
Sepasang suami istri itu kini sudah berada di depan rumah besar milik mertuanya. Mobil Devian menjauh menuju ketempat parkir khusus. Azura tidak tahu bagaimana spesifikasinya, yang pasti itu masih berada di sekitaran halaman rumah besar ini.
Azura tengah menyiapkan hatinya, ia sangat berharap hati yang sudah rapuh ini tidak dibuat semakin rapuh oleh kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut berbisa mertuanya sehingga tidak hancur lebur malam ini.
Devian sudah kembali dari kegiatan 'mari memarkirkan mobil di sana' dan berdiri di samping Azura yang tampak melamun dan sedikit gelisah.
Dari sudut pandang Devian, Azura tampak tegang. Sedikit banyaknya ia tahu apa yang istrinya itu pikir dan rasakan saat ini. Devian tersenyum simpul. Meskipun tidak pernah mengatakannya secara gamblang, tapi Devian tahu jika orang tuanya adalah petaka bagi Azura dan pernikahan mereka.
Pria tampan itu langsung meraih tangan Azura, menggenggamnya penuh kehangatan untuk menenangkan Azura yang gusar. Pandangan Azura teralihkan sehingga kedua netra coklat gelapnya bertubrukan dengan netra elang kesukaannya yang menampilkan senyum menawan.
Bahkan kedua matanya juga ikut tersenyum mengikuti sudut bibirnya yang semakin tertarik. Hati Azura merasa lebih tenang hanya karena senyum tulus dari Devian.
Azura mulai menghembuskan nafas dan merilekskan tubuhnya yang kaku. Ia membalas senyuman Devian, mengeratkan genggaman tangan mereka, kemudian melangkah bersama memasuki pintu besar tersebut.
Setidaknya untuk saat ini, Azura masih memiliki Devian yang selalu ada untuknya.
Para pelayan membungkukkan badan guna memberi hormat kepada pasangan suami istri yang baru saja masuk. Sedangkan nyonya besar keluarga Mendoza pun telah menunggu di dalam dengan senyuman hangat, layaknya ketika dulu Azura akan menikah dengan Devian.
Ibu mertua Azura itu sungguh tidak terduga dan tidak dapat ditebak dengan mudah, entah kenapa Azura mulai merasa curiga dan rasa gusar kembali menghampiri. Zeline memeluk Devian penuh kerinduan, berlagak seolah-olah tidak pernah ada pertengkaran hebat di antara mereka sebelumnya.
'Berperan seakan-akan ia adalah orang tua yang baik.'
Azura merasa begitu gugup kala Zeline berpaling melakukan hal yang sama padanya. Permainannya sangat halus. Seharusnya Azura merasa senang mertuanya bersikap baik kembali kepadanya, namun justru hal itulah yang membuat Azura kian tertekan.
'Dan berperan seakan-akan ia adalah mertua idaman.'
"Ayo, ayah telah menunggu kalian di dalam," ajak Zeline ramah.
Azura tersenyum kikuk, ia mengangguk pelan dan kembali melangkahkan tungkainya mengikuti Zeline dengan Devian yang masih setia menggenggam erat tangannya yang terlihat lebih kecil jika disandingkan dengan tangan kekar Devian.
Ketiganya tiba dimeja makan besar nan panjang itu dengan seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kuasanya. Itu kepala keluarga Mendoza, Aldarren Jo Mendoza.
Pria paruh baya itu terlihat biasa saja dengan wajah datarnya. Tidak tersenyum ataupun menyambut anak dan menantunya seperti yang Zeline lakukan.
Azura dan Devian saling pandang sejenak sebelum Zeline menginterupsi keduanya untuk duduk.
__ADS_1
Para pelayan mulai melakukan tugas mereka masing-masing untuk melayani majikan-majikan mereka, berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Jika ada kesalahan meskipun itu sangat kecil, seperti salah membawa hidangan maka tamatlah riwayat mereka. Majikan besar rumah ini sungguh mengerikan dan sulit ditebak.
Gelas-gelas sudah terisi air dan meja sudah penuh dengan hidangan buatan juru masak terbaik.
Dibalik kesibukan para pelayan, Azura malah sibuk menenangkan dirinya yang semakin cemas dan gusar. Beruntung ada Devian yang membantunya menenangkan dirinya dengan mengusap tangannya berulang kali.
Makan malam itu menjadi begitu tenang bak air laut. Begitu sunyi, sangat mencekam, dan tegang. Tak hanya Azura yang merasakan hal tersebut, para pelayan di sana yang hanya diam pun turut merasakannya.
Para pelayan saling mencuri pandang, menyadari suasana seperti ini terlalu menyeramkan dan membuat mereka menjadi kikuk.
'Makan malam macam apa ini?'
"Sudah lama sekali," ucap Zeline mulai membuka suara untuk mencairkan suasana.
Setidaknya orang-orang di dalam sana dapat menghembsukan nafas lega karena akhirnya ada yang memecahkan kesuraman ini.
"Kita tidak makan malam bersama seperti ini," lanjut Zeline tenang.
Benar, akibat kerenggangan hubungan mereka. Azura ingat hari itu, hari terakhir ia dan Devian mengikuti acara-acara kecil seperti ini sebelum hari ini kembali menjadi hari pertama. Sayangnya acara tersebut tidak meninggalkan kesan baik sama sekali.
Bagaimana tidak, waktu itu orang tua Devian dengan gamblangnya meminta Devian untuk menceraikan Azura. Dan hari itu juga Azura dan Devian ikut bertengkar hebat.
Mendebatkan hal yang hampir mustahil Azura bisa berikan, masalah keturunan. Waktu itu Azura terlalu putus asa akan keadaan yang menimpanya. Kedua orang tua Devian sangat menginginkan keturunan, tidak peduli jika itu keturunan murni atau tidak.
Saking gilanya mereka, orang tua Devian bahkan turut mengundang seorang wanita untuk makan malam bersama dan memaksa Devian untuk mengenal wanita itu lebih lanjut.
Malam yang seharusnya berakhir damai dan bahagia hanya membuat Azura semakin terpuruk dan ingin menghilang saja dari muka bumi yang kejam ini.
Azura kembali bergerak gusar. Satu dari ribuan kenangan pahitnya membuat hatinya semakin meragu. Akankah hari ini juga akan berakhir sama?
Ada kecurigaan yang mendiami pikiran Azura saat ini. Orang tua Devian tidak akan mungkin mengundang mereka tanpa alasan yang jelas mengingat kurangnya rasa basa-basi orang yang lebih tua tersebut.
Azura sangsi malam ini akan berakhir seperti apa yang ia harapkan. Pasti ada hal besar yang akan terjadi malam ini.
"Terakhir kali ... Kita bertengkar membicarakan masalah keturunan," tukas Zeline yang juga masih mengingat malam itu dengan sangat jelas. Malam yang membuat rasa benci tumbuh terhadap menantunya.
__ADS_1
"Ibu," tegur Devian.
Devian meletakkan sendoknya kasar sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring di antara kesunyian menegangkan itu. Pembicaraan mengenai hal yang sama dengan hari-hari sebelumnya yang membuat mereka pasti berakhir ribut. Devian sangat terusik dengan pembasahan tersebut, apalagi Azura yang merasa tersinggung.
"Tidak perlu basa-basi. Katakan saja apa alasan Ibu memanggil kami kemari," cela Devian sinis.
Ternyata tidak hanya Azura yang berpikiran demikian. Suaminya juga merasakan keganjalan yang sama.
Netra coklat gelapnya turut memandang tangan Devian yang kini menggenggam tangannya sangat erat, namun tidak menyakitinya. Padahal Azura tahu Devian sedang menahan diri untuk tidak berbuat di luar batas.
Azura tersenyum tipis, kini ia memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap mertuanya yang juga menatap keduanya bergantian dengan pandangan menelisik serta tak kalah sinis.
"Ibu hanya ingin mengatakan--"
Zeline menggantung perkataannya untuk meminum air sejenak, sekedar mendorong makanan yang ada di tenggorokannya agar tertelan lebih cepat sebelum melanjutkan.
"--bahwa Ibu tidak akan memaksamu dan Azura untuk bercerai lagi," lanjut Zeline dengan ekspresi tak terbaca.
Devian dan Azura mematung ditempat dengan pupil mata membesar. Rasa lega dan bahagia mulai melingkupi hati keduanya. Sudut bibir akan terangkat, namun pernyataan selanjutnya membuat sudut bibir tersebut berkedut.
Hati yang tadi diterbangkan melebihi Burj Khalifa dihempaskan sampai inti bumi tanpa perasaan.
'Jangan pernah percaya dengan ekspektasi.'
"Tapi ... Kau harus mencari seseorang yang mau menampung benihmu, Devian. Hanya menyewa rahim," timpal Zeline tanpa beban.
Berbeda dengan Devian dan Azura, keduanya kembali mematung dengan perasaan yang tak lagi sama. Bak disambar petir di siang bolong, keduanya kembali dilingkupi kesedihan dan beban yang besar.
Terutama Azura. Suasana semakin sunyi, saking sunyinya Azura merasa ia dapat mendengar suara retakan hatinya yang menggetarkan jantungnya hingga memompa lebih cepat.
Devian kalut, dinding kehormatan yang ia tahan-tahan sedari tadi roboh begitu saja. Begitupun dengan Azura yang tak kalah kalut.
"Ibu hanya menyarankan lebih baik kau menerima wanita yang sudah Ibu carikan. Kau tidak perlu khawatir, Ibu sudah memastikan jika dia tidak akan meminta pertanggungjawaban lebih. Setelah anakmu lahir semuanya akan kembali seperti semula."
***
__ADS_1
To be Continued.