
Suatu hari kau akan bertanya padaku mana yang lebih penting, hidupku atau hidupmu? Aku akan bilang hidupku .
Dan kau akan pergi tanpa tahu bahwa kaulah hidupku." - (Khalil Gibran) -
Kamu ingin tahu kuncinya bahagia?
Syukurilah setiap nikmat yang diberikan Tuhan dan bersabarlah saat cobaan datang melanda.
Hari-hari di lalui bapak dengan batuk yang tak kunjung reda. Obat dari dr. Atiek tinggal sedikit.
Mas Kiki tak tinggal diam. Dalam kesibukannya sehari-hari memulung rejeki untuk menjadi berkah, dia juga memikirkan bagaimana untuk biaya pengobatan bapak ke dokter.
"Yank, gimana kalau nanti siang kamu ke kantor BPJS ya. Tolong urus kartu BPJS untuk bapak dan ibu." Kata mas Kiki memberikan instruksi pada Arina.
"Kita nggak tanya dulu mas sama yang lainnya?"
"Saat ini kita harus gercep sayang, gerak cepat, inisiatif. Apa yang bisa kita lakukan. Ya lakukan aja.' mas Kiki memegang wajah Arina dengan kedua tangannya.
"Apa jangan-jangan, kamu malas ya untuk jalan mengurusinya?"
" Iiiih.. ya mau lah" teriak Arina dengan mata terbelalak.
"Terus??" Jeda sesaat.
"Aku paling nggak suka main andal-andalan. Mengandalkan orang lain. Kalau kita bisa, kenapa nggak!" Seru Kiki.
"Ya mas kooh." Arina terkekeh.
"Ya sudah, aku berangkat kerja ya. Jangan lupa ke kantor BPJS." Sambil mencium kening Arina.
"Iya, siap bosku," jawab Arina manja sambil mencium tangan dan pipi paksu.
Kesehatan adalah pemberian yang paling baik. Kepuasan adalah kekayaan yang terbesar. Dan keesetiaan adalah hubungan yang terbaik.
***
Tante Erna sedang membersihkan halaman dan tanaman ibu yang mulai kering karena tak terurus lama.
Bapak mulai rajin menjemur badan saat matahari pagi kian gagah bersinar, sambil meracik daun binahong yang diambilnya dari halaman samping.
"Yang sebelah sini jangan kau cabuti Er, nanti bisa mati semuanya tanamanku."
"Iya mas, lagipula aku hanya membersihkan daun yang mati dan busuk. Supaya terlihat bersih."
"Iya lah yang sudah tua dan mati sudah tak bisa dipakai lagi. Lebih baik kau singkirkan. Kalau masih disimpan akan membusuk dan meracuni sekitarnya." Sindir bapak tanpa melihat ke arah Tante Erna.
Tangan bapak masih asik mengiris daun binahong yang akan di jemur. Biasanya setelah kering, daun binahong itu diminum bapak sebagai teh sehat.
"Daun yang berpenyakitan juga mestinya disingkirkan mas, supaya tidak menulari yang sehat." Balas Tante Erna menantang ucapan bapak.
"Daun yang sakit masih bisa diobati tapi kalau yang sudah mati mana bisa dihidupkan kembali? Menjaga kepercayaan itu lebih penting karena kalau sudah rusak tak akan dapat disegarkan kembali."
"Maksudmu apa sih mas? Mas Hendro??"
"Kamu nggak kapok opo Er? Sudah dipisahkan berkali-kali sama mas Bambang, masih aja ngotot. Sekarang kamu malah main belakang di rumahku. Kamu kira di sini rumah bordir?" Bapak menyindir terang-terangan, sambil batuk-batuk dan sesak nafas karena emosi.
"Jaga ucapanmu mas, kalau aku tak memandang kamu suami dari kakakku, sudah tak laporke dengan pasal pencemaran nama baik."
"Huk.. huk.. kamu.. kamu sontoloyo. Pergi kamu dari sini. Kamu yang akan aku laporkan, sudah berbuat mesum di rumahku."
Bapak batuk hebat, terjatuh dan...
"Mas, mas.. yaah elaah nih orang pake pingsan lagi. Mbak... Mbak Lastri.. suamimu pingsan nih." Teriak Tante Erna memanggil kakaknya.
__ADS_1
***
Sedekat apa kamu dengan saudara atau kerabat?
" Mas Yusuf, hari Senin besok, bisa antar bapak berobat?" Tanya Arina saat bertemu di rumah bapak pada Ahad selepas berolahraga.
" Sore aku bisanya." Jawab Yusuf singkat.
"Iya nggak papa. Tapi bisa ya?" Tanya Arina memastikan.
"Kalau memang mau pagi, mungkin dengan yang lain bisa."
" Yang lain siapa to mas? Mas Dhika jauh, lagipula sedang tak enak badan." Arina mencomot ubi Cilembu bakar.
"Mas Ruslan? Mana percaya dia sama pengobatan dokter. Sedangkan aku, nggak bisa bawa motor. Kasihan bapak kalau harus jalan kaki.'
Arina menatap netra mas Yusuf namun tak menangkap isyarat semangat dalam jiwanya.
"Jadi bisa nggak nih mas?" Tanya Arina lagi.
"Kalau sama aku ya.. sore ya"
"Iya mas." Arina memberikan tekanan pada ucapannya, gregetan dengan sikap mas Yusuf.
'Kata mas Kiki kita harus semangat kalau buat orang tua, lah ini malah malas-malasan' batin Arina.
'hhfftt.. kena juga deh dapat giliran, ya sudahlah sekali-sekali. Semoga nambah amal' bisik Yusuf dalam hati.
Sesungguhnya jihad yang sebenar-benarnya bukan di medan perang melainkan melawan hawa nafsu diri sendiri.
Jika seseorang bisa mengendalikan pemikirannya, maka dia menemukan jalan keselamatan.
Bapak tidak bisa mengendalikan pemikirannya. Obat yang harus diminum setiap hari, batuk yang tak kunjung reda. Membuatnya bimbang dengan pengobatan dokter.
"Loh, kenapa pak?"
"Bukan baik, malah tersiksa Bu."
"Tersiksa opo ne pak?"
"Batukku sepertinya makin jadi." Sambil batuk-batuk.
"Kok rasanya sudah setua ini harus nurut apa kata dokter, piye to Bu?"
"Ya Allah pak, mungkin kerja obatnya memang begitu. Untuk mengeluarkan dahaknya ya dirangsang dengan batuk."
"Aku nggak bisa Bu. Aku mau coba pakai herbal saja, wong dulu luka jatuh dari motor saja bisa sembuh."
"Yo opo to pak, pak... Ini minum obatnya dulu tinggal 2 hari lagi. Sayang kalau sampai nggak habis."
"Sudahlah Bu, aku nggak mau dipaksa-paksa. Aku yakin dengan caraku sendiri."
"Ya Allah pak, nanti kita disalahkan sama anak'e , diurusi kok nggak mau."
"Biar saja lah Bu, wong badan milikku sendiri. Aku yang ngerti apa yang aku rasa."
"Tanggung sendiri loh yo," akhirnya ibu pasrah.
"Iyo lah," kata bapak masa bodoh.
Saat Arina tahu bahwa bapak tak mau lagi kontrol ke dokter untuk yang kesekian kali, Arina kecewa.
" Kenapa to pak?"
__ADS_1
"Ndak papa nak. Bapak hanya ga kuat saja setiap hari batuk keras terus menerus. Tersiksa rasanya."
"Ini kan baru mulai pengobatannya pak."
Bapak geleng-geleng kepala, pasrah.
"Tidak nak, ini sudah jadi keputusan bapak. Bapak serahkan semuanya pada Gusti Allah."
Bapak batuk-batuk.
"Sudah setua ini kok rasanya masih saja tersiksa. Minum obat malah bikin bapak tambah sakit."
"Ya Allah pak, perjalanannya masih panjang pak, sabar dulu lah." Arina menghela nafas berat.
"Tidak mungkin seperti makan cabai, langsung merasakan pedasnya. Semua butuh proses pak."
Bapak tetap kokoh pada pendiriannya. Kerasnya batu dapat terkikis dengan tetesan angin. Tapi tidak dengan bapak. Bapak begitu keras, menancap tak tergoyahkan .
"Ayolah pak, kasihan ibu yang setiap hari menjaga bapak.'
"Justru karena bapak kasihan ibu Rin. Setiap malam mendengar batuk bapak yang tak berhenti. Kamu tau, ibu nggak bisa tidur."
"Yaah sabar dulu pak," kata Arina terus memberikan semangat pada bapak.
“Bapak udah merasa enakan kok nak. Dengan herbal saja, bapak yakin bisa memulihkan.”
"Enakan opo? Wong kemarin kata ibu, bapak pingsan."
"Itu karena tantemu wis gemblung, sekarang mana Hendro nggak balik ke sini? Kalau sampai dia ke sini aku cincang habis mereka." Emosi bapak kembali muncul.
"Sssttt, sudah pak. Kita bisa bicarakan baik-baik. Emosi hanya akan menambah sakit bapak menjadi parah." Kata Arina mencoba mendamaikan hati bapak.
"Lagipula, kalau mereka berjodoh kita nggak bisa apa-apa pak, mungkin jalannya ya harus seperti ini."
"Huk.. huk.. huk.. wwoooo ya nggak bisa begitu Rin, dosanya tetap kita yang nanggung, mereka berbuatnya ya di sini. Apa kata tetangga?"
"Ya sudah, sekarang yang penting bapak mau melanjutkan pengobatan ke dokter ya? Nanti aku urus ke klinik yang dekat sini saja, pakai BPJS. Biar mudah nantinya dalam pembiayaan."
"Ndak usah Rin, bapak sudah nyaman dengan herbal saja, bapak racik sendiri. Bisa kok."
Tiba-tiba Tante Erna sudah rapi dan membawa gembolan.
"Mau kemana Tante?"
"Biar saja Rin, biar nggak usah urus dia. Mau masuk jurang sekalipun aku nggak peduli. Kamu jangan ikut-ikutan." Bapak meracau dalam emosi.
"Sssttt.. bapak. Bapak nggak boleh emosi. Kan sudah aku bilang." Arina kembali mencoba menenangkan bapak yang sedikit kalap.
"Tante, Tante sini dulu, duduk dekat Rina. Aku mau tanya memang kenapa Tante melakukan itu di kamar bapak?" Tanya Arina hati-hati.
"Opo sih, kamu ini. Samanya anak dan bapak. Aku nggak melakukan apa-apa kok. Om Hendro itu cuma nginap semalam dan aku menemaninya makan malam, hanya itu." Tante Erna mengambil ponselnya.
"Kalau nggak percaya, silahkan tanya sendiri sama orangnya, apa perlu aku telpon sekarang? Sumpah demi Allah Rin, setelah makan dia langsung tidur, dan aku tidur dikamar tamu depan." Tante Erna menjelaskan panjang lebar.
"Halaaaah.. kamu itu pandai bersilat lidah, pasti kamu sudah kongkalikong dengan Hendro, buktinya dia nggak berani nongol kan? Pasti kamu sudah memberi info kalau aku sudah pulang. Ya to?" Mata bapak merah, tangannya memeras kepala belakang yang terasa sakit.
"Huk.. huk.. keluar kamu dari rumahku." Teriak bapak.
"Tak perlu kau usir berkali-kali mas, aku cukup tau diri. Aku akan keluar dengan membawa sakit hati ini. Aku yakin suatu saat nanti, kamu akan merasakan kesepian yang mematikan seluruh persendianmu." Ancam Erna dengan tatapan dendam.
Segala upaya telah ditempuh Arina, untuk mendamaikan bapak sang kepala batu dan Tante Erna yang entah seperti apa kebenaran yang dia bawa. Tapi semua usaha nihil, amarah dan dendam makin membara di hati mereka.
Berapa harga usahamu?
__ADS_1
Meraih harapan tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses, kesabaran dan keikhlasan.