Obsesi Ibu Mertua

Obsesi Ibu Mertua
Membeli Es Krim


__ADS_3

"Ruby!" tegur Alea diam-diam melotot kearah Ruby.


Namun, tidak diindahkan sama sekali oleh bocah perempuan tersebut. Malahan ia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Devian. Hati Alea sedikit banyaknya terasa panas, ia 'kan juga ingin seperti itu. Eh!?


"Tidak apa," sela Devian sembari terkekeh kecil dan itu membuat Alea tertegun. Keduanya lantas saling tatap.


"Ekhem. Aku pergi dulu, Devian," pamit Leon yang ternyata masih berada di sana dan memperhatikan semuanya dengan perasaan yang tak karuan.


Leon merasa tak lagi dianggap, ia berdehem keras dan masuk ke mobilnya dengan membanting pintu mobil tak kalah keras akibat terlalu kesal. Entah kenapa ia begitu tidak menyukai Devian yang seperti itu. Ada firasat tidak enak yang menyeruak dalam hatinya.


Terlebih ketika ia melihat bagaimana tatapan yang dilontarkan bawahan sepupu iparnya itu pada Devian.


"Azura," gumam Leon.


Jemarinya meremas setir mobil dengan erat lalu melajukan mobilnya menembus jalanan New York yang tidak pernah tidak padat. Leon berniat menuju ketempat Gizka-nya berada. Sekaligus mengunjungi istri adik sepupu iparnya yang tak kalah ia rindukan.


***


"Nah sekarang ayo, Ruby. Kita akan membeli es krim," seru Devian.


Ia membawa Ruby masuk ke dalam mobilnya, Ruby tentu merasa senang diperlakukan bak anak sendiri oleh orang yang membuatnya terpana dalam sekali bertemu. Devian lantas menutup pintu mobil sebelumnya tersenyum gemas kearah Ruby, lantas ia menoleh kearah Alea yang tampak kebingungan harus berbuat apa.


"Kau bisa ikut," kata Devian datar.


Alea tersentak, kemudian mengangguk kaku dan berjalan cepat menuju mobil Devian. Di mana di dalamnya sudah terdapat anak temannya yang tampak duduk nyaman. Tak lama setelah Alea masuk, mobil pun melaju ikut memadati jalanan New York yang masih padat. Bahkan bertambah padat.


"Kita akan ke mana, Direktur?" tanya Alea penasaran.


"Ke swalayan. Ruby meminta es krim," jawab Devian.


Alea melirik Devian yang duduk tak jauh di sampingnya. Keduanya hanya dibatasi oleh bocah perempuan yang asik dengan dunianya sendiri. Tampak menikmati perjalanan.


"Maaf karena telah merepotkan Anda, Direktur," ucap Alea tertunduk. Ia merasa tidak enak hati sebab bocah perempuan ini merepotkan banyak pihak.


Devian tersenyum simpul tanpa menoleh.


"Tak apa."


***


"Apa lagi yang harus aku beli?" gumam Azura bermonolog sambil memperhatikan apa saja yang ia lalui.


Netra coklat gelap kembarnya mengedar untuk melihat-lihat. Kakinya terus melangkah dengan tangan yang setia mendorong troli belanjaan yang sudah terisi separuh.


"Ruby! Jangan lari-lari!" tegur seseorang yang berada cukup jauh dari posisi Azura.


Azura menoleh dan menemukan seorang bocah perempuan tengah berlari kearahnya. Tiba-tiba saja bocah perempuan itu terpeleset hingga tubuhnya menghantam lantai cukup keras.


Bocah itu nyaris akan menangis jika saja Azura tidak segera mendekati bocah itu, membatunya berdiri, lalu mengusap bagian tubuh bocah itu yang sakit.

__ADS_1


"Jangan menangis ya? Meskipun kita perempuan, kita harus tetap kuat. Sama seperti laki-laki," bujuk Azura lembut dengan senyum hangatnya yang menenangkan.


Senyuman Azura ternyata menular, terbukti dengan Ruby yang ikut mengulas senyum manisnya dan mengangguk lucu pada Azura. Azura tertawa kecil, bocah perempuan ini berusaha terlihat baik-baik saja padahal matanya sudah berair.


Kemudian bocah perempuan itu berbalik untuk menghampiri Alea yang memperhatikan dalam diam sedari tadi.


"Terimakasih," ucap Alea tulus sambil membungkuk hormat, lalu membawa Ruby menjauh.


"Paman Tampan!" panggil Ruby antusias.


Azura tersenyum melihat tingkah lucu bocah kecil itu yang sudah berada di samping wanita yang membawanya tadi, Alea. Azura menggeleng maklum, lantas ia berlalu dari sana. Melanjutkan kegiatannya mencari-cari bahan yang sekiranya perlu dengan suasana hati yang membaik. Senyum tak luntur sedikitpun dari wajah cantiknya.


Bocah perempuan itu tengah melambai pada seseorang.


"Apa yang terjadi pada Ruby?" Suara seseorang menginterupsi, memecah keheningan dan membuat Azura mematung.


Deg


Azura langsung memudarkan senyumnya dan langkahnya terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinga dan ingatannya.


"Dia terpeleset tadi. Tapi, tidak apa-apa," jawab Alea jujur.


"Ruby terpeleset?" Devian bertanya kembali pada Ruby seraya mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Ruby yang hanya sebatas paha dalamnya.


"Iya. Tapi, aku tidak apa-apa. Ada kakak cantik yang menolongku tadi," balas Ruby dengan wajah berseri-seri.


"Kakak?" beo Devian merasa janggal.


Merasa dipanggil, Devian pun mendongak dan menemukan Azura berdiri di depannya dengan tatapan tak yang tak dapat diartikan. Pria tampan itu kembali berdiri tegap dan menatap penuh rindu wajah cantik istrinya.


"Kau sendiri?" tanya Devian seraya berjalan mendekati Azura dan beralih mengambil troli belanjaan yang Azura dorong sebelumnya dengan mimik wajah yang kelewat santai.


Wanita cantik berstatus istri Direktur Mendoza itu mengangguk dan tersenyum lembut. Ia berusaha menghilangkan pikiran buruk yang sempat timbul dibenaknya.


Alea tanpa sadar menggenggam erat tangan Ruby yang ada di sampingnya. Hatinya merasakan nyeri luar biasa saat melihat bagaimana kedua orang itu saling bertatapan dan tersenyum penuh cinta. Berbeda dengan Ruby yang menatap lugu situasi saat ini.


"Paman," panggil Ruby guna mengambil atensi Devian yang sudah beralih pada orang lain.


"Ya?" Devian dan Azura menoleh bersamaan. Keduanya membalas tatapan lekat yang bocah perempuan itu layangkan kepada mereka dengan tatapan lembut.


"Ad-"


"Ruby, kita harus pulang. Grandma akan datang nanti sore. Kita harus bersiap-siap di rumah," potong Alea terlihat sedikit terburu-buru.


Bocah perempuan itu memandang Alea bingung. Namun, belum sempat ia mengeluarkan suara tatapan terluka Alea membuatnya memilih untuk tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menganggukkan kepala dan menuruti alur yang dibuat oleh yang lebih tua.


"Direktur, terimakasih karena telah membawa Ruby membeli es krim. Dan maaf karena telah merepotkan Anda. Saya akan membawa Ruby pulang," pamit Alea sopan dan membungkukkan tubuh berulang kali sebelum menarik Ruby menjauh, kemudian pergi dari sana.


Meninggalkan Devian dan Azura yang masih bergeming ditempat.

__ADS_1


"Aku kira kau sibuk, Devian," cerca Azura.


Devian kembali menoleh kearah Azura. Menatap kembali wanita yang menurutnya adalah yang tercantik dengan binar indah yang setia melekat pada mata indahnya.


"Tidak sesibuk itu, Sayang," sahut Devian.


Azura menggedikkan kedua bahu seraya memandang suatu produk makanan secara acak yang berada di dekatnya lalu kembali memandang wajah tampan suaminya dengan sendu sebelum akhirnya ia berpaling untuk mencari keperluan rumah lainnya.


"Azura," bisik Devian tepat di sebelah telinga Azura secara sensual.


Azura langsung mengerutkan kening, pasalnya suaminya ini sangat mengganggu ketenangannya. Bisa-bisanya pria tampan itu berbisik seperti itu ditempat umum seperti ini, pikir Azura. Sebenarnya hal itu tidak masalah, tapi ... Hah sudahlah, Azura tidak ingin membahasnya lebih lanjut.


Azura mengarahkan netra kembarnya sepenuhnya pada Devian dan mendapati Devian tengah menatapnya begitu memuja, sama seperti hari-hari yang selalu mereka habiskan bersama.


"Kau tau? Aku tengah menahan diri mati-matian untuk tidak menciummu di sini," lanjut Devian masih berbisik.


Spontan bola mata Azura melebar. Ia memandang Devian dengan sorot mata yang menyatakan--


'Jangan macam-macam, Devian!'


Sedangkan yang ditatap sedemikian rupa langsung mendekap mulut guna menahan tawa walau matanya telah melengkung karena tertawa dibalik dekapan yang menutup mulutnya.


"Aku serius!" seru Devian dengan wajah seriusnya.


Azura pun mendengus, ikut menahan tawa seraya mendorong pelan dada bidang suaminya yang sebelumnya hanya berjarak tidak sampai menyentuh angka lima sentimeter.


"Bagaimana jika kau ikut aku ke kantor dan temani aku di sana?" saran Devian penuh harap.


Azura menggeleng ribut walau semburat merah tak kunjung hilang dari kedua pipi putih bersihnya yang selalu menggoda Devian untuk dikecup bahkan digigit.


"Kenapa? Aku rindu asal kau tau," rengek Devian tanpa sadar. Beruntung posisi mereka sekarang strategis untuk tidak dilihat oleh pengunjung lain.


Azura tertawa keras dan berkahir menjitak kepala sang suami.


"Jangan menggodaku terus!" tegur Azura masih dengan tawa yang membuat wajahnya semakin memesona.


Lalu Azura berlalu dari sana, meninggalkan Devian yang tersenyum lebar sebelum menyusul Azura sembari mendorong troli.


"Hm, aku akan pulang cepat hari ini," ujar Devian setelah langkahnya sejajar dengan Azura.


"Lalu?" sahut Azura yang sibuk melihat-lihat produk secara random.


"Kau tidak senang aku pulang lebih cepat?" tanya Devian dengan nada pelan dan tatapan yang err ... Tampak kecewa? Mungkin.


Azura berbalik hingga keduanya kini saling berhadapan dengan Azura yang mendongak dan Devian yang menunduk karena tinggi mereka sangat kontras. Azura menatap obsidian kembar hitam pekat milik Devian lekat. Ia sedikit jinjit dan--


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir tipis Devian dan membuat Devian mematung di tempat.

__ADS_1


***


To be Continued.


__ADS_2