
"Apa kau ingin membuang kesempatan emas ini begitu saja? Aku hanya menawarkan mu agar mau menyimpan benih Devian dalam rahimmu," papar Zeline tanpa beban dan diselipi ledekan.
Kedua mata Alea spontan membulat sempurna. Bagaimana bisa wanita tua ini mengatakan hal itu dengan mudah? Mengerikan, bahkan Alea tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya.
"Omong kosong. Saya tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud, Nyonya," geram Alea.
Alea benar-benar tak habis pikir dengan pikiran wanita tua ini, maka dari itu ia berniat akan pergi. Namun, terhenti karena wanita itu kembali angkat bicara.
"Ini kesempatan untukmu. Bisa jadi anakku akan jatuh cinta padamu jika kau beruntung dan melakukannya dengan baik. Kau cantik dan juga seksi. Kau cukup terlihat serasi dengan putraku, kau sempurna. Devian pasti akan sangat bahagia bisa memiliki seseorang yang bisa memberinya seorang anak," papar Zeline masih keukeuh mempengaruhi Alea agar mengiyakan tawarannya.
Jantung Alea berdebar kencang. Akal dan nuraninya tengah beradu argumen di dalam sana.
Tidak, ini salah! Ini salah! Kau tidak bisa melakukannya!
Itu yang akalnya katakan. Berbanding terbalik dengan nuraninya yang membenarkan perkataan Zeline dan memaksa keinginan terdalamnya untuk memiliki Devian seutuhnya.
"Maaf, saya tidak tertarik," tolak Alea lebih memilih apa yang akalnya katakan. Setidaknya untuk saat ini pilihannya sudah benar.
Zeline kembali tertawa, tertawa meledek lebih tepatnya. Ia cukup tertantang melihat kekeraspalaan Alea yang sekarang justru menatapnya begitu datar. Tidak ada lagi sorot ketakutan dan kegelisahan yang Zeline lihat dari mata itu seperti sebelumnya.
"Aku akan menunggu, Alea. Jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan," sanggah Zeline sembari mendekati Alea yang masih terdiam ditempat, lalu membisikkan sesuatu ditelinganya yang membuatnya bisu seketika.
"Wanita hebat yang melahirkan mu membutuhkan uang untuk bertahan hidup lebih lama. Apa kau akan membiarkannya menahan sakit tanpa pengobatan lebih lama?" tutur Zeline disertai seringaian penuh kemenangan.
Zeline yakin Alea pasti akan luluh.
Alea menahan nafas, rasa sesak di dadanya membuat ia sedikit kesulitan untuk menghirup oksigen dengan leluasa. Pun otaknya tak bisa berpikir jernih. Semuanya terlalu tiba-tiba baginya.
"Oh iya, kau tidak perlu bertahan dengan Devian. Kau hanya perlu memberikannya anak maka tugasmu selesai. Entah kalian mau lanjut atau tidak itu urusan kalian, aku akan mendukung apapun keputusan kalian setelahnya. Masalah uang kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap memberikannya walaupun kau dan Devian tidak lagi bersama," pungkas nyonya besar keluarga Mendoza tersebut.
Setelah mengatakan hal yang membuat Alea tidak lagi merasa tenang Zeline langsung pergi begitu saja tanpa beban. Meninggalkan kartu namanya di atas meja di hadapan Alea.
Tubuh Alea bergetar hebat, ia memandang kartu nama itu dengan emosi yang bercampur aduk.
'Maafkan aku, Ibu.'
__ADS_1
***
"Paman!"
Devian baru saja keluar dari mobil saat suara cempreng khas anak kecil menyerukan namanya. Ia menoleh ke asal suara dan mendapati seorang bocah kecil yang lumayan sering ia temui akhir-akhir ini tengah berlari riang secara terburu-buru kearahnya.
Seorang wanita datang lalu membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Devian yang kini sudah menggendong Ruby.
"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya bocah kecil ini sedang mencari Alea," ujar wanita tersebut segan.
Mata Devian mengerjab pelan. Merasa tidak asing dengan nama itu.
"Alea?" beo Devian.
"Iya Alea," sahut wanita itu kaku.
"Apa Kak Alea belum datang?" tanya Ruby memecah lamunan Devian dan kecanggungan yang wanita itu rasakan seorang diri.
"Kakak!" seru seseorang dari belakang mereka.
"Ruby, kau harus ikut dengan Ibu," omel Alea seraya berkacak pinggang dan menatap sangar kearah bocah perempuan yang kini justru memeluk leher Devian erat.
Ruby tampak enggan melepaskan Devian.
"Tidak, tidak mau! Aku ingin bermain dengan Paman Tampan!" rengek Ruby sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Devian.
Sangat nyaman, pikirnya.
Devian terkekeh mendengar rengekan bocah berusia lima tahunan ini. Ia menepuk pelan punggung kecil Ruby, kemudian beralih menatap Alea dan tersenyum teduh.
"Tak apa, Alea. Aku tidak masalah jika harus bermain dengan Ruby," kilah Devian.
Alea terdiam. Jantungnya tengah berpacu cepat layaknya rollercoaster. Kedua obsidian hitam miliknya memandang Devian lekat. Bayang-bayang di mana ia dan Devian bersama mulai tersusun dibenaknya. Keinginan untuk menerima tawaran tadi pun semakin besar.
Namun, mengingat wajah wanita yang tak kalah cantik darinya yang ia temui beberapa hari ke belakang membuatnya urung. Jika ia menerima tawaran itu, maka wanita cantik itu pasti akan terluka. Tapi, di satu sisi tawaran itu juga salah satu impian terbesarnya.
__ADS_1
Entahlah, tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi kedepannya jika ia memulai. Hanya saja salah satu di antara mereka yang akan menerima dampaknya nantinya. Entah itu dirinya, Devian, ataupun wanita cantik itu.
Alea tidak ingin melukai siapapun, ia hanya berharap semuanya beredar sesuai orbitnya. Hanya dengan berada di samping Devian saja sudah cukup baginya, meski hanya sebagai rekan kerja.
***
"Kak Gizka, astaga! Bisakah kau tidak berlarian lagi?" tanya Azura geram dengan kelakuan kakak sepupu iparnya ini yang sekarang justru terlihat seperti anak-anak.
Azura terengah, ia lelah menggerakkan kakinya mengikuti ke mana wanita yang lebih tua itu berlarian kesana-kemari tanpa tujuan yang jelas. Ada saja yang menarik dimatanya maka kakak sepupu iparnya itu akan segera berlari ke sana.
Begitu seterusnya sampai Azura rasa kakinya tidak sanggup lagi untuk berdiri tegak. Ditambah ditangannya sudah ada beberapa boneka besar dan kecil. Membuatnya semakin kewalahan mengimbangi yang lebih tua.
"Azura, ayo kemari! Kau harus mencobanya juga, ini menyenangkan!" ajak Gizka dengan suara lantang sehingga menarik atensi beberapa orang.
Azura menghembsukan nafas panjang, ia yakin ini akan lebih panjang dan berat dari yang sebelumnya. Merasa tidak ada pilihan, Azura kembali melangkah menyusul yang lebih tua yang kini sedang sibuk bermain menembak sasaran dengan pistol air.
Sebenarnya niat awal Gizka mengajak Azura ke wahana bermain adalah untuk menghibur Azura. Leon, suami Gizka-lah yang mengusulkan untuk membawa Azura keluar dan bersenang-senang di taman hiburan.
Leon pikir Azura memang butuh hiburan untuk melupakan masalah hidupnya yang kian memberat sejenak. Namun, sepertinya bukan Azura yang terhibur. Melainkan Gizka.
Parahnya lagi Leon sibuk bekerja layaknya suaminya, Devian. Sehingga ia tidak bisa menegur Gizka untuk berhenti ataupun melarangnya melakukan hal-hal sesukanya. Setidaknya istirahatlah mereka sebentar, sepertinya Azura perlu mengisi ulang tenaganya.
"Kakak ... Berhenti ... Aku lelah," pinta Azura terengah-engah.
Azura mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang berada tepat di samping Gizka bermain. Huft, sungguh ia benar-benar lelah.
"Aaaaa! Azura, di sana ada tempat peramal. Ayo ke sana!" jerit Gizka kesenangan sembari menarik tangan Azura dan memaksanya masuk ke dalam tempat yang ia sebut peramal itu.
Azura hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik, ah lebih tepatnya diseret. Azura menghela nafas berkali-kali saat Gizka membayar uang masuk dengan uang yang telah Leon berikan tadi. Diam-diam Azura juga merasa senang melihat kakak sepupu iparnya ini senang.
Selesai dengan urusan bayar membayar, keduanya masuk dan duduk berdampingan di depan seorang peramal dengan pakaian serta benda-benda untuk meramal. Entahlah, Azura tidak tahu apa dan untuk apa benda-benda tersebut.
"Nah, Azura. Kau coba duluan."
***
__ADS_1
To be Continued.