
Mereka berdua dalam perjalanan, hati Qin Yu sangat senang, senyum diwajahnya tidak pernah lepas dari wajahnya, sayangnya mereka bertiga dalam kereta, Tian Feng, Qin Yu dan Xiao Lu. Sebenarnya Xiao Lu tidak ikut, tetapi ia memaksa Tian Feng untuk ikut jadi Tian Feng membawanya karena Xiao Lu kini sudah diangkat menjadi selir Xiao Lu.
Qin Yu memandang Xiao Lu yang tidak pernah melepaskan tangan Tian Feng dari genggamannya. " Apanya setia, percuma mengucapkan janji pernikahan, akhirnya memang ada wanita lain." guman Qin Yu.
Xiao Lu lalu menoleh pada Qin Yu. " Kau mengatakan sesuatu?" tanya Xiao Lu melihat ekspresi tidak senang Qin Yu.
" Tidak ada." jawab Qin Yu ketus.
" Jangan kau mengira setelah menikah kau memiliki Tian Feng sepenuhnya." Xiao lu terlihat sombong, Qin Yu tau hubungan kedua orang itu, karena sudah mendengarnya dari gosip yang beredar antar militer. Tian Feng menoleh pada Xiao Lu.
" Aku bukan barang yang bisa dimiliki, aku yang memutuskan apa yang aku inginkan." Tian Feng sedikit merasa tidak senangnya dengan perkaataan Xiao lu.
" Maafkan aku." Xiao Lu tau perkaataannya menyinggung Tian Feng, jadi ia merasa bersalah.
Tian Feng terdiam lagi, Qin Yu tersenyum mengejek Xiao Lu, Xiao Lu menjadi geram tetapi ia tidak ingin menciptakan masalah jadi ia membuang muka agar amarahnya pada Xiao Lu berkurang.
Qin Yu menikmati perjalanan, tak lama mereka sampai dikediaman Keluarga Qin Yu, Qin Yu tidak mengirim surat karena mereka datang secara mendadak, hari masih pagi dan jarak kediaman keluarga Qin cukup dekat hanya setengah batang dupa yang terbakar.
Kedatangannya mengejutkan semua orang dari keluarga Qin Yu, mereka menyambut dan para pelayan segera menemui Janda pangeran, Liang Da yang masih tidur.
" Kukira ia tidak akan datang, aku berniat ingin membakar kediaman mereka jika tidak datang hari ini." ucap Liang Da yang baru bangun karena mendengar kabar kedatangan putrinya, ia lalu berganti pakaian menyambut mereka.
Qin Yu, Tian Feng dan Xiao Lu diajak keruang aula untuk menunggu kedatangan Liang Da, mereka bertiga menuju aula, tiba-tiba salah satu pelayan menghentikan Xiao Lu.
__ADS_1
" Maaf, hanya pengantin yang boleh masuk keaula untuk bertemu janda pangeran, silahkan menunggu diruang tamu." Xiao Lu menoleh pada Tian Feng, Tian Feng lalu menoleh pada Qin Yu, Qin Yu lalu mendekat pada Tian Feng.
" Dalam keluargaku, ini sangat sakral jadi orang luar dilarang untuk masuk, kau tidak perlu khawatir pada Xiao Lu karena kita hanya sebentar." bisik Qin Yu ditelinga Tian Feng, Xiao Lu mencoba ingin mendengar tetapi ia tidak dapat mendengar apapun. Tian Feng lalu mengangguk pada Xiao Lu, Xiao Lu menjadi cemberut dan akhirnya ia mengikuti seorang pelayan untuk menunggu diruang tamu.
Mereka berdua menuju Aula, saat didepan pintu aula, Qin Yu merasa ingin buang air kecil. " Aku ingin kekamar kecil, kau masuklah dulu." Qin Yu lalu berlari kekamar kecil.
Tian Feng hanya menggeleng kepala, ia lalu membuka pintu aula, terdapat beberapa pelayan tetapi ia tidak melihat Liang Da, ia lalu masuk, kemudian Liang Da datang, Tian Feng memberi hormat bentuk rasa hormat pada ibu mertua, Tian Feng mendengar suara berdesis didekat ibu mertuanya.
Dengan wajah malas ia melihat menantu yang tidak ia sukai, ia menguap. " Dimana Qin..." Belum selesai ia berbicara untuk menanyakan Qin Yu, tiba-tiba Tian Feng mendorong Liang Da kebelakang sehingga ia termundur membentur pelayan yang berada dibelakang Liang Da, Tian Feng lalu memukul meja hingga hancur yang berada disamping Liang Da sebelum didorongnya
Liang Da shock dan terkejut setengah mati, ia bahkan terkena serangan jantung akibat yang dilakukan Tian Feng, Ia sesak sambil memegang dadanya, rasa takut dan rumor yang pernah dia dengar bahwa Tian Feng sangat kasar berputar dikepalanya.
" Janda pangeran..." para pelayan terkejut melihat Liang Da yang tiba-tiba hampir pingsan, Qin Yu terkejut melihat ibunya yang hampir pingsan, ia berlari masuk.
" Ibu..." teriak Qin Yu khawatir, " Ibu..." Ia lalu menepuk pipi ibunya yang tampak shock dengan mata melebar, mulut ternganga dan sesak nafas karena terkejut. " Cepat, panggil tabib." Teriak Qin Yu, seorang pelayan lalu berlari memanggil tabib. " Bawa ibu kekamarnya." Para pelayan segera menggotong Liang Da kekamar.
" Ulat? karena seekor ular kau hampir membunuh ibuku?" kata Qin Yu tidak percaya melihat tindakan Tian Feng yang dianggap salah olehnya.
" Seekor ular katamu? jadi kau ingin aku membiarkan ular ini dan menunggu ia mematuk ibunya, begitu?"
" Bukan begitu, harusnya kau menunggu ibuku menjauh dari meja ini."
" Benar juga... aku harusnya menunggu ibumu menjauh dari meja ini sambil menyiapkan peti mati disini..." Tian Feng terlihat kesal karena Qin Yu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
" Kau..bukan itu maksudku, kenapa kau tidak membunuh ular itu saja dari pada kau menangkapnya dan menyebabkan kekacauan ini."
" Selain otakmu yang bodoh, kau benar-benar tidak mengerti apapun, apakah kau melihat aku membawa pedang atau senjata? jika aku membawa pedang ibumu akan mengira aku akan memenggal kepalanya, itu yang kau katakan padaku tadi.." Tian Feng menahan rasa kesalnya pada Qin Yu yang tidak mengerti situasi.
Qin Yu mendengus kesal karena kehabisan kata-kata. " Dia benar-benar bisa membuat orang lain menutup mulutnya." Batin Qin Yu memandang kesal pada Tian Feng. Tian Feng Melihat sebuah pisau buah ia lalu memotong kepala ular itu hingga putus, Tian Feng memang tidak membawa senjata apapun Saat datang.
" Sekarang kau harus meminta maaf pada ibuku dengan apa yang sudah kau lakukan."Tian Feng menaikan sebelah alisnya.
" meminta maaf? bukankah ibumu harus berterima kasih padaku karena menyelamatkan nyawanya?"
" Menyelamatkan nyawanya? kau hampir merenggut nyawa ibuku karena terkejut." teriak Qin Yu kesal. Tian Feng berfikir sejenak.
" Siapa suruh ibumu memiliki jantung yang lemah." balas Tian Feng, Qin Yu langsung mengumpat mendengarnya.
" Lalu ibumu sendiri?... kurasa ibumu lebih memilih pergi dari pada melihatmu yang tidak memiliki hati seperti ini." Tian Feng mengepalkan tangannya, terdapat amarah dimatanya.
" Jangan pernah menyebut ibuku didepanku.." Qin Yu heran, apa dari perkataannya yang salah sehingga menyebabkan Tian Feng terlihat marah padanya, padahal ia hanya asal mengatakan, karena kesal jadi Qin Yu menyinggung tentang Ibu Tian Feng, Qin Yu sama sekali tidak mengetahui sejarah kelam keluarga Tian Feng dan tentang keluarganya.
" Kau kenapa? aku hanya mengatakan itu dan kau harus semarah ini? o.. ho... apa mungkin kau memang ditinggalkan ibumu sehingga kau tidak tau rasanya memiliki ibu.." Qin Yu tertawa , tiba-tiba Tian Feng langsung mencekik Qin Yu, Qin Yu terkejut dan dia kesulitan bernapas karena dicekik.
" Apa.. yang kau... lakukan?..." Qin Yu berusaha mencari nafas karena Tian Feng seperti ingin membunuhnya, kemarahan yang amat besar dimata Tian Feng dapat Dilihat Qin Yu.
" Lepaskan...?" Qin Yu berusaha melepaskan diri, mata Qin Yu memerah dan air mata sampai keluar karena ia merasa sangat sesak kehabisan nafas.
__ADS_1
" Tian... Feng... lepaskan...." Qin Yu berusaha meronta tetapi cengkraman Tian Feng sangat kuat, sedangkan diruangan itu hanya mereka berdua, Qin Yu berusaha sampai detik ia berfikir ia akan mati, Qin Yu memandang mata Tian Feng dengan rasa sedih, Ia lalu memejamkan matanya, Tian Feng tersadar dan ia langsung melepaskan cengkeramannya, Qin Yu langsung terjatuh, oksigen segera masuk ke rongga pernafasannya, ia langsung terbatuk-batuk dan menarik nafas.
setelah pernafasannya stabil, ia langsung berdiri dan menampar Tian Feng. " Apa kau ingin membunuhku?" teriak Qin Yu marah, Tian Feng terdiam, Qin Yu terlalu emosi jadi ia secara refleks menampar Tian Feng, Tian Feng sempat memandang Qin Yu sampai akhinya ia memilih pergi keluar aula tanpa mengatakan apapun.