
Setelah kurang lebih lima belas menit menangis tanpa henti, Azura perlahan mulai tenang dan tangisnya mulai berhenti. Devian pun melepas pelukannya dengan gerakan pelan. Netra kelamnya menatap sendu sosok yang ia klaim sebagai cinta terakhirnya itu.
"Aku akan berjuang untuk mempertahankan pernikahan kita. Tidak peduli jika aku tidak bisa meneruskan keturunan sekalipun. Meski orang tuaku tidak akan menerimanya, kita tetap bisa mengadopsi anak jika itu perlu," ucap Devian menenangkan Azura yang masih sesenggukan.
Azura tidak mengerti harus mengatakan apa, melihat bagaimana Devian tersenyum hangat dengan mata sedikit menyipit membuat ia merasa semakin sedih. Rasa takut kehilangan yang sempat ia rasakan kian membesar seiring berdetaknya jarum jam yang seirama dengan detak jantungnya.
Azura hanya bisa terisak dan menggenggam tangan Devian yang menangkup kedua pipinya yang memerah karena tamparan dari sang ibu mertua. Tangan kekar itu basah karena air matanya menetes di atasnya.
"Maafkan aku, Devian," ucap Azura lirih dengan tatapan sangat kentara sakitnya.
"Jangan seperti ini, Sayang. Berhentilah menangis, kau melukaiku," balas Devian berusaha tegar.
Azura tersentak saat melihat Devian justru ikut menitihkan air mata sambil tetap menangkup wajahnya. "Kumohon, berhentilah menangis. Aku begitu ketakutan melihatmu menangis seperti itu. Kau tau? Aku semakin hancur, aku merasa gagal melindungi istriku sendiri," sambung Devian dengan air mata berderai tanpa suara isakan.
Azura semakin sedih melihat Devian menangis karenanya. Dengan segera ia menghapus air matanya kasar, memeluk sang suami yang begitu dicintainya begitu erat. Menyalurkan ketakutannya akan takutnya ia kehilangan sosok suami yang begitu dicintainya ini.
"Maaf, Devian. Maaf," ujar Azura dengan suara serak.
Devian mengangguk dari balik punggung kecil istrinya, tangannya mengusap-usap punggung sempit nan rapuh tersebut. Kepalanya disandarkan sepenuhnya di dada milik sang istri. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang merupakan ciri khas dari istrinya. Aroma yang masih tercium meski mereka berada dalam jarak 50 km sekalipun.
"Tapi, Devian. Kumohon jangan pergi," pinta Azura dengan nada bergetar.
Bolehkan ia egois? Ia begitu takut jika suatu saat nanti Devian akan meninggalkannya. Ia hanya butuh kepastian, walau berada di posisi ini juga terbebani.
Devian tidak kuat lagi untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Devian sangat mencintai Azura, semesta pun tau itu. Devian sungguh tidak sanggup sama sekali melihat pasangannya menderita seperti ini. Jika bisa Devian pergi saat ini juga untuk mengahalau rasa sesak di dadanya. Tapi, bukankah dadanya semakin sesak jika ia pergi karena Azura pasti akan semakin sedih jika ia benar-benar pergi.
"Aku tidak akan pergi. Tapi, aku harus menemui ayah dan ibuku, Azura. Aku harus menemui mereka dan membicarakan ini baik-baik," tutur Devian seraya mengusap pipi gembul Azura lembut.
"Kenapa hiks tidak di sini saja hiks?" bujuk Azura sesekali masih terisak.
__ADS_1
Devian membalasnya dengan senyum, senyum yang Azura ketahui adalah senyum yang dipaksakan. "Aku tidak ingin kau terluka lagi," tolak Devian halus.
Wanita pemilik netra coklat gelap itu menatap lurus pigura berisikan fotonya dengan Devian yang terletak di balik punggung Devian. Ketika itu keduanya tengah berbahagia merayakan hari jadi ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Sangat sederhana, namun ia sangat bahagia dan bersyukur.
Helaan nafas terus terlontar di antara keheningan mencekam yang tercipta dengan sendirinya. Air mata terus berjatuhan tanpa henti.
***
Hari demi hari berlalu, terhitung telah lima belas hari lamanya sang suami tidak pernah pulang kembali. Bahkan kabar pun tidak ada sama sekali. Azura selalu berdo'a dan berharap Devian akan kembali dengan selamat.
Namun, harapan tinggal lah harapan. Siapa pun tidak akan tahu kejadian macam apa yang menanti di depan sana. Tapi, untuk saat ini Azura dapat bernafas lega saat suara khas yang ia kenali memasuki rumah.
Azura pun berjalan keluar kamar, ketika sampai di ruang tengah, ia mendapati Devian yang tampak kacau dan berantakan. Matanya sembab dan rambutnya pun acak-acakan. Ia ingin tersenyum menyambut kepulangan sang suami, namun yang terlontar hanyalah tatapan sendu.
Devian justru tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padanya dan mendekati Azura yang mematung di ujung tangga. Tanpa menunggu lagi Devian lekas memeluknya erat, menyalurkan segala perasaan yang membuncah pada sang istri yang tetap setia menunggunya pulang.
Azura pun membalas pelukan hangat Devian. Diusapnya punggung tegap sang suami pelan, berusaha memberikan ketenangan dan membuat sang suami nyaman dalam dekapannya.
Azura berdehem singkat, lantas mengatakan hal yang sama pula. "Aku juga merindukanmu. Kenapa kau tidak pulang selama lima belas hari ini, Devian?" tanya Azura mendongak menatap sang suami yang lebih tinggi darinya.
Azura ingin melepas pelukan mereka untuk melihat lebih jelas wajah Devian. Namun, Devian menahannya dengan memeluknya semakin erat dan tampak tidak ingin melepasnya sama sekali.
"Aku harus bagaimana, Azura?" tanya Devian dengan nada pasrah yang kentara.
Azura terkejut kala merasakan tubuh yang memeluknya ini bergetar. Hati Azura terenyuh mengetahui suami tercintanya menangis.
"Kau kenapa, Sayang? Berceritalah jika kau tidak kuat menahannya sendiri. Aku istrimu, kau berhak membagi beban denganku," balas Azura lembut.
Devian kini membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Azura yang lagi-lagi membuatnya rileks karena aroma wangi yang menguar dari sana. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Devian menghirup aroma wangi itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berpisah denganmu. Tapi, mereka terus mendesakku untuk berpisah dengan dirimu. Mereka juga terus menuntut anak dariku. Mereka terus mengancamku dengan berbagai ancaman dan membuatku menjadi lemah," adu Devian.
Devian memejamkan mata erat, rasanya sangat sakit mengingat kejadian beberapa hari ke belakang ketika ia berada di rumah orang tuanya.
"Aku juga takut kehilangan mereka, aku ingin bisa seperti dulu lagi. Mengapa mereka yang dulunya mendukung hubungan kita justru sekarang mereka yang paling terdepan menentang hubungan kita?" sambung Devian dengan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
Azura menghela nafas sejenak kemudian kembali menghirup oksigen lebih banyak. Tiba-tiba saja paru-parunya sulit menerima oksigen. Azura terdiam untuk beberapa saat, ia berusaha menetralisir rasa sesak yang berkumpul di sekitar paru-parunya.
"Kalau begitu ... Ceraikan saja aku," sahut Azura tidak rela. Ia memejamkan mata erat, suaranya begitu lirih ketika mengatakan hal yang paling ia takuti tersebut.
Tangis Devian langsung terhenti, ia melepas pelukannya dan mencengkeram lengan Azura kuat. Matanya menatap tajam kearah wanita cantik yang sama terlukanya dengannya. Ia sangat-sangat tidak setuju dengan apa yang Azura katakan beberapa detik lalu.
"Aku tidak ingin kau semakin menderita hanya karena mempertahankan wanita pembawa sial sepertiku, Sayang," lanjut Azura mengulang kembali kata-kata yang sempat mertuanya katakan dua minggu lalu dengan tatapan terluka.
Azura tersenyum tulus, ia sungguh tidak akan baik-baik saja jika ia benar-benar berpisah dengan Devian. Namun, jika hal itu dapat membuat Devian bahagia, apapun akan Azura lakukan meski harus membuat jiwa dan raganya hancur secara perlahan. Kedua matanya kembali terbuka, membalas tatapan tajam Devian dengan lembut.
"Tidak! Aku tidak mau. Jangan meminta hal bodoh seperti itu lagi padaku!" bentak Devian tampak sangat marah.
Azura hanya bisa tersenyum, tidak tersinggung sama sekali dengan bentakan halus Devian. Azura meninggikan tubuhnya lalu mencium kening Devian tulus penuh dengan kasih, cinta, dan sayangnya.
Amarah Devian menguap begitu saja. "Aku akan mencari cara lain. Aku berjanji akan ku pertahankan pernikahan kita dan hidup bahagia setelahnya," tukas Devian sungguh-sungguh.
Azura tersenyum lagi, ia pun mengangguk menyetujui. Kini Azura beralih mengecup bibir Devian dengan lembut, sedikit banyaknya ia menyalurkan rasa gundahnya melalui kecupan yang menjadi panjang tersebut.
Semuanya akan baik-baik saja, semoga.
'Tuhan, bantu Devian menepati perkataannya agar kami bisa hidup bahagia lagi seperti dulu. Aku mohon.'
***
__ADS_1
To be Continued.