
Bila nafsu mulai kuasai diri untuk berbuat dosa, maka sentuhlah dada dan ingatlah Allah. Bagaimanakah caranya?
"Tolong dong mas Yusuf, istri dari kakak-kakak dilibatkan. Kalau aku kan tergantung suami. Suamiku mengijinkan atau nggak. Lagipula gantian doong."
"Trus kamu bisa seenaknya pergi ke Bandung? kamu ini anak perempuan satu-satunya dari bapak ibu. Mikir dong." jelas emosi merasuk pikiran Yusuf.
"Loh kewajibanku adalah menuruti perintah suami."
"Ini orang tuamu sendiri, ikatan pernikahan beda."
Deegghh
Arina geleng-geleng kepala, ternyata mereka masih belum paham apa yang diajarkan agama.
"Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain, tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya" [HR. Tirmidzi no.1159, syaikh Al Bani mengkategorikan sebagai hadits hasan shahih]
"Mas, maaf ya.. bukankah mas sama mba Mia itu lulusan pesantren ya? Memang di sana nggak diajarin ya, bagimana hukumnya hubungan anak dengan orang tuanya setelah anak laki-laki dan perempuan itu menikah?"
Arina meneguk sebotol minuman yang ada ditangannya. Lanjut mengucapkan istighfar untuk menenangkan hatinya yang emosi.
"Ya sebagai anak saya memang berutang ketaatan pada orang tua. Saya wajib menghormati dan melayani ibu. Namun beda dengan istri saya, dia hanya wajib menghormati, tidak untuk melayani."
"Memang tidak wajib untuk melayani, tapi sebagai suami yang benar, baiknya mas memberikan perintah untuk melibatkan istri dalam hal ini, kalau tidak mas capek sendiri."
"Hei.. kalau saya memerintahkan istri saya untuk melayani ibu sesungguhnya itu adalah bentuk ketidakadilan terhadap istri saya."
Mas Yusuf berteriak menggelegar membelah bumi. Arina tersentak, jantungnya berdegup kencang. Tangannya mengelus dada dan beristighfar.
"Dia berkewajiban atas orang tuanya sendiri. Dia juga punya orang tua. Sementara ini adalah ibu kita. Bukan ibunya."
Ada linangan air mata yang menggenang di pelupuk mata Arina. Ternyata tidak jaminan lulusan pesantren itu .........
"Faktanya ikatan darah itu berbeda dengan ikatan pernikahan, ngerti kamu? Jadi kalau saya menyuruh istri saya melayani dan merawat ibu itu adalah bentuk ketidak adilan dan itu dilarang oleh agama."
'wah.. wah.. wah.. makin kacau nih orang. Santri gila, sakit jiwa nih orang.' batin Arina sambil matanya menatap tajam ke arah mas Yusuf.
Usai sholat Maghrib Arina meniatkan dirinya untuk membaca Kalamullah, Al Qur'an. Ketika dibuka netra nya tertuju pada QS. As Syura. Arina membaca ayat demi ayat dengan linangan air mata yang semakin deras.
__ADS_1
Ternyata isi dari QS. As Syura adalah....
"Allah maha lembut terhadap hamba-hambaNya, Allah memberi rejeki pada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia maha kuat, maha perkasa." QS. 42:19
'Semoga Allah segera memberikan hidayah untuk keluarga ini aamiin' jerit batin Arina dalam doanya.
Pisau mempunyai kemampuan membunuh dalam sekali tusuk. Tapi kata-kata mempunyai kekuatan membunuh korbannya berkali-kali seumur hidup.
Miris. Seberapa tajamkah hati dan mulut saling beradu?
Langkah gontai Arina menapaki jalan berbatu dan terjal. Gelap namun terbaca jelas. Yusuf yang masih sibuk dengan dunianya, berdalih seakan semua masalah terjadi karena mulut tajam Arina.
'Ya Allah, mengapa semua jadi begini? Maksud hati ingin kebersamaan dan kekompakan, hanya itu. Tapi nyatanya malah cerai berai begini?' batin Arina dalam tangisan pilu luka hatinya.
"Maaf ya pak, mas Yusuf itu masih ada kewajiban untuk mencari nafkah keluarganya. Karena kami masih banyak hutang. Jadi tolong jangan usik kami." Kata mba Mia suatu sore.
Bapak yang sedang membaca resep dokter ditangannya tak mempedulikan ucapan Mia. Bapak hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Bukannya kami nggak mau ikut mengurusi ibu, tapi keadaannya sekarang lagi repot."
Mas Wahyu ikut bersuara, lagi-lagi bapak hanya menganggukkan kepala.
"Huss mba Parmi, matamu nggak usah kemana-mana." Batin Parmi mengusik mata dan pikiran yang sedang memperhatikan gerak gerik kedua orang yang ada di ruang tamu itu.
"Eh.. iya, tapi kok mereka begitu ya? Selalu mengeluh, tak pernah kudengar sekalipun cerita mereka bahagia. Sekalinya seneng tetap saja ada cerita sedih dibaliknya. Miris ya," batin Parmi kembali bergulat.
"Biarkan saja mba.. kalau mindset mereka susah ya in syaa Allah akan susah terus jadinya."
Parmi menggeleng-gelengkan kepala, tangannya masih terus mengurusi ibu, merapikan rambut dan membedaki wajahnya.
Taraaaa...
"Alhamdulillah, sekarang ibu sudah cantik dan wangi," ucap Parmi pada ibu yang masih bergeming di ranjangnya.
"Sekarang ibu duduk dulu ya, jangan tiduran terus."
Diangkatnya tubuh ibu secara perlahan, kemudian disandarkan ke bilah kepala ranjang. Disusunlah bantal dan guling untuk menjaga sisi kanan dan kiri ibu.
__ADS_1
Parmi kembali membereskan ember dan sabun mandi. Kemudian duduk diujung ranjang sambil mengambil gawai yang ada di dalam tasnya. Tangannya menekan sebuah nama yang ada di sana.
"Assalamu'alaikum mba Arina ada dimana?" Suara mba Parmi setengah berbisik khawatir terdengar oleh orang yang ada di ruang tamu itu.
" Di rumah mba, aku nggak enak badan. Maaf ya mba aku nggak ke sana. Tapi ibu gimana?"
"Ibu masih seperti biasa, masih suka baperan, nangis." Mba Parmi sedikit melirik ke ruang tamu, menyelidiki keadaan di sana.
"Mba, mas Yusuf dan mba Mia ada di sini." Mba Parmi menceritakan hal yang baru saja dia dengar.
"Astaghfirullah... Ya Allah, barusan juga aku baca postingan mba Laras tentang kebaikan anak perempuan merawat orang tuanya."
Arina mengernyitkan dahinya, seakan berpikir apa maksud semua ini. Ada yang protes secara terang-terangan, ada juga yang lewat sindiran di medsos.
Suara batuk Arina mengelitik daun telinga mba Parmi.
"Ya sudah, mba Arina istirahat saja dulu. Tenangkan hati dan pikiran. Maaf saya hanya menjalankan perintah mba Arina saja kalau ada apa-apa laporan, begitu to mba?"
"Iya mba, makasih ya. Sudah mau membantu bapak dan ibu."
"Tenang saja mba. Bapak dan ibu sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri."
Arina masih tak bisa mengerti. Jantungnya berpacu cepat dan tanpa terasa rinai telah menggenang di pelupuk mata.
'Ujian apa lagikah ini? Sejujurnya aku tak ingin meributkan hal ini. Lebih indah bersatu dan berbagi tugas. Namun ternyata mereka tak ingin surga.'
Tangisan Arina semakin jadi. Dia menekan dadanya yang sesak, kepalanya terasa sakit. Batuknya semakin berat.
'aku hanya ingin mengingatkan saudaraku, aku ingin menggapai surga bersama. Ini pintu surga.'
Arina memilih diam. Diam itu mutiara. Letaknya memang di dasar laut. Yaah laut kesabaran.
"Ikhlaskan saja, nanti akan ada jalan terbaik." Terdengar suara yang membuat Arina tersadar dari bilik kesedihannya.
"Astaghfirullahaladzim, iya mba. terimakasih sudah banyak membantu." ucap Arina diantara sisa tangis.
"Kita sama-sama baca alfatihah ya mba."
__ADS_1
Bersikap bijak menghadapi situasi dan kondisi yang tak tenang. Apalagi dengan segala macam isi media sosial. Bisa jadi kebaikan atau malah menyesatkan.
Surga ada di depan mata, tak perlu kau cari di luar sana. Relakah surgamu untukku?