Nun : Hanya Rindu

Nun : Hanya Rindu
Terserah


__ADS_3

Kebersamaan masa kecil tak membawa gerakan hati untuk untuk saling memahami. Nyatanya Yusuf begitu angkuh dan tak berpihak pada adik yang dahulu begitu disayanginya.


"Kamu aja lah yang bawa ibu ke rumah sakit. Aku nggak bisa, besok ada meeting.' Yusuf berkelit.


"Ya gimana? Aku sudah janji sama bosku untuk ngawal artis seharian besok. Karena kalau bukan aku, si artis nggak mau hadir ke acara launching itu.." Dhika beralasan.


"Mas Ruslan bisa nggak aku minta tolong?" Arina bertanya dengan hati-hati agar tak jadi masalah.


"Ada apa?" Sikap dingin Ruslan, menambah tingkat ego yang makin melambung.


"Bisakah mas Ruslan besok mengantarkan ibu ke rumah sakit? Kontrol, Sama aku juga. Aku hanya perlu bantuan untuk mengangkat ibu nanti di sana."


"Lha kan kamu dan yang lainnya yang mau kalau ibu di bawa ke Rumah Sakit? Aku kan nggak setuju... Ya sudah terserah kamu aja."


"Yaaa, aku kan cuma minta tolong mas." Arina pelan merajuk, walau dia tahu sesungguhnya Ruslan tak akan mempedulikan permohonannya.


"Kamu pikir aja sendiri, kalau ke rumah sakit akan terus dikasih obat. Itu brarti menjejali ibu dengan bahan kimia terus. Tega kalian ya?" Kata-kata Ruslan sengit.


"Terus menurutmu, ibu lebih baik didiamkan seperti ini? mana yang lebih tega mas?"


Arina terpancing juga emosinya.


"Kenyataannya kita tidak bisa merawat ibu tanpa ilmu, kita sama sekali nggak tau apa-apa, perlu tenaga medis untuk membantu kesembuhan ibu. Ibu harus berobat mas."


"Aku bisa merawat ibu dengan mengandalkan tanaman dipekarangan. Allah sudah memberikan segalanya di sekitar kita, bukan dengan kimia." Ruslan tetap mempertahankan pengobatan herbal.


"Maaf mas, kita ini tau apa? bagaimana cara meraciknya, takarannya dan efek ditubuh ibu. Apa mas bisa mempertanggung jawabkannya?"


Arina mengumpulkan keberanian untuk menentang teori kakaknya sendiri, yang sangat antipati dengan pengobatan medis.


" Ya udah t-e-r-s-e-r-a-h..."


"Tapi bagaimana dengan besok, mas?" Arina duduk, mengambil nafas dalam dan dihembuskannya perlahan.


"Terserah, tanya aja sama yang lain?" Ruslan tak peduli. Tangannya mengeluarkan sebatang rokok dan memantikkan api, lalu menyulitkannya ke ujung tembakau yang telah dilinting rapi. Menghisapnya perlahan dan membuang asap yang keluar dari mulutnya.


Ruslan bangkit dari kursi bambu di teras tempatnya duduk, melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Kemudian pergi berlalu begitu saja tanpa beban.


"Ok, terserah apa yang ada dalam pikiranmu, buatku yang penting ibu sehat."


Teriak Arina seiring tubuh Ruslan yang menghilang dibalik gelapnya malam.


Bulan yang redup, bintang gemintang yang tak lagi bersinar terang membuat hati Arina dalam kegamangan.


'Ya sudah terserah besok aja, semoga Allah akan membantu niat baik dari seorang anak yang hanya dianggap sebagai remahan rengginang.' batin Arina.


Arina berjalan ke kamar ibu, ditatapnya wajah perempuan yang telah melahirkannya itu tergolek lemah tak berdaya. Baru sepekan lalu dia mengantarkan ibunda ke pasar membeli sebuah cincin yang kini masih melingkar di jarinya.


"Kalau nggak dibelikan cincin, uangnya nanti habis, tak ada hasilnya uang jahitan ibu. Tapi kalau ibu beli cincin sekarang, khawatirnya ada yang perlu uangnya. Ibu masih memikirkan Yusuf, kasihan dia hidupnya pas-pasan."


Arina menoleh ke arah Dhika yang baru saja selesai menelpon rekan bisnisnya.


"Mas Dhika, tega apa mas melihat ibu dalam keadaan begini?" Arina kembali menghadap Dhika. Karena yang dia tahu Dhika amat menyayangi ibunda.

__ADS_1


Dulu ibu selalu memikirkan Dhika, lelaki yang selalu dekat di hati ibu. Saat susah dan senang, Dhika selalu memeluk dan mencium ibu dengan segenap cinta.


"Waah senangnya punya putra yang selalu sayang sama orang tua ya bu." Ucap Bu Progo, istri pengusaha pabrik kecap Kurma, tetangga ibu.


"Iya Bu, alhamdulillah. Punya anak banyak berbeda-beda sifat dan karakternya ya Bu." Jawab ibu menimpali obrolan Bu Progo.


"Ngomong-ngomong, ini maaf y Bu. Saya juga ingin sekali punya anak seperti nak Dhika Bu. Sayang dan perhatian sama orang tua, rajin beribadah. Kalau misalnya saya ingin mengangkat anak bagaimana Bu?"


"Maksud Bu Progo bagaimana?" Ibu mengernyitkan dahi dan memasang telinga untuk mendengarkan maksud yang telah disampaikan.


"Saya ingin Dhika jadi anak angkat saya Bu, hhmm tapi ibu tenang saja, seandainya Dhika kangen sama ibu atau di akhir pekan ingin pulang ke rumah ibu, silahkan."


Bu Progo memberikan penjelasan dengan hati-hati.


"Saya sih belum bisa jauh dari dia ya bu. Tapi kalau Dhikanya mau dan diijinkan sama bapaknya, ya silahkan saja. Nanti saya bicarakan dulu dengan bapaknya ya bu."


Dhika merenungi perkataan Arina saat mengingatkan masa remajanya dulu. Matanya berkaca-kaca, saat mendengar diskusi bapak dan ibu kala itu.


"Ya nggak apa-apa kan Bu, toh Dhika juga masih belisa pulang ke sini, ke pelukanmu. Bu Projo itu kan orang kaya." Kata Bapak dengan sorot mata berbinar membayangkan gepokan uang dalam genggaman tangan tanpa harus bekerja keras.


"Aku nggak tega pak, menjual anak sendiri. Apalagi hanya demi uang. Walaupun kita hidup sederhana tapi ibu bahagia terus bersama-sama, makan nggak makan asal kumpul."


Ibu terus memeluk Dhika dalam kehangatan. Menciumnya dengan penuh kasih. Jatuhlah butiran kristal embun di pipi Dhika.


"Ya sudah, in syaa Allah besok aku atur jadwal. Aku juga ingin ibu sehat lagi, semangat lagi. Aku ingin melihat senyum di wajah ibu lagi."


"Iya mas, kasihan ibu. Ini kita sudah separuh jalan. Semoga ibu cepat sembuh. Aamiin ya Allah."


Keluarga dakwah adalah keluarga penuntun, bukan penuntut. Bahagianya ketika memberi, bukan menerima. Sedihnya adalah egoisme dan tidak bermanfaat bagi orang lain. (Satria Jadi Lubis)


***


sebuah coretan yang Arina tulis di selembar kertas menjelang tidur.


Gamang


Tak tau apa yang kupikirkan


Tak tau arah kemana kaki melangkah


Semua terasa Kelu


Tak bisa bergerak, hanya diam membisu


Aku bagai patah kaki hilang keseimbangan


Menggapai rindu dalam alunan nada merindu


Senyum tipis terasa sakit


Hanya bayang rindu dalam buaian


Mengapa aku bergeming?

__ADS_1


Walau ku tau semua menggelinding


Berat rasa berpadu polah


Dalam jiwa hati yang gelisah


Ku ingin berlari..


Ku ingin berteriak..


Ku ingin menggapai..


Ku ingin ... Ku ingin...


Tapi tak sampai


Allahu Akbar....


Allah maha besar


Sepi dalam diam


Hati memberontak


Rinai terjatuh merebak dalam buaian


Kaca-kaca pecah


Berhamburan tak tentu arah


Angin mengusik dalam satu hembusan


Nyatanya semua terbang


Masih berapa lama lagikah badai ini mereda?


Hanya Dia yang tahu,


Jiwa yang kerdil,


Jiwa yang miskin terseok pada jalan yang berliku


Mampukah semua bertahan?


(Arina mengharap dalam doa)


Ya Allah, berilah keajaiban untuk ibu dan keutuhan keluarga ini


Berikanlah cahaya cintaMu ke dalam hati dan Ruh kami


Agar kami kembali sakinah di jalanMu


Aamiin

__ADS_1


__ADS_2