
Mimpi Kejatuhan cicak akan tertimpa sial. Mitos atau fakta?
Sarapan dulu Bu, ini ada lontong sayur. Dewi yang buat." Kata bapak.
" Tak selera' jawab ibu singkat.
"Makanlah Bu, walau sedikit. Masuk angin kalau tak makan."
"Biar saja" jawab ibu ketus.
"Jangan seperti anak kecil Bu, begitu aja ngambek." Suara Dewi menggelegar.
Ibu terdiam, tangannya melintingi ujung pakaian yang warnanya sedikit pudar.
Dewi mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu dan teras, menyiapkan dagangannya. Weekend begini dia menambah menu jualannya, lontong sayur jadi kuncian selain gorengan.
"Saya suapi ya?" Tangan bapak mengambil sepotong lontong hendak menyuapi ibu.
"Assalamu'alaikum" Arina memberi salam.
"Wa'alaikum salam" suara bapak dan ibu berbarengan.
"Alhamdulillah kamu datang nak." Mata ibu berbinar melihat Arina datang. Langsung dipeluknya tubuh Arina yang mungil.
"Ibu...? Ibu kenapa?" Tanya Arina.
"Ibu kangen sama kamu nak." Arina mengernyitkan dahinya.
'Baru dua hari yang lalu aku ke sini. Eehhmm.. pasti ada sesuatu nih.' batin Arina.
"Bapak, ibu udah sarapan?"
"Bapak sudah, ini ibumu nggak mau makan dari semalam. Nggak selera katanya." Bapak menjelaskan.
"Ibu mikirin apa Bu?" Tanya Arina sambil mengelus punggung ibu dan memapahnya kembali ke kursi yang ibu duduki tadi.
Dewi yang berada di dapur, melirik ke arah ibu dan Arina yang sedang berkasih mesra.
" Ya sudah kita ke warung depan yuk Bu. Mungkin suasananya lebih segar di luar." Ajak Arina.
"Tapi nanti mas mu Ruslan, marah nggak?" Ibu menunduk, suaranya pelan.
"Nggak usah pedulikan dia Bu. Tenang aja.' tangan ibu memegang erat tangan Arina.
"Memangnya mas Ruslan nggak kerja?"
"Ada di kamarnya. Lagi kurang sehat." Kata bapak.
"Ya sudah, ibu boleh ku ajak ke depan ya pak?'
"Ya sudah nggak papa."
Ibu dan anak berjalan kaki, bergandengan tangan. Tangan Arina merapikan rambut ibu
"Sebentar Bu, jilbabnya dipakai dulu dong. Ini rambut ibu juga masih berantakan. Arina rapikan dulu ya Bu?"
Arina mengambil sisir kecil di dalam tas kosmetik yang selalu ada di dalam tas utamanya.
__ADS_1
Hanya butuh waktu tiga menit saja, penampilan ibu sudah rapi, wajahnya yang memiliki pipi kemerahan alami terlihat jelas setelah dipoles sedikit bedak.
Sepanjang perjalanan ibu menceritakan banyak hal, mengeluarkan sampah dalam hatinya.
"Jadi sekarang ibu mau nggak ikut ke rumah Arina? Ibu bebas mau ngapain aja."
"Nggak nak. Ibu kasihan bapak. Bapak kan maunya ada ibu disampingnya. Lagipula mas mu Ruslan pasti akan marah.' ada kekhawatiran dalam kalimat ibu.
"Ibu nggak usah takut sama mas Ruslan Bu. Dia itu anak ibu. Harusnya dia yang takut sama ibu, bukan sebaliknya." Arina menepuk punggung tangan ibu lembut, memberi keyakinan bahwa ibu punya kuasa atas semua anaknya.
Jaman sudah terbalik yang harusnya berkuasa malah dilindas, dimanakah hati nurani?
"Itu ada tukang bubur ayam Bandung. Ibu mau?" Tangan Arina menunjuk ke arah sebuah kedai. Ibu mengangguk.
Begitu sampai di kedai bubur, ibu memilih tempat disudut ruangan, sementara Arina memesan ke bapak tukang bubur yang sedang meracik ayam suirnya.
" Pak, bubur dua ya." Kata Arina.
Selama menunggu bubur datang, Arina mengeluarkan gawai dari tasnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
"Mas, bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik. De' gimana sama bapak dan ibu?"
"Bapak sudah baikkan tapi masih batuk-batuk terus. Ini aku lagi makan bubur sama ibu di warung depan.'
"Memang ibu betah tinggal di rumah Ruslan?"
"Dimarahin gimana?"
"Katanya ibu nggak boleh pulang, padahal maksudnya kan ingin membersihkan rumah. Kangen juga sama rumahnya."
Bubur ayam Bandung sudah di depan mata. Ibu langsung makan dengan lahapnya. Arina masih mengaduk-ngaduk pelan.
"Masa mas Ruslan bilang, pikiran ibu kotor, masih memikirkan duniawi dan bla bla banyak mas. Sambil bentak-bentak. Ibu sampai ingin pergi biar tidur di kolong jembatan katanya." Mata Arina berkaca-kaca menceritakan hal itu.
"Brengsek tuh orang. Mau apa dia? Sebenarnya dia ikhlas nggak sih merawat bapak dan ibu?"
"Nggak tau mas." Tangan Arina mengusap air matanya. Sambil sesekali menyuap bubur ayam yang masih hangat.
"Ya sudah kalau ibu mau ke rumahku, sekarang juga mas jemput dik. Tolong tanyakan ibu. Aku juga nggak rela ibu dimarah-marahin begitu.'
"Iya mas, masalahnya ibu kepikiran bapak. Nggak mungkin bapak ditinggal sendirian di rumah mas Ruslan."
"Ya Allah, jadi gimana dong dik? Bapak kan nggak suka sama aku, apa bapak mau juga ikut ke sini? Kasian ibu dik.."
"Ya gimana ya mas? Ini aku juga lagi menampung unek-unek ibu. Sakit hati katanya. Ibu tertekan di sana mas.”
"Astaghfirullah..." Mas Dhika menjerit, jeritan yang tertahan.
Semangkuk bubur ayam dilahap ibu dengan cepat seperti orang kesetanan. Ibu menahan lapar dari semalam.
"Ya sudah tolong kamu temani ibu dan ajak ngobrol terus ya dik. Biar plong hatinya, ibu menyimpan banyak keresahan, mas tau itu. Mas khawatir malah ibu yang sakit kalau selalu tertekan begitu." Nada suara Dhika sedikit memohon.
__ADS_1
"Iya mas, makanya aku ajak keluar biar bebas ngobrolnya. Kalau di rumah mas Ruslan, ibu nggak berani ngomong apa-apa."
"Memang kurang ajar tuh orang." Dhika kembali emosi.
***
"Dari mana Rin?" Tanya Dewi melihat Arina dan ibu datang.
"Nyabu di depan, nyarap bubur." Sahut Arina.
"Lha, aku kan udah buatin lontong sayur, kok malah makan di luar."
"Ya biar to mba, sesekali menghirup udara bebas lebih segar."
"Oh, jadi kalau disini nggak bebas ya?"
Arina gelagapan, salah bicara. Lupa kalau ibu sedang menyimpan luka atas perlakuan mereka.
"Eh, hhmm eh.. bukan gitu mba. Tau sendiri kan ibu bukan type yang suka ngurung di dalam rumah, ibu sudah kangen udara luar."
"Ibu ngadu ya?' bisik Dewi.
"Ngadu apa'an?" Pura-pura tak tau.
"Pasti cerita kan ke kamu?"
"Cerita apa'an mba?" Tanya Arina dengan nada penekanan.
'Dasar munafik. Kamu takut kan, kalau sepak terjang kalian terhadap ibu diketahui banyak orang?" Rutuk Arina dalam hati.
"Pak, bu.. Arina pulang ya?" Pamit Arina sambil mencium tangan kedua orang tuanya. Langsung ngeloyor pergi tanpa mempedulikan Dewi.
Ibu mengantar sampai depan gerbang.
"Kalau ada apa-apa langsung telpon Arina ya Bu." Bisik Arina sebelum melepas genggaman tangannya, dia berulang kali menepuk punggung ibu untuk memberikan kekuatan.
***
Jam di gawai menunjukkan jam 11 lebih 30 menit. Arina sampai di rumah dan langsung ke dapur.
"Masak apa ya?" Gumam Arina sambil membuka lemari pendingin.
Tetiba gawainya menjerit.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam, de' benar bapak minta dijemput?" Tanya Dhika menyerang di seberang sana.
"Ha?! Waduh aku nggak tau mas. Tadi aku langsung pulang. Bapak nggak bilang apa-apa."
"Iya ini barusan bapak telpon katanya minta di jemput sekarang. Ada apa ya?"
Sebuah tanda tanya besar membayangi pikiran masing-masing.
"Walah, aku baru sampai rumah ini, tadi tak ada tanda apapun. Bapak biasa saja, aku hanya menguatkan ibu saja kok."
"Ya sudah, mas siap-siap dulu ya. Nanti mas kabari lagi." Sambungan terputus.
__ADS_1
Seekor macan buas tak mungkin memangsa anaknya. Apakah anak gajah akan menginjak induknya?