
Pagi yang cerah secerah warna mentari yang menyinari alam semesta. Burung-burung bernyanyi riang hinggap dari satu batang pohon ke pohon yang lain. Langit berwarna biru terang, apa warna hatimu?
Wookwook....
Wookwook....
Handphone Arina berbunyi.
Arina yang sedang berdandan langsung mengambil handphone yang ada di meja riasnya.
"Assalamu'alaikum" suara di sebrang adalah suara yang tak asing baginya.
"Wa'alaikum salam Bu, ibu bagaimana kabarnya?" Tanya Arina kemudian.
"Ibu Alhamdulillah sehat nak, cuma ini bapakmu kemarin pingsan. Untung mas mu Ruslan lagi main ke rumah, jadi langsung dibawa ke klinik yang dekat dengan rumah masmu." Kata ibu dengan nada pelan.
"Pingsan kenapa Bu?" Arina kaget, matanya sedikit membulat seakan mau loncat dari tempatnya.
"Ibu nggak ngerti, tapi kata dokter mungkin hipertensi. Kemarin langsung di rongent, hasilnya nanti malam baru mau diambil."
"Kenapa harus di rumah mas Ruslan sih Bu?" Tanya Arina dengan nada tak suka.
"Aduh, ibu nggak ngerti deh. Ibu bingung kemarin itu," jawab ibu sekenanya.
"Iya, tapi kan ibu bisa telpon aku atau mas Dhika," cecar Arina lagi.
"Kemarin saat kejadian itu, pas banget Ruslan datang nak," ibu memberikan penekanan.
"Ooh ya sudah, jadi ibu nginep di rumah mas Ruslan?" Tanya Arina lagi.
"Iya, mau gimana lagi. Bapakmu masih lemah begitu." Kata ibu menegaskan.
"Ya sudah, nanti hari Sabtu atau ahad in syaa Allah kami ke sana nengok bapak." Kata Arina akhirnya.
"Ya, nggak papa. Ibu hanya memberi kabar saja. Khawatir kamu ke rumah ibu, nggak ada orang di sana."
Arina memoles bibirnya dengan lipstik warna pink kecoklatan. Setelah dirasa dandanannya cukup rapi. Segera tangannya mengambil gawainya lagi untuk memesan ojol.
Arina hendak ke sekolah anaknya, memenuhi undangan untuk rapat komite. Arina merupakan wakil ketua dari komite di sekolah itu.
Tidak sampai lima menit, ojol pun tiba. Melihat Arina duduk di kursi depan segera Abang ojol menyapanya.
"Mba Arina?"
Arina terpana melihat wajah tukang ojol yang ganteng. Seperti tokoh utama film Dilan.
Siapa ya dia?
"Mba Arina?" Kembali Abang ojol memanggilnya.
"Eh ee oh eh i iya.." Arina kikuk dibuatnya. Jadi salah tingkah. Terpesona dengan ketampanan si tukang ojol.
"Ke sekolah Antariksa ya mba?" Tanya Abang ojol meyakinkan tujuan Arina.
__ADS_1
"Iya mas." Jawab Arina singkat.
Sambil naik ke motor dan memakai helm Arina kembali bertanya pada sang ganteng tukang ojol.
"Kamu masih kuliah ya mas?"
"Iya mba, benar. Kok mba tau?' Abang ojol malah balik bertanya.
"Kelihatan dari cara bicara dan penampilannya." Jawab Arina sekenanya,
khawatir ini Abang ke ge er an.
"Memang saya ganteng ya mba? Banyak sih yang bilang gitu. Tapi saya nggak pernah ge er tuh." Jawab tukang ojol dengan pede nya.
'Tuh, kan bener. Baru aja dibilang. Langsung aja kaya petasan banting,' rutuk Arina dalam hati.
Sesampainya di sekolah. Belum ada penampakan wakil orang tua murid lainnya yang datang. Arina menunggu ditaman sekolah.
Taman yang asri penuh warna, terlihat selalu dirawat dengan baik. Semua pekerja di sekolah itu tampak rajin rupanya. Tidak hanya gurunya saja yang bersemangat tapi tukang kebun dan sekuritinya juga tak kalah semangatnya.
Padahal ada bocoran kalau gaji di sekolah itu nggak banyak, hanya cukup untuk makan harian saja. Tapi kekeluargaannya jangan ditanya. Banyak fhoto-fhoto dipajang di Mading acara kebersamaan murid dan guru, maupun guru dan team support.
Meeoong, mmmuuuu miioong..
kucing hitam tetiba menjerit sambil menggigit sepotong daging ayam. Rupanya dia berebut dengan ayam. Mungkin sang ayam ga rela kalau saudaranya dimakan kucing.
Petoook.. ppet ppet petoook...
Arina tersenyum setengah tertawa menikmati pemandangan dua binatang berbeda jenis itu.
Hatchi... Hatchi... Suara dering wa terdengar. Arina langsung mengambil gawainya dari dalam tas.
[Rin, kamu bisa ke sini sekarang?] bunyi pesan wa. Rupanya dari Dewi, istri Ruslan.
Sedikit malas Arina menanggapi pesan tersebut.
[Ada apa?] Kembali Arina melayangkan pertanyaan.
[Ada hal penting yang mau dibicarakan] kata Dewi lagi.
[Iya apa?] Arina mendesak.
[Kamu ke sini dulu aja Rina, nanti aku jelaskan.] Dewi masih menahan jawabannya.
[Iya nanti ya, aku ijin dulu sama mas Kiki] jawab Arina sambil menghela nafas berat dan menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
*****
Alhamdulillah, pertemuan wakil orang tua murid berjalan dengan lancar. Pembahasan seputar kegiatan selama bulan Ramadhan dan baksos. Tepat jam 12 siang rapat komite dinyatakan selesai.
Arina kembali mengeluarkan handphone nya dan mulai mencari nama my husband.
"Assalamu'alaikum mas.." Arina mulai menyapa Kiki, paksu tercinta.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, ada apa dek?" Tanya Kiki.
"Aku minta ijin untuk ke rumah mas Ruslan sekarang boleh?"
"Ada apa memangnya?" Tanya Kiki lagi.
"Tadi mba Dewi, wa aku katanya ada sesuatu yang mau dibicarakan tentang bapak. Bapak sekarang disana mas dari kemarin sore. Bapak sakit lagi. Kemarin pingsan."
"Pingsan?" Suara Kiki meninggi.
"Iya, Kebetulan ada mas Ruslan di sana jadi dibawa ke klinik dekat rumahnya mas Ruslan." Kata Arina memberikan penjelasan.
"Memangnya urgent ya? Sampai kamu harus ke sana sekarang?"
"Bilangnya sih penting, boleh nggak mas?" Tanya Arina untuk memastikan.
"Tanya aja dulu, ada masalah penting apa memangnya? Kita kan bisa ke sana nanti hari libur. Dua hari lagi juga udah hari sabtu."
"Tapi... Kalau misalnya memang penting sekali. Aku boleh ke sana?" Nada suara Arina sedikit menekan.
"Sekarang kamu tanya aja dulu masalahnya apa? Kok kamu jadi ngeyel." Kiki jadi sewot.
"Ya udah." Kata Arina sambil menghembuskan nafas berat.
"Aku tau kamu khawatir sama orang tua kamu. Tapi yang lebih aku khawatirkan adalah ini awal mimpi kelabu. Mengerti kan maksud aku?" Kiki memberikan penegasan.
"Iya mas." Jawab Arina dengan suara yang melemah.
"Kok lemes banget jawabnya?"
"Ih sok tau." Kata Arina dengan nada melompat naik setengah oktaf.
"Nah ini suaranya udah meledak lagi." Kiki mencoba menggoda Arina supaya situasi netral kembali.
Arina duduk di taman sekolah, tempat saat tadi dia menunggu mulainya rapat. diputar-putarnya gawai seakan sedang beratraksi di panggung pertunjukan. Menimbang ucapan sang kakak ipar dan pernyataan dari sang suami.
miiaaaw.... tiba-tiba kucing kembali dengan mulut bersimbah darah.
'lha.. itu kucing keluar dari lorong sana dengan ekspresi takut, jangan-jangan dia telah menghabisi nyawa ayam.' ucap Arina dalam hati.
"waduh, jangan-jangan ini pertanda tak baik untuk kedua orang tuaku. Brarti aku langsung ke rumah mba Dewi aja.'
Akhirnya keputusan telah dibuat, ada rasa khawatir yang menyelimuti wajah Arina. Dia sangat hafal dengan segala sikap dan ucapan mas Ruslan yang sok pintar dalam menghadapi kehidupan ini.
"Mas, aku sepertinya langsung ke rumah mas Ruslan ya, khawatir ibu kepikiran mas. aku mohon pengertiannya." Arina kembali menghubungi Kiki.
"Ya sudah, tapi nanti kalau sudah sampai langsung kabari aku."
"Siap komandan. Terimakasih ya cinta, mmuuaacch."
Jiwa yang bebas tak ingin ada pengekangan. Petuah atau kata bijak hendaknya sebagai Reminder bukan untuk menggurui orang lain.
Masih relakah hidup terjajah?
__ADS_1