
Rintik hujan berjatuhan di atas bumi tanpa pikir panjang. Menghantarkan hawa dingin nan menusuk yang dapat membekukan setiap orang yang berusaha bertahan di antara lebatnya hujan yang tampaknya tidak ada niatan untuk berhenti.
Bukankah akan menyenangkan di saat-saat seperti ini bisa meringkuk di atas kasur sambil memeluk guling dalam selimut tebal? Memejamkan mata dan menjadikan rintik hujan sebagai musik pengiring tidur hingga benar-benar tertidur? Atau mungkin menonton televisi sembari meminum sesuatu yang menghangatkan, seperti coklat panas atau teh hangat mungkin?
Atau bahkan tertidur nyaman dalam dekapan seseorang? Terlebih itu seseorang yang spesial? Menikmati waktu bersama tanpa rela melepas satu sama lain. Bukankah itu menyenangkan juga menenangkan? Semua orang mengidam-idamkan kegiatan ini.
Seperti yang sepasang suami istri ini lakukan, berbagi kehangatan dengan memeluk erat tubuh satu sama lain dalam gelapnya ruangan. Menghangatkan hanya dengan selimut bagi mereka tidaklah mempan untuk menepis hawa dingin. Karena itu mereka menyatukan tubuh mereka dengan mengeratkan pelukan hingga hawa dingin yang menyiksa itu tidak dapat mengusik keduanya lagi.
Kedua pasang mata yang berbeda warna itu menatap lekat satu sama lain, tanpa bosan dan penuh cinta. Sedari tadi keduanya hanya berdiam diri dan saling menatap dalam kebisuan, suara hujan yang menggangu hanya dianggap angin lalu.
Keduanya sibuk menikmati pesona yang tak dapat tertahankan dari diri masing-masing.
"Aku mencintaimu," bisik sang suami tanpa memutuskan kontak mata dan tanpa keraguan. Ia bersungguh-sungguh mengatakannya.
Nafas hangatnya menerpa wajah cantik sang istri hingga ia memejamkan mata, suara berat sang suami kala mengatakan dua kata itu masih terngiang-ngiang dibenaknya. Mata bulat dengan bulu mata lentik itu kembali terbuka, menampakkan binar penuh cinta dan bibirnya perlahan mulai membentuk senyum malu-malu dengan rona merah menghiasi pipinya.
Tangan kekar sang suami yang amat dicintainya itu mulai memainkan rambutnya tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun. Seolah-olah tidak ada objek yang lebih menarik selain dirinya di mata sang suami. Dan ia senang dengan itu.
"Kau sangat cantik, Sayang. Tidak ada yang bisa menandingi pesona indahmu. Aku beruntung memilikimu dan akan selalu begitu," bisik sang suami lagi.
Kecupan lembut mendarat di kening sang istri. Membuatnya kembali memejamkan mata dan menikmati kecupan sang suami yang membuat hatinya kian menghangat.
"Aku pun begitu," balas sang istri seraya menatap dalam obsidian kelam milik sang suami.
Telapak tangannya yang sehalus sutra itu merambat membalas perlakuan sang suami, jari mungil dan lentiknya bergerak mengusap pipi dingin tersebut. Wajah tampan sang suami mendekat diiringi senyuman yang hanya ia yang dapat melihatnya.
Matanya terpejam dan perlahan kening mereka menyatu. Sang istri pun menatap teliti wajah pendamping hidupnya itu tanpa berkedip sama sekali. Jemari halusnya masih mengusap-usap pipi dingin itu penuh kasih hingga terasa hangat.
Tak ingin kalah, jemari sang suami ikut bermain. Meremas pelan rambut belakang sang istri guna memberikan rasa nyaman. Sang istri, pemilik mata coklat gelap dengan binar yang kontras dengan gelapnya ruangan, tersenyum manis, dan mulai memejamkan mata.
Dengan perlahan kedua tangannya merambat memeluk leher pria yang berstatus suaminya itu dengan erat tanpa membuat pria itu kesusahan bernafas sama sekali. Yang dipeluk ikut tersenyum manis hingga matanya menyipit, lantas membalas memeluknya tak kalah erat hingga terasa sangat nyaman.
"Tidurlah." Lagi-lagi sang suami berbisik tepat di samping telinga sang istri hingga membuat tubuh sang istri sedikit menggelinjang karena geli.
Suara itu bagaikan melodi mutlak yang harus ia turuti, tanpa disadari manik coklat gelap itu benar-benar terpejam. Membiarkan rasa hangat dan nyaman menjalar sepenuhnya ke seluruh tubuhnya.
Melepas sejenak rasa lelah yang terus menggerogoti tubuh mungilnya.
Melupakan sejenak beban berat yang terus bergantung ditubuh mungilnya.
Bulu mata lentiknya terlihat jelas kala memejamkan mata, tak lupa senyuman teramat indah masih menghiasi wajahnya hingga tampak sangat indah mengalahi indahnya ciptaan Sang Kuasa lainnya.
Dia bersyukur dan sangat-sangat bersyukur bisa mendapatkan seorang pria tampan yang menjadi incaran setiap wanita dari zaman mereka sekolah menengah bahkan sampai saat ini. Beruntungnya ia, pria itu kini menjadi pasangan hidupnya dan mencintainya lebih dari ia mencintainya.
Pria tampan bernama Devian Ernest Mendoza yang selalu membuatnya bahagia dan bertahan akan semua ini. Pria yang hadir dalam hidupnya di saat mereka masih di masa sekolah menengah pertama. Tanpa permisi dan tanpa direncanakan, semua ini akhirnya terjadi begitu saja. Lagi, ia sangat-sangat bersyukur.
Lima tahun.
Lima tahun sudah ia dan pria tampan itu bersama. Menjalin hubungan bak suami istri walaupun nyatanya mereka belum menikah. Tapi, itu dulu. Dua tahun yang lalu ia dan Devian Ernest Mendoza ini telah merajut jalinan suci dalam sebuah ikatan pernikahan. Mereka berdua mengikat diri satu sama lain dan mengklaim bahwa mereka saling memiliki.
Azura Navy Mendoza, wanita cantik bersurai hitam sepunggung kembali tersenyum dalam tidurnya kala mengingat hal indah yang telah mereka lalui bersama hingga saat ini. Semuanya sangat indah, bahkan terlalu indah.
Namun, percayalah. Jalan yang dibuat oleh para konstruktif memang selalu mulus, tapi pasti ada saja hal-hal yang menjadikannya lebih kasar dari amplas. Selalu ada hambatan yang membuatnya berakhir berantakan dan semakin jauh dari ekspektasi.
__ADS_1
Tidak selamanya garis yang direncanakan untuk lurus akan lurus. Ada saatnya tangan tergelincir saat menggaris hingga melengkung, berbelok-belok, bahkan bergelombang. Terkadang tanpa disadari ada sebuah bekas nasi yang sudah mengeras dibalik kertas hingga saat menggaris kertas justru sobek.
Pasti akan tiba masa di mana jalan penuh lonjakan dan berliku-liku bak labirin tanpa tahu di mana letak jalan keluar. Akan terjadi gelombang di antara garis datar sehingga menjadi acak tak beraturan.
Tidak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya dengan baik. Kecuali Sang Maha Kuasa.
Azura masih tersenyum. Selagi ia melewatinya dengan suaminya ia yakin semuanya akan baik-baik saja, ya semoga. Ia kembali membuka mata, manik coklat gelap itu memandang sendu pada sosok yang tengah tertidur dengan wajah damainya.
Air matanya turun tanpa bisa ia cegah. Udara dingin yang sempat hilang entah kemana akibat tameng kehangatan yang mereka buat kini muncul kembali dalam sekali sentakan sehingga terasa menusuk sampai ke tulang. Kulit yang sebelumnya memerah kini menjadi pucat dan dingin.
Azura menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat, sekuat tenaga ia berusaha menahan dan menekan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh sang suami yang tidak terusik sama sekali. Tubuhnya menggigil secara tiba-tiba.
Ia merasa Devian tidak ada lagi di sini bersamanya. Ia merasa Devian telah pergi. Tidak ada Devian yang memeluknya dan ia hanya sendirian meringkuk di balik selimut tebalnya. Seolah-olah kehangatan yang tadi ia rasakan hanyalah mimpi indah yang membuatnya tertekan karena bangun dari mimpi indah tersebut.
'Tuhan, buat aku kembali tidur dan merasakan lagi hangatnya suamiku seperti di mimpiku tadi. Aku tidak akan sanggup bertahan tanpanya, aku sangat takut. Tolong aku, Tuhan.'
***
Devian dan Azura tengah bersantai di ruang tengah. Keduanya sesekali tertawa melihat acara komedi yang ditampilkan dilayar televisi 50 inchi tersebut. Tawa yang menandakan bahwa keduanya tengah bahagia. Kebahagiaan yang benar-benar berarti bagi keduanya.
Tidak peduli dengan kekurangan masing-masing, keduanya dapat menerima kekurangan tersebut dengan baik. Karena itu pula lah mereka saling mencintai dengan pondasi saling melengkapi dalam kekurangan masing-masing.
Setiap hari selalu ada momen penuh kasih yang keduanya lakukan, entah itu sadar ataupun tidak. Seperti halnya saat ini, Devian merengkuh Azura ke dalam pelukannya. Mengusap surai sehalus sutra Azura dan sesekali mengecupnya penuh sayang.
Nyaman dan menenangkan.
Azura sendiri sedari tadi tidak melunturkan senyumnya sama sekali. Wajah itu kian tampak memesona dengan semburat merah yang menghiasi pipinya. Benar-benar cantik bak putri dari kerajaan tersohor. Bukankah begitu kejam rasanya apabila kedua manusia berbeda gender yang saling mencintai itu harus berpisah?
Wanita yang sudah menyandang status sebagai istri orang itu setiap hari bahkan setiap ada kesempatan ia ingin Devian selalu ada di sisinya. Azura akan berdo'a tanpa bosan. Merapalkan do'a dan harapannya pada Sang Pencipta terhadap Devian tanpa pria tampan itu ketahui.
Wanita cantik itu sangat suka kala Devian memeluknya erat seperti ini, mencium pipinya atau bahkan bibirnya dengan cinta tanpa nafsu yang berlebihan. Lalu ia akan tersenyum sambil membalas tatapan hangat yang Devian lontarkan dengan tak kalah hangatnya.
Kata 'aku mencintaimu' tak pernah lupa mereka ucapkan setiap waktu mereka bersama. Seolah-olah rasa cinta itu takkan terpuaskan hanya dengan sekali ungkapan. Cinta tidak akan pudar dalam diri keduanya, melainkan bertambah besar. Setidaknya sampai saat ini.
"Ibu," ucap Azura gelagapan dan spontan mendorong sedikit tubuh Devian hingga Devian tersentak lalu memperbaiki posisinya.
Dengan segera kedua mata elang Devian menoleh kearah pintu. Di sana terdapat ibu kandungnya yang tengah menatap tidak suka pada keduanya dengan nafas sedikit menggebu.
Azura pun dengan sigap semakin menjauhkan diri dari Devian dan membenarkan posisi duduknya. Sedangkan Devian menatap hal itu nanar, lantas pandangannya langsung beralih pada sang ibu dan menatapnya datar.
"Ada apa, Ibu?" tanya Devian dengan suara dingin tanpa merubah bentuk tatapannya sama sekali. Tidak peduli dengan kata sopan terhadap orang tua, yang jelas Devian sudah muak dengan ibunya tersebut.
Azura memperhatikan sepasang ibu dan anak itu bergantian dalam diam. Rasa bersalah sedikit-sedikit mulai menggerogoti tubuhnya. Perang dingin antara ibu dan anak tersebut sedikit banyaknya juga karena dirinya.
"Devian, kau tidak bisa begini terus," omel Zeline Levansha Mendoza, nyonya besar di keluarga Mendoza. Zeline menatap Devian penuh harap, dalam tatapannya juga terbesit sedikit harapan dan tidak suka.
Devian mengerutkan kening, raut tak suka ia layangkan secara terang-terangan pada wanita tua yang berstatus sebagai ibu kandungnya itu. Netra matanya semakin dingin kala mendapati ibunya diam-diam menatap tajam pada Azura yang menunduk dalam.
Sungguh, Devian tak lagi memikirkan siapa yang ia hadapi sekarang. Bagaimanapun juga ia berhak bahagia, tidak ada yang bisa mengatur bagaimana jalan kebahagiannya. Termasuk ibu kandungnya sendiri.
"Devian, kau tau bukan Ibu sangat menginginkan seorang cucu? Kau juga harus memiliki anak untuk meneruskan keturunan kita. Ibu tak mau tau, kau harus menikah lagi," desak Zeline lantang.
Azura langsung mengangkat kepalanya, matanya membulat karena terkejut, raut ketakutan muncul begitu saja. Tangannya bergetar hebat, meski sudah sering mendengar hal tersebut dari sang ibu mertua, tetap saja ia tidak akan terbiasa. Tidak akan pernah.
__ADS_1
Kedua orang tua Devian memang sering memaksa Devian untuk menikah lagi. Apalagi tujuannya selain menginginkan seorang keturunan.
Devian menyadari pergerakan gusar dari Azura. Pria tampan itu juga menyadari dengan jelas tubuh mungil Azura bergetar. Dan ia tahu bahwa Azura saat ini tengah berusaha menahan tangis. Devian menatap sang ibu tajam, tanpa mengalihkan tatapannya Devian menggeser tubuhnya mendekati Azura dan menggenggam tangan Azura yang sudah berubah dingin.
"Ibu jangan memaksaku!" bentak Devian.
"Tapi, kau tidak bisa seperti ini terus, Devian! Suami mana yang tidak ingin mempunyai seorang anak dari istrinya, hah?!" balas Zeline tak mau kalah. Matanya menatap genggaman Devian pada tangan Azura tajam, matanya seakan-akan dapat melompat untuk memisahkan genggaman tersebut.
"Ya, aku memang menginginkan seorang anak! Tapi, tidak dengan menikah lagi. Aku bisa mendapatkan anak dengan mengadopsinya jika aku mau!" sahut Devian lebih meninggi.
Azura sedari tadi sudah memejamkan mata, telinganya berdengung karena kedua suara tersebut menusuk indera pendengarannya dari sisi kanan dan kiri. Begitupun hatinya yang retak karena mengetahui maksud sang ibu mertua yang ingin memisahkannya dengan jelas. Ia memainkan tangannya yang terbebas gusar, bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat agar tak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Sampai kapanpun Ibu dan Ayahmu takkan sudi menerima anak adopsi itu!" tegas Zeline dengan mata membesar.
Zeline menarik nafas sejenak untuk meredam emosinya yang membuncah. Dadanya terasa sesak kala anak tersayangnya lebih membela wanita sialan itu daripada ibunya sendiri.
"Ceraikan dia atau kau akan dicoret dari keluarga Mendoza?" tanya Zeline dengan nada rendah, namun penuh penekanan. Ia akan berusaha berbicara baik-baik dengan anaknya yang keras kepalanya sebelas dua belas dengannya.
"CORET SAJA!" teriak Devian menggema ke seluruh penjuru rumah.
Azura yang berada di sampingnya terperanjat dibuatnya. Kepala Azura menoleh, dapat ia lihat Devian yang begitu marah pada ibu mertuanya. Tidak berbeda jauh dengan Azura, Zeline juga terkejut dengan jawaban Devian yang benar-benar di luar dugaannya, pun bentakan Devian membuat jantungnya berdenyut nyeri.
Zeline beralih menatap Azura dengan tatapan benci. Tanpa Azura sadari, Zeline berjalan cepat kearahnya. Segera Zeline menarik tangan Azura dan mendorongnya hingga terjatuh. Azura meringis, lutut dan sikunya disambut lantai marmer tanpa aba-aba.
Rahang Devian mengeras, dua tahun pernikahan mereka belum ada sekalipun ia melakukan hal keji seperti itu pada pasangan hidupnya. Emosi Devian kian membuncah kala ibunya menampar wanita yang dicintainya tanpa belas kasih sama sekali.
"JAUHI DEVIAN!"
"TINGGALKAN DEVIAN!"
"KAU HANYA WANITA PEMBAWA SIAL YANG TIDAK BISA MEMBERIKAN ANAKKU KETURUNAN!"
"KAU BAHKAN JAUH LEBIH HI--"
"IBU CUKUP!" Lagi-lagi Devian membentak ibunya. Bedanya kali ini Devian tak bisa lagi menahan dirinya. Devian berani bersumpah jika ia tidak kuat melihat istrinya diperlakukan seperti ini.
Devian berdiri tepat di depan Azura yang masih terduduk di lantai dengan kapala tertunduk dalam. Azura tak berani mengeluarkan suara sedikit pun, ia menerimanya dengan lapang dada. Karena ia merasa ia pantas mendapatkannya. Pun ia takut suasana semakin keruh jika ia bersuara. Selama ini suaranya pun tak pernah didengar oleh mertuanya.
Zeline menatap Devian dengan tatapan tertohok, ia tertawa patah-patah dengan air mata siap meluncur. Cukup tidak menyangka dengan perubahan sikap anaknya setelah menikahi wanita yang menurutnya adalah pembawa sial dari awal.
"Aku ibumu, Devian! Aku yang melahirkan mu dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri, merawat mu dengan penuh hati hingga kau sampai sebesar ini. Lalu ini balasanmu untuk apa yang telah wanita tua ini berikan padamu selama ini?" ujar Zeline berurai air mata, tangannya menepuk dadanya berulang kali dengan tempo keras. Menunjukkan jika hatinya sakit diperlakukan tak sopan oleh anak tersayangnya.
Devian langsung merasa lemas bukan main, ibunya menangis pilu lalu pergi dari rumahnya membawa rasa kecewa yang teramat besar. Kemudian suara isakan tertahan pun terdengar dari belakang punggung lebarnya.
Cukup!
Devian sudah tidak sanggup lagi melihat orang yang ia cintai kembali terluka. "Kita tidak akan berpisah. Tidak akan. Aku berjanji, Sayang," gumam Devian lirih, namun tegas.
Devian memeluk Azura yang menangis lebih pilu dari ibunya. Membiarkan baju kaos rumahannya basah karena air mata sang istri yang mengalir deras. Azura terus merintih sakit dan memukul dadanya berulangkali saat kata-kata yang ibu mertuanya lontarkan tadi masih terngiang-ngiang dibenaknya.
'Sakit sekali, Tuhan.'
***
__ADS_1
To be Continued.