
Kiara turun dari mobil. Ia melambaikan tangan pada papanya dan memasuki gerbang sekolah.
"Kiara!"
Kiara menoleh. "Iya, kak Glen?"
Napas Glen tersengal-sengal. Dia memberi Kiara sebuket bunga dan cokelat. "Happy Valentine day," ujar Glen.
Kiara menerima buket itu. "Makasih! Kok tau aku suka cokelat?"
"Ya, kan biasanya kalau valentine memang idealnya ngasih cokelat."
"Aku duluan ke kelas, ya." Kiara berlari menuju kelasnya, kelas XII MIPA 3.
Glen tersenyum. Kiara memang imut seperti anak kecil.
Kiara sampai di kelasnya. Dia menaruh ranselnya di kursinya.
"Wih, enak bener lo, Ra. Pagi-pagi udah ada yang ngasih hadiah valentine," ucap Manda, sahabat Kiara.
"Lah kita dari tadi di sini udah siap-siap dapet hadiah malah gak dapat sama sekali," keluh Dira.
Kiara tertawa kecil. "Makanya, kalian cari pacar dong! Biar gak ngenes-ngenes banget."
Itulah Kiara. Gadis ceria dan periang. Kadang menyebalkan, dan kadang juga otaknya lemot. Namun wajahnya memang menutupi segala keburukannya.
Dira menghembuskan napasnya kesal. "Lo sendiri aja jomblo, Ra."
"Aku jomblo tapi tetep gak ngenes kayak kalian kok."
Bel masuk berbunyi. Kiara dan kedua sahabatnya langsung duduk tegap, karena yang akan masuk ke kelas adalah guru killer, Bu Nia.
Benar saja. Tak lama dari itu, Bu Nia datang ke kelas. Sepertinya, Bu Nia membawa seseorang juga.
"Saya membawa murid baru. Tolong perkenalkan dirimu."
Laki-laki yang tadinya menunduk pun menengadah. "Saya Arsenio Hajoxe. Saya pindahan dari Starship High School."
Para kaum hawa langsung jatuh cinta dengan Arsen, karena Arsen memiliki wajah blasteran bule.
"Itu, kan sekolah yang di Italia itu bukan sih?" bisik Manda pada Dira.
"Iya, bener."
"Silahkan kamu pilih tempat duduk yang kosong di sini," ujar Bu Nia.
Mata Arsen menuju pada bangku Kiara. Arsen mendekati bangku Kiara dan duduk di samping Kiara.
"Baik, saya akan memulai pembelajaran."
...----------------...
"Ra, kita duluan, ya. Kalau lo udah selesai langsung ke kantin aja," pamit Manda. Kiara yang sedang mengerjakan tugasnya hanya mengangguk-angguk saja.
Lima menit kemudian, tugas Kiara selesai. Ia bangkit dari bangkunya.
Arsen memegangi lengan Kiara yang hendak ke luar kelas. "Kiara, lo inget gue gak?"
"Siapa? Aku gak tau kamu," jawab Kiara.
"Gue temen lo pas kecil."
Kiara menatap Arsen heran. "Maaf, aku gak inget. Aku ke kantin dulu, ya." Kiara melangkahkan kaki menuju kantin.
"Tunggu!"
Langkah Kiara terhenti, dia berbalik badan. Arsen menunjukkan sebuah foto di ponselnya pada Kiara.
Kiara membulatkan matanya. "Oh, iya! Kamu Arsen yang kesandung pas pertama kita ketemu, kan?"
Senyum Arsen mengembang. "Gue udah kangen banget sama lo, Ra."
"Jangan kangen. Kata Dilan, kangen itu berat."
"Ya, bener sih, gue sampai ngelilingin Indonesia nyari lo doang."
"Hah? Serius? Padahal aku gak pernah pindah rumah."
"Ya, enggak. Masa gue rela keliling Indonesia demi nyari lo, buang-buang waktu."
Kiara memanyunkan bibirnya. Dia kira Arsen serius dengan perkataanya.
"Ya udah, jangan cemberut. Gue traktir deh, ayo."
Baru saja Kiara keluar dari kelas. Beberapa laki-laki sudah berebutan untuk memberi Kiara hadiah.
"Kiara, terima, ya."
"Hadiah valentine dari gua, Ra."
"Jangan lupa dimakan cokelatnya."
__ADS_1
"Terima bunga gue, Ra."
"Gak usah balas cinta gue sekarang gak papa, yang penting lo nerima buket gue."
Para lelaki itu pergi saat sudah selesai memberi Kiara hadiah. Kiara menaruhnya di mejanya.
"Buset. Mostwanted bener lo. Padahal wajah lo biasa aja," ejek Arsen.
"Sembarangan. Gini-gini aku bisa bikin anak orang baper."
"Mantan lo pasti banyak ya?"
"Enggak. Satu doang."
Arsen tertawa meremehkan. "Coba bikin gue baper. Pasti gak bisa."
Kiara mendekatkan diri ke Arsen, ia memegang tengkuk Arsen dengan kedua tangannya. Jarak wajahnya dengan wajah Arsen sangat dekat, kedua tubuh mereka menempel. Arsen sedikit syok menerima perlakuan Kiara yang tiba-tiba itu.
Kiara tersenyum manis. "I love you," ujar Kiara. "Gimana? Udah baper?"
Arsen menyingkirkan tangan Kiara dan menatap Kiara dengan pandangan jijik.
"Ih, gak berhasil nih?" tanya Kiara.
"Kan, gue udah bilang apa."
Kiara menghela napas. Dia berjalan menuju kantin dengan memencak-mencakkan kakinya. Arsen menahan tawanya mati-matian.
Sesampainya di kantin, Kiara mencari kehadiran Manda dan Dira. Kiara menemukan mereka di meja pojok. Kiara dan Arsen menghampiri mereka dan duduk di hadapan mereka.
"Lo udah kenal baik sama Arsen, Ra?" Nadira bertanya.
Kiara mengangguk. "Udah sahabatan dari kecil."
"By the way, skincare lo apaan, Sen? Sempurna banget wajah lo," tanya Manda.
Arsen hanya tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut. Faktanya, Arsen juga memakai banyak skincare untuk mempertampan wajahnya.
Dira berpikir. "Ra, kalau lo nikah sama Arsen, anak lo jadi transparan kali saking putihnya."
"Ogah, gak sudi," kompak mereka berdua. Sedangkan Nadira dan Manda tertawa terbahak-bahak.
Belum ada sepuluh menit Arsen duduk di kantin. Sudah ada yang menghampiri Arsen.
"Kak, boleh minta nomornya?" tanya seorang gadis. Gadis itu menyerahkan ponselnya.
"Gak. Privasi," tolak Arsen mentah-mentah.
Kiara menyenggol siku Arsen. "Kasian tuh, kasih aja."
...----------------...
Bel pulang berbunyi. Semua orang memasukkan buku-bukunya ke dalam ransel. Mereka ke luar satu per satu dari kelas, termasuk Kiara.
Kiara menunggu papanya menjemput sembari duduk-duduk di bangku taman. Dia membaca novel kesukaannya.
Setengah jam berlalu, papanya masih belum menjemput juga. Kiara mulai sedikit cemas. Tiba-tiba ponsel Kiara berdering. Kiara mengangkatnya.
"Halo, pa?"
"Ah, iya. Maaf Kiara, papa belum bisa jemput."
"Iya, gak apa-apa, pa. Tapi kenapa?"
"Urusan papa masih banyak. Kamu tunggu dulu aja, ya?"
"Oke, pa."
Telepon dimatikan secara sepihak. Kiara lanjut membaca novel hingga sekolah sudah sepi.
"Gak pulang, Ra?" tanya Arsen.
"Nanti," sahut Kiara.
"Ayo ke rumah gue dulu, dari pada nanti di sini dikira anak hilang."
Kiara mengangguk, tanda menyetujuinya. Arsen memasuki mobilnya, begitu pun dengan Kiara. Arsen menyalakan mobilnya dan mengeluarkannya dari parkiran. Sampai di jalan raya, ia lanjut menginjak pedal gas.
Keheningan menyelimuti mereka di dalam mobil. Kiara mendengarkan musik menggunakan earphone, sedangkan Arsen sibuk menyetir.
Hingga akhirnya sampai di rumah Arsen. Rumahnya luar biasa menakjubkan. Arsen turun dari mobil, diikuti dengan Kiara. Sebelumnya, Kiara tak pernah ke rumah Arsen dan bertemu orang tuanya. Bahkan, silsilah keluarga Arsen saja Kiara tak tahu.
Desain interior mewah dan elegan. Semuanya serba putih. Setelah masuk rumah Arsen, Kiara mendapati seseorang pria berkemeja putih sedang melihat televisi.
"Itu papa kamu, kan?" tanya Kiara.
"Iya. Lo belum pernah ketemu, kan? Kenalan dulu sana," suruh Arsen.
Kiara mendekati papa Arsen perlahan. Papa Arsen sudah lebih dulu menoleh ke arah Kiara. Bulu kuduk Kiara langsung berdiri, karena tampang papa Arsen menakutkan.
"Temen Arsen?" Suara bariton itu membuat Kiara semakin gemetar.
__ADS_1
"I-iya, om," jawab Kiara dengan terbata-bata.
Papa Arsen berdiri dan mendekati Kiara. "Saya Argan, papa Arsen." Argan mengulurkan tangan kanannya. Yang menyebabkan Arsen memiliki wajah blasteran adalah Papanya.
Kiara menyalami tangan Argan dengan tangan gemetar. "Saya ... Kiara, om."
Argan melepaskan tautan tangannya dengan Kiara dan tersenyum kecil melihat Kiara yang gemetar.
"Tenang aja, Ra. Papa gue gak gigit," kekeh Arsen.
Kiara menunjukkan cengir kudanya. "Maaf, om."
"Gak apa-apa."
Om Argan kenapa ganteng banget, bule juga lagi. Pengen deh punya jodoh kayak gini. Batin Kiara.
Pipi Kiara bersemu merah. Dia menunduk.
"Ayo ke kamar gue." Arsen berjalan menuju kamarnya. Kiara membuntuti Arsen seperti anak induk.
"Sen, papamu kenapa gak mirip kamu, ya?"
"Gak mirip gimana?"
"Papa kamu cakep, kamunya jelek," ejek Kiara.
"Ye, itu mah lo nya aja yang salah liat. Gue cakep gini kok," ujar Arsen dengan tingkat kepedean tertingginya.
Suara dari cacing di perut Kiara berbunyi keras. Kiara menunjukkan cengir kudanya.
"Mau makan apa?"
"Ayam geprek level tiga."
"Gak kepedesan? Setau gue, dulu lo gak tahan pedes."
"Pesenin aja. Jangan banyak omong."
Arsen menatap Kiara sinis. "Ya udah, gue pesenin. Sekalian gue mau pesen juga." Arsen mengambil ponselnya.
...----------------...
Ting tong!
"Tolong bukain pintu depannya, Ra. Kaki gue kram," ucap Arsen.
Kiara ke luar kamar Arsen dan menuju pintu depan. Ia membayar dan mengambil pesanannya.
"Makasih, pak." Kiara menutup pintunya. Dia berbalik, Argan sudah berada di belakangnya. "Aaaa!" teriak Kiara kaget.
"Saya senakutin itu, ya?"
"Maaf, om, hehe," Kiara menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mau ayam geprek, om?" tawar Kiara basa-basi.
"Saya udah makan."
"Om tadi ngapain di belakang saya?" tanya Kiara.
"Saya tadi mau ke luar."
"Oh, ya udah, om. Saya sama Arsen mau makan dulu." Kiara melangkahkan kaki menuju kamar Arsen. Namun, kakinya malah terpeleset dan jatuh.
"Akh! Sakit," ringis Kiara.
Argan panik dan berlari ke arah Kiara. "Kamu gak apa-apa?"
Kiara memejamkan matanya, punggungnya luar biasa sakit. Argan menggendong Kiara.
"Akh, om, sakit! Jangan pegang punggung saya," ringis Kiara lagi.
Argan tak memedulikan dan tetap menggendong Kiara sampai di sofa. Argan meletakkan tubuh Kiara di sofa dengan hati-hati.
"Aw, aw," Kiara meringis lagi.
"Om, tolong ambilin ayam gepreknya. Sayang kalau gak dimakan itu," ujar Kiara.
Argan sedikit melongo, bisa-bisanya di saat-saat begini anak ini malah memikirkan ayam geprek. "Gak usah. Nanti saya beliin lagi."
Kiara memegang tangan Argan. "Jangan, om. Nanti saya ngerepotin."
"Kamu gak ngerepotin. Gak apa-apa nanti saya beliin yang baru."
"Kalau gitu beliin es krim aja, om."
Arsen membuka pintu kamarnya. Ia terkejut dengan pemandangan di depannya. "Kalian ngapain?"
Kiara cepat-cepat melepaskan pegangan tangannya. Arsen mendekati mereka berdua. "Mana ayam gepreknya?"
"Aku habis kepeleset. Itu ayamnya ketindihan aku tadi. Kasian, ya," jelas Kiara dengan muka memelas.
Argan menyunggingkan seringainya secara diam-diam.
__ADS_1
To be continued
Halo, jangan lupa like+vote yaa hehe. Oh iya, tinggalkan jejak dengan berkomentar juga ya!