
"Ibu hanya menyarankan lebih baik kau menerima wanita yang sudah Ibu carikan. Kau tidak perlu khawatir, Ibu sudah memastikan jika dia tidak akan meminta pertanggungjawaban lebih. Setelah anakmu lahir semuanya akan kembali seperti semula," imbuh Zeline yang lagi-lagi membuat Devian kalut dan Azura terbunuh secara perlahan.
Devian menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, melirik Azura yang kini bergetar dan mencengkeram tangannya tak kalah kuat melalui ekor matanya.
"Aku rasa aku tetap ti--"
"Devian akan melakukannya," potong Azura dalam satu tarikan nafas.
Spontan Devian menoleh sepenuhnya kearah Azura. Memandang tak percaya sang istri yang telah mengatakan hal yang tidak terduga tersebut secara sepihak, tanpa mengatakan sepatah kata pun padanya terlebih dahulu.
"Azura!" tegur Devian dengan ekspresi tak sukanya.
Azura menoleh, menatap Devian dengan tatapan putus asanya. Matanya sudah sedari tadi berkaca-kaca, memantulkan rasa lelahnya pada Devian.
Tanpa persetujuannya, Azura langsung menarik tangan Devian keluar. Meninggalkan Zeline yang kini menyeringai menatap kepergian sepasang suami istri itu dan Darren yang menatap mereka tak acuh, namun memiliki perasaan senang yang sama dengan Zeline.
"Apa maksudmu menyetujui perkataan ibu seenaknya, Azura?!" tanya Devian sembari menghempaskan tangan istri cantiknya cukup kasar setelah mereka berada di luar.
Angin malam nan dingin langsung menyerang keduanya, seolah-olah tengah memanas-manasi suasana agar terlihat semakin mencekam. Hati Azura bergetar kala Devian membentaknya, sorot dingin yang Devian tunjukan seakan-akan menolong angin malam untuk membuatnya membeku.
"Devian," ucap Azura.
Wanita cantik itu terisak, ia sudah tidak sanggup lagi menahan pedihnya luka sayat yang menganga lebar yang tercipta dihatinya.
"Aku mohon, kita hanya perlu menuruti perkataan ibu. Aku hanya ingin kita bisa hidup bahagia seperti pasangan pada umumnya setelah ini," tutur Azura susah payah. Dadanya terasa sesak, organ pernapasannya seperti tidak berfungsi dengan baik.
Mendengar itu, ekspresi Devian melunak. Digantikan dengan tatapan sendu yang bermakna dalam. Kesedihan yang besar juga merambat dalam hatinya. Sama seperti Azura, Devian juga tersiksa secara batin.
Azura memegang kedua bahu lebar suaminya, tak berselang lama kepalanya tertunduk. Tak cukup sanggup menahannya untuk tetap mendongak akibat beban di kepalanya juga tak kalah besar. Bahu lebar itu diremat, melampiaskan ketidakberdayaan Azura di sana.
Kekecewaan yang berlarut, kesedihan yang mendalam, sesak di dada yang menyiksa, dan isakan yang sungguh pilu.
Bahkan para bodyguard yang menjaga pintu depan harus memalingkan muka. Mereka masih punya hati untuk merasa tidak sanggup melihat pemandangan yang menyedihkan tersebut. Mereka semua tahu bagaimana kondisi rumah tangga kedua pasangan suami istri tersebut yang menjadi berantakan hanya karena masalah keturunan.
__ADS_1
Mendengar isak pilu istri sang tuan muda perlahan ikut membuat mereka terenyuh, rasa iba tak bisa lagi disembunyikan dari wajah-wajah sangar penjaga tersebut. Mereka tahu betul betapa berat dan sulitnya lika-liku rumah tangga yang pasangan itu hadapi bahkan setelah menikah.
"Azura."
Suara berat Devian mengalun di dinginnya udara malam. Lengan kekar Devian terangkat melingkupi tubuh ringkih Azura yang semakin bergetar hebat kala ia merengkuhnya. Membawa kehangatan pada istri cantiknya nan begitu rapuh.
"Aku akan melakukannya. Demi dirimu, aku akan melakukannya," pungkas Devian sedikit tidak yakin. Namun, sekali lagi. Demi istrinya, demi Azura. Apapun akan ia lakukan.
Hari itu, di depan rumah sang mertua dengan para penjaga yang menjadi saksi. Dilingkupi langit malam nan gelap dengan suhu yang semakin menurun. Bintang dan bulan yang bersinar terang tanpa ada awan kelabu yang mengganggu turut menjadi saksi.
Kedua pasang suami istri itu telah memutuskan jalan yang keduanya pilih. Salah satu dari dua jalan yang mempunyai lika-liku dan kisah yang berbeda. Semua hal yang ada di sekitar mereka akan menjadi saksi bisu yang menjadi pemicu gelombang laut yang akan menghanyutkan rumah tangga mereka.
Dan segala hal yang ada di sana juga menjadi saksi bisu dan saksi hidup betapa seorang Devian Ernest Mendoza sangat mencintai Azura Navy Mendoza melebihi hidupnya sendiri, di masa ini.
***
Seorang wanita cantik tengah memandang keluar jendela kafe, memandang panorama langit yang terekspos bebas tanpa hiasan awan putih. Langit sungguh cerah hari ini, namun tidak secerah suasana hatinya. Salah satu tangannya sibuk mengelap salah satu meja kafe. Namun, pikirannya entah berada di mana sekarang.
"Kak Alea," panggil seorang wanita cantik lainnya.
"Ponselmu berbunyi, Kak. Mama kakak yang menelepon," ujar wanita itu seraya menyerahkan sebuah ponsel kepada Alea.
Alea menerima ponselnya yang sebelumnya memang ia tinggalkan dilemari khusus tempat biasa para pekerja kafe ini menyimpan ponsel.
"Terimakasih, Jane," ucap Alea yang langsung mengangkat panggilan tersebut.
Dari sini Alea dapat mendengar suara isak tangis dari seberang sana. Kaki Alea langsung melemas, sedikit banyaknya ia cukup tahu apa yang terjadi di sana. Sebuah raungan sudah berarti sesuatu yang buruk terjadi bukan?
'Alea.'
Ini bahkan bukan suara Mamanya, perasaan gusar mulai melingkupi hatinya saat ini. Alea berusaha untuk tetap berdiri tegap, walau akhirnya usahanya sia-sia dan ia berakhir jatuh kelantai.
'Penyakit mama mu kambuh lagi, semakin parah dan harus segera dioperasi.'
__ADS_1
Alea tampak kalut, otaknya hanya memikirkan satu hal. Uang. Masalahnya hanya ada pada uang, jika uangnya ada maka mamanya pasti bisa dioperasi dan berakhir sembuh.
Mata Alea meliar mencari keberadaan Jane dengan mata memerah. Tak perlu berpikir dan menunggu lagi, Alea langsung berdiri dan berlari kala Jane sudah tertangkap oleh indra penglihatannya.
"Je-Jane. Aku mohon tolong aku," pinta Alea sembari menangis sesenggukan dengan tangan bergetar menggenggam tangan Jane yang tengah memegang buku catatan menu pesanan pelanggan.
"Ada apa, Kak?" tanya Jane ikut merasa gusar melihat sosok yang sudah ia anggap saudaranya ini.
"Ma-mama ku hiks sedang sakit keras dan se-hiks-karang penyakitnya kambuh. Mama ku harus dioperasi, aku harus mengirim uang untuk biaya operasinya," jawab Alea sesenggukan.
Alea terus memohon pada Jane yang kini diam bergeming menatapnya dengan tatapan bersalah. Alea tidak peduli, ia hanya butuh uang sekarang. Mamanya harus sembuh, ia tidak punya siapa-siapa lagi selain mamanya. Pun Alea yakin Jane tahu maksudnya apa tanpa perlu ia perjelas lagi apa yang ia butuhkan.
Jane itu orang kaya, setidaknya Alea punya harapan besar terhadap Jane.
Sedangkan Jane menatap Alea dengan sorot sedih, ia merasa begitu terpukul melihat Alea seperti ini. Terlebih lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Alea saat ini.
"Kak Alea, aku sungguh minta maaf. Untuk kali ini aku tidak bisa membantumu, rekeningku sedang diblokir oleh Papa ku setelah terakhir kali kau meminjam uang padaku. Aku melakukan kesalahan, maka dari itu Papa menghukumku dengan ini," ungkap Jane merasa tidak enak hati.
Mendengar itu Alea kembali merosot jatuh ke lantai. Jantungnya berdentum keras seakan-akan tengah protes dan ingin keluar. Tangannya meremas erat helaian rambut panjang nan halusnya. Kepalanya begitu pusing untuk berpikir bagaimana cara lain untuk bisa mendapatkan uang lebih banyak.
Untuk biaya operasi dan biaya hidupnya di negera orang ini.
Jane ikut turun, mengusap punggung bergetar Alea yang menggetarkan hatinya. Ia pun merasa panik, namun rasa bersalah lebih mendominasi.
"K-kak, aku akan mencoba berbicara pada Papa. Aku akan membujuknya untuk membuka rekening ku," papar Jane dengan suara bergetar menahan tangis.
Jane meraih ponselnya yang terletak dimeja yang berada di dekatnya, ia akan menelepon Papanya yang tengah berada di Dubai. Namun, niatnya urung kala Alea menahan pergerakan tangannya. Wanita cantik itu melepas apronnya, kemudian berdiri dan meletakkannya di atas meja yang sama dengan ponsel Jane.
Alea bergegas mengambil coatnya, tersenyum tipis kearah Jane yang menatapnya nanar, lalu berlari keluar kafe tanpa mengatakan apapun.
Pernyataan Jane cukup membuat otaknya berhenti bekerja. Sempat Alea merasa putus asa dan berpikir jika ini adalah akhir dari bentuk baktinya terhadap sang Mama yang malah tidak berkahir baik. Namun, Alea ingat akan satu hal.
Ia masih memiliki satu cara lain.
__ADS_1
***
To be Continued.