
Darah Kiara sudah mendidih. Dia mendobrak pintunya. Menemukan seorang pria dan wanita sedang berhubungan intim.
DEG
Kiara benar-benar tidak bisa berkata-kata.
"Ki ... Kiara?"
"Kamu jahat, Amanda."
"Biar gue jelasin dulu,"
"Nggak usah! Ternyata memang kamu yang suka ngerusak hubunganku."
"Lo salah paham. Gue ...."
Kiara menampar pipi Amanda. "Lo apa-apaan!" bentak Josep. Josep membisiki Manda. Manda menurunkan roknya dan ke luar dari toilet. Sekarang hanya ada Josep dan Kiara yang sedang berbicara empat mata.
"Berani banget lo nampar Manda. Lo sirik?"
"Bukannya kamu yang sirik?"
"Lo aja gak jauh dari kata pelacur, Ra!"
"Pelacur? Level lo aja jauh dari gue!" Kiara membentak balik. Sekujur tubuhnya bergemetar. Air matanya ia tahan untuk tidak mengalir.
"Lo emang pelacur!"
Kiara menjadi buruk, sangat buruk dalam menahan air mata. Air matanya mengalir ke pipinya. "Gue masih ada perasaan sama lo! Bahkan setelah kita putus, Jo. Tapi kenapa lo malah permainin gue?" tangis Kiara.
"Gue udah rela lo sama selingkuhan lo, tapi kenapa harus Manda? Lo emang jahat."
Josep menyeringai. "Karena elo cuma pelampiasan."
"Banyak yang lebih cantik dari lo, jadi, kenapa gue harus buang-buang waktu buat setia pacaran sama lo?"
"Lo memang gak pantes disebut cowok, karena kelakuan lo rendahan banget kayak binatang!"
PLAK
Josep menampar pipi Kiara dengan keras.
"Beruntung gue nggak pernah mau tidur sama cowok kayak lo!"
"Nggak pernah mau? Kayaknya lo sendiri yang goda-goda gue," bantah Josep.
"Lo gila. Gue nggak mau tau, pokoknya jangan rusak Manda!" teriak Kiara.
Josep menarik kasar tubuh Kiara, mendudukkannya di atas kloset. "Manda sendiri yang mau sama gue. Bukan gue yang ngejar."
"Lo gila!" teriak Kiara memberontak. Kiara menendang wajah Josep.
"Kekuatan lo lemah." Josep menaikkan rok Kiara dan menyobek ****** ********. "Gue bakal ambil keperawanan lo!"
Kiara berdiri dan mendorong tubuh Josep. Namun, Josep mendorong Kiara kembali ke duduknya dan berusaha memasukkan kepunyaannya di Kiara. Belum berhasil, Josep melebarkan kaki Kiara. Kiara masih memberontak dengan memejamkan matanya ketakutan.
BRAK!
Josep terjatuh terbentur pintu. Kiara masih memejamkan matanya seraya menangis.
"Kiara."
Suara itu membuat Kiara membuka matanya. Kiara berdiri dan memeluk Arsen erat-erat. Menangis dalam pelukan Arsen untuk yang kedua kalinya.
Arsen mengelus punggung Kiara lembut. "Dulu udah gue kasih tau, jangan pacaran sama sembarang orang."
__ADS_1
"Maaf, Arsen," lirih Kiara.
Arsen memapah Kiara ke luar dari toilet. Mereka berjalan menuju ruang UKS untuk mengecek keadaan Kiara.
Semuanya baik-baik saja. Tidak ada luka yang parah.
"Gue anter pulang aja, ya?" Arsen menawari Kiara.
Kiara tidak menjawab. Dia diam dengan matanya yang masih sembab. Arsen memapah tubuh Kiara lagi menuju parkiran.
Perjalanan dari sekolah menuju rumah Kiara hanya memakan waktu sekitar lima belas menit. Kiara kembali dipapah Arsen. Arsen mengetuk pintu rumah Kiara.
Tok tok tok.
Tak ada jawaban. Sekali lagi dia mengetuk,
Tok tok tok.
"Mama, papa sama kak Raina lagi pergi," ujar Kiara.
"Lo bawa kunci rumah lo?" Kiara menggeleng pelan.
Arsen menghela napas. Akhirnya, dia memutuskan membawa Kiara ke rumahnya untuk sementara.
Arsen masuk ke kamarnya dan menidurkan Kiara di tempat tidur Argan. "Kamar gue lagi berantakan. Jadi, maaf gue taruh lo di tempatnya papa dulu."
Kiara tetap tak bergeming. Mungkin saja dia sedang membutuhkan hiburan.
"Tenang aja, Ra. Gue udah izin sama bu Ani," ucap Arsen menenangkan Kiara. "Gue ambilin air dulu, ya."
Kiara mengangguk. Arsen meninggalkan kamarnya. Diam-diam Kiara mulai menangis lagi. Ia mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya.
Kamu bodoh banget, Kiara. Kenapa bisa sampai pacaran sama cowok sebrengsek itu.
Ceklek
Kiara tak bergeming, ia tetap menangis dalam diam.
"Kiara?" panggilnya dengan suara bariton khasnya.
Kiara membuka wajahnya. Matanya bengkak sehingga rasanya berat sekali untuk melihat.
"Kamu kenapa di sini? Kamu nangis?" tanya Argan yang mendekati Kiara. Kemudian, dia duduk di samping Kiara.
Hanya karena kejadiannya bersama Josep. Kiara kembali membangkitkan ingatan buruknya tentang Argan. Tubuh kiara bergemetar hebat.
Argan menyerahkan tisu pada Kiara.
"Om nggak punya hati. Om jahat!"
Kata-kata itu membuat Argan tersentak. "Apanya yang jahat?" Kiara kembali menangis, tetapi dengan suara isakan.
"Om akar dari semua masalah ini! Andai aja aku gak pernah ketemu sama om!" bentak Kiara.
"Kenapa? Cerita sama saya," balasnya dengan lembut walaupun sudah dibentak Kiara. Argan menarik perlahan tubuh Kiara, membawanya ke dalam pelukannya.
Kiara mendorong Argan. Namun, Argan tetap memeluk Kiara. Semakin lama waktu berjalan, Kiara tenang dalam pelukan Argan.
Argan seperti sosok ayah keduanya. Evan sebenarnya hanya sibuk bekerja, perhatiannya yang dia berikan pada anak-anaknya hanya sedikit.
Argan membelai puncak kepala Kiara lembut. "Siapa yang buat kamu nangis?"
Kiara tidak menjawab. Ia masih menangis dalam pelukan Argan.
"Gak apa-apa, nangis dulu aja,"
__ADS_1
Tangis Kiara mereda. Dia menatap Argan dengan matanya yang masih berair.
"Percuma aku kasih tau om. Om aja nggak kenal," ujar Kiara.
"Memangnya siapa? Mantan kamu?"
Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Om selalu tau, ya?"
"Gak juga. Saya belum tau nama panjang kamu," jawabnya.
"Katanya om temennya papa, tapi kenapa belum tau nama panjangku?"
"Apa itu penting sekarang?"
Kiara menggeleng. "Enggak."
"Siapa mantanmu?" tanya Argan kembali ke topik utama.
"Josep."
"Nama panjang?"
"Veorie Joseph Gananta."
"Oh, keluarga Gananta."
"Emangnya om mau ngapain tanya nama Josep? Mau nyantet?"
"Jangan bicara aneh-aneh."
"Iya, iya, om. Jangan marah mulu." Kiara cemberut. Namun, dia sudah lebih baikan berkat interaksinya bersama Argan.
Ceklek.
Arsen datang dengan membawa nampan berisi segelas air putih dan nasi goreng.
"Eh, papa? Kenapa cepet pulang dari kantornya?
"Urusannya sudah selesai." Argan berdiri, dia berjalan meninggalkan Arsen dan Kiara.
Argan masuk menuju ruang kerjanya. Dia meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang.
"Selamat siang. Ada apa bos?"
"Siapa yang mengangkat telepon ini?"
"Maaf, saya Deon. Pak Lio yang menyuruh saya untuk mengangkat telepon bos."
"Berikan pada Lio."
"Halo, bos?"
"Lio, berikan saya informasi tentang keluarga Gananta."
"Baik, bos."
"Jangan beri tahu Deon. Dia anak baru, mungkin saja masih belum bisa menjaga rahasia."
"Tentu saja, pak bos. Saya akan mencari informasinya sendiri."
Argan menutup teleponnya. Ponselnya ia taruh di mejanya. Dia duduk di kursinya seraya membuka berkas-berkas pentingnya.
To be continued
Jangan lupa like dan vote yaa. Tinggalkan jejak dengan berkomentar juga.
__ADS_1