Nun : Hanya Rindu

Nun : Hanya Rindu
Kehamilan Arina


__ADS_3

Week end adalah hari-hari yang selalu di tunggu oleh anak-anak Arina, mungkin setiap keluarga juga pasti begitu. Aktifitas harian telah membuat sumpek kerja otak. Maka dari itu kita perlu hiburan.


"Sayang, jadi nggak kita car free day ke Sudirman?" tanya Arina pada Rizki alias Kiki, yang masih tertidur pulas.


"Hhhmmm, anak-anak gimana? Kejauhan nggak? Kasihan nanti.."


"Semalam siih mereka pada antusias ikut, katanya sekali-sekali olahraga yang jauh." Jawab Arina dengan menempelkan bibirnya ke pipi suaminya.


"Eehhhmmm... Maaf yang, baru bangun."


Rizki menolak saat Arina mendaratkan ciumannya ke arah bibirnya.


"Ehm eh... Hehe.. iya.. takut keterusan ya.." Arina menggoda suaminya dengan menepuk bokong yang masih berbalut selimut.


Rizki menoleh ke arah Arina dan menatapnya lekat sambil memegang tangan kekasih hatinya itu dan menyuruhnya untuk merebahkan tubuhnya kembali disamping lelaki itu.


"Tadi nolak, sekarang malah nyuruh rebahan lagi. Udah ah.. yuuk keburu siang nih."Ajak Arina pada Rizki kemudian.


Kiki mendengus sedikit kesal dan cemberut melihat istrinya yang bangkit dari tidurnya, kemudian hendak berjalan membuka pintu kamar.


"Yaaaang,... Sedikit aja deh."


"No.. no... Nanti anak-anak keburu bangun dan memanggil kita. Ayook kalau jadi ke Sudirman. Kita siap-siap."


Arina membuka pintu kamar dan berjalan ke kamar Lany dan Aldo untuk membangunkan mereka.


Sementara Rizki dan anak-anak mandi, Arina sibuk di dapur untuk mempersiapkan roti bakar dan susu untuk sarapan.


"Ma, mana leging Lany yang pink?"


"Bukannya kemarin baru kamu pakai nak? Brarti masih ada di tumpukan cucian kotor tuh, mama kan belum sempat mencuci. Kemarin seharian di rumah nenek, sekarang kita mau olahraga."


Lany sedikit kesal, barang yang dicarinya tak ada.


"Tau.. tuuh ma, masa dia yang pakai kemarin, marah-marahnya sama Aldo. Mana Aldo tau.." Aldo duduk di kursi makan sambil mengambil gelas susunya.


"Udaaah, pakai yang celana olahraga aja. Lebih enak dilihat juga kan?" Sahut Arina mendamaikan suasana.


Lany hendak menjual kepala Aldo yang hendak meneguk susunya.


"Heii, Lany.. kesalahan kan padamu sendiri, mengapa menyalhkan orang lain? Mama nggak suka ya kamu begitu."

__ADS_1


Rizki datang menghampiri mereka ketika mendengar keributan di ruang makan.


"Ada apa siih? Pagi-pagi kok sudah ribut? Ayo siap-siap, nanti keburu kesiangan nih sampai Sudirman."


Semua terdiam mendengar suara Rizki yang datang dan menyuruhnya untuk segera bergegas.


"Sarapan dulu pah, supaya nanti kuat sampai sana."


"Hahha.. mama pintar juga nih, biar nanti di sana kita nggak usah jajan ya?"


"Waaah.. nggak bisa gitu pah. Jajan beda lagi urusannya. Masa pemandangan yang bagus dianggurin aja.' Aldo menanggapi usulan papanya dengan gurauan.


"Aah, kamu mah emang gembul. Nggak bisa lihat tukang jajanan berderet."


Keriuhan kembali tercipta di rumah Arina.


Retina suara gawai Arina berbunyi nyaring.


"Assalamu'alaikum.. ada apa mas?" Arina begitu seksama mendengarkan suara di sebrang.


"Iya, in syaa Allah besok aku akan lihat kondisi bapak dan ibu lagi, kemarin aku seharian di sana. Sekarang kondisi ibu yang agak mengkhawatirkan mas."


"Hari ini kan aku mau ajak anak-anak olahraga dulu, gimana kalau mas Dhika dan keluarga datang menjenguk ibu. Sepertinya beliau perlu ditemani."


Arina mengunyah perlahan roti yang disuapi suami tercinta. Anak-anak juga memperhatikan obrolan mamanya dnegan suara di sebrang sana.


Setelah bercerita sedikit tentang kondisi ibunya yang makin hari perlu perhatian ekstra dibandingkan bapaknya yang sudah mulai baikan, Arina menutup telpon dengan hembusan nafas berat.


"Sabar ya ma, aku dan anak-anak pasti akan selalu support kamu. Dan pastinya kamu juga harus bisa menjaga calon adik mereka."


Mata Kiki beralih kepada kedua anaknya. Tangan lelaki itu terus mengelus perut istrinya.


"Haa?? Mama hamil?" Tanya Aldo dan Lany hampir berbarengan.


"Alhamdulillah.. akhirnya aku akan punya adik juga." Lany yang anak kedua sangat menginginkan dipanggil dengan sebutan kakak.


"Tuuuh, senang kan kamu, abakal dipanggil jadi kakak." Sahut Aldo sambil mengunyah roti dan meneguk susu yang hampir habis dalam gelasnya.


Lany tersenyum tersipu malu, dia mendekati mamanya dan memeluknya manja.


"Semoga sehat terus ya dik." Dikecupnya perut mamanya yang belum terlihat besar.

__ADS_1


Arina mengusap kepala Lany dengan oenuh kelembutan.


***


"Kok sekarang ibu sering lupa ya nak, bingung mau apa. Kenapa bisa begitu ya? tanya ibu pada Arina.


"Iya tak mengapa Bu. Setiap yang sudah tua bisa saja mengalami seperti ini. Bagaimanapun keadaan ibu, Rina akan selalu menjaga ibu. Rina saaayang sama ibu," kata Rina memeluk dan menenangkan orang tuanya.


Demensia telah lama di kaitkan dengan penurunan fungsi kognitif otak sebagai efek samping penuaan alami.


Penyebabnya belum diketahui secara pasti namun penderita dimensia umumnya terjadi karena faktor penuaan.


"Bagaimana kalau kita konsultasi ke dokter yuk bu, mungkin ibu kelelahan sehingga mengakibatkan tidak bisa berfikir dengan baik. Atau apa ibu merasa tertekan dengan marahnya bapak kemarin?" tanya Arina lagi.


"Iya kemarin ibu dimarahin bapak, katanya ibu pipis di kamar tidur. Padahal ibu kan pipisnya di toilet na,' katanya dengan wajah sedih.


"Ibu tau, bapak udah cape kali ya na. Jadi ibu bilang aja kalo ga ikhlas ya udah mau pulang ke kampung aja. Bapak tambah marah na, ibu jadi sedih." Perkataan ibu membuat hati Rina menangis.


Mungkin memang bapak tak menyadari perubahan ibu.


“Ibu tuh mengada-ngada, hanya cari perhatian.”


Hari ke hari dilalui dengan penuh tanda tanya sebenarnya. Karena perubahan ibu yang begitu cepat sehingga membuat mereka terutama Arina dan Dika harus bisa membuka mata.


Ternyata bundanya sekarang lebih memerlukan kasih sayang keluarga.


Beberapa kali lupa jalan pulang. Setelah mengaji bersama ibu-ibu pengajian, ibu masih saja asik menyalami mereka satu persatu dengan tidak berkesudahan.


"Bu, udah selesai ngajinya. salamannya juga udaah, yuuk kita pulang." kata teman ibu saat menyadari ada perubahan pada diri ibu.


"Itu sandal Bu Dina bagus ya, saya siih sudah nggak bisa jalan pakai sandal tinggi begitu." ibu meracau tak jelas pada teman pengajian yang lainnya.


"ooh iya lah Bu, saya juga nggak bisa pakai sandal tinggi khawatir keceklik, udah tua nggak usah yang aneh-aneh bu." sahut teman ibu menanggapi ocehan ibu yang terus saja ngawur.


"Bu, ibu mau kemana?"


"Mau pulang, ya masa saya mau main lagi, ke pasar ya sudah."


"Ini jalan ke rumah ibu, kalau itu mau ke arah masjid. Ibu mau ke masjid?" teman ibu menggandeng tangan ibu dengan penuh perhatian dan mengantarnya sampai ke rumah.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2