Nun : Hanya Rindu

Nun : Hanya Rindu
Kenangan Bersejarah


__ADS_3

"Bu, makan pisangnya dulu ya," kata Arina sambil memegang sendok dan buah pisang yang akan di kerok.


"Kenapa kamu kerok pisangnya Rin?" tanya Dika melihat Arina mulai menyuapi ibu dengan pisang yang sudah lembut.


"Iya kak Dika, sekarang ibu makannya sudah harus yang lembut-lembut. Itu udah aku buatkan bubur nasi untuk makannya nanti," kata Arina sambil terus menyuapi ibu dengan kasih sayang.


"Ibu, bu. Makan dulu yuuk. Matanya dibuka dong. Makan ya Bu," Arina mencoba berdiskusi dengan hati ibu yang selalu diam membisu.


"Bu, Dika berangkat kerja dulu ya," pamit Dika sambil mencium tangan ibu.


"Iya deh, cari uang yang banyak buat nikah lagi." Sontak mereka terkejut dan tertawa terbahak-bahak mendengar kelakar ibu yang tidak terduga.


Begitulah, kadang ibu diam seribu bahasa namun kadang tertawa lemah saat mendengar anak-anaknya berkicau. Dan tak jarang pula ibu menyahuti omongan dengan spontan. Setelah ditanya, tak bisa lagi menjawab lanjutannya.


Dulu ibu selalu bercerita renyah, tentang apa saja. Tentang masa lalunya, tentang sekolahnya dan segala kenakalan masa remajanya.


"Pulang sekolah, ibu suka dikunciin pintu sama kakek. Ga boleh masuk ke rumah," kata ibu sambil matanya yang menerawang mengingat keceriaan masa muda.


"Kenapa nggak boleh masuk rumah Bu?" tanya Arina disela cerita ibu.


"Ibu pergi ke bioskop sama teman-teman sampai malam baru pulang. Dulu kan zamannya film India melulu di bioskop. Seru-seru deh. Ibu ga pernah beli tiket, masuk aja langsung. Kan yang punya bioskop itu, bapaknya teman ibu. Pulang sekolah janjian deh diujung gang sekolah," serunya ibu bercerita sambil senyum bahagia tersungging di bibirnya.


"Dulu ibu nakal, tapi bandelnya ibu nggak seperti anak-anak jaman sekarang. Nakalnya cuma mencuri waktu pulang sekolah, janjian sama teman trus jalan-jalan deh."


Arina menyimak dengan seksama sambil memijat tangan dan kaki ibu. Sesekali mulut ibu bedesis, merasakan ngilu di sekujur tubuhnya.


Saat Dika nikah, tumpah air mata ibu. Karena Dika begitu dekat dengan ibu, selalu bermanja-manja dan gelendotan dengan ibu.


"Rasanya lepas semua saat Dika menikah." Air mata ibu berderai.


'Dika sudah ada yang mengurus, lepas semua tanggung jawabku.' Kembali ibu berbisik lirih.


"Bu, Dika minta ijin sama ibu ya untuk menikah hari ini," kata Dika sebelum mengucap ijab kabul.


"Iya nak, ibu merestui pernikahan kalian. Semoga kamu bisa menjadi pemimpin yang bijaksana. Menjadikan rumah tanggamu sakinah, mawadah, warohmah. Dan memberikan cucu yang lucu buat ibu." Ibu memberikan sedikit wejangan yang membuat air mata Dika tumpah ruah.


Masa-masa manis dengan cerita, canda dan tawa ibu membuat Arina semakin bersedih. Matanya berkaca dan senyum yang tertahan.


"Semoga ibu sabar ya dengan cobaan ini."


"Iya sabarlah, kalau nggak sabar udah ibu tinggal semuanya."


Ibu kembali meracau tak jelas.


Arina terus menyuapi ibu dengan pisang yang lembut, sesuap demi sesuap dan dibantu minum. Arina kembali berdialog dengan ibu yang cuek dengan segala keadaan.


Kini Arina sudah sangat jarang mendengar suara ibu. Ibu yang lemah dan tak lagi banyak cerita. Senyumnya begitu dingin.

__ADS_1


Masih setiakah tisu membersamai ibu untuk mengelap keringatnya?


***


Belahan jiwa merekah membisu, semu dalam satu ikatan yang sakral. Masihkah bertahan hingga akhirnya?


"Dek, akankah kita seia sekata hingga tua dan renta?"


"In syaa Allah mas, aku akan selalu menjaga kesetiaan ini."


"Sekarang anak kita dua, kamu mau tambah berapa lagi?"


"Hihihi.. mas lucu, semua tergantung Gusti Allah saja. Aku manut. Tak pernah aku menolak pemberianNya."


"Walaupun pekerjaanku hanya seperti ini?" Bapak menunjuk pada beberapa barang elektronik yang sedang di service nya.


"Nggak papa pak, selama ini toh aku nggak pernah menuntut apa-apa kan? Aku juga berusaha membantu bapak dengan ini." Gantian ibu yang menunjuk beberapa potong jahitan yang dalam pengerjaan nya.


"Yang penting anak-anak sehat dan bisa sekolah pak. Ibu akan lakukan yang terbaik untuk keluarga kita."


Semua begitu indah bila hati ikhlas dan rela menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Seiring berjalannya waktu, masa pailit bisa saja menjadi pemicu satu pemberontakan. Krisis ekonomi bisa menarik krisis hati.


"Bu, aku belum bayaran sekolah? Ini ada surat dari kepala sekolah untuk melunasi tunggakan. Kalau nggak dibayar, aku nggak bisa ikut ujian." Si sulung, Yusuf merengek.


Bapak yang mulai tak konsen bekerja, beberapa kali kena tegur pelanggan.


"Pak maaf, ini kok baru dua hari sudah rusak lagi. Tv nya nggak bisa nyala. Bleng hitam semua. Kemarin kan cuma suaranya aja, kenapa sekarang jadi begini?"


"Pak, lama sekali kulkas saya belum jadi-jadi. Bapak niat kerja ga siih?"


"Pak, radio saya kok jadi gini, jarum chanelnya bablas nggak bisa berhenti dan nggak bisa menangkap gelombangnya?"


Bapak mulai pusing dengan segala keadaan. Beban pikiran semakin menumpuk dan tak terkendali. Emosi jiwa mulai merasuki sisi gelap dalam dirinya.


"Pak, jangan diam saja dong, bagaimana ini? Anak-anak harus bayaran sekolah. Kalau tidak, nggak bisa ikut ujian."


Bapak mulai gelisah, terlihat dari gelagatnya yang seperti orang bingung.


"Beras habis pak, semua serba habis. Ibu belum dapat pelanggan lagi."


Brrraaakkk...


"Kamu ngutang dulu kek ke warung sana. Apa-apa bisanya ngeluh aja. Bantu mikir dong Bu. Memangnya kamu nggak bisa bergerak apa, selalu nunggu perintahku, gitu?" Teriak bapak sambil menggebrak meja kerjanya.


Ibu terlonjak dengan bola mata hampir menggelinding. Mulut ibu terkatup rapat saat melihat peralatan service bapak terjatuh. Obeng, solder dan beberapa komponen mesin bergelimpangan.

__ADS_1


Mulai ada sakit di dada ibu melihat perlakuan bapak semakin hari semakin brutal. Pemasukan tak ada, caci maki hampir setiap hari.


Dua Kakak beradik memeluk ibu. Kadang tangkai sapu ijuk sebagai alat untuk melampiaskan emosi bapak.


"Aduh pak, ampuun pak. Sakit.." teriak Dhika.


Yusuf tak terima dengan perlakuan bapak yang semena-mena terhadap adiknya itu.


Yusuf melawan bapak.


"Hei.. stop pak. Ini manusia. Gila kau ya, setan apa yang sudah merasuki dirimu hingga membuat sakit semua orang. Kalau kami tiada, apa kamu bisa menanggungnya?" Yusuf kalap, tak bisa lagi mencerna kata-kata sopan.


Ibu menangis, menjerit dalam kepedihan.


Mengapa semakin hari keganasan makin meningkat?


Ibu memutuskan untuk pindah ke rumah kakek di sebuah desa terpencil. Karena sudah tak bisa bayar kontrakan yang menunggak hingga 5 bulan. Dengan segala kekurangan mereka jalani dengan langkah gontai.


"Sini saja cah ayu.. kamu, Bambang dan anak-anak kalian tinggallah di rumah bapak. Masih ada kamar kosong."


Kakek menunjuk kamar yang berada di belakang bersebelahan dengan kamar om Rinto. Ibu mencium tangan kakek penuh haru tapi bapak sepintas saja menegur kakek, kemudian berlalu.


"Maaf pak saya mau ke masjid depan gang."


"Silahkan nak, nanti jangan lama-lama ya, kita makan bersama.'


"Saya tidak lapar pak." Bapak berpamitan pada kakek.


"Kalau kalian mau makan, makan saja duluan nanti bapak gampang." Begitu kata bapak pada ibu, Yusuf dan Dhika.


"Terutama kamu, kamu harus makan demi bayi yang ada dalam kandunganmu."


Saat itu Ibu sedang mengandung Ruslan.


Kakek mencium gelagat yang ganjil. Walaupun kakek tau bapak tidak bisa menyatu dengan om Rinto. Seperti kucing sama anjing.


Malam itu udara di kampung kakek sangat dingin, karena hujan yang tak henti dari sore hari. Bapak tak pulang. Dia memilih untuk tidur di masjid. Ibu menangis, menangisi keadaan. Akankah kekuatan itu mulai tercipta?


"Kamu nggak perlu banyak pikiran nduk, sudah tenang saja tinggal di sini. Kalau untuk makan sehari-hari, pensiun bapak masih cukup."


"Iya pak," sahut ibu dengan mengusap air mata yang terus mengalir.


"Suamimu kemana? Apa masih di mushola?"


"Nggak tau pak, biarkan saja. Mungkin di sana tempat yang tenang untuknya. Ada yang jaga to pak?" Tangannya mengelus perutnya yang membuncit.


"Yo ada, si Markum pasti senang ada teman ngobrol. Ya sudah nggak apa-apa. Istirahat nduk, temani anak-anakmu."

__ADS_1


Kakek masuk ke dalam kamar, sementara ibu masih diam menatap televisi hitam putih, yang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dadanya sesak seakan terhimpit benda berat yang menumpuk. Ibu menghela nafas perlahan, kemudian melangkahkan kakinya untuk mematikan televisi dan lanjut membuka kamar yang telah terisi dengan dua jagoannya.


__ADS_2