Nun : Hanya Rindu

Nun : Hanya Rindu
Bapak Sakit


__ADS_3

Sore itu, langit kelabu. Mendung menggelayuti panorama alam. Dimanakah kau berpijak?


Sejujurnya Arina malas untuk melangkahkan kaki ke rumah Ruslan. Khawatir kupingnya akan panas dengan ceramah yang tak pernah surut.


Beberapa pekan yang lalu Bapak memang pernah mengatakan ingin tetirah atau istirahat di rumah Ruslan.


"Kenapa bapak memilih tetirah di rumah mas Ruslan pak?" Tanya Arina waktu itu.


"Tempatnya strategis, mudah terjangkau dengan mas mu yang lain. Kamu juga kan, lebih dekat ke sana dibandingkan ke rumah bapak?"


"Tapi kan...." Suara Arina terputus saat bapak menyambar omongannya.


" Ya sudahlah. Bapak sudah memutuskan. Ya sudah, kalian terima saja."


Arina tak bisa membantah apa yang sudah menjadi keputusan bapak. Karena dia tahu, apapun alasan yang dikemukakannya tak akan bisa mengubah pendirian bapak.


Arina mulai memesan ojol setelah mendapat ijin dari paksu untuk pergi ke rumah Ruslan.


Rumah peninggalan kakek belum terjual. Ruslan menempati rumah yang berukuran 90x100m2.


Cat dinding kusam, terlihat beberapa cat yang mengelupas. Kusen pintu dan jendela telah rapuh. Ya, rumah itu sudah tua.


Kalau hujan, atapnya bocor halus di beberapa titik. Merembes airnya dan membentuk peta pulau di sana.


"Assalamu'alaikum " salam Arina setelah sampai di rumah Ruslan.


"Wa'alaikum salam" jawab beberapa orang yang ada di ruang tamu mini, dengan sofa tua dan meja jati yg masih kokoh.


Bapak nampak di sudut ruangan dengan kasur single sebagai alasnya.


"Oh, mas Yusuf sudah sampai. Dari jam berapa mas? Tanya Arina sambil mencium tangan mas Yusuf.


"30 menit yang lalu" jawab Yusuf dengan senyum ramah.


Arina menyerahkan sekantung jeruk pada mba Dewi.


"Ibu kemana mba?" Tanya Arina kepo karena tak melihat ibunya di sana.


"Ibu ke warung, katanya mau beli cemilan dan susu." Jawab mba Dewi sambil ngeloyor ke dapur.


"Loh, memangnya nggak bisa nyuruh Tika atau Bagas? Kok ibu yang jalan?" Protes Arina.


"Ibunya yang mau, katanya nggak enak di dalam rumah terus."


Arina ingin menyahuti lagi tapi ditangkapnya kode dari netra Yusuf untuk diam.


"Ya biarkan saja Rin, biar sambil olahraga." Kata Dewi lagi.


'Olahraga kok ke warung, sudah hampir Maghrib pula.' rutuk Arina dalam hati.

__ADS_1


Arina hanya diam dan menarik nafas panjang.


Dilihatnya sang Bapak tertidur pulas.


Yusuf nampak tenang membacakan beberapa ayat Al Qur'an sambil tangannya memegang mushaf.


Arina mendekati bapak dan memijat tangannya yang lemah. Ditatapnya tubuh yang lemah dan tua renta.


"Ya Allah, pak. apa yang sedang bapak pikirkan hingga bapak sakit seperti ini?" tanya Arina dalam hati.


Arina mengambil mushaf dan mulai membacakan beberapa ayat suci dan mendoakan bapak supaya diangkat penyakitnya oleh Yang Maha Kuasa. Ada getaran dalam tangan Arina yang membuatnya menghentikan bacaannya.


"Astaghfirullah." gumam Arina masih dalam hati.


"Jadi hasil rontgennya kemarin bagaimana mba?" Tanya Arina dengan mata yang masih tertuju pada bapak.


"Ada penyumbatan di kepalanya, jantungnya juga sudah kerendam.' mba Dewi menjelaskan.


"Astghfirullah" pekik Arina pelan.


"Dikasih obat apa?" Tanya Yusuf akhirnya.


"Itu ada.' kata Dewi dengan menunjuk ke arah lemari gelas.


"Tapi nanti biar diusahakan dulu pakai herbal. Mas Ruslan akan meracik daun antanan untuk bapak." Kata Dewi menjelaskan.


"Jadi obat dari dokter ga diminum?" Yusuf menimpali.


"Iya nggak papa. In syaa Allah bapak sembuh dengan minum daun antanan. Nanti saya yang akan meraciknya." Tetiba suara Ruslan terdengar. Rupanya dia di toilet sejak tadi.


"Tapi kan kita nggak tau takarannya seberapa? Apa kandungan yang ada di dalamnya? Efektif atau nggak?" Cecar Arina.


"Saya tau. Dulu Bagas minum itu langsung sembuh. Alhamdulillah." Tegas Ruslan.


Arina diam. Walaupun dalam batinnya berdialog.


'Bagas kan anak kecil, otomatis stamina tubuhnya akan membantu proses penyembuhannya. Bapak kan sudah tua. Sudah mulai melemah.'


"Baiknya obat dokter diminum Rus. Nanti saat kontrol, kan dokter melakukan observasi dan evaluasi kembali." Kata Yusuf.


"Kebanyakan minum obat dokter malah bahaya mas, itu kan racun." Sanggah Ruslan.


Arina dan mas Yusuf mengambil nafas panjang bersamaan.


"Maaf mas, ini yang sakit bapak. jangan main coba-coba sekehendak hati. kalau sampai kenapa-napa bagaimana?" Arina masihntak puas dengan jawaban Ruslan.


"kamu meragukan kemampuanku?" tanya Ruslan sengit.


"kita perlu orang yang benar-benar ahli, tak bisa sembarangan.' Arina mencecar agar bapak bisa tertangani dengan baik.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" suara ibu dari pintu luar.


'wa'alaikum salam, ibu." Jawab Arina sambil berjalan ke arah ibu dan mencium tangan ibu.


"Sudah lama kamu nak?"


"Ada 10 menit yang lalu."


"Ibu dari mana?"


"Dari warung, trus ketemu teman ibu di sana. Jadi ngobrol dulu."


'kok nggak nyuruh Tika atau Bagas saja Bu?"


"Mereka lagi sibuk tadi bantu-bantu mbakmu di dapur. Mempersiapkan dagangannya.'


Dewi memang berjualan gorengan. Setiap hari di titip di pasar, di warung atau sekolah. Alhamdulillah selalu habis. Kalaupun tidak habis, dia selalu bagikan ke tetangga.


"Nanti satu bulan kedepan, bapak coba rontgen lagi. Biar kalian bisa tau perkembangan bapak setelah minum racikan buatanku." Ruslan setengah berteriak dari kamarnya.


"Ya sudah, kita coba lihat aja dulu." Sahut Yusuf.


Arina gemas melihat Yusuf yang mengikuti apa kata Ruslan.


"Ya nggak bisa gitu dong mas, herbal itu lebih kepada pencegahan bukan mengobati. Kalaupun bisa butuh waktu yang sangat lama." Kata Arina berbisik pada Yusuf.


"Kalau udah sakit serius begini ya harus dengan resep dokter. Perlu tindakan sesuai petunjuk dokter, jangan sok tau." Kemarahan Arina masih dapat ditahan.


"Udah, nggak papa, kita lihat perkembangannya satu bulan ini. kalau sampai tidak ada kemajuan baru kita ambil tindakan medis." Yusuf menenangkan.


"Udah, iya in aja" kata ibu pelan sambil mengedipkan matanya.


'Kenapa sih semua orang harus nurut apa katanya. Memang dia dokter.' batin Arina kembali berontak.


Bapak masih tergeletak tak berdaya, Yusuf menatap kearah bapak sambil meneruskan bacaan Al Qur'annya. Ibu berjalan ke arah dapur.


"Yusuf dan Arina belum dibuatkan minum ya wi?" tanya ibu pada Dewi yang duduk di teras sambil memberi makan kucing kecilnya.


"Biasanya Tina bikin minum sendiri dia Bu, kalau mas Yusuf tadi hanya minta air putih."


"masa air putih, biasanya dia minum kopi. Arina, ibu biarkan teh manis hangat ya nak." teriak ibu dari dapur.


Arina berjalan mengikuti ibu ke arah dapur.


"sudah Bu, biar Arina buat sendiri."


Terdengar adzan Maghrib menggema, tanda aktifitas harus dihentikan sesaat.


Segala masalah yang ada harus di hadapi dengan kepala dingin, hati yang ikhlas dan senyum. Haruskah dunia menangis padamu?

__ADS_1


__ADS_2