
Azura menatap keluar jendela kamarnya dengan binar mata yang telah redup, sangat kentara ia sangat sedih dan terluka. Ia menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.
Wanita cantik itu perlahan menunduk, menatap sendu buku harian dipangkuannya dengan sebuah pena yang ia genggam tanpa tenaga. Telah tertulis dengan rapi nan indah sebuah nama yang hanya akan menjadi angan baginya dengan Devian.
Rain Raven Mendoza.
Azura berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum dan menghapus air mata yang menuruni pipi gembulnya. Azura mendongak, menatap langit yang mulai mendung denganĀ tatapan rindu.
"Rain, kapan kau datang, Sayang? Ibu merindukanmu. Ibu ketakutan di sini seorang diri, Nak," ujar Azura bermonolog dengan lirih, tangannya mengusap-usap perut ratanya. Berharap kehadiran sebuah nyawa di dalamnya.
Azura langsung terisak begitu saja, nyatanya Azura begitu terluka saat ini. Wanita cantik itu sungguh tertekan, batinnya hancur dan tubuhnya gentar. Entah penyebabnya dari keluarga Devian ataupun rasa bersalahnya pada Devian.
Azura menyadari semua tekanan yang membuat ia stress menumbuhkan penyakit Hypothalamic Dysfunction. Di mana dua hormon yang dihasilkan kelenjar pituitari untuk menstimulasi proses ovulasi setiap bulannya mengalami perubahan. Sehingga membuatnya sulit untuk bisa hamil.
*Kelenjar pituitari adalah kelenjar yang berukuran sebesar kacang yang ditemukan pada dasar otak. Kelenjar ini juga disebut sebagai kelenjar pengendali. Kelenjar ini berfungsi menghasilkan beberapa hormon yang penting untuk kesehatan dan kebugaran tiap manusia.
*Sumber - Google
Azura tertawa konyol menertawakan dirinya sendiri mengingat kenyataan menyakitkan tersebut. Andaikan ia bisa mengendalikan sedikit saja depresinya, mungkin penyakit itu dapat ia cegah. Ia mendongak, lantas air matanya bercucuran tanpa henti. Jika disebutkan semuanya, yang salah dimata mertuanya tetaplah dirinya.
"Kau akan tumbuh di dalam rahim orang lain, kau akan keluar dari perut orang lain, Nak. Maafkan Ibu, anakku hiks," isak Azura dengan nada penuh penyesalan dan kepasrahan.
Ia mencium lama buku kecil berwarna hitam yang telah menjadi tempat pelampiasannya selama bertahun-tahun lamanya.
"Aku pulang," ucap Devian seraya masuk ke dalam rumahnya dan Azura.
Pria tampan itu mengedarkan pandangan untuk mencari sosok yang telah ia rindukan sedari tadi. Tanpa mengetahui jika Azura sekarang langsung berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kau di mana?" tanya Devian. Ia mengitari ruang tamu, beralih ke dapur, lalu beranjak ke kamar mereka mengetahui istrinya tidak ada sama sekali di tempat-tempat yang ia lalui sebelumnya.
Pria tampan itu mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi kamar mereka. Sesaat ia terdiam menatap pintu tersebut, hingga akhirnya menampakkan sosok menawan sang istri yang keluar dari kamar mandi.
Azura telah selesai membasuh muka untuk menghilangkan jejak air matanya. Devian langsung berjalan mendekati Azura dan mengecup kening sang istri lama dengan mesra.
"Afternoon kiss, Sayang," ujar Devian setelah melepas kecupannya.
Azura tertawa mendengar ujaran sang suami. Entah mengapa hari ini Devian selalu berhasil membuatnya rileks dengan candaannya.
"Jadi setelah ini akan ada yang namanya evening kiss? Bahkan night kiss?" terka Azura.
Devian pun terkekeh kecil mendengar terkaan Azura yang terdengar seperti pertanyaan baginya.
"Aku rasa night kiss bukanlah hal yang tabu lagi bagi kita," sahut Devian menatap sang istri dengan menaik turunkan alisnya menggoda.
__ADS_1
Azura langsung mendorong pelan bahu tegap Devian, senyum malu-malu mengembang dibelah bibir ranum wanita cantik tersebut. Sedangkan Devian tentu masih betah dengan sikap usilnya menggoda Azura.
"Kurasa mulai sekarang kau akan melakukan itu dengan orang lain, Sayang," kata Azura tiba-tiba.
Ia menjauh dari Devian dan melangkah mengambil sesuatu dari laci lemari pakaian. Sedangkan Devian terdiam mematung mendengar entah hanya perkataan biasa atau pernyataan dari mulut istrinya. Azura menghela nafas sesaat sebelum berbalik dengan senyum manis mendekati sang suami tercintanya.
Wanita cantik itu terduduk nyaman di samping tubuh tegap nan kekar sang suami yang tidak melepas tatapan lekatnya sedari tadi darinya. Jika dalam suasana yang berbeda, mungkin Azura akan salah tingkah. Namun, tidak dengan sekarang.
"Hari ini ibu mertua kemari lagi," ungkap Azura seraya tersenyum manis walau hatinya terasa sakit bukan main saat ini. Tangan Azura bergetar dengan keringat dingin membasahinya ketika memegang beberapa lembaran foto yang menampilkan subjek yang berbeda-beda.
"Ibu membawakan beberapa foto anak dari teman dan rekan kerja ayah serta ibu," lanjut Azura sembari memperlihatkan beberapa lembar foto tersebut kepada Devian.
Entah kenapa keheningan menyeruak di antara keduanya, seakan-akan menjadi melodi pengiring rasa sakit keduanya.
"Kau lihat? Mereka sangat cantik, Sayang. Seperti seorang model dan artis papan atas," sambung Azura seraya tertawa kecil dan menoleh kearah Devian. Mata elang itu terpaku menatapnya dengan tatapan datar yang tak dapat ia tafsirkan.
"Perhatikan ini, Devian. Kau tidak tertarik, hm?" rengek Azura.
Hatinya sungguh sakit sekarang, terasa diremukkan begitu saja. Suaranya bahkan bergetar saat mengatakannya, mati-matian ia menahan untuk menyembunyikannya. Namun, itu sia-sia. Devian mengetahui gelagat Azura yang membohongi dirinya dan dirinya sendiri.
"Tidak," jawab Devian tegas dengan nada dingin yang menjabarkan segalanya.
"Kau harus mempunyai anak, Devian. Aku tau kau ingin," desak Azura mulai menatap cemas Devian yang hanya menatapnya dengan tatapan super dingin.
"Devian!" jerit Azura tanpa sadar dengan mata berkaca-kaca.
"Sebenarnya apa mau mu, Azura Navy Mendoza!?" bentak Devian marah hingga urat-urat leher dan tangannya mencuat kepermukaan kulitnya.
Azura seketika mematung, lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara. Air matanya lebih dulu turun tanpa sepengetahuannya. Devian membentaknya begitu keras. Suaminya itu bahkan menyebut marga keluarganya yang telah ia sandang semenjak mereka resmi menikah dengan penuh penekanan.
Pria tampan itu menatapnya sangat marah, Azura begitu ketakutan sekarang. Wanita cantik berstatus istri sah Devian itu menunduk dan meremat lembaran foto yang berisikan potret bergaram wanita cantik di dalamnya.
"JIKA KAU INGIN AKU PERGI DARI HIDUPMU KATAKAN SAJA! AKU AKAN PERGI SEPERTI YANG KAU INGINKAN!" bentak Devian lagi. Kali ini emosinya tidak bisa ditahan, ia pulang dengan suasana hati yang ia usahakan sebaik mungkin. Namun, istrinya malah membuatnya semakin buruk.
Azura kembali mendongak, raut kemarahan Devian-lah yang pertama kali ia sadari. Bibir ranumnya bergetar dan Azura menggeleng ribut guna mengelak asumsi dari suaminya yang tengah marah itu. Sungguh, Azura bahkan tidak sanggup hidup lagi jika Devian meninggalkannya. Bagaimana bisa ia sendiri yang menginginkan Devian pergi dari hidupnya.
Pria tampan berahang tegas itu langsung pergi keluar kamar dengan dada yang menggebu-gebu akibat emosi dan membanting pintu hingga menimbulkan bunyi yang begitu keras. Azura terperanjat, hati yang sebelumnya sudah hancur menjadi semakin hancur.
"Hiks."
Wanita cantik nan malang itu menangis sesenggukan di dalam kamar.
"Aku ... Aku hanya hiks tidak ingin kau hiks menderita karena ku, Devian," gumam Azura susah payah dengan dada yang terasa sangat sesak.
__ADS_1
Azura pun menangis sejadi-jadinya, tangannya memukul-mukul dadanya untuk menurunkan sesuatu yang terasa tersangkut di sana sehingga membuat ia sedikit kesulitan bernafas.
Sedangkan Devian bersandar di balik pintu kamar untuk mendengar suara rintih kesakitan yang dikeluarkan Azura. Pria dengan surai hitam pekat dan hidung bangir tersebut tertunduk dalam dengan buliran bening ikut mengalir menyusuri wajah tampan bak Dewa Yunani itu.
Tak jauh berbeda darinya, Azura jelas lebih tertekan akan segala tekanan yang diberikan keluarganya kepadanya.
Devian mengusap wajahnya kasar sebelum berbalik dan membuka pintu yang menjadi penghalang baginya untuk bertemu Azura. Ia melangkah tergesa menuju wanitanya yang tengah menangis pilu di depan matanya.
Azura merasakan dekapan hangat melingkupi tubuhnya, sedikit banyaknya membuat dirinya berdebar dan merasa tenang saat Devian ternyata kembali datang untuknya. Wanita cantik itu memilih melampiaskan segala rasa sakitnya pada dada bidang sang suami.
"Aku tidak menderita sama sekali, Azura. Aku bahagia, aku bahagia bersamamu," ujar Devian menolak pikiran buruk Azura tentangnya yang menderita.
"Hiks." Azura masih tersedu-sedu dalam pelukan hangat Devian.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Sayang. Aku mencintaimu apa adanya," bisik Devian dengan suara lembut, namun terdapat ketegasan di sana.
Azura semakin erat memeluk tubuh kekar tersebut. Cintanya semakin hari semakin besar pada sosok pria yang membalas lebih erat pelukannya ini. Azura merasa akan benar-benar kehilangan seluruh jiwanya jika kelak takdir memisahkan mereka.
'Tuhan, tolong jangan ambil Devian dariku.'
***
"Aku berangkat kerja dulu, Sayang," pamit Devian.
Azura mengangguk dan membiarkan sang suami mengecup penuh kasih sayang keningnya cukup lama.
Pagi ini terlampau cerah untuk hati keduanya. Mereka saling bertatap dan melempar senyum manis. Azura pun melambai riang kearah sang suami yang akan memasuki mobil mahalnya. Devian menyempatkan membalas lambaian tangan Azura sebelum memasuki mobil lalu menjalankan mobilnya sehingga terbentuk jarak yang memisahkan keduanya semakin jauh.
Devian yang tadinya tersenyum mendadak melunturkan senyumnya. Wajahnya berubah sendu dan perasaan bersalah pun menekan batinnya.
Tak jauh berbeda dengan Devian, Azura pun kini tengah menatap nanar ke depan. Rasa bersalah juga tak kalah banyaknya menyerang hatinya dan kembali hancur untuk yang kesekian kalinya.
"Maafkan aku, Devian," bisik Azura lirih pada angin. Berharap angin tersebut dapat menyampaikan maafnya pada nama yang ia sebutkan.
Untuk hari ini air mata kembali menitih dari pelupuk matanya yang tidak henti memproduksi air mata. Azura terus dihantui rasa bersalah juga rasa takut. Ia sangat takut jika kelak Devian akan benar-benar pergi darinya.
Itu adalah mimpi terburuk yang sama sekali tidak ingin Azura bayangkan. Jemari lentiknya bergerak perlahan menyentuh perutnya yang masih rata dan kosong. Bulir air mata kembali menetes saat rasa sesak menyerang dadanya bukan main.
"Rain Raven Mendoza."
***
To be Continued.
__ADS_1