Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Dua


__ADS_3

Argan membereskan berkas-berkas pentingnya. Ia beranjak dari kursinya dan membuang remasan kertasnya ke tempat sampah. Secara tak sengaja, matanya tertuju pada sebuah foto. Dia mengambilnya. Dia tersenyum hampa. Foto itu menunjukkan sepasang kekasih dan seorang balita. Argan, Jenna, dan Arsen.


"Jenna, aku harap kamu baik-baik aja di atas sana." Argan menghela napas panjang. "Belum ada perempuan yang pantas menggantikanmu, Jen," gumam Argan.


Tatapan Argan sendu. Meskipun istrinya sudah meninggal dua belas yang tahun lalu, ia tetap merindukannya.


Tok tok tok.


Argan segera meletakkan kembali foto tersebut. "Masuk."


Pintu terbuka, sosok pria berjas hitam masuk ke ruangan Argan. Argan sedikit terkejut dengan kehadirannya.


"Argan, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" tanya pria itu.


"Evan? Dari mana saja kamu, kamu sudah hilang kabar selama sebulan." Argan menepuk bahu Evan. "Apa kabar?" tanya Argan.


"Sangat baik. Gimana kabarmu?"


"Baik juga. Seperti biasa, tidak ada penghangat dalam hidupku."


"Wanita banyak di luar sana. Kamu cukup cari satu saja untuk penghangat hidupmu," ucap Evan.


"Sudah beberapa kali ku coba, tapi tetap tidak ada yang cocok."


Evan berpikir sejenak. "Pantas saja. Kamu sudah tua."


Argan menatap Evan sinis. Evan terkekeh, lalu berpikir sejenak. "Coba jangan cari yang seumuranmu. Cari saja yang lebih muda."


"Boleh juga. Aku belum mencobanya," sahut Argan.


"Bagaimana kalau kamu kukenalkan dengan anakku? Aku tau kamu pria baik. Jadi, aku percaya padamu."


"Berapa umur anakmu?" tanya Argan.


"Sepertinya sembilan belas," jawab Evan.


Argan menendang kaki Evan. "Kalau begitu, anakmu cocok dengan anakku, bukan aku."


Evan meringis kesakitan. "Akh! Iya, terserah kamu, bisa kamu jodohkan saja dengan anakmu."


"Ya sudah. Siapa namanya?" Argan bertanya lagi.


"Kiara."


...----------------...


"Bosen banget, enaknya ngapain, ya?" gumam Kiara. Ia membuka laman akun sosial medianya. "Wah udah ribuan like-nya! Posting lagi, ah!"


Kiara memotret dirinya di cermin meja riasnya. Cukup satu kali jepretan, ia langsung mengunggahnya di akunnya.


Komentar-komentar positif membanjiri postingan fotonya. Saat asyik membaca komentar, ada panggilan masuk dari sahabatnya, Manda.


"Kita jalan-jalan yuk bareng Dira juga. Gue bosen di rumah aja."


"Oke, aku siap-siap dulu."

__ADS_1


"Bentar lagi gue jemput."


Kiara mematikan teleponnya. Dia bergegas memilih-milih baju yang akan dipakai. Kiara pun akhirnya memilih croptop putih dengan outer kemeja hitam dan celana jeans.


Setelah selesai, Kiara keluar dari kamarnya, menemui papa dan mamanya.


"Mama, papa, aku mau keluar sama temen," pamit Kiara.


"Hati-hati, ya," sahut Elena, mama Kiara


"Nanti pulangnya jangan malem-malem," sahut Evan.


"Iya!" Kiara berlari ke arah mobil Manda yang sudah berada di depan rumahnya. Ia masuk dan duduk manis di kursi depan. Ia memasang seatbelt-nya.


Manda menginjak pedal gas. Mereka sampai di mall sekitar sepuluh menit. Manda mermarkirkan mobilnya. Mereka bertiga turun dan menuju ke dalam mall. Mereka berbelanja sepuas hati, hingga menjelang sore.


"Ini cocok gak sama aku?" tanya Kiara yang sedang memakai gaun elegan berwarna putih.


"Cocok, bagus banget gila! Lo jadi kayak istrinya CEO," jawab Dira.


Kiara tertawa. "Masa sih? Coba kamu yang pakai."


Dira melotot, ia menggeleng. "Gak, gak. Gue anti sama dress begitu!"


"Gue mau ke toilet dulu," ujar Manda yang berada di luar kamar ganti.


Kiara melepaskan gaunnya. Ia memakai kembali bajunya yang tadi. Sudah sekitar sepuluh menit Kiara dan Dira mengelilingi toko pakaian dan bolak-balik ke kamar ganti.


"Omong-omong, Manda kok lama? Tadi katanya mau ke toilet," Kiara bertanya.


Kiara keluar dari toko pakaian dan menuju ke toilet terdekat dari toko pakaian tersebut.


Di koridor menuju toilet, Kiara terdiam di tempat. Di depannya terdapat dua orang yang tidak asing, Manda dan Argan. Mereka sedang berbicara empat mata.


"Om Argan? Manda?" panggil Kiara


Mereka berdua tampak terkejut saat Kiara memanggil mereka. "Om sama Manda lagi ngapain?"


"Kami gak ngapa-ngapain, cuma ngomong aja," jawab Manda.


"Kamu kenal om Argan?" tanya Kiara kembali.


"Kenal. Om Argan itu temennya bundaku."


"Oh, gitu." Kiara mengangguk-angguk paham.


"Ya sudah, Manda. Saya pergi dulu," pamit Argan. "Kamu ikut saya."


"Saya? Kenapa, om?" tanya Kiara heran.


"Jangan banyak tanya, ikut aja." Argan melangkahkan kaki menjauh dari Kiara dan Manda.


Kiara memanyunkan bibirnya cemberut. "Nda, itu Dira masih ada di toko, jangan ditinggal, ya!" ingat Kiara. Kiara berjalan mengikuti Argan dari belakang.


"Yoi," balas Manda.

__ADS_1


"Saya ada salah, om?" Kiara bertanya.


Argan berhenti berjalan, otomatis Kiara pun ikut berhenti. Argan menarik tangan Kiara agar berjalan di sampingnya.


"Ah, om, pelan-pelan nariknya," ringis Kiara.


"Ada," ucap Argan menjawab.


"Salah saya apa, om? Saya nindihin ayam? Atau apa?"


Argan hanya diam. Argan kembali berjalan menuju parkiran. Kiara membuntutinya. Argan memasuki mobilnya, Kiara pun ikut masuk dan duduk di depan.


"Kita bicarakan ini nanti saja."


...----------------...


Mobil Argan sampai di rumahnya. Argan dan Kiara turun dan masuk ke rumah Argan. Sepi, tak ada pelayan, hanya ada bodyguard.


"Arsen-nya ada di rumah?" tanya Kiara.


"Gak ada."


"Terus aku kenapa dibawa ke sini?"


"Aku?" tanya Argan memastikan bahwa yang didengarnya benar-benar kata 'aku'.


Kiara salah tingkah. "Eh, maksudnya, saya."


"Jangan bicara formal," ujar Argan


Kiara hanya tersenyum. Dia merasa canggung, tak tahu harus bagaimana.


Kiara hendak duduk di sofa, tetapi ia di tahan oleh Argan. Argan menarik tubuh Kiara hingga menempel dengan tubuhnya.


"Om?"


Persis dengan apa yang dilakukan Kiara sebelumnya dengan Arsen. Jarak kedua wajah mereka dekat. Kiara merasakan deru napas Argan. Mata mereka saling terpaku pada keduanya.


Tak tahan lagi, Argan menempelkan bibirnya dengan bibir Kiara. Argan sudah sangat gemas dengan bibir mungil merah muda milik Kiara. Mata Argan terpejam, menikmati ciumannya.


Kiara syok pada saat itu juga, ia mendorong Argan. Namun, tangan Argan menahan tubuh Kiara dengan kuat. Argan memegang tengkuk Kiara dan memperdalam ciumannya, Kiara memukul-mukul dada Argan karena kehabisan napas. Argan melepaskan bibirnya dari bibir Kiara.


"Maaf," ujar Argan. Ia melepaskan pegangannya pada pinggang Kiara. Kiara terduduk lemah.


"Kita gak seharusnya ngelakuin ini, om," Kiara menunduk. Detak jantungnya tidak karuan. Ini ciuman pertamanya. Namun, malah dicuri oleh om-om duda.


Argan berjongkok menghadap Kiara. "Saya minta maaf, Kiara."


Kiara menggelengkan kepalanya. "Minta maaf aja gak cukup om,"


Argan menatap Kiara dengan tatapan serius. Apakah permintaan maaf tidak cukup baginya?


"Gimana kalau kita sekalian pacaran aja, om?" lanjut Kiara.


To be continued

__ADS_1


Halo, jangan lupa like+vote yaa hehe. Oh iya, tinggalkan jejak dengan berkomentar juga ya!


__ADS_2