
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir tipis Devian dan membuat Devian mematung di tempat.
Azura langsung memutar tubuhnya secara terburu-buru sembari tertawa kecil dengan wajah yang memerah semu. Ia menyibukkan diri dengan memasukkan beberapa produk yang sempat menarik perhatiannya sebelumnya ke dalam troli yang tentu mengharuskan ia untuk bertemu pandang lagi dengan Devian yang tampak mematung.
Azura mengulas senyum manis yang membuat kecantikannya semakin menguar dan membuat Devian semakin berdebar gila. Devian sedikit cemburu dengan orang lain disekitar mereka yang ikut mengagumi Azura bahkan secara terang-terangan. Tidak boleh! Itu mutlak miliknya, Azura hanya milik Devian seorang! Camkan itu.
Azura memilih beralih ke samping Devian dan membisikkan sesuatu yang mengundang tawa menenangkan dari seorang Devian Ernest Mendoza.
"Apa kita perlu berkencan, Sayang?" tanya Azura mendongak menatap suaminya menggoda.
Devian lantas menoleh setelah bisikan itu terngiang-ngiang ditelinganya. Ia tersenyum tipis menangkap maksud godaan istrinya ini yang berubah menjadi kelinci nakal. Devian berdehem dan menatap lekat sepasang inisitif coklat gelap itu yang selalu ia tatap penuh puja.
"Kau ingin berkencan?" tanya Devian balik.
"Kenapa kau bertanya kembali?!" pekik Azura dengan wajah cemberut dan memukul pelan bahu kekar suaminya yang tertutup jas kerja.
Azura kesal dengan Devian!
Hal itu mengundang tawa Devian yang berakhir mata Devian menyipit hingga menampilkan lengkungan indah dikedua matanya.
Azura tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tersenyum. Meskipun sedang kesal, senyum indah sang suami dapat dengan mudah meluluhkan hatinya. Ia sangat menyukai bagaimana Devian ketika tertawa ataupun tersenyum.
Devian benar-benar menawan. Baik itu dimatanya ataupun mata orang lain. Oleh karena itu, Azura sangat-sangat bersyukur bisa memiliki pria menawan itu seutuhnya.
Kedua mata Azura memandang takjub akan pemilik wajah yang selalu membuat orang lain terpana, iri, bahkan di elu-elukan oleh banyak kalangan.
Devian menggeleng pelan guna menjawab pertanyaan Azura sebelumnya. Ia lantas pergi membawa troli belanjaan dan membiarkan Azura bergeming seraya menatap punggungnya tak berkedip.
Azura hanya masih tidak percaya dengan kenyataan ia dan Devian bisa bersama. Mimpi indah macam apa yang telah ia alami bertahun-tahun ini?
Azura tidak tahu ia harus bahagia atau sebaliknya.
***
Rasa takut tiba-tiba menguar di dalam hati, tanpa sadar jemarinya bergetar dan terasa sangat dingin saat menunggu penjaga kasir menghitung belanjaannya. Azura tidak tahu kenapa ia bisa begini, semuanya terjadi begitu saja.
"Totalnya $301 US, Nyonya."
Azura mengangguk. Namun, di saat ia akan menyerahkan kartunya ternyata Devian telah berdiri di belakangnya dan lebih dahulu memberikan kartunya.
Setelah itu Azura langsung keluar tanpa berniat berbalik ataupun menoleh ke belakang untuk menunggu Devian. Ia memilih menyibukkan diri dengan memilah belanjaan guna mengecek ulang supaya jika ia melupakan sesuatu dapat mengejarnya segera.
Devian yang baru keluar dari swalayan memperhatikan apa yang wanita cantiknya itu lakukan.
"Apa yang kau cari?" tanya Devian seraya mendekat.
"Tidak ada. Hanya memeriksa kembali, takut nanti ada sesuatu yang terlupa," balas Azura tetap sibuk dengan kegiatannya.
__ADS_1
Devian menghembuskan nafas pelan, wajahnya tertekuk mengetahui ia kalah saing dengan belanjaan istrinya itu. Ia merasa hatinya panas. Sungguh? Apakah ia tengah cemburu pada benda mati? Benar-benar cinta buta.
Namun, tak lama setelah itu Azura mendongak dan menatap Devian yang berada di sampingnya.
"Kembalilah bekerja, aku akan pulang menggunakan taksi. Jangan khawatirkan aku. Lagipula aku harus kembali menemui Kak Gizka," tutur Azura lembut.
Sorot bingung terpancar dari kedua netra hitam kelam dari pria tampan berhidung mancung itu. Memandang penuh tanya punggung sempit yang memilih pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Lagi-lagi Devian ditinggal.
Dengan gesit lidah pria tampan itu membasahi bibir bawahnya sendiri yang terasa kering. Hal ini juga sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri baginya.
Devian langsung berlari mengejar Azura yang belum terlalu jauh dari jangkauannya dan meraih jemari lentik sang istri lalu menggenggamnya erat agar tidak pergi-pergi lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Tanpa ragu dan tidak memperdulikan sekitar, Devian menempelkan bibir tipisnya ke kulit mulus pipi Azura yang terasa kenyal. Kegiatan dadakan tersebut menghasilkan lonjakan kecil dari sang wanita yang cantik yang langsung menatapnya terkejut serta bingung.
"Devian, ini tempat umum," tegur Azura serius.
Namun, Devian hanya terkekeh. Ia semakin gemas dengan Azura, terlebih melihat wajah cantik itu merona karena ulahnya.
"Ayo berkencan setelah aku selesai," ajak Devian serius.
Jemari tangannya yang terbebas merambat ke kepala Azura dan mengusak surai sepunggung Azura yang terasa halus serta lembut. Devian heran, istrinya tampak sangat-sangat cantik meski nyatanya istrinya itu cukup jarang melakukan perawatan khusus ke salon.
Azura memejamkan mata menikmati sentuhan lembut nan menyenangkan dikepalanya yang membuat sesuatu di dalam dadanya bergemuruh hebat.
Azura mengulum senyum manis sebagai reaksi betapa ia menyukai perlakuan lembut dan romantis sang suami. Sebelum akhirnya kelopak mata indahnya terbuka hingga menampakkan manik kembar yang berbinar tak kalah indah karena sang pemilik merasa bahagia.
Untuk kesekian kalinya, Devian terjebak dalam pesona obsidian kembar Azura yang menambah keindahan seorang Azura Navy Mendoza dimatanya.
Menyadari kerapuhan dari keindahan yang terpampang jelas dari mata Azura, Devian menjadi sangat ingin memeluk Azura-nya seerat mungkin. Tanpa mau melepasnya dan memberikan sebuah perlindungan yang membuat Azura-nya merasa aman dari segala kecaman.
Berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja meski kenyataannya jauh dari kata tersebut. Devian tahu ini bukanlah saatnya untuk berlarut dalam keterpurukan. Keduanya butuh hiburan untuk melupakan semua beban sejenak.
"Tunggu aku di rumah, Baby," ucap sang suami.
Jantung Azura semakin menggila kala suara lembut Devian mengalun indah ditelinganya bak sebuah melodi. Disusul kecupan hangat penuh cinta di keningnya.
Azura kembali memejamkan mata, menikmati sebaik-baiknya kasih sayang yang Devian berikan. Azura ingin menangis saat ini juga, ia merasa begitu terharu menyadari seberapa besar rasa cinta Devian padanya saat ini.
Dan momen hangat penuh kasih itu diakhiri dengan senyuman manis yang menghangatkan hati keduanya. Jantung mereka sama-sama berdebar tak karuan. Mereka sama-sama menikmati debaran tersebut.
***
Azura, wanita dengan paras bak keturunan Dewi Kecantikan itu telah sepenuhnya siap untuk kencan mereka malam ini. Raut wajahnya dipenuhi mimik bahagia.
Azura berjalan menuruni tangga dengan anggun serta senyum indah yang mengembang sempurna diwajahnya.
Sampai di anak tangga terkahir, Azura menemukan Devian telah menunggunya di ruang tamu dengan pakaian santainya yang terlihat begitu keren membalut tubuh kekarnya.
"Wow! Kau sangat cantik, Sayang," puji Devian antusias.
__ADS_1
Azura menggembungkan pipi setelah Devian memujinya begitu. Walaupun wajahnya cemberut, tetap saja ia mendekati Devian dan membiarkan tangan kekar pria tampan itu meraih pinggangnya dan mengecup pipi serta bibirnya berulang kali.
"Bagaimana jika kita berkencan di dalam rumah saja hari ini? Aku tidak rela wajah cantikmu juga dinikmati orang lain," pinta Devian menatap Azura lekat.
"Tidak tidak. Kita sudah lama tidak kencan keluar, Devian," tolak Azura, lebih tepatnya merengek dengan bibir mengerucut dan memandang Devian dengan sorot anak kucingnya.
Devian terkekeh. Lantas ia menyatukan kening keduanya. Memejamkan mata tatkala Azura masih setia membuka mata, memandangi wajahnya dari dekat dengan tatapan kagum.
Tampan.
Azura tidak mempu mendeskripsikan berapa tampannya pria yang yang memeluknya saat ini.
"Kau ingin ke mana?" tanya Devian seraya membuka mata perlahan.
Mata Azura mengerjap cepat, ia kelabakan saat netra kelam Devian kembali terlihat dan menatapnya lekat dari jarak tak sampai lima sentimeter. Azura mendadak jadi gugup sendiri saat tertangkap basah menatap penuh puja wajah sang suami.
"Kemana pun asal bersamamu, Devian. Ayo," ajak Azura.
Devian lagi-lagi terkekeh geli, ia kemudian mengecup lama pipi Azura yang sudah mengeluarkan semburat merah sedari tadi.
"Ke kamar saja kalau begitu," kelakar Devian.
"Tidak, keluar," rengek Azura dengan nada manja.
Devian tertawa geli lalu menggenggam tangan sang istri dan membawanya menuju pintu rumah. Tangan keduanya terpaut mesra dan Devian menggiring langkah keduanya hinga tiba di motor sport Devian.
Azura tertegun, nyaris lupa cara bernafas saat Devian sudah berada di atas motor. Sungguh, Devian terlihat begitu memesona dan luar biasa keren. Ah, ia jadi salah tingkah memperhatikan bagaimana tampannya seorang Devian Ernest Mendoza.
Ingatan tentang bagaimana ia pertama kali jatuh dalam pesona Devian pun tiba-tiba kembali muncul kepermukaan.
"Naiklah," titah Devian sambil menyerahkan sebuah helm.
Azura menerima helm pemberian Devian dan ikut mendudukkan diri di jok belakang motor tinggi tersebut dengan bantuan pegangan pada tangan Devian yang setia mengulurkan tangan padanya.
Setelahnya Devian menguasai kendali kuda besi itu dan membawa keduanya menelusuri kota New York yang tampak indah pada malam hari dengan kecepatan normal. Azura memejamkan mata sambil memeluk pinggang Devian erat, kemudian tersenyum menikmati hembusan angin pada wajahnya.
Pikirannya berkelana ke masa lalu.
***
Apakah aku benar-benar baik-baik saja untukmu?
Bisakah aku benar-benar tinggal di sisimu?
Bisakah kata baik itu yang menghampiri bukan aku yang mengejarnya?
Bisakah kau menatap hanya untukku?
***
__ADS_1
To Be Countinue.