Obsesi Ibu Mertua

Obsesi Ibu Mertua
Harus Bagaimana


__ADS_3

"Hey, Adikku. Sudah lama sekali rasanya aku tidak memakan masakan mu."


Azura mengulum senyum melihat wajah antusias wanita cantik yang lebih tua di hadapannya ini. Azura sempat terkagum dengan kecantikan kakak sepupu suaminya ini. Keturunan keluarga Mendoza memang tidak ada tandingannya, Azura akui itu.


"Bagaimana bulan madu mu, Kak?" tanya Azura.


Gizka, kakak sepupu Devian, mengalihkan pandangannya dari makanan yang terhidang di hadapannya untuk menatap istri adik sepupunya yang tengah menatapnya lekat.


"Ya ... Begitulah. Hehe," jawab Gizka diiringi tawa kikuk dengan wajah memerah sembari menggaruk lehernya yang sebelumnya tidak gatal sama sekali.


Azura ikut tertawa melihat Gizka yang tampak salah tingkah dengan pertanyaannya.


Tentu saja menyenangkan. Lagi pun tidak ada pula rasanya alasan yang membuat acara bulan madu kakaknya ini tidak menyenangkan. Terlebih ia dan suaminya, Leon, saling mencintai dan didukung sepenuhnya oleh keluarga kedua belah pihak.


"Bagaimana kabarmu dan Devian?" tanya Gizka.


Senyum Azura luntur secara perlahan, menatap yang lebih tua dengan sorot mata yang menyiratkan betapa lelahnya ia dengan semua ini. Dan Gizka dapat melihat itu semua.


"Rasanya aku dan Devian ingin kabur saja," jawab Azura dengan menundukkan kepala dan tersenyum masam. Secara tidak langsung ia telah menunjukkan betapa buruknya keadaannya dengan Devian saat ini.


"Sulit sekali," imbuh Azura lirih.


Azura mengusak kasar wajah dan rambutnya, ia merasa begitu frustrasi akan kenyataan pahit yang harus ia dan Devian telan bulat-bulat setiap harinya.


"Tenanglah, Azura," bujuk Gizka merasa iba dengan istri adik sepupunya yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.


Azura menggelengkan kepala, matanya terpejam dengan gurat tertekan. Sebelum akhirnya kening itu menyentuh meja dan kembali menghembuskan nafas panjang yang sarat akan kepasrahan.


"Aku harus bagaimana, Kak?" tanya Azura dengan nada lirih, hampir ke putus asa.


Azura kembali mengangkat wajahnya untuk menunjukkan lebih jelas rasa lelah kepada wanita yang telah ia anggap layaknya kakak sendiri, sama seperti Gizka yang menganggapnya seorang adik.


Gizka terdiam, ia tahu semua hal yang menimpa rumah tangga adiknya ini. Ia ingin membantu lebih, namun ia tidak tahu bentuk bantuan apa yang harus ia berikan agar adik-adiknya tak lagi tertekan dan hidup bahagia dengan cara mereka sendiri. Tanpa ada yang mendesak mereka lagi untuk ini ataupun untuk itu.


"Entahlah, Azura. Aku juga bingung harus bagaimana, terlebih lagi paman dan bibi tidak mau menerima anak adopsi kalian jika kalian melakukannya," sahut Gizka lemah.


Dan keadaan menjadi begitu hening setelahnya. Azura menjadi diam dengan gurat sedih yang tak lepas dari wajah cantik nan manis miliknya. Azura kembali mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya kesana kemari seperti tengah mencari sesuatu, tepatnya seseorang.


"Kak Leon kemana, Kak?" tanya Azura kala tidak mendapati siapa yang ia cari.


Gizka kembali melahap masakan Azura dengan perlahan dan mencoba menikmatinya. Masakan Azura sangat enak, ia sungguh ingin melahapnya sebanyak mungkin. Tapi, melihat kondisi Azura sekarang ia jadi tidak enak hati untuk memperlihatkan keantusiasmenya.

__ADS_1


"Dia sedang menemui Devian," balas Gizka sedikit canggung. Entahlah, ia juga tidak tahu bagaimana ia bisa menjadi canggung sendiri begini. Yang jelas makanan ini benar-benar menggodanya untuk melahap semaunya.


Azura mengangguk paham. Lantas ia tersenyum seraya terkekeh kecil ketika menyadari gelagat kaku wanita cantik yang lebih tua di hadapannya ini.


"Tidak perlu sungkan begitu, Kak. Aku membuatkannya untukmu. Jadi makan saja sepuas mu," cerca Azura membuat mata Gizka berbinar terang.


Tiba-tiba Azura bangkit dari kursinya, berniat beranjak dari sana. Gizka sudah sempat merasa tidak enak melihatnya sebelum pertanyaan Azura selanjutnya membuatnya diam-diam menghembuskan nafas lega.


"Aku ingin ke swalayan, Kakak ingin menitip sesuatu?"


***


Kedua pria tampan dengan tinggi yang hampir sama itu berjalan beriringan sembari sesekali berbincang-bincang hal random. Mulai dari masalah pribadi, masalah perusahaan, sampai ke cerita bulan madu yang lebih tua di antara mereka.


Interaksi keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan dan pekerja di sana, terutama para wanita yang tampak terpana di tempat.


"Astaga! Apa itu temannya Direktur Mendoza? Dia juga sangat tampan," kata salah satu karyawan wanita begitu antusias kepada teman di sampingnya yang tak kalah antusias.


Alea yang baru keluar ruangan langsung mengikuti arah pandang teman seperjuangannya yang menatap penuh puja kedua pria tampan yang kata orang-orang mereka seperti keluar dari sebuah komik manga.


Devian tampak mengantarkan Leon hingga keluar gedung. Alea pun tak mau melewatkan kesempatan itu untuk memandang Devian yang begitu jauh di pandangannya.


"Aku akan menjemput Gizka. Mungkin ia sedang bersama Azura-mu saat ini, mau aku titipkan salam? Aku tau kau sedang merindukannya," tanya Leon sedikit menggoda Devian dengan seulas senyum usil seraya menepuk bahu lebar Devian berulang kali.


Devian tersenyum malu lalu mengangguk. "Tentu, Kak. Tolong sampaikan salam rinduku padanya," jawab Devian.


Sedangkan Leon tersenyum geli melihat wajah tersipu Devian yang terlihat lucu di matanya.


"Paman tampan!"


Devian dan Leon tersentak kaget saat suara anak kecil menggema di antara mereka. Sontak kedua pria tampan tersebut menunduk menatap seorang anak perempuan kisaran berusia lima tahun tengah memeluk kaki panjang Devian.


"Hai. Kau yang kemarin bukan?" tanya Devian seraya mensejajarkan tubuhnya dengan bocah perempuan yang bertemu dengannya kemarin.


"Anak siapa ini, Devian?" tanya Leon dengan raut tak suka.


"Direktur!"


Belum sempat Devian menjawab, suara seorang wanita terlebih dahulu menginterupsi. Wanita itu berlari tergesa kearah mereka dan meraih tangan anak temannya cepat.


"Maafkan saya, saya tidak tau bahwa kakak saya akan membawanya kemari lagi," ujar Alea tergesa dan sedikit dibumbui kebohongan.

__ADS_1


Alea langsung menoleh pada sosok wanita yang berdiri tak jauh dari mereka dan mendelik kearahnya. Sedangkan yang ditatap justru tersenyum kikuk karena baru selesai berbicara di ponsel.


"Tidak apa," balas Devian tanpa menatap Alea seraya tersenyum lembut dan mengusak kepala bocah perempuan tersebut.


Leon mengerutkan kening, sedikit merasa aneh dengan senyum tenang Devian menatap bocah itu.


"Siapa namamu?" tanya Devian lembut.


"Ruby," jawabnya dengan suara lucu khas anak kecil.


"Ruby?" beo Devian. Ia kembali tersenyum dan mengusap kepala bocah perempuan itu dengan sayang. Sedikit rasa hangat muncul di hatinya.


"Paman, maukah kau menemaniku membeli es krim?" pinta Ruby menatap Devian dengan mata bulat bak anak kucing.


Alea tidak tahu sama sekali akan permintaan Ruby pada Devian. Ia tercengang menatap wajah polos Ruby yang masih menatap Devian kagum. Apa-apaan permintaan macam mengajak orang kencan itu, pikir Alea kesal.


Ia beralih menatap ibu Ruby. Ia rasa ia harus berbicara dengan ibu bocah perempuan itu sekarang.


"Tentu," sahut Devian menyetujui.


Devian dengan senang hati menggendong bocah perempuan yang disebut sebagai keponakan dan anak dari bawahannya itu, kemudian memandang kedua wanita yang tengah berbicara serius tak jauh dari ia berada.


"Sekarang panggil bibimu," suruh Devian pada Ruby. Ia tidak tahu menahu tentang nama-nama para pekerjanya sama sekali.


"Kak!" panggil Ruby lantang.


Alea yang merasa terpanggil langsung menoleh dan berlari tergesa mendekati Ruby yang tengah berada di gendongan Devian.


Devian cukup terkejut dengan panggilan bocah di gendongannya ini. Pasalnya Ruby memanggil wanita berambut panjang itu 'Kak', sedangkan Ruby sendiri menyandang posisi keponakan. Seharusnya Ruby memanggilnya bibi bukan kakak.


"Maaf, Direktur. Biarkan saya membawa kembali keponakan saya," ucap Alea sopan dan hormat pada sang atasan.


Alea berniat mengambil alih Ruby dari gendongan Devian, namun bocah perempuan itu menolak dengan keras. Dan lihatlah sekarang, Ruby justru memeluk erat leher Devian. Alea dibuat tak habis pikir dengan anak temannya tersebut, bersikap sok dekat padahal mereka hanyalah orang asing yang tak sengaja bertemu.


"Tidak mau, aku ingin bersama paman tampan," rengek Ruby seraya menggeleng ribut.


"Ruby!"


***


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2