Nun : Hanya Rindu

Nun : Hanya Rindu
Kegelisahan Bapak


__ADS_3

Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tau. Masih pentingkah sebuah alasan?


Ada beberapa hal yang tidak bisa di ceritakan bapak pada anak-anaknya. Hanya orang tualah yang mengerti itu.


Yang pasti bapak tidak ingin menambah keruh suasana.


"Bapak nggak mau ibu ikut-ikutan sakit karena bapak." Hanya itu alasan yang bapak kemukakan pada ibu dengan nada sendu.


"Ibu hanya nggak kuat pak dengar omongan Ruslan dan istrinya. Walaupun begitu ibu nggak benci mereka sama sekali." Kata ibu menimpali omongan bapak.


"Ya sudah nggak papa kalau memang Dhika mau jemput kita. Bapak ingin berobat dokter di sana." Kata bapak sambil memainkan gelas yang berisi teh manis hangat.


"Alhamdulillah, tenan to iki? Iyo pak? terimakasih ya pak." Ucap ibu dengan rasa syukur.


"Ya Allah, terimakasih. Kau jawab doaku dalam sekejap." Ibu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap ke wajahnya.


Bapak mengemukakan maksudnya pada Ruslan untuk sementara waktu menginap di rumah Dhika.


"Silahkan saja jika memang bapak dan ibu mau ke rumah Dhika, aku hanya sekedar membantu pengobatan bapak saja."


Ruslan mempersilahkan bapak dan ibu pindah ke rumah Dhika, masih dengan nada angkuhnya.


"Padahal di sini bapak sebenarnya sudah enak. Tidak perlu memikirkan segala macam, ibu juga. Walau ibu masih saja nggak bisa terima dengan kebaikan yang sudah kuberikan."


Ibu terdiam, tak pedulikan ucapan Ruslan. Kelegaan hatinya karena akan pergi ke rumah Dhika membuatnya sedikit tenang.


***


Matahari telah menampakkan sinar cantiknya ketika bapak olahraga kecil, jalan santai disekitar pelataran rumah Ruslan. Ruslan sedang minum kopi diselingi hisapan rokoknya yang membulat ke angkasa.


"Waduh, dompet bapak ketinggalan di tempat yusuf, waktu kemarin lusa main ke sana. Tolong antar bapak ke sana ya nak, nanti kalau kamu sudah sempat." Kata bapak memohon pada Ruslan yang masih mengepulkan asap rokoknya.


"Ngapain sih pak, udah bapak nggak usah mikirin yang seperti itu. Dompet, materi dan segala macam itu masalah duniawi pak. Bapak udah nggak perlu itu."


Deeggghhh...


"Astaghfirullah, di dompet itu kan masih ada surat-surat penting. Ada KTP juga." Keluh bapak dalam hati.


"Oh iya, ya sudah." Bapak tertunduk lesu. Bapak menyudahi olahraganya dan langsung masuk ke ruang tamu, meneguk teh manis buatan ibu.


Bapak sedikit gelisah, duduknya mundur maju ganteeng..


Mmmiiioong.. mmmiiioooong....


Tiba-tiba chemonk mengibaskan ekornya kearah pushi. Mungkin mereka saling meledek melihat adegan bapak memeluk ibu.


'sepertinya nggak bisa aku berlama-lama disini. Bisa makan hati begini terus.," rutuk bapak dalam hati.


***


"Yang sabar ya Bu. Kita semua sedang diuji Gusti Allah." Kata bapak dalam pelukannya. Tangannya terus mengelus punggung ibu yang makin menipis.


"Assalamu'alaikum pak, Bu. Gimana sekarang bapak? Sudah lebih baik?"


Yusuf datang saat makan siang. Ibu sedang membuatkan telur dadar untuk mereka santap siang itu.


"Kau sudah makan Suf? Mau ibu buatkan mie instan?"


"Nggak usah Bu, Yusuf ke sini mau antar ini." Yusuf memperlihatkan dompet bapak yang tertinggal di rumahnya.


"Maaf pak baru sempat, kemarin Yusuf ada meeting di kantor. Ada pengurangan karyawan. Mohon doanya ya pak, Bu. Semoga Yusuf nggak kena di PHK."


"Aamiin , semoga masih lancar pekerjaanmu nak."


Sementara bapak dan ibu makan, Yusuf mengambil sebuah pisang yang tergeletak di atas meja. Matanya tertuju pada onggokan pakaian yang tergeletak di samping tas koper.

__ADS_1


"Bapak mau kemana? Itu pakaian sudah dirapihkan?"


"Tadi Dhika telpon dan mengajak bapak berobat di sana." Ibu menyahuti sambil menyuap makanannya.


"Bapak mau pak?" Kini mata Yusuf beralih ke bapak.


Bapak menganggukkan kepala, khawatir suaranya terdengar Ruslan yang sedang istirahat di kamarnya.


"Alhamdulillah." Spontan Yusuf mengucap kata syukur.


"Kamu jangan memprovokasi bapak mas, sudah untung aku bantu." Suara Ruslan mengagetkan semua yang ada di ruangan itu.


"Apa maksudmu Rus? Memang sebaiknya bapak berobat ke dokter kan? Supaya kita tau, bapak sakit apa sebenarnya?"


"Kamu dengan yang lainnya sama aja. Ya sudah silahkan, jangan salahkan aku bila terjadi apa-apa," ancam Ruslan dengan angkuhnya.


"Maaf ya Rus, selama ini aku diam saja. Aku memang banyak berhutang budi sama kamu. Tapi biar bagaimanapun aku ini kakakmu. Harusnya kamu bisa menghormati aku. Akan aku bayar semua hutang-hutangku."


Brrraaakkkk....


Yusuf menggebrak pintu kemudian langsung pergi keluar dari rumah Ruslan tanpa pamit. Emosi telah melingkupi hati mereka. Ibu dan bapak yang sedang menikmati makan siangnya tetiba tak selera melanjutkan santapannya.


"Istighfar nak, istighfar..." Ibu berteriak sambil mengusap air mata kepedihan.


Kita tidak bisa mengukur rasa cinta hanya dari kasat mata. Kesetiaan dan pengorbanan perlu ujian. Ibu menjalani ujian demi ujian dengan ikhlas dan tabah. Segala tempaan hidup bagai menu makanan harian tanpa pilihan.


***


"Benar bapak mau menjalani pengobatan ke dokter?" Tanya Dhika sesampainya di rumah yang asri penuh tanaman berwarna warni.


"Benar nak" jawab bapak singkat. Netranya yang menua mengelilingi pemandangan rumah yang sama sekali belum pernah ia datangi.


"Janji ya bapak tidak mengada-ada dalam hal ini." Dhika memastikan keinginan bapak.


Bapak diam saja.


"Ya sudah sekarang bapak dan ibu istirahat dulu."


Mudah merekatkan kertas yang sobek hanya dengan lem. Merekatkan hati yang patah hanya dengan kasih sayang, cinta dan ketulusan. Sepakat?


Sepasang cicak berdecak.


Ckckckkckckckck....


Alhamdulillah Dr. Atiek asik buat berdiskusi. Pengobatan dilakukan secara kekeluargaan. Jadi bebas konsultasi apa saja.


"Tidak bahaya kan dok?" tanya bapak setelah dokter menjelaskan apa yang sebenarnya bapak alami.


"Ya akan jadi bahaya kalau bapak tidak berobat. Minum obatnya juga harus rutin ya pak."


Bapak mengangguk pelan.


"Tapi sebelum saya kasih obat, saya mau tanya dulu nih, kegelisahan apa yang sedang bapak rasakan? Cerita saja pak, anggap saya ini anak bapak deh."


***


"Alhamdulillah dokter nya baik ya Dhika." Kata bapak di suatu pagi.


"Iya pak, batuk bapak ini nggak bisa sembuh hanya dengan herbal pak, harus dengan obat dan kontrol rutin ke dokter." Mas Dhika mencoba membuka pikiran bapak.


"Bronchitis itu masih tahap awal pak, belum sampai TBC. Untuk itu harus segera diobati supaya nggak menambah parah." Mba Laras menambahkan sambil membawakan roti dan teh hangat untuk bapak dan ibu.


Ibu batuk-batuk kecil.


"Tuuh ibu juga udah mulai batuk, mulai sekarang pakai masker. Buang dahak nya di lubang WC ga boleh sembarangan karena memang itu menular." Ucap Dhika.

__ADS_1


"Maaf ya pak, piring sendok garpu dan gelasnya harus dipisah ya." Kata Laras.


'aku ini kan cuma karena asam lambungnya naik makanya jadi batuk. Itu obatnya aja obat lambung.' bantah bapak dalam hati.


"Bapak jangan tersinggung ya." Laras melanjuti seakan tau isi hati bapak.


"Ya sudah, bapak nurut saja." Sahut bapak dengan nada sedikit ketus.


Sehari dua hari, bapak masih akur dengan rutinitas baru. Seminggu ternyata waktu yang cukup untuk bapak merenungi segalanya.


"Pak berjemur di sini pak, kena matahari pagi. Jangan tiduran terus." Ajak Dhika.


"Yo pak, sini ngobrol sama tetangga biar pikiran nggak sumpek di dalam terus." Ibu juga ikut mengajak bapak.


Bapak melangkah perlahan, duduk di taman. Diantara bunga-bunga yang bermekaran. Dhika menyiram tanaman bunga, segar dan harum mewangi.


Ibu beberapa kali batuk dan muntah.


"Astaghfirullah.. mas Dhika, dahaknya ibu ada darahnya." Kata mba Laras setengah berteriak.


Dhika langsung membuang selang dalam genggamannya. Berlari ke arah ibu dan melihat darah yang ada di tisu di tangan ibu.


"Mas batuk ibu berdarah." Laras mengulangi ucapannya.


"Ayo Bu, kita ke dokter!" Seru Dhika.


"Nggak usah lah nak, ibu nggak papa."


"Harus segera diperiksa Bu." Laras ikut menyahuti.


"Bapak saja yang berobat, ibu belum perlu nak."


"Ibu.. ibu juga harus berobat. Bisa aja kan ibu tertular dari bapak?" Dhika bicara dengan nada hati-hati.


Bapak menoleh ke arah ibu. Ibu batuk-batuk lagi.


Menjadi tua itu pasti. Namun menjalani masa tua dengan kondisi badan sehat atau sakit-sakitan adalah sebuah pilihan.


***


"Dhika, rasanya bapak sudah cukup banyak merepotkan di sini." Tetiba bapak berkata demikian disuatu malam.


"Loh, kenapa pak? Bapak sama ibu nggak merepotkan kami.' kata Dhika.


"Iya pak, justru kami senang kok bapak sama ibu mau ke sini." Sahut Laras.


"Maaf pak, kalau kami suka menegur bapak. Karena kami ingin bapak dan ibu sehat." Kata Dhika lagi.


'Iya, sesungguhnya aku nggak mau diatur-atur' bisik bapak dalam hati.


"Bapak ingin pulang besok." kata bapak.


"Loh.. tapi pak, kok mendadak? Bapak dan ibu masih perlu kontrol dokter."


"Nanti kan bisa balik lagi." Sahut bapak, layaknya anak kecil yang merengek.


"Padahal tinggal menunggu dua hari lagi pak, untuk kontrol." Laras ikutan membujuk.


"Bapak rasa sudah cukup, bapak mau pulang besok.'


"Kenapa sih pak, kok mendadak. Apa ada yang menyinggung hati bapak?"


"Tidak, bapak mau pulang besok. Titik"


'Ya Allah, mengapa bapakku keras begini ya.' keluh Dhika dalam hati.

__ADS_1


Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas. Dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit.


Itukah yang dirasakan Dhika pada sang bapak?


__ADS_2