
"Assalamu'alaikum Rin, ini bapak minta pulang sekarang juga. Bagaimana?" Dhika menelpon Arina untuk minta pendapatnya.
"Ya ampun, ada apa lagi sih mas? kok mendadak?"
"Tau sendirilah, sifat asli bapak keluar lagi. Aku nggak ngerti apa maunya kali ini."
"Ini sudah malam mas. Ya nggak bisalah mendadak seperti ini." Arina memberikan penekanan dalam nada suaranya.
"Makanya kamu coba bujuk Rin. waktu kontrol berobatnya tinggal dua hari lagi. Baru saja aku telpon dokternya, saat ini masih ada di luar kota."
"Ya sudah, mana bapaknya? aku mau bicara." kata Arina berusaha menghandle bapaknya yang keras hati.
"Assalamu'alaikum pak, bapak ada apa? kenapa minta pulang sekarang? ini sudah malam pak." kata Arina mencoba bicara dengan bapak kandungnya.
"Bapak kangen air di rumah sendiri nak, ingin tidur di kamarku sendiri."
"Ya Allah, pak.. iya Rina ngerti. Besok ya, Arina jemput. Kalau malam ini pasti mas Kiki juga nggak akan mengijinkan."
Bapak terdiam sejenak. Sampai akhirnya...
"Ya sudahlah, rapopo.. aku tahan." suara bapak terdengar pasrah.
"Ibu juga bukannya sedang masa pengobatan pak? bagaimana dengan ibu? Kasihan dong ibu pak." kata Arina lagi mencoba untuk memberikan pertimbangan.
"Nanti bisa balik lagi pekan depan, atau kamu kan juga bisa mengurus pengobatan di sana kan Rin?"
"Ok, baiklah kalau mau bapak begitu. Besok Arina ke rumah mas Dhika ya pak."
***
"Alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat," kata ibu.
" Ya Allah Bu Lastri, apa kabar? Sehat Bu? Bapak sudah sembuh?" Bu Sastro berlari dari rumahnya melihat kedatangan mereka yang baru turun dari taksi online.
"Alhamdulillah," jawab bapak singkat.
"Di sini sudah ada penyemprotan nyamuk Bu?" Tanya ibu pada Bu Sastro.
"Ooh.. fogging. Sudah Bu kemarin siang." Jawab Bu Sastro sambil menggandeng tangan ibu.
"Nggak kok, nggak ada. Belum ada fogging." Teriak Tante Erna dari dalam rumah.
Tante Erna, adiknya ibu. Dia yang menunggui rumah bapak dan ibu selama mereka tinggal di rumah Dhika.
"Ada jeng, kemarin siang. Mungkin situ nggak ada di rumah. Wong saya lihat pintunya terkunci."
"Saya ndak kemana-mana kok ada di dalam." Tante Erna ngotot.
"Ya kenapa kemarin nggak keluar. Wong asapnya sampai ke kebun belakang kok." Kata Bu Sastro agak sengit.
__ADS_1
"Ooh iya saya lupa. Mungkin waktu saya ke rumah paman Amir barangkali." Ucapnya sambil tersenyum malu.
Wajah Bu Sastro kecut melihat kelakuan Tante Erna.
"Sudah ngotot salah lagi. Heh, malu juga kan kau."
Tatapan mata bu Sastro menyeringai penuh rasa tak suka.
"Ya sudah ya Bu, mungkin bapak dan ibu perlu istirahat. Semoga cepat sembuh ya pak, yuuk Arina. Mariiii...."
"Iya Bu, terimakasih banyaknya bu," kata Arina, bapak dan ibu hampir berbarengan.
Tante Erna ngeloyor ke dapur. Membuatkan minuman dan membereskan pisang yang ibu bawa.
"Kok pisangnya banyak yang busuk siih mba. Berat-beratin saja, bawa beginian."
"Bukannya busuk de'.. itu tandanya sudah matang."
"Pisang raja kan enaknya memang begitu tante. Yang kulitnya sudah berubah warna." Arina ikut menanggapi.
'Ini si tante bawel amat sih. Coba aja Tante makan sedikit, pasti ketagihan.' kata Arina dalam hati.
"Coba kamu cicipi de'. Manis nggak?" Tanya ibu.
Tangan Tante Erna cepat mengambil pisau dan memutuskan satu buah dari induknya untuk dimakan.
'Hhhhmmmm... Tadi nyela sekarang minta.' Batin Arina dalam hati.
"Naah, seperti makanan itu Tante. Nikmat itu tidak akan pernah lama dan banyak.'
"Maksudnya?"
"Coba saja Tante kunyah pisang itu selama lima jam tanpa henti. Enak nggak? Atau Tante tenggak sekaligus jus jeruk ini langsung satu ember. Apa rasanya?
"Jadi Tante nggak boleh bawa pisang ini? Ok, find."
Ssstttt..... Ibu memberi isyarat pada Arina.
Arina terkekeh.
"Bukan begitu Tante, bawa saja. Di sini juga banyak. Sayang, nanti mubazir."
"Jadi maksud kamu apa, ngomong begitu?"
"Dunia itu nikmatnya nggak lama, meskipun berlimpah. Jadi fokus pada yang kekal abadi meski sedikit. Itulah amal sholeh Tante."
"Lah Tante kan cuma minta sesisir aja pisangnya."
"Iya silahkan Tante. Syukur itu nikmat.”
__ADS_1
Bapak yang sedari tadi duduk di ruang tamu langsung masuk kamar.
"Ini ada puntung rokok di kamarku dan ini kolor hijau lurik, punya siapa?"
Jantung bapak hampir copot, begitu mengetahui ada orang lain selain Erna yang menginap di rumahnya.
Semua menatap ke arah Tante Erna.
"Tante....?"
"Hhhmm.. eh.... eng... Bukan siapa-siapa. Dia itu mas Hendro, dia kemarin ke sini tapi karena bapak dan ibumu nggak ada, jadi dia nginap semalaman aja kok. Setelah itu katanya mau ke rumah temannya cari kerjaan." Jawab Tante memandang Arina sedikit ragu.
"Hendro? Hendro adik sepupuku?" Tanya bapak tak percaya.
"Iya mas, katanya kalau dia belum dapat kerjaan boleh nggak kalau sementara di tinggal di sini?"
"Sebentar, semalam dia tidur di kamarku? Dan kamu.... Aagghhh."
Kepala bapak pusing lagi, batuk-batuk lagi.
"Pak, pak... Ya Allah, si bapak. Jangan mikir yang nggak-nggak makanya pak." Ibu langsung memapah bapak ke tempat tidur.
"Nggak sudi mereka tidur di kamar ini Bu."
"Sssttt.. bapak tenang dulu."
"Maaf Tante, apakah semalam Tante dan om Hendro......" Arina menghentikan pertanyaannya.
"Sedikit..." Si Tante mendekatkan dua jari, ibu jari dan telunjuknya sambil tersenyum nakal.
"Astaghfirullah, Tante...."
Kisah kasih tante Erna dan om Hendro sempat pupus ketika pakde Bambang melarang hubungan mereka. Pakde orang yang sangat disegani di keluarga bapak. Om Hendro dianggap orang yang tak memiliki tanggung jawab dengan keluarga.
"Sabar de' kamu masih bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Hendro. Mantan istrinya dulu meninggalkan dia karena memang dia sangat tak bertanggung jawab." Ibu menyakinkan tante Erna saat mau nekat kawin lari dengan Hendro.
"Lastri, tolong kamu beritahu Erna, jangan suka gelap-gelapan begitu berdua dengan Hendro di ruang tamu. Apa kata tetangga?"
"Aku nggak enak mas, Erna sepertinya sedang mabuk asmara. Maklum cinta buta mas." Ibu menolak untuk menegur Tante Erna.
"Ya nggak bisa begitu, yang salah ya harus ditindak tegas."
Pakde Bambang dan om Hendro sempat berkelahi hebat. Mereka hampir saja saling bunuh-bunuhan kalau tidak dilerai oleh bapak.
Akhirnya semenjak itu om Hendro tak pernah lagi kelihatan di depan mata, dengar kabar dia keluar kota mengikuti temannya yang bisnis tambang emas.
Namun mengapa kini dia balik lagi ke sini dan bermaksud mencari kerja? Apa yang terjadi?
Hidup tak selalu sempurna. Yang terjadi tak selalu kita suka. Tapi kita bisa selalu bahagia. Dengan cara mensyukuri yang ada.
__ADS_1