
"Kenapa lo narik tangan gue buat sembunyi?" tanya Dira dengan berbisik.
"I--itu Josep sama pacarnya," bisik Kiara.
Dira melotokan matanya, "masa sih? Bener-bener nggak ada malu itu anak."
"Sstt!"
Dira menutup mulut dengan telapak tangan. Dira membuka pintu bilik itu sedikit. Dia bisa melihat Josep dan pacarnya sedang berbicara.
"Mereka bicarain apa?" tanya Kiara pada Dira yang tengah sibuk memperhatikan mereka berdua.
Dira mengangkat bahu. "Nggak terlalu jelas."
Bau alkohol super menyengat menyerang penciuman Kiara. Dia menahan diri untuk tidak muntah.
Samar-samar Dira mendengarkan pembicaraan mereka. "Mereka bicara tentang hubungan mereka."
Kiara tidak mendengarkan apa-apa. Bilik toilet mereka terlalu jauh dari jangkauan mereka berdua. Pendengaran Dira cukup melebihi kemampuan mendengar orang biasa.
"Josep punya dua pacar. Cewek itu pacar keduanya. Nama pacar keduanya itu Anya."
"Anya minta Josep putusin pacar pertamanya. Gue nggak bisa kedengeran alasannya apa."
"Josep ngomongnya agak ngelantur. Katanya Josep, dia pengen ngelakuin 'itu' lagi sama pacar pertamanya, bukan sama Anya."
Kiara mengangguk-angguk paham. Dira memang cocok menjadi guru.
Kemarahan Anya semakin membeludak. Dia mendorong kasar Josep. "Kamu kenapa selalu milih dia? Atau kamu ngajak aku pacaran buat pelampiasan doang? Kenapa aku harus jadi yang ke dua?"
Kali ini Kiara mendengarkannya, karena dia berteriak.
"Lo juga mau-mau aja gue pacarin. Dasar murahan."
"Murahan? Kamu aja yang ngajak aku begituan. Dan sekarang, kamu yang harus tanggung jawab."
"Gugurin aja! Apa susahnya?" bentak Josep.
Kiara dan Dira saling membelalakkan matanya. Kiara buru-buru menyalakan rekaman suara di ponselnya.
Pilihan Kiara tepat.
"Seenaknya aja kamu nyuruh aku gugurin. Kamu yang ngelakuin, kamu juga harus yang tanggung jawab."
"Siapa suruh ngelarang gue pake pengaman? Lagian itu juga anak rame-rame, bukan dari gue aja."
"Dasar nggak punya perasaan! Aku ngelakuin itu cuma sama kamu!"
"Udah gue bilang. Gugurin aja!"
"Brengsek kamu, Jo!"
Plak!
Dira dan Kiara sama-sama tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya sibuk mendengarkan pembicaraan Josep dan Anya.
Suasana hening dan tegang mereda, sepertinya situasinya sudah aman. Dira mencoba mengintip kembali.
"Nggak ada siapa-siapa."
Dira dan Kiara keluar dari bilik itu. Ponsel Kiara berdering, ia menerima teleponnya.
"Halo, ma?"
"Mama hari ini nggak bisa pulang. Kamu nginep aja di rumahnya om Argan, ya."
__ADS_1
"Loh, kenapa? Kan, aku punya kunci rumah."
"Mama khawatir aja. Lagian gak pernah juga, kan kamu mama suruh nginep di rumah cowok? Makanya sekarang itu kesempatan."
"Mama suka banget aneh-aneh. Aku nggak mau."
"Mama potong uang saku bulanan kamu."
"Eh, iya, iya! Siap, ma! Aku nginep di rumahnya om Argan."
"Ya udah." Elena menutup teleponnya.
Dira mendelik tidak percaya. "Lo disuruh nginep di rumahnya Arsen?"
"Huft, iya. Aneh-aneh banget."
Dira tersenyum penuh arti. "Gue ikut boleh?"
"Wah, boleh! Tapi ke rumahku dulu, ya? Aku mau ngecek udah dikunci atau belum, sama bawa baju ganti juga."
"Oke."
...----------------...
Seusai dari rumah Kiara, mereka langsung menuju ke rumah Argan. Mereka ke sana dengan menaiki taksi online.
"Eh, Kiara. Lo tau nggak?"
"Nggak. Kan belum dikasih tau."
"Arsen itu cakep. Saking cakepnya, dia direbutin para adik kelas."
"Aku udah tau itu. Tapi ya, menurutku Arsen jelek banget."
"Mata lo katarak kali! Coba cek ke dokter mata,"
"Halah, sok-sok an level lima. Kemarin lo makan yang level tiga aja udah merah banget wajah lo, sampe hampir nangis juga."
"Walaupun pedes banget, tapi enak banget, Dir."
"Enakan roti bakar rasa matcha!"
Mobil taksi berhenti di depan rumah Argan. Dira membayarnya, dan mereka berdua turun dari mobil.
"Rumahnya besar banget, gila!" seru Dira.
"Tunggu, kalian tidak diperbolehkan masuk," cegah satpam dengan kepala botak.
"Kami temennya Arsen, Pak."
"Sebentar, saya minta izin dahulu." Satpam itu menelepon seseorang.
"Bos, ada yang mau bertamu ke rumah utama. Katanya mereka temennya Arsen."
Arsen tidak pernah mau dipanggil dengan embel-embel bos muda, tuan muda, atau semacamnya.
Argan mengecek kamera keamanan di luar. Terdapat dua orang perempuan yang salah satunya dia kenali.
"Perbolehkan mereka masuk."
"Baik, Bos."
Satpam itu membuka gerbang itu. "Kalian boleh masuk."
"Makasih, Pak!" seru Kiara. Mereka masuk dengan membawa satu koper. Menginap satu malam saja, rasanya tak cukup jika tak membawa barang banyak.
__ADS_1
Halaman depannya cukup luas, sehingga memakan waktu banyak dengan berjalan kaki.
Kiara berusaha memencet bel rumahnya, tapi gagal. Dia meloncat-loncat. Namun, tetap gagal.
"Makanya jangan jadi orang pendek." Dira berjinjit dan memencet belnya.
Apa salahnya jika terlahir hanya memiliki tinggi 155 cm dengan berat badan 42 kg? Hanya saja sangat berbanding jauh dengan Dira yang memiliki tinggi 165 dan berat badan 50 kg.
"Loh, iya, Dir! Tadi Arsen, kan marah-marah?" ujar Kiara yang baru ingat.
Dira menepuk jidatnya. "Ya ampun, bisa-bisanya kita lupa! Bisa-bisa habis kita dicincang Arsen!"
"Ayo balik aja! Kamu sih kok pelupa!"
"Kan, kamu yang pelupa!"
Mereka berbalik arah dan berjalan cepat. "Kalian mau ke mana?"
Mereka tersentak, dan berbalik badan. Kiara bernapas lega, karena yang ada di hadapannya sekarang adalah Argan.
"Arsennya ada di rumah, om?" tanya Kiara.
"Ada, tapi sudah tidur."
Lagi-lagi mereka menghembuskan napas lega. Mereka pun masuk.
"Kenapa ke sini malam-malam bawa koper?" Argan bertanya heran.
"Kami mau nginap satu malam, om. Soalnya disuruh mama."
"Gak ada kamar lagi. Kalian tidur di ruang tamu."
"Yah, om! Masa nggak ada kamar lagi?" keluh Dira
"Kamar pembantu aja enggak apa-apa kok, om Argan."
"Gak. Penuh."
Sudut bibir Kiara terlengkung ke bawah. Argan meninggalkan mereka menuju ruang kerjanya. Dia duduk dan membuka laptopnya.
Dia melihat-lihat foldernya, mencari sesuatu. Dia menemukannya. Folder dengan nama 'my sugar baby' ia tekan.
Argan menunggingkan senyumannya. Folder itu berisi tangkapan layar percakapan pesan seorang perempuan dengan dirinya.
Sugarbaby: Daddy! Aku kangen tau. Ke mana aja kemarin sampai nggak bales chat-ku?
Ar: Maaf, aku sibuk kerja, Kiara.
Sugarbaby: Kiara? Aku kan sudah bilang, Dad, jangan panggil nama!
Ar: Iya-iya, Sayang. Kenapa bayiku galak sekali sih?
Sugarbaby: Aku nggak galak. Pokoknya aku sayang daddy!
Ar: Sayang kamu juga.
Sugarbaby: Daddy Ar! Nama panjang daddy siapa?
Ar: Rahasia.
Sugarbaby: Ayolah, dad! Masa harus dirahasiain?
"Ternyata dia Kiara yang ini, ya," gumam Argan. Argan melihat kembali isi folder yang lain
To be continued
__ADS_1
Halo! Like dan vote untuk mendukung author agar semangat update, ya! Jangan lupa tinggalkan komentar juga.