
Serpihan kenangan bermunculan satu persatu, dan itu hanya dipenuhi dengan wajahmu yang tersenyum manis.
Apa yang membuatmu begitu nyaman ketika berada di sisiku?
Apa kau bisa melewati hari tanpa air mata?
Luka yang tak terhitung, hati yang tergores pisau, dan kenangan yang menyakitkan.
Apakah aku sungguh baik-baik saja untukmu?
Bisakah kau tetap tinggal di sisiku?
Bahkan jika kau mendorongku menjauh karena aku tidak layak untukmu, aku akan pergi.
Ini bukan salahmu.
Mungkin aku sudah terlalu banyak terluka.
Sudah banyak kesulitan yang aku hadapi.
Jika kau memelukku untuk menahanku pergi, aku akan tinggal.
Aku takkan pernah selangkah di depanmu.
Aku akan selalu berada tiga langkah di belakangmu.
Melindungimu dengan jarak.
***
Seorang pria dengan wajah terpahat bak titisan Dewa Yunani itu berjalan dengan wibawanya yang tinggi memasuki perusahaan diiringi oleh beberapa asisten di belakangnya. Tiba-tiba kaki panjangnya berhenti melangkah kala seorang pria paruh baya yang tak lain adalah ayahnya sendiri berpapasan dengannya.
Dengan penuh keseganan, Devian membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada sang ayah. Salah satu etika yang diajarkan oleh orang tuanya sedari kecil yang dibawa dari tradisi Asia bagian timur, membungkuk ketika bertemu dengan orang yang lebih tua.
Perlakuan Devian hanya ditanggapi dengan sebuah deheman dan wajah yang tidak bersahabat dari pria paruh baya tersebut. Devian tersenyum kecil tatkala ayahnya berlalu begitu saja. Ia merasa begitu tertohok mendapatkan perlakuan sedemikian rupa dari keluarganya.
"Direktur Mendoza, anda baik-baik saja?" tanya salah satu asisten yang tampak khawatir.
Devian menganggukkan kepala pelan seraya melirik asisten setianya yang tadi bertanya dengan raut cemas.
Tak Ingin terlalu berlarut, Devian kembali melanjutkan langkahnya hingga memasuki lift yang akan membawanya menuju ruangan pribadinya. Meninggalkan para karyawan yang langsung bergosip dengan ia sebagai topik utamanya.
__ADS_1
Atau semakin buruknya interaksi antara kedua pria bermarga Mendoza tersebut.
"Hubungan antara Direktur dan Presdir sepertinya semakin memburuk," ujar salah seorang karyawan kepada temannya.
Alea hanya diam mendengarkan temannya mulai menggosipi atasannya sendiri. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan membuat salinan berkas di mesin fotokopi di dalam ruangan kerjanya. Netra hitamnya tidak lepas sama sekali dari lembaran-lembaran kertas yang saling menumpuk setelah keluar dari mesin.
"Apa kau tau bahwa saat ini sedang heboh dengan rumor Direktur Mendoza yang dipaksa untuk menikah lagi agar bisa mendapatkan keturunan?" tanya teman Alea yang tampak antusias.
Manik obsidian kembar milik Alea bergerak, beralih ke depan sejenak sebelum kembali tertuju pada kertas-kertas itu lagi.
"Benarkah?" sahut Alea dengan nada yang terkesan tidak tertarik dengan topik pembahasan teman seperjuangannya yang kini tengah melihat ponselnya.
"Iya! Itu rumor yang sedang hangat-hangatnya di sini," balas teman Alea sembari menatap Alea yang sibuk merapikan tumpukan kertas untuk dibawa ke meja kerjanya. Ia dapat melihat senyum tipis terukir dari bibir Alea.
"Alea?" panggil temannya.
"Ya?" sahut Alea.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa yang tadi aku katakan itu hal yang lucu? Aku justru kasihan dengan istrinya, tapi kau malah menganggap ini lelucon?" sungut temannya berapi-api dengan wajah tak percaya.
Alea tertawa kecil, lantas menggeleng pelan. "Tidak, kau sedari tadi terus berbicara. Aku pikir kau terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain, terlebih itu atasan kita. Lucu saja, kau belum menikah, tapi kau sudah memikirkan rumah tangga orang lain selayaknya kau adalah ahlinya," balas Alea tenang.
"Hei, Alea! Apa yang baru saja kau katakan, huh?! Kau mengejekku? Ingat, Nona. Kau juga belum menikah!" jerit temannya tak terima dengan perkataan Alea sebelumnya.
Alea memudarkan senyumnya, menggantinya dengan senyum getir. Meletakkan kumpulan kertas itu di mejanya, kemudian duduk di sana dengan kedua netra yang bergerak tak menentu. Wanita cantik itu meneguk air yang tersedia di atas meja kerjanya dengan terburu-buru.
Jantungnya berpacu cepat seolah-olah ia tengah berpacu dengan seekor kuda. Perkataan temannya tadi kembali terngiang dibenaknya.
'Direktur Mendoza, apa aku masih punya harapan?'
***
Devian memasuki ruangannya dan langsung menduduki kursi kekuasaannya. Ia memijit kepalanya yang terasa pening bukan main. Pikirannya bercabang kemana-mana. Hal yang seharusnya tidak ia pikirkan sekarang malah terpikirkan sekarang.
Hidupnya memang bahagia bersama Azura. Wanita cantik itu selalu ada saat ia butuhkan, selalu bersamanya saat ia berada di titik terendah dan puncak kejayaannya. Namun, tidak sepenuhnya bahagia.
Bagaimana Devian bisa bahagia lahir dan batin jika rumah tangganya terus diusik oleh kedua orang tuanya yang gila harta dan juga ... Keturunan itu?!
Devian benar-benar tak habis pikir dengan kekeraspalaan kedua orang tuanya yang berakhir menyakiti putra kandungnya sendiri dan menantunya, Azura.
"Direktur Mendoza," ucap sekretarisnya sambil memasuki ruangannya dengan membawa seseorang yang datang menghampiri Devian.
__ADS_1
Sorot mata Devian yang tajam setajam elang tersirat kesenduan dan kelelahan bak kura-kura tua. Itulah hal pertama yang seseorang itu lihat ketika pandangannya bertemu dengan Devian.
"Kau tampak kelelahan, Devian," ujar Leon sembari mendudukkan dirinya di salah satu sofa ruangan Devian yang memang sudah tersedia sebelumnya. Menatap masam wajah Devian yang begitu kusut bahkan di pagi yang cerah ini.
Pria tampan itu mengulas senyum simpul, mengatakan lewat isyarat jika semuanya baik. Tapi, Leon tidak mudah dibohongi. Ia tahu semua yang terjadi pada adik sepupu iparnya ini, bahkan Devian sangat jauh dari radar baik.
"Bagaimana kabar Azura?" tanya Leon saat Devian berjalan menghampirinya dan turut mendudukkan diri di salah satu sofa tunggal.
"Kau tau, Kak. Dia hanya akan baik-baik saja di depan kita," jawab Devian lesu. Ia kembali memijat keningnya yang berdenyut. Merobohkan tameng sok kuat yang ia bangun dan ia tunjukkan pada semua orang.
"Pergilah, Devian. Kau dan Azura hanya perlu lari dari sini. Aku dan Gizka berjanji akan membantu kalian," saran Leon menatap adiknya ini iba.
Mendengar itu Devian menjauhkan tangannya dari keningnya, melihat kearah Leon kemudian mengulas senyum lembut yang meneduhkan.
"Terimakasih, Kak. Tapi, itu mustahil. Kedua orang tuaku tidak akan tinggal diam jika aku sampai melakukannya. Mereka pasti akan mencariku dan Azura. Kau tau? Bahkan mereka--"
Devian menggantungkan perkataannya, ia menatap Leon dengan sorot terluka dan putus asa yang teramat dalam.
"Bahkan mereka tidak segan mengancam akan menjauhkan Azura dariku," sambung Devian sambil mengacak rambutnya frustrasi.
Devian ingin berteriak sekeras mungkin untuk melampiaskan beban besar yang menghimpit dadanya. Semuanya menjadi begitu memusingkan.
"Oh iya. Kapan Kakak dan Kak Gizka pulang?" tanya Devian mengalihkan pembicaraan. Ia hanya ingin melupakan sejenak masalah terbesar dalam hidupnya.
Leon yang sebelumnya menatap lurus ke depan perlahan mengalihkan tatapannya kearah adik sepupu istrinya itu.
"Sekitar tiga hari yang lalu," jawab Leon berusaha memaklumi Devian.
Devian mengangguk paham. "Kau ingin minum, Kak?" tawar Devian.
Yang ditawarkan menggeleng singkat. Respon seperti itu membuat Devian mengerutkan kening bingung.
"Kenapa? Kau tidak haus?" tanya Devian.
Leon tertawa geli, lalu kembali mengangguk. "Hanya dengan melihat wajah kusut mu saja, dahagaku sudah hilang, adik kecil," kelakar Leon.
Mendengar jawaban mengesalkan itu, Devian memutar mata jengah. Yang tentunya membuat yang lebih tua tertawa lepas sehingga dapat memecahkan heningnya di ruangan itu.
***
To be Continued.
__ADS_1