Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Enam


__ADS_3

Kiara menoleh ke belakang untuk melihat apakah Argan masih ada di sana. Tidak, sekarang Argan berada di belakangnya.


"Aaa!" teriak Kiara.


"Kenapa kamu seperti melihat hantu?"


Kiara tersenyum canggung. "Maaf, om. Aku mau pulang dulu," pamitnya. Kiara berjalan cepat untuk menghindari Argan.


Lengannya tertahan, Kiara menoleh. "Ke ... kenapa lagi, om?"


"Saya anterin. Kamu tadi habis dikejar anjing juga, kan?"


"Loh, om kok tau?" Argan menarik sudut bibirnya ke atas.


"Jangan-jangan om yang nolong Kiara tadi?"


"Bukan."


Kiara mengingat-ingat kembali. "Bohong. Suara sama baunya aja sama!"


"Baunya?"


"Iya! Om keramas pakai sampo menthol, kan?"


"Takut sama anjing, tapi indra penciumannya tajam sama seperti anjing." Argan terkekeh.


Kiara kesal dikatai mirip anjing, ia memajukan bibirnya beberapa senti. "Ini termasuk ngehina loh, om!"


Argan mengacak-acak rambut Kiara. "Ayo saya anter pulang. Anggap ini sebagai permintaan maaf saya."


Bentar, kenapa om Argan ngacak-acak rambutku?


Kiara terdiam ketika punggung Argan menjauh menuju mobilnya.


"Ayo. Kenapa diam saja?"


Kiara tersadar dan berjalan menuju mobil Argan. "Om enggak usah nganter Kiara. Habis ini Kiara dijemput papa kok."


"Jangan bohong."


"Beneran papaku mau jemput, om."


"Papa kamu lembur."


Kiara mendelikkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa orang yang ada dihadapannya ini mengetahui segalanya?


"Sudah. Ayo."


Mau tidak mau, Kiara membuka pintu mobil belakang dan masuk. Selama perjalanan ke rumahnya, dia hanya diam melihati jalanan.


Seakan-akan petir menyambarnya, Kiara mengingat sesuatu. "Oh, iya. Aku belum kasih tau alamatku ke om."


"Jalan xxx nomor ...." Kiara menghentikan omongannya. Mobil Argan sudah melewati rumah yang sangat dia kenal, rumah Dira.


"Enam puluh delapan," lanjut Argan.


"Kenapa om tau semuanya sih? Om cenayang, ya?"


Kiara baru ingat bahwa dia adalah teman papanya, Evan. Kiara menghembuskan napas berat. Sampai di depan rumah Kiara. Kiara keluar dari mobil.


Kiara mengetuk kaca jendela mobil Argan. Argan membuka kaca mobilnya. "Om beneran temennya papa?" tanya Kiara dari luar mobil.


"Iya. Jangan lupa pakai ini, Kiara." Argan menyodorkan totebag yang penuh dengan sunblock.


"Apa ini om?"


"Sunblock. Saya gak suka liat kulit kamu terbakar matahari."


"Makasih banyak, om Argan."


Lagi-lagi Raina membuka pintu rumah, padahal Kiara tidak mengetuknya. "Dianter siapa dek?" tanyanya seraya mendekat ke arah Kiara.

__ADS_1


"Om ...."


"Arganta Hajoxe," jawab Argan


"Jangan bilang mama kak!"


"Pasti. Maksudnya pasti gua bilangin!" Raina tertawa. "Saya Raina, kakak Kiara yang cuma beda satu tahun."


Kiara mendekatkan bibirnya ke telingan Raina. "Kakak ngapain? Ini papanya temen aku, bukan pacarku."


"Ya, kali aja mau sama kakak," bisik Raina.


"Seleranya bukan kayak kita, kak. Seleranya cewek umur dewasa."


"Masa? Kita, kan udah dewasa?"


"Dewasanya kayak sekitar 25-an gitu," bisik Kiara.


"Saya masih bisa denger."


Kiara dan Raina menjadi salah tingkah dan canggung. "Saya pulang dulu," pamitnya. Mobil Argan pun menjauh dari mereka.


Raina memukul bahu Kiara. "Makanya jangan keras-keras ngomongnya dek!"


"Aduh! Udah pelan banget itu."


"By the way, itu apaan yang lo pegang?"


"Sunblock. Baru aja dikasih om Argan."


Kiara berjalan ke dalam rumah meninggalkan Raina di halaman depan.


Kiara langsung berlari ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya. Tas dan totebag itu ia taruh di atas mejanya dan ia terduduk di ranjangnya.


"Kalau gini caranya, aku tulus maafin om Argan dari kejadian itu." Kiara membaringkan tubuhnya, pipinya menjadi merah merona. "Dan juga, om Argan makin ganteng."


...----------------...


Kiara sibuk memainkan ponselnya. Jarinya tak berhenti mengetik.


Argan: Saya sibuk, jangan ganggu saya.


Kiara: Tapi udah disimpen, kan, om?


Argan: Belum.


Kiara: Ya udah. Jangan lupa nanti disimpen, ya, om.


Kiara mendengus kesal.


"Lo kenapa, Ki?" tanya Manda.


"Enggak apa-apa."


Pintu kelas terbuka. "Gue beliin ini tadi, bener, kan?"


"Ah, iya. Makasih, Sen." Kiara mengambil roti telur pesanannya dan melahapnya.


Dira melirik Arsen. "Punya kita mana?"


"Beli sendiri."


"Yah, kok gitu," keluh Dira


Senyum Arsen mengembang. "Nih." Arsen memberikan dua bungkus roti telur.


"Thanks! Nih rotinya, Nda."


"Kok roti telur? Gue, kan udah bilang mau batagor."


"Maaf, gue gak denger," ujar Arsen.

__ADS_1


"Gua aja yang beliin." Zean berdiri dan berjalan ke luar kelas.


Glen berdehem. "Ekhm. Pacar barunya sweet nih."


"Kebetulan aja itu mah. Dia tadi bilang mau ke kantin juga, kan, Dir?" Amanda menatap Dira seakan-akan memaksa Dira menjawab ya.


"I ... iya. Betul!"


Ting!


Manda mengecek ponselnya. Dia langsung pergi ke luar kelas tanpa sepatah kata keluar darinya.


"Woi, Nda. Mau ke mana?" teriak Dira.


"Bentar, gue dipanggil ke kantin sama Zean."


"Mau ngapain?"


"Gak tau. Gue duluan, ya. Nanti gue beliin lo batagor juga deh."


Sepuluh menit berlalu. Setelah selesai memakan roti telurnya, Kiara menyadari sesuatu. Ia meraba-raba bagian luar tasnya. Di mana gantungan pandaku?


Yap, Kiara sedang mencari gantungan tasnya pandanya. Kiara sungguh ceroboh dalam menjaga barang. Dia saja pernah kehilangan baju yang harganya setara dengan uang bulanannya selama tujuh bulan.


Kiara pasrah dengan hilangannya gantungannya. "Aku ke toilet dulu."


"Mau ditemenin?" tawar Dira.


"Enggak usah, Dir. Makasih."


Kiara meninggalkan kelas. Baginya, tidak masalah jika gantungan tasnya menghilang. Hanya saja karena itu pemberian Arsen saat dia masih kecil.


"Kiara, kamu mau panda?" tanya Arsen


"Panda? Mana pandanya?"


"Ini dia! Panda kecil," ujar Arsen sembari memberikan gantungan panda


"Kok kecil. Aku kila becal."


"Gak apa-apa. Panda kecil lebih lucu kok."


"Aku nggak pelcaya."


Arsen memencet hidung gantungan panda itu, gantungan itu berubah warna menjadi biru muda.


"Gimana?"


"Lucu banget. Kayak kamu."


Arsen hanya tersenyum untuk menanggapi pujian tersebut.


Kiara berjalan menuju toilet sepi terdekatnya. Dia mencuci tangannya, lalu bercermin.


"Nggak apa-apa, kan kalau hilang? Semoga aja Arsen lupa sama gantungan itu."


"Ah, faster, babe!"


Samar-sama Kiara mendengar suara itu. Kiara mengalihkan pandangannya dari cermin dan mengintip satu per satu pintu yang tertutup.


Suaranya semakin jelas di pintu paling pojok. Kiara mengintipnya, tetapi tidak jelas wajahnya.


Kiara sudah berpikiran buruk sejak awal. Namun, ini benar-benar tidak mungkin dilakukan di siang bolong seperti ini.


"Ah, ah!"


Semakin keras suaranya. Kiara mengetuk pintunya. "Kak?"


Tak ada jawaban apapun. Wanita yang berada di dalam toilet masih sibuk menimbulkan suara *******.


Darah Kiara sudah mendidih. Dia mendobrak pintunya. Menemukan seorang pria dan wanita sedang berhubungan intim.

__ADS_1


To be continued


Jangan lupa like dan vote. Komentar juga yaa untuk meninggalkan jejak.


__ADS_2