipermainkan dengan keadaan ini. Saling memprovokasi, mengkambing hitamkan, menusuk dari belakang. Mau pecah rasanya kepalaku mas." Arina menjelaskan panjang lebar.


"Aku ngerasa, banyak banget setan yang beredar di keluargaku.' keluh Arina lagi.


"Sabar sayang, aku akan selalu ada di samping kamu terus. Aku yang akan maju kalau kamu difitnah atau disakiti."


"Terimakasih ya cinta, aku memang perlu kamu saat ini, sakit rasanya hati ini mas."


"Ooh.. selama ini kamu nggak perlu aku? Ok kalau begitu." Kiki mencoba guyon memecah kepiluan yang ada.


"Bukan gitu.." tangan Arina mencubit kecil pinggang suami tercinta.


Keduanya tertawa bahagia, walau ada duka nestapa.

__ADS_1


Motor melaju diantara dinginnya malam. Dan hati mereka semakin dekat. Masihkah kau ragu dengan kekuatan cinta?


__ADS_2