
Seorang pria tampan berkulit putih pucat dengan rahang tegas serta hidung bangir tengah berkutat dengan dokumen-dokumen perusahaan yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Pria bernama lengkap Devian Ernest Mendoza itu terlihat sangat berantakan. Entah dari wajahnya yang kusut ataupun penampilannya yang tak kalah kusut. Untuk sejenak tubuh kekar itu bersandar pada kursi kerja sepenuhnya guna melepas rasa penat yang menyerang fisiknya dan lelah yang menyerang psikisnya.
Kelopak mata Devian menutup hingga iris setajam elang yang menjadi salah satu daya pikat kaum hawa dari berbagai kalangan itu tak lagi tampak. Seulas senyum tipis terbentuk saat dalam angannya terbesit wajah seseorang yang selalu membuat pikirannya tenang.
Sosok cantik nan manis yang saat tertawa begitu sedap untuk dipandang, menenangkan juga nyaman dalam satu waktu bersamaan.
Rasa rindu tiba-tiba menyeruak dalam dada Devian pada sosok spesial baginya yang entah sedang melakukan apa saat ini. Pikiran untuk meneleponnya terlintas dalam benaknya sekedar mendengar suara lembut itu guna meminimalisir rasa rindunya.
Juga menghilangkan sakit bukan main yang menyerang kepalanya hingga rasanya mau pecah. Kelopak mata itu sedikit terbuka untuk mencari letak ponselnya. Devian rasa menghubungi belahan jiwanya yang berada di rumah adalah cara yang tepat untuk sedikit mengurangi beban-bebannya.
Pria tampan itu meraih ponselnya yang terletak di samping laptop keluaran terbaru dan segera menghubungi sang belahan jiwa.
Tidak menunggu waktu lama telepon pun langsung diangkat dan sudah tersambung. Devian kembali tersenyum hingga matanya menyipit lalu kembali memejamkan mata untuk menikmati suara lembut sang istri yang mengalun indah ditelinganya.
Mendengar Azura-nya berkata---
'Sayang?'
"Halo, Baby," sapa Devian serata tersenyum sumringah.
'Hai, Daddy. Hahaha,' balas Azura lantas tertawa.
--Devian menghela nafas lega, tubuhnya menjadi begitu rileks saat mendengar tawa riang Azura.
"Apa yang lucu, Baby?" tanya Devian seraya terkekeh geli.
'Kau, Sayang. Berhenti memanggilku seperti itu,' pinta Azura dengan bibir mengerucut tanpa sadar. Beruntung Devian tidak melihatnya, jika iya dapat dipastikan bibir Azura akan bengkak setelahnya.
Kemudian Azura ikut terkekeh kecil membayangkan hal random yang melintas dalam otaknya, sedangkan Devian kembali membuka mata dan memperbaiki duduknya seraya tersenyum. Sangat kentara jika keduanya sama-sama menikmati pembicaraan sederhana yang menarik ini.
"Kenapa? Kau memang baby-ku bukan?" tanya Devian berniat menggoda Azura.
'Dan kau adalah daddy-ku,' balas Azura mengikuti alur pembicaraan Devian.
Devian tertawa setelahnya, ia menyadari hal yang membuat Azura terkekeh geli saat ia mulai menggodanya dengan memanggil baby.
"Kita sedang tidak berada di ranjang, Sayang. Berhenti memanggilku Daddy. Kau tau? Aku bisa saja nekat pulang dan menyerangmu saat ini juga," sahut Devian frontal dengan nada rendah yang terdengar berat sekaligus seksi ditelinga Azura. Devian tak dapat menahan lengkung bibirnya untuk tidak mengembang.
Begitu menyenangkan, pikirnya.
'Hahaha.' Azura ikut tertawa anggun di seberang telepon.
"Kau mesum juga ternyata," papar Devian dengan wajah berseri-seri, tentu dengan makna lain.
'Aku? Tidak,' elak Azura panik seraya menggeleng tanpa diketahui Devian.
"Mengaku saja, Sayang. Kau rindu 'bermain' denganku bukan?" desak Devian. Ia menahan tawa membayangkan wajah cemberut Azura dengan pipi gembul kesukaannya yang memerah saat ini.
'Hentikan, Devian Ernest Mendoza. Kau sungguh menyebalkan,' omel Azura.
"Hahaha. Siapa dulu yang memulainya, hm?" tanya Devian.
__ADS_1
'Huft, baiklah. Aku yang memulai,' jawab Azura mengaku seraya mengembuskan nafas kesal.
Devian lagi-lagi dibuat tertawa oleh pembicaraan mereka yang terlampau sederhana ini. Bahkan pria tampan itu tertawa lepas mendengar nada kesal Azura.
"Sayang, aku rindu. Sangat merindukanmu," ujar Devian secara tiba-tiba berubah manja. Azura di seberang sana terperangah takjub mendengar suara sang suami yang terasa menggelitik telinganya.
'Kita baru saja berpisah beberapa waktu yang lalu jika kau lupa,' sindir Azura halus.
Devian melirik kearah jam tangan mahal yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Ia berdecak pelan, lalu kembali bermanja ria dengan wajah cemberut yang tidak akan bisa dilihat oleh Azura.
"Tapi, aku sudah rindu. Rasanya sudah seperti berhari-hari aku tidak bertemu denganmu," keluh Devian.
'Berhenti menggodaku, Tuan Muda Mendoza,' pinta Azura jengah.
"Hahaha. Kau merasa tergoda, huh?" tanya Devian terdengar menantang.
'Ish, Devian,' rengek Azura kesal.
Devian kembali tertawa geli. Tanpa sadar ia kembali meraih pena untuk menyelesaikan pemeriksaan dokumen-dokumen perusahaannya yang sempat terbengkalai. Semangatnya kembali membara setelah mendengar suara sang istri yang begitu ia rindukan. Kendati mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu.
'Devian, sudah dulu ya. Aku sedang berada di swalayan,' kata Azura berniat mengakhiri obrolan mereka. Meski dalam hatinya ia tak rela sama sekali.
"Pantas saja ramai. Oke, Baby. Sampai jumpa lagi on the bed," pungkas Devian tersenyum penuh arti.
'DEVIAN astaga.' Azura kembali dibuat menjerit karena godaan Devian. Pun ia dibuat malu oleh ulahnya sendiri. Percayalah, saat ini ia jadi pusat perhatian sebagian pengunjung swalayan.
"HAHAHAHA."
Pip
Tok tok tok ...
Seseorang mengetuk pintu ruangannya beberapa kali. Devian pun kembali dengan tampang datarnya. Seakan-akan tidak ada yang boleh mengetahui kehangatannya kecuali Azura seorang, sang belahan jiwa.
"Masuk," titah Devian tegas.
Seorang perempuan dengan seragam kerja yang terlampau rapi datang membawa berkas baru yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh Devian.
"Direktur Mendoza, ini beberapa berkas yang anda minta," ucap perempuan tersebut ramah.
Devian menerima berkas tersebut dengan lugas, tidak menatap asistennya sama sekali. Walaupun ia tahu perempuan yang menjabat sebagai asistennya itu tengah menatapnya lekat. Mengagumi pesona yang menguar dari seorang Devian Ernest Mendoza yang tidak main-main.
"Saya permisi, Direktur Mendoza," pamit asisten tersebut sopan.
Devian hanya mengangguk dan membiarkan asistennya itu pergi tanpa berniat menatapnya meski hanya sekilas.
"Huft, sekarang malah bertambah banyak. Kepalaku pasti akan berasap setelah ini," keluh Devian disertai dengusan kesal dan beralih melirik ponselnya.
Mungkin hari ini hanya menjadi hari mengusik seorang Azura Navy Mendoza. Devian dengan cueknya kembali menelepon Azura tanpa peduli Azura yang tampak kewalahan meladeni dan mengurus dirinya sendiri.
"Halo, Baby."
...
__ADS_1
***
Pria berkulit putih pucat dengan raut senangnya itu berjalan keluar kantor. Devian sangat tidak sabar untuk segera sampai ke rumah terbaiknya untuk bertemu dengan wanita terbaiknya di sana, Azura.
Namun, di tengah jalan seorang anak kecil tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga bocah itu terjatuh.
Devian terperanjat, matanya melebar menatap kaget pada anak kecil kisaran lima tahun yang jatuh terduduk di lantai. Pria tampan itu langsung membantu anak kecil itu untuk berdiri.
Devian menatap bocah itu teduh, tanpa tahu seseorang yang bersama bocah lima tahunan itu tadi tengah menatap lekat interaksi keduanya dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Kau baik-baik saja, hm?" tanya Devian lembut.
"Aku baik, Paman," jawab bocah itu lugu.
Sebelum akhirnya suara sang bocah menyadarkan ke terkagumannya, seorang wanita berjalan cepat menuju sang bocah dan berdiri di sampingnya.
Devian dibuat tersentak kala wanita cantik itu membungkuk badan hormat padanya.
"Maafkan saya, Direktur. Keponakan saya justru berkeliaran seenaknya di sini. Sekali lagi saya mohon maaf," ucap wanita tersebut segan.
Wanita itu menarik tangan sang bocah dengan gerakan pelan dan kembali membungkuk hormat sebagai bentuk rasa bersalahnya karena membiarkan keponakannya berbuat sekenanya di perusahaan tempat ia bekerja.
Devian tanpa sadar tersenyum tipis menatap sosok anak kecil yang kini mengerjap polos menatapnya. Jemari kekarnya perlahan terangkat untuk mengusak rambut halus yang membungkus kepala bocah tersebut.
"Tidak apa, aku suka dengan anak kecil jika kau belum tau. Aku tidak keberatan," balas Devian.
Devian bertemu tatap dengan wanita bersurai hitam pekat sepunggung layaknya istrinya. Alea Rosery Smith, salah satu karyawan yang diam-diam menyimpan rasa pada atasannya sendiri.
Tanpa sadar Devian memikirkan bagaimana bahagianya mempunyai seorang anak, terlebih lagi itu darah dagingnya sendiri. Senyum itu mengembang begitu saja membayangkan hal indah seperti itu.
Namun, mendadak senyumnya luntur menyadari Azura tidaklah wanita yang dapat memberinya anak. Ralat, mungkin belum. Hypothalamic Dysfunction salah satu penyebab Azura sulit memberinya seorang keturunan.
Sial.
Devian merutuk dalam hati, tidak seharusnya ia menyayangkan Azura seperti ini. Bagaimanapun ia harus bersyukur bisa memiliki Azura. Devian langsung pergi begitu saja dan meninggalkan kedua orang berbeda umur yang terpaku menatapnya tanpa sepatah kata pun.
"Kak, aku suka pada paman tampan itu. Seperti pangeran berkuda putih yang pernah Mama ceritakan kepadaku setiap malam," ucap bocah perempuan itu beralih menatap orang yang ia sebut kakak itu dengan mata berbinar kagum.
Alea tersenyum lembut dan mengusak gemas kepala bocah kecil yang sebenarnya bukan keponakannya. Melainkan anak teman seperjuangannya di perusahaan besar ini.
"Kakak juga menyukainya," aku Alea semakin tersenyum lebar.
"Kenapa kakak tidak menikah saja dengan paman tampan itu?" tanya bocah perempuan itu dengan tatapan polosnya.
"Sstt, jangan berbicara sembarangan. Paman itu sudah menikah," tegur Alea tegas seraya mendesis pelan. Kemudian beralih menatap kepergian Devian dengan tatapan nanar hingga pertanyaan anak temannya kembali menyadarkannya.
"Umm ... Tapi, bagaimana jika paman tampan juga menyukai kakak? Apa kakak juga akan menolaknya?" tanya bocah itu lagi penasaran.
Alea terdiam, tampak enggan menjawab dan kembali menatap punggung tegap Devian yang semakin jauh dari pandangannya.
'Aku mencintaimu tanpa kau sadari.'
***
__ADS_1
To be Continued.