Obsesi Ibu Mertua

Obsesi Ibu Mertua
Sudah Berakhir


__ADS_3

Azura tersenyum lebar menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya hingga menerbangkan sedikit anak rambutnya. Kedua matanya memandang ribuan bintang yang bertebaran di atas hitamnya langit bersama bulan purnama yang bersinar sempurna.


Sebuah lengan kekar memeluk pinggang Azura erat seolah-olah tak ingin melepasnya sampai maut memisahkan sekalipun. Kedua pasangan tersebut sama-sama memerhatikan langit dengan seksama.


"Devian, ada bintang jatuh! Ada bintang jatuh!" seru Azura tak sabaran sehingga tanpa sadar ia terlalu banyak bergerak dan Devian melonggarkan pelukannya.


Bukannya kesal, pria tampan itu tersenyum manis. Ia senang melihat bagaimana istri cantiknya ini begitu antusias hanya karena sebuah bintang yang jatuh. Devian merasakan tepukan lembut di lengan kekarnya yang kembali memeluk tubuh mungil dan ramping Azura di sebelahnya.


"Cepat buat permohonan," ujar Azura.


Devian memajukan wajahnya untuk melihat Azura lebih jelas. Dari jarak hanya beberapa sentimeter ini Devian bisa melihat wajah cantik Azura dari samping dan diterpa sinar rembulan, sempurna. Dimatanya Azura adalah yang paling sempurna meski tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Azura tengah memejamkan mata erat dengan kedua tangan saling terkait satu sama lain. Devian tersenyum tulus, ia kembali menjauhkan wajahnya dari Azura kemudian ikut memejamkan mata.


Keduanya merapalkan keinginan berbeda dalam hati masing-masing. Namun, masih memiliki makan yang sama.


'Aku ingin bersama Devian selamanya.'


'Aku ingin Azura tetap berada di sisiku, bahagia bersamaku, dan melewati semua rintangan dari-Mu bersama selamanya.'


Manik sehitam jelaga Devian bergulir untuk kembali memandang wajah cantik Azura yang terlihat begitu tenang. Kedua matanya masih terpejam bak Azura tengah merapalkan do'a yang panjang. Bulu mata nan lentik itu semakin terlihat jelas, kecantikan yang tiada tara dari seorang Azura Navy Mendoza terus terpancar di bawah sinar rembulan.


Azura membuka mata perlahan, ia membalas tatapan Devian yang masih betah menatapnya seolah-olah tak ada lagi objek yang lebih menarik dimata Devian selain dirinya. Devian-nya tersenyum manis menyambut Azura dari dunianya sendiri.


"Sudah?" tanya Devian lembut.


"Um." Azura bergumam seraya mengangguk dan kembali mendongak memandang langit malam yang membentang luas di atasnya.


Devian tersenyum simpul. Ada kesedihan serta kegundahan yang tidak bisa dijabarkan dalam hati keduanya. Beban besar yang membuat netra berbeda warna itu berkaca-kaca sehingga tampak semakin bersinar karena terpapar sinar rembulan.


***


Devian tidak mengerti, mengapa hatinya saat ini begitu sakit. Memeluk tubuh mungil Azura seperti ini membuat rasa takutnya semakin besar dan perlahan menggerogoti jiwanya.


Azura menitihkan air matanya dalam dekapan Devian yang tidak sehangat biasanya. Bulir air matanya terus berjatuhan sehingga tanpa sengaja menetes di atas lengan kekar milik sang suami yang melingkar erat di perutnya.

__ADS_1


"Azura? Sayang, kau menangis?" tanya Devian cemas.


"Ti-tidak," jawab Azura terbata-bata.


Azura mengerjabkan matanya berulangkali guna menahan air matanya untuk tidak merembes kembali. Ia berusaha menetralisir perasaan aneh yang membuatnya cemas entah kenapa.


Tapi, sial! Bukannya berhenti air matanya malah berjatuhan semakin banyak.


"Aku tidak tau, Devian," ujar Azura berbalik memandang wajah cemas Devian.


"Kenapa aku begitu merindukanmu sedangkan kau ada di sini bersamaku, memelukku erat, melindungiku dari hawa dingin," imbuh Azura membalas tatapan Devian nanar.


"Sayang," seru Devian sambil menangkup wajah cantik sang istri dan menyelami keindahan dari wajah tersebut yang turut memancarkan kegelisahan meski ia harus menahan hatinya yang menjerit sakit mendengar isakannya.


"Kau hanya perlu mengingat satu hal dalam hidupmu--"


Devian menggantungkan perkataannya sebelum menempelkan bibirnya di atas bibir Azura yang terasa dingin. Kecupan itu berlangsung sedikit lebih mendalam, namun tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Kecupan tersebut hanya menghantarkan kesedihan dan ketidakrelaan.


Meski demikian, Azura tetap memejamkan matanya dan memilih menikmati momen hangat ini.


Bisikan itu keluar bersamaan dengan hembusan angin malam yang dingin. Tubuh Azura bergetar, secara perlahan ia merasa udara dingin mulai menyelimuti tubuhnya. Membentengi keduanya sehingga jarak cukup jauh tercipta.


Jari-jari Devian yang sebelumnya menangkup wajah Azura pun bergerak menjauh hingga Azura tidak merasakan kehangatan apapun lagi. Digantikan oleh hembusan angin malam yang menyesakkan dadanya.


Dari sini Azura bisa melihat punggung lebar milik suaminya pergi semakin jauh, meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah kesunyian dalam kegelapan.


Azura berusaha mengejar Devian dan meraih tangan pria-nya, menggenggamnya erat meski kehangatan itu tidak lagi ia rasakan di sana.


"Devian! Tidak! Kau tidak boleh meninggalkanku! Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku!" jerit Azura dengan isakan tertahan.


Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa kasihan dan iba terhadap Azura. Tangis pilu itu memekakkan telinga dan membuat hati terenyuh dalam satu waktu. Benar-benar menyedihkan.


Azura memaksa Devian untuk berbalik menghadapnya. Namun, hanya tatapan yang begitu dingin yang ia dapat. Benar-benar dingin hingga Azura membeku ditempat. Tatapan itu terlihat asing, tidak ada lagi tatapan lembut dan penuh cinta dari kedua netra hitam itu.


"Kita sudah berakhir, Azura," ucap Devian sembari melepaskan tangan Azura yang melingkup tangan besarnya secara perlahan.

__ADS_1


Kedua netra hitam gelapnya memandang fokus jauh ke belakang Azura. Azura tidak lagi menjadi objek paling menarik baginya. Ada yang lebih menarik di belakang Azura.


"Ayah!" panggil seseorang dari arah belakang Azura. Seorang anak kecil dan seorang wanita berdiri dengan tangan melambai di sana.


Senyum Devian merekah, ia pergi meninggalkan Azura yang masih terpaku ditempat. Mendekati seorang bocah laki-laki yang tengah berlari mendekatinya, tangannya direntangkan untuk menyambut anak kecil itu ke dalam pelukan hangatnya. Menggendong bocah tersebut dengan senyum lebar yang biasa ia tunjukan pada Azura seorang.


"Jagoan Ayah sudah pulang?" tanya Devian menatap bocah laki-laki itu lembut.


"Devian, apa itu anak kita? Rain?" tanya Azura sembari menatap kedua ayah dan anak tersebut sendu. Ia berusaha menarik kedua ujung bibirnya untuk membentuk sebuah kurva nan indah meski hatinya merasakan sakit yang luar biasa.


Devian tersenyum kepada Azura, tapi senyuman itu tidak bermaksud apapun.


Azura terluka, sungguh!


"Tidak, ini anakku," jawab Devian tegas, tanpa memedulikan bagaimana perasaan Azura setelah mendengar jawabannya.


Tubuh Azura bergetar, ia terdiam ditempat tanpa bisa mengatakan apapun. Ia ingin menyanggahnya, ia ingin bergerak untuk menyadarkan Devian jika hatinya sakit mendengar jawaban tanpa bersalah tersebut, dan ia ingin melepas genggaman Devian dengan seseorang yang seenaknya menggandeng suaminya di depan matanya sendiri.


Azura merasa hatinya terbakar!


Perlahan semuanya mulai semu dan gelap. Azura tidak bisa melihat apapun lagi selain bayangan menakutkan itu. Hanya suara tawa anak kecil yang tiba-tiba menggema memenuhi ruang gelap pikirannya hingga ia merasa pening.


Itu suara bocah laki-laki yang berada di gendongan Devian. Bocah laki-laki itu seolah-olah menertawakan dirinya, mengejek takdir yang tidak pernah berpihak padanya. Bocah itu merundungnya dengan tawa bahagianya.


Azura menarik helaian rambutnya dengan kasar, kepalanya sungguh sakit mendengar tawa bocah laki-laki itu yang semakin keras dan membuat telinganya ikut tersiksa dengan berdengung nyaring.


"Diam!" pekik Azura kesakitan. Air matanya keluar susah payah, matanya memerah menahan sakit di kepala, telinga, dan hatinya. Seluruh tubuhnya merasa sakit.


Namun, di antara tawa mengejek itu terdapat suara lain yang terdengar samar ditelinga Azura. Lama kelamaan suara samar itu semakin jelas, menggantikan suara tawa mengejek bocah laki-laki itu dengan suara yang membuat tubuhnya menjadi lebih rileks.


"Ibu."


***


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2