
Duka lara adalah ujian. Manusia itu penikmat segala. Apa yang sudah kau lahap hari ini?
Pagi yang cerah, warna langit yang biru dan sinar mentari yang merekah. Bapak dan ibu sedang menikmati semangkuk bubur ayam.
"Alhamdulillah, berdua saja kenyang ya pak, bagaimana tadi kalau pesan dua mangkuk?" Celoteh ibu sambil menikmati suapan terakhir.
"Iya Bu, mubazir kalau sampai terbuang.' bapak menimpali.
"itu si pushi mau juga pak, bekas bubur kita. hehe.. masih ada daging ayamnya secuil."
"Namanya juga kucing, apa juga dimakan. Lha itu kemarin saja bapak lempari roti, dia mau juga."
Mereka nampak tenang dan bahagia. Tak ada keruwetan yang terlukis di wajahnya.
"Pak, aku kangen sama rumah kita. Ingin rasanya melihat sebentar, membereskannya, pasti banyak debu."
"Nanti saja lah Bu, badan bapak belum kuat.'
"Ndak usah bapak, aku saja. Minta tolong Bagas untuk mengantarkan."
"Ya sudah kamu tanya saja sendiri, kalau sudah pulang sekolah."
Dewi keluar dari dapur dengan membawa sekeranjang gorengan, dagangannya.
"Mau antar dagangan ke pasar wi?" Tanya ibu sambil membereskan mangkuk bubur yang telah kosong.
"Iya Bu, nanti ibu sama bapak kalau mau makan. Lauk dan sayur ada di dapur ya. Dewi berangkat ya bu, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab ibu dan bapak berbarengan.
"Baru juga selesai sarapan, udah diingatkan makan siang aja." Bapak terkekeh sambil menggelengkan kepala pelan.
"Yaa, Dewi kan pulangnya sore pak. Nanti kalau nggak diberitahu disangkanya bapak sama ibu nggak dikasih makan di sini." Mata Dewi melirik kearah ibu dengan langkah kaki yang terburu-buru.
*****
Sore berbalut lembayung senja tatkala netra ibu menyiratkan pertanyaan yang ingin terungkap. Adzan Maghrib bergema, menandakan malam akan datang.
Setelah sholat Maghrib, ibu mulai mengutarakan maksud hatinya.
"Nak, besok ibu ingin melihat rumah sebentar. Ibu ingin membersihkan debu-debu dan membereskan pekarangan." Kata ibu pada Ruslan.
__ADS_1
"Ibu tenang-tenang aja di sini. Nggak usah mikirin rumah. Banyak ibadah saja Bu. Rumah nggak akan dibawa mati."
Dddeeegghhh..
Hati ibu tersentak, refleks tangan kanannya mengelus dada.
"Astaghfirullah, eling nak. Ibu tau rumah nggak akan dibawa mati. Tapi selama bapak dan ibu masih hidup, masih perlu rumah." Emosi ibu mulai memuncak.
"Tak pantas rasanya kalau rumah ditinggalkan kotor begitu lama. Sesekali harus dibersihkan." Tambah ibu lagi.
"Trus ibu mau ke sana sama siapa? Memangnya ibu bisa pergi sendiri? Jangan suka merepotkan Bu." Nada sinis terlontar dari mulut Ruslan.
"Ya Allah, ibu hanya minta tolong Bagas untuk menemani dianggap merepotkan?" Ibu meneteskan air mata.
"Lebih baik ibu pergi saja dari sini, tidur di kolong jembatan juga nggak papa. Kalau memang ibu kau anggap merepotkan." Tangan ibu meremas ujung hijab yang ibu pakai.
"Bukan begitu Bu, jangan cari penyakit. Mendingan ibu di sini jagain bapak." Dewi menyambar layaknya petir.
"Pikiran ibu ke Allah aja udah, nggak usah repot-repot mikirin rumah dan yang lainnya. Hati ibu masih banyak kotornya. Duniawi melulu, coba ibu pikirkan akhirat." Kata Ruslan menimpali.
"Ya Allah... Astaghfirullah..." teriak ibu.
"Belah saja dada ibu, kalau nggak percaya. Ibu nggak pernah mikir yang macam-macam. Mengapa kamu jadi kurang ajar begitu?" Tangis ibu pecah. Bapak hanya bisa diam.
" Ya Allah, ampunilah aku dan anak-anakku. Tumbuhkan lah kepada kami rasa kasih dan sayang." Doa ibu dalam tangisannya.
Bantal hijau sebagai saksi betapa hati ibu sakit.
"Jo, apa salahku sampai anak-anak begitu kepadaku. Mereka memang merawat bapak yang sedang sakit, tapi mereka nggak peduli padaku.' keluh ibu pada bantal.
"Perih rasanya hati ini Jo, di sini aku nggak bisa melakukan apa-apa. Ini itu nggak boleh. Hanya istirahat saja. Badan pada ngilu semua." Ibu memeluk bantal hijau dengan sangat erat.
"Aku rindu rumahku. Aku ingin pulang walau sebentar. Aku ingin membersihkannya. Apa itu salah Jo?" Tanya ibu pada bantal lagi.
Bapak membawakan makan malam untuk ibu. Ibu hanya makan sedikit.
"Ga ada selera" begitu kata ibu.
"Jangan begitu Bu, walau sedikit makan lagi. Ini bapak suapi ya."
"Ndak pak, aku nggak nafsu makan. Sakit hati ibu pak."
__ADS_1
Bapak meletakkan piring disebelah ibu duduk. Bapak mengusap punggung ibu yang sudah tinggal tulang.
"Sabar Bu, namanya kita numpang di sini."
"Sampai kapan pak? Aku nggak bisa berlama-lama di sini. Daripada nanti keluar kata-kataku yang tidak patut." Ibu merajuk, tangan ibu mengguncang lengan bapak.
"Sampai bapak kuat Bu, in syaa Allah. Bapak juga ndak mau merepotkan terlalu lama, anak-anak Ruslan banyak. Anaknya ditambah anak asuhnya itu." Bapak menepuk-nepuk tangan ibu.
"Sabar ya Bu," kata bapak lagi.
Saat ibu ingin melanjutkan obrolan, terdengar suara Ruslan berdehem dan batuk yang disengaja. Ibu ciut dan mencubit lengan bapak manja.
"Sstt, sudah. Yang sabar.." tegas bapak pelan memberi kode pada ibu.
Setelah sholat isya, ibu merebahkan badannya yang kurus. Rambut putihnya menutupi bantal hijau.
Di luar kamar, anak-anak Ruslan saling melempar guyonan. Menghibur bapak. Sangat ramai. Ibu bersedih. Rasanya tak adil.
"Jo, di luar anak dan cucuku menghibur bapak. Mereka nggak peduli padaku Jo. Cuma kamu yang bisa menemaniku."
"Ibu jangan menangis. Jojo sayang ibu. Jojo ikhlas dipeluk ibu dan basah karena tangisan ibu. Asalkan ibu nggak sedih lagi." Suara bantal hijau membuat ibu terkejut.
"Aku mendengarmu bicara, ini benar sungguhan suara bantal atau suara batinku sendiri?"
Namun suara itu telah membuat ibu sedikit tenang. Seakan ada yang menemani dan memberikan dukungan moril.
Ibu tertidur pulas dan bermimpi indah. Di dalam mimpi, ibu menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik. Hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Bertemu dengan banyak binatang ramah.
Tetiba ada jaring yang menangkap kupu-kupu. Ibu terbangun.. baru di sadari kalau itu hanya mimpi. Jam di dinding menunjukkan jam 2 lebih 15 menit. Istighfar dan berwudhu untuk sholat tahajud.
Setelah membaca beberapa ayat Al Qur'an, ibu kembali tidur.
Bapak batuk-batuk beberapa kali dalam tidurnya. Ibu terjaga.
"Tidurlah Bu, supaya besok ibu bangun dalam keadaan sehat dan segar. Jangan dipikirkan omongan anak ibu yang tak berguna." Bantal hijau kembali bicara.
"Tapi bapak...."
"Bapak nggak apa-apa, hanya batuk sebentar saja. Itu lihat masih tertidur pulas bukan?"
"Baiklah Jo, selamat malam."
__ADS_1
Mimpi adalah bunga tidur. Pun dapat diartikan keinginan yang tersimpan dalam alam bawah sadar manusia. Masihkah kau takut untuk bermimpi?