Obsesi Ibu Mertua

Obsesi Ibu Mertua
Hanya Mimpi


__ADS_3

"Azura! Bangun!" ujar Devian panik. Pasalnya Azura terlihat gelisah dan tidak nyaman dalam tidurnya, bahkan istrinya itu sampai mengeluarkan air mata. Tentu saja Devian panik istrinya ini kenapa-kenapa.


Azura membuka mata. Netra coklat gelap itu langsung mengedar kesana-kemari, kemudian berhenti bergerak ketika ia menemukan wajah Devian yang kini menatapnya cemas sekaligus khawatir.


Tanpa ba-bi-bu lagi Azura menerjang tubuh kekar suaminya dan memeluknya erat, melampiaskan ketakutannya di dada bidang sang suami yang menjadi spot terbaik baginya untuk bersandar setelah pundak.


Devian terkejut, ia hampir kehilangan keseimbangan karena perlakuan Azura yang tiba-tiba. Meski begitu, rasa cemas dan khawatir yang sempat ia rasakan masih ada. Wajah Azura penuh peluh dingin juga air mata. Nafasnya juga terengah-engah diikuti tubuhnya yang bergetar.


Devian yakin, Azura pasti mengalami mimpi buruk.


"Devian, aku--"


Azura tidak jadi melanjutkan perkataannya, matanya mengerjab dan ia terdiam. Entah mengapa mimpi buruk yang sebelumnya ia alami lenyap begitu saja. Azura sama sekali tidak mengingat mimpi tersebut, sama sekali tidak.


Padahal Azura merasa mimpi itu mempunyai alur yang teramat jelas, seakan-akan itu benar-benar terjadi. Terasa sangat nyata. Azura tidak berbohong, buktinya tubuhnya bergetar ketakutan dan ia menangis dalam tidurnya.


"Mimpi buruk lagi, hm?" tanya Devian.


Suara Devian mengalun lembut menyapa telinga Azura sehingga Azura tersadar dari lamunannya. Air mata Azura kembali berjatuhan dan ia masih belum bisa mengatakan apa-apa.


Tapi, ada satu hal yang ingin Azura katakan pada Devian saat ini.


"Jangan tinggalkan aku, Devian!" pekik Azura.


"Huh?" Devian merasa pikirannya kosong setelah mendengar pekikan sang istri yang menyiratkan ketakutan yang mendalam. Tidak sampai lima kata terucap, namun dapat membuat hati Devian remuk sampai hancur.


"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" racau Azura kembali mengulang kalimat yang sama.


Devian tidak tahan melihat istri yang teramat ia cintai ini kacau seperti ini. Devian mengeratkan pelukannya membuat tubuh mereka menempel sempurna.


Dari perlakuannya ini Devian membuktikan bahwa ia tidak akan melepaskan Azura sampai tangannya tidak sanggup lagi memeluk Azura nantinya. Kecuali Azura yang nantinya akan melepas pelukannya.


"Tidak akan, Sayang. Tenanglah," tutur Devian menenangkan.


"Devian," isak Azura seraya meremas kuat kaos yang Devian kenakan. Tidak peduli kuku-kuku jarinya akan merobek kaos hitam tersebut. Ia sungguh takut jika Devian melepaskannya meski hanya sedetik.


"Aku di sini. Tenanglah, Sayang."

__ADS_1


Devian cukup tahu apa yang Azura rasakan saat ini, maka dari itu ia tidak akan henti-hentinya membisikkan kata-kata penenang ditelinga Azura hingga istri tegar nan rapuhnya ini kembali tenang dan memejamkan mata secara perlahan.


Devian percaya semuanya akan baik-baik saja.


Tapi, rasa takut terkadang bermain terlalu kejam untuk dua orang yang saling mencintai.


***


Ini pagi yang hangat, nampak semakin hangat ditemani dengan secangkir teh yang masih mengepulkan asap yang terletak di depannya.


Namun, wanita cantik itu terlihat kedinginan. Tubuhnya diam-diam bergetar karena di hadapannya seorang wanita paruh baya tengah memandangnya intens sedari tadi.


Kedua wanita tersebut hanya diam tak bergeming selama nyaris waktu terbuang sepuluh menit. Bahkan itu waktu yang terasa sangat lama bagi wanita yang lebih muda dengan surai hitam legam sepunggung tersebut.


Sepuluh menit yang lalu pun ia baru sampai di kantor, lalu mendapati seorang wanita paruh baya duduk dikursi meja kerjanya. Ia menatap wanita tersebut dan teman kerjanya heran bergantian. Tidak ada yang dapat menjawab keterheranannya, bahkan seluruh teman kerjanya juga menyambut kedatangan wanita paruh baya itu dengan pandangan heran.


"Kau tau kenapa aku ingin menemui mu?" tanya wanita paruh baya tersebut dengan nada yang terkesan angkuh.


Ia menggelengkan kepala dengan gerakan pelan, bibirnya memucat dan jari-jari tangannya semakin ke sini semakin dingin. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Ia tahu siapa wanita yang ada di hadapannya ini, maka dari itu rasa takut diam-diam menyelinap dihatinya.


"Apa saya melakukan kesalahan besar, Nyonya?" tanyanya pelan.


"Ya, kau melakukan kesalahan yang sangat besar," jawab Zeline santai, namun penuh penekanan.


Zeline terdiam sejenak dengan senyum angkuhnya. Netra hitam gelap yang sama dengan Devian itu melirik name tag pekerja yang tertera di kemeja sebelah kanan yang wanita cantik itu kenakan.


"Alea Rosery Smith," ujar Zeline menyebutkan nama lengkap wanita cantik yang ada di hadapannya. Ia memandang Alea lekat dengan mata tajamnya.


"Apa kau menyukai putraku?" tanya Zeline to the point.


Alea tersentak, ia langsung mengalihkan obsidian hitam miliknya kearah air teh yang masih terisi penuh di dalam cangkir putih tersebut. Sayangnya teh itu sudah dingin, sedingin telapak tangan Alea dan keringatnya.


"Ma-maaf. Saya tidak mengerti dengan apa yang anda tanyakan, Nyonya," jawab Alea berusaha tenang meski gugupnya tak dapat dicegah.


Nyonya besar keluarga terpandang Mendoza itu mendengus keras, ia tak melepaskan tatapan lekatnya dari Alea sekalipun yang ditatap kini tampak gemetar.


"Aku melihat semuanya. Ketika di swalayan ... Apa kau memanfaatkan anak temanmu sebagai umpan untuk mendekati putraku? Bukankah kau tau putraku itu sudah memiliki istri?" tanya Zeline lebih terlihat mengintrogasi daripada bertanya.

__ADS_1


Zeline mengetahui jika Alea ketakutan karenanya, sangat terlihat jelas wanita yang lebih muda darinya itu semakin gusar dan gelisah.


Dengan santainya wanita paruh baya itu menyesap teh yang ia pesan dengan tenang untuk membasahi tenggorokannya sejenak.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak mempunyai niat apapun," elak Alea.


"Tidak mempunyai niat apapun? Bukankah kau sebenarnya tertarik dengan rumor yang beredar tentang direktur mu itu?!" hardik Zeline meninggikan suaranya.


Bahkan para pengunjung kafe lainnya sempat mencuri pandang kearah mereka. Selain karena terkejut, rasa penasaran juga menjadi pemicu utamanya.


"Tidak, Nyonya. Saya sama sekali tidak punya keinginan apapun yang berkaitan dengan direktur," balas Alea masih berusaha meyakinkan ibu dari direktur yang diam-diam ia cintai itu meski ia tahu akan percuma mengelak, karena kenyataannya tidak seperti apa yang mulutnya lontarkan.


Alea memberanikan diri untuk membalas tatapan wanita yang lebih tua darinya. Tapi, ia semakin gentar ketika melihat kedua mata itu memandangnya serius dan begitu lekat. Seakan-akan tengah meneliti lebih dalam bagaimana dirinya saat ini.


Alea semakin gugup dan takut.


"Berhenti membohongi dirimu sendiri," kata Zeline tegas.


Alea terperanjat ketika Zeline meletakkan cukup kasar sebuh amplop kuning kecoklatan di atas meja tepat di depannya.


"Kau membutuhkan uang bukan?" tanya Zeline diam-diam menyeringai licik, tak ada seorang pun yang tahu karena hanya matanya yang memancarkan.


Alea mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Ia merasa begitu tersinggung dengan perlakuan wanita paruh baya yang hidupnya memang telah bergelimpangan harta sedari dulu.


"Aku memperhatikan putraku selama ini, termasuk apa yang dia lakukan dan siapa-siapa saja yang dekat dengannya. Jika kau terus berada di sekitar putraku, maka kau juga masuk dalam pantauan ku," imbuh Zeline.


Alea merasa tertohok bukan main. Wanita paruh baya ini lidahnya sangat tajam dan menusuk hati ketika berbicara. Apa ia tidak boleh menyimpan rasa ini sendiri? Menyimpan sendiri saja sudah menyiksa, bagaimana jika diketahui orang lain?


Alea tidak menuntut apapun dari pria yang sudah menikah, namun dicintainya diam-diam seperti Devian. Memandang dari kejauhan saja sudah lebih dari cukup baginya.


"Sekali lagi maaf, Nyonya. Saya memang membutuhkan uang, tapi saya tidak terima dengan cara seperti ini," sahut Alea berani.


Hilang sudah ketakutan Alea. Perkataan tajam Zeline sudah benar-benar keterlaluan. Walaupun ia hanya karyawan biasa dan hidup apa adanya, bukan berarti ia tidak berhak untuk tersinggung karena orang yang hidup lebih dari apa adanya bukan?


Alea akan beranjak, namun wanita tua itu justru tertawa.


"Apa kau ingin membuang kesempatan emas ini begitu saja? Aku hanya menawarkan mu agar mau menyimpan benih Devian dalam rahimmu. Itu saja."

__ADS_1


***


To be Continued.


__ADS_2