
"Nah, Azura. Kau coba duluan," suruh Gizka sambil tersenyum lebar kearah Azura.
Gizka sungguh tidak sabar untuk mengetahui bagaimana takdir mereka menurut si peramal. Gizka tahu ini salah, hanya untuk bermain-main dan tidak terlalu mempercayainya. Tidak salah bukan?
Sedangkan wanita cantik yang lebih muda menggelengkan kepala tanpa ragu dan memasang gurat masam. Peluh membasahi hampir seluruh tubuh bagian atasnya hingga Azura merasa sedikit tidak nyaman.
Jika tidak ingat wanita di sampingnya ini adalah kakaknya, maka sudah sedari tadi Azura pergi meninggalkannya. Pulang sendiri, lalu mencari kakak baru. Sepertinya menarik.
"Kau saja, Kak," bantah Azura lemah. Sangat kentara jika Azura sangat tidak berminat dengan tebak-tebak takdir tersebut.
Peramal pria itu memandang kedua wanita cantik di hadapannya dengan senyum manis nan misterius. Ia adalah manusia yang dianggap sedikit spesial bagi manusia lain karena dapat mengetahui kehidupan manusia lainnya hanya dengan tatapan mata ataupun melihat telapak tangan. Karena itulah aura misteriusnya sangatlah tajam.
"Kalian berdua bersaudara?" tanya peramal itu ramah. Tidak melunturkan sedikit pun senyumannya.
"Aku sangat ingin memiliki saudara seperti dia jika bisa," jawab Gizka menunjuk Azura di sebelahnya dengan raut sedih dibuat-buat
"Tidak, dia kakak sepupu iparku," sangkal Azura menengahi.
Azura merasa yang lebih tua akan membuat sedikit drama sehingga mereka akan lebih lama di sini. Tentu saja ia tidak bisa tinggal diam, ia merindukan kasur empuknya di rumah sambil menunggu kepulangan sang suami dari kantor. Itu jauh lebih baik, pikirnya.
Peramal itu terkekeh melihat interaksi kedua wanita di hadapannya yang cukup menarik dimatanya. "Kalau begitu berikan tanganmu."
Gizka mengulurkan tangannya bersemangat kemudian disambut oleh peramal pria itu dengan baik.
"Tatap mataku," titah si peramal.
Azura nampak gusar, ia terlihat kebosanan dan tidak tertarik sama sekali dengan permainan tebak-tebakan takdir itu. Menurutnya hanya Tuhan-lah yang berhak tahu dan mengatur hidup serta takdirnya.
Seburuk apapun takdirnya sekarang, Azura percaya pasti akan ada kebahagiaan untuknya meski ia telah tiada nantinya tanpa harus diberi tahu oleh peramal.
Azura memilih mengedarkan pandangannya kesembarang arah tanpa memperdulikan apa yang peramal itu katakan tentang nasib Gizka kedepannya. Yang Azura dengar hanya kata "Wah." Kemudian "Really?" Dan "Awesome!"
Mendadak terjadi keheningan. Azura mengerutkan kening, perlahan ia menoleh dan ia langsung menegang kala kedua orang berbeda gender itu tengah memandangnya lekat.
"Nah, Azura. Aku sudah, sekarang giliran mu," kata Gizka bertambah semangat.
Azura merasa gugup ketika pria peramal di depannya menatapnya lekat seolah-olah peramal itu tengah membaca pikirannya dengan mata telanjang.
"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Azura mentah-mentah.
Azura ingin pergi, tapi Gizka sudah wanti-wanti dengan memegang tangannya kuat-kuat. Azura ingin menangis saja rasanya.
__ADS_1
"Aku melihat sesuatu yang tidak biasa dari kedua matanya," ungkap peramal pria itu serius.
'Astaga, pria itu mulai meracau sembarangan!' amuk Azura dalam hati.
Keinginan Azura untuk lari semakin besar, ia menghiraukan Gizka yang kembali meladeni pria peramal itu. Tetapi, tangannya lebih dulu digenggam oleh kakak sepupu iparnya itu.
"Sudahlah, Kak. Ayo kita keluar," pinta Azura memohon.
Azura langsung meletakkan uang tambahan di atas meja dan pamit akan pergi. Namun, kata-kata yang pelamar itu lontarkan setelahnya membuat langkah Azura terhenti.
"Segelap apapun dunia yang kau lalui sekarang, masih ada setitik cahaya yang akan menyinari langkahmu dalam kisah hidupmu kelak."
Azura berbalik dan membalas tatapan sang peramal yang kini menatapnya serius. Tidak ada kebohongan dari kedua mata tersebut.
"Setitik cahaya itu akan menjadi semakin besar hingga memenuhi dunia gelap mu," sambung peramal tersebut.
Peramal pria itu mengukir senyum, ia menunjukkan sebuah kertas yang bertuliskan angka yang tidak Azura ketahui apa maksudnya.
51 (dicoret)
52
Azura tidak mengerti, sungguh. Ia memilih berpaling dan langsung menarik Gizka untuk pergi dari sana. Ia berusaha bersikap biasa saja walau sebenarnya pernyataan dan angka itu terus terngiang-ngiang dibenaknya.
Peramal pria itu menatap punggung Azura yang sudah hilang ditelan pintu dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Lantas ia tersenyum misterius.
'Do'a ku menyertaimu, Nak.'
***
Azura pulang ke rumah setelah hampir seharian penuh menemani Gizka bersenang-senang. Ia menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari-jari lentiknya ketika merasa rambutnya sedikit mengganggu pandangannya.
"Bagaimana harimu?" tanya Devian.
Seulas senyum Azura berikan pada sang suami yang telah menunggunya sedari tadi. Azura langsung melepas sepatu yang ia kenakan dan meletakkan ke rak sepatu terburu-buru untuk lekas memeluk sang suami dengan gurat lelah yang sangat kentara.
"Melelahkan," jawab Azura lesu dengan bibir mengerucut.
Devian terkekeh. Tangan besarnya terangkat untuk mengusap surai sehalus sutra milik istri cantiknya, sedangkan tangan sebelahnya lagi merengkuh pinggang sempit Azura erat.
"Apa Kak Gizka bertingkah berlebihan? Aku tebak hanya dia yang menikmati," duga Devian terkekeh geli.
__ADS_1
Azura tersenyum, kemudian menggeleng pelan sehingga helaian rambut sehalus sutra miliknya menggesek leher Devian dan membuat Devian kembali tertawa geli.
"Aku juga menikmatinya. Tadi itu sungguh menyenangkan, akan tetapi lebih menyenangkan lagi jika kita yang datang bersama," sanggah Azura lirih.
Suara tawa Devian mengalun lembut ditelinga Azura. Suara itu membuat tubuh Azura menjadi lebih rileks. Suara favorit Azura kini ia dengar dengan mata terpejam. Menyerap dan mendengarkan baik-baik suara yang tidak pernah bosan ia dengarkan.
Suara ini juga akan Azura simpan apik dalam memorinya. Siapa tau saja suatu saat nanti Azura tidak bisa lagi mendengarnya dan merindukannya.
"Kemari, aku membuatkan coklat panas untukmu," ujar Devian sembari merangkul pinggang sempit Azura dan membawa istri cantiknya itu menuju sofa.
Keduanya mendudukkan diri di sana. Devian memandang lekat Azura yang kini tengah meneguk coklat hangat yang ia buatkan dengan perlahan.
'Sempurna,' batin Devian.
Raut wajah Devian seketika berubah sendu. Ia sempat lupa jika dunia tempat mereka tinggal ini tidak ada yang sempurna, termasuk istrinya, Azura.
"Azura," panggil Devian pelan.
Azura berdehem dan melirik kearah Devian. Wanita cantik berstatus istri Devian itu meletakkan gelas coklatnya di atas meja kaca di depannya, lantas balas menatap lekat wajah sang suami yang menampakkan gurat keraguan.
"Ada apa, hm? Katakan saja padaku," sahut Azura dengan suara lembutnya.
Devian mengulum bibirnya, rasa ragu itu semakin besar. Terjadi keheningan untuk beberapa saat. Azura masih memandang Devian lekat, menaikkan alisnya guna mengode Devian untuk segera mengatakannya.
Hingga helaan nafas keluar belah bibir Devian. Devian tersenyum kikuk.
"Ayah dan ibu mengundang kita untuk makan malam di rumah. Awalnya aku tidak mau, tapi seperti biasa ... Mereka memaksa," aku Devian dengan tatapan sendunya.
Seperti biasa disaat keadaan apapun Azura tersenyum hangat, ia masih cukup maklum dan tahu bagaimana tabiat mertuanya yang pemaksa. Azura menggenggam tangan Devian erat, mengecup singkat pipi Devian sebelum menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang suami tercinta.
"Kita akan datang. Tapi, sebelum itu biarkan aku istirahat sejenak," pungkas Azura.
Azura mulai memejamkan matanya, menyamankan dirinya di bahu Devian. Sedangkan Devian terdiam, ia mengulas sebuah senyuman. Tangannya tak lepas dari pinggang Azura sejak wanita cantik itu datang kepadanya.
Demi apapun, Devian sungguh mencintai Azura.
"Istirahatlah. Tidak perlu memaksakan diri," bisik Devian lembut.
Sangat lembut sehingga tubuh Azura bergetar nyaman karena begitu menyukai suara itu. Setelah itu Azura tidak tahu apa-apa lagi, kesadarannya sudah lenyap akibat kantuk yang menumpuk. Kehangatan dari Devian semakin membuatnya terlena.
***
__ADS_1
To be Continued.