Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Lima


__ADS_3

Kiara mengernyitkan alisnya. "Kamu kok tau om Argan brewokan?" tanya Kiara.


"Di akun ig-nya Arsen ada fotonya bareng papanya."


"Iya juga, ya."


"Lo kok curiga banget?" tanya balik Dira.


"Ya ... ya enggak sih. Cuma heran, kamu kok tau padahal belum ketemu."


Dira mengangguk-angguk paham. "Kirain."


"Guk, guk, guk!" tiba-tiba seekor anjing berlari ke arah Kiara.


"Aaaa!" Kiara bersembunyi di belakang Dira. Anjing itu masih menggonggong di hadapan Dira.


"Hush, hush!" usir Dira sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


Anjing itu terlihat memperhatikan cokelat yang dipegang Dira.


"Ra, emangnya anjing itu boleh makan cokelat, ya?"


"Nggak tau. Kok malah nanya ke aku sih?"


Dira pun memotong bagian kecil cokelatnya dan melemparkannya ke arah yang jauh. Anjing itu mengikuti arah lemparan itu.


Kiara bernapas lega. Ia sangat takut dengan anjing. Sampai-sampai dulu ia pernah terjatuh dan terpental dari sepedanya hanya karena digonggongi anjing.


"Gue pulang dulu, ya," Dira berpamitan pada Kiara.


"Yah, ya udah, dadah!"


Dira berbalik badan dan pergi pulang ke rumahnya. Sebenarnya Kiara tidak mau Dira pulang, sebab nanti dia akan sendirian.


"Bajunya Dira aku kembaliin besok aja deh." Kiara masuk ke rumahnya.


...----------------...


Hari Senin, di mana semua orang akan sibuk dengan pekerjaannya, tugas sekolahnya, dan lain-lain. Kiara, Dira, dan Manda sedang berada di kantin sekolahnya.


"Ra, coba liat deh di sana," tunjuk Manda kepada dua sejoli yang duduk di pojokan. "Mantan lo punya pacar lagi tuh."


"Biarin aja. Cuman aku yang gagal move on kok, dia enggak."


"Lo nggak mau balikan sama Josep?"


"Enggak. Dia ganteng sih, tapi seleraku bukan dia lagi."


"Pacarin aja Arsen," sahut Dira.


"Kamu selalu aja nyomblangin aku sama Arsen. Lagian yang suka Arsen, kan kamu."


"Ya, karena cocok. Gue memang suka sama Arsen, tapi gue ngerasa lo lebih cocok sama Arsen ketimbang gue yang jadi pacarnya."


"Jangan. Lebih baik kamu deketin Arsen aja," saran Kiara.


"Gue ngerasa gak pantes ...."


"Bener kata Kiara. Lo deketin aja si Arsen, dari pada nanti keduluan adek kelas," potong Manda.

__ADS_1


"Muka gue pas-pas an, mana mau Arsen-nya."


"Lo cantik. Gue nggak ada maksud muji lo ya, tapi lo emang cantik."


Tiba-tiba Kiara melambaikan tangan. Dira dan Manda menengok ke orang yang dipanggil Kiara.


"Sini, Arsen!" panggil Kiara.


Bukan hanya Arsen yang datang, ada Glen dan Zean juga. Mereka bertiga duduk di hadapan Kiara, Manda dan Dira.


Manda menyenggol siku Dira. "Ayo cepet omongin," bisik Manda. Dira menggeleng pelan.


"Amanda,"


Manda menatap Zean. "Iya?"


"Ikut Gua. Gua mau ngomong sama lo." Zean berdiri. Ia menuju ke luar kantin. Manda mengikuti Zean.


"Wah, habis ini ada pajak jadian," ujar Dira pada Kiara. Kiara mengangkat alisnya.


Kiara menatap Arsen yang sedang bermain ponselnya. Menatap Arsen membuat Kiara mengingat saat Argan menciumnya dua minggu yang lalu. Kiara masih syok, dia tidak menyangka hal itu. Namun, setidaknya dia sudah tidak sesedih satu minggu yang lalu.


Setelah kejadian itu, Argan tidak pernah kelihatan lagi di rumahnya. Kiara juga tidak pernah menanyakan Arsen apapun perihal Argan.


"Tatapin gue juga, Ra. Masa Arsen doang?" goda Glen.


Arsen baru sadar jika ia sedang ditatap Kiara karena omongan Glen. Kiara mengalihkan pandangannya pada Dira. "Dira, ayo balik ke kelas,"


"Kita belum maka ...." Sebelum menyelesaikan ucapannya, Kiara lebih dulu menarik lengan Dira menjauh dari Arsen dan Glen.


"Pacar lo lucu, Sen,"


"Satu sekolah juga udah tau."


"Hoax itu. Dan kalau pun sampai gue sama Kiara pacaran, gue pasti udah mati dikeroyok fans-nya duluan."


"Gue deketin Kiara boleh?"


"Boleh. Lo nikah sama Kiara juga gue restuin banget malahan."


"Banget?"


"Iya."


Glen tersenyum simpul. "Oke, thanks, bro!"


...----------------...


Terik matahari panas membuat Kiara berkeringat. Kulitnya merah-merah akibat terbakar matahari. Dia baru pulang sekolah, tetapi malah dibuat semakin dehidrasi.


Kiara menemukan toko swalayan berada di sampingnya. Kiara masuk ke toko swalayan itu untuk membeli minum


Kiara mengambil sebotol air, dua kotak susu rasa vanila, dan beberapa camilan. Ia berjalan ke arah kasir. Kiara meletakkan belanjaan di meja kasir. Pegawai itu menghitungnya.


"Lima puluh lima ribu," ujarnya.


Kiara merogoh-rogoh ranselnya. Dia mencari dompetnya. Di mana, ya dompetku?


Kiara melewati jalan yang biasanya dilewati saat dia pulang berjalan kaki. Papanya tidak bisa menjemputnya karena akan lembur. Jadi, Kiara kurang terbiasa dengan jalan ini.

__ADS_1


Rumah demi rumah yang ia lewati terdengar sepi dan sunyi, dan sangat jarang ada orang berkeliaran.


Sampai saat dia melewati rumah yang bercat hijau. Muncul anjing dari halaman rumah itu. Anjing itu benar-benar galak, ia terus menggonggong ke arah Kiara.


Nyali Kiara menciut. Ia bergegas berlari menjauhi rumah itu. Sialnya, rantai anjing itu lepas dan mengejar Kiara.


Bukan hanya satu, tetapi tiga.


Kiara melarikan diri sekuat tenaga. Tanpa memperhatikan jalan. Mengingat ia bukan merupakan pelari yang baik, dia tersandung.


Ketiga anjing itu masih berlari dan hampir dekat dengan Kiara. Kiara berusaha berdiri, tetapi lututnya terlalu perih.


"Mati aku!"


Jarak para anjing semakin dekat dengan Kiara. Beruntung ada seorang pria yang lewat. Pria itu menghadang anjing-anjing itu dan menghampiri Kiara.


"Kamu baik-baik aja, kan?"


Kiara mengangguk. "Terima kasih, pak." Pria itu membantu Kiara berdiri. Air mata Kiara yang belum terjatuh menutupi pandangannya.


Pasti dompetku jatuh sewaktu berlari di sana.


"Dek?" panggil pegawai kasir itu.


"Ah, iya, maaf. Saya nggak jadi beli, kak."


"Sudah dibayar kok dek. Ini belanjaannya." Pegawai itu menyerahkan kantong plastik.


"Loh, dibayar? Saya belum ngeluarin uang kok. Siapa yang bayarin, kak?"


"Sama mas itu,"


Kiara melihat pria yang berada di sampingnya.


DEG


"Om Argan?"


Argan tersenyum tipis. "Makanya, jangan suka ngelamun."


Kiara membeku di tempat. Kenapa pertemuannya dengan Argan terlalu mendadak?


"Ma ... makasih, om." Kiara mengambil kantong plastik berisi belanjaannya dan ia bergegas berlari ke luar.


Argan pun membayar belanjaannya sendiri.


...----------------...


"Apa-apaan tadi?" gumam Kiara yang berhenti di depan toko swalayan. "Mendadak banget ketemunya,"


Aku makin nggak bisa ngelupain kejadian itu. Jujur, aku juga masih heran kenapa om Argan cium aku waktu itu. Namun, aku udah janji nggak akan nangis lagi tentang itu.


Dia meminum sebotol air yang baru saja Argan belikan. Kiara kembali terhidrasi. Matahari sudah tidak seberapa membakar kulit Kiara walaupun kulitnya masih merah-merah.


Kiara menoleh ke belakang untuk melihat apakah Argan masih ada di sana. Tidak, sekarang Argan berada di belakangnya.


To be continued


Jangan lupa like, vote dan komentar untuk mendukung author agar terus update. Follow akun author juga yaa.

__ADS_1


__ADS_2