
Alarm berdering. Kiara terperanjat. Jam sudah menunjukkan pukul enam. Tirai jendelanya terbuka, matahari menyilaukan matanya. Dia meregangkan kedua lengannya.
"Wah, ternyata aku bisa bangun pagi lagi!"
Hari ini Kiara akan nekat masuk kembali ke sekolah, meskipun Dira dan Arsen melarangnya masuk, termasuk Argan.
Kiara mandi dan bersiap-siap. Pagi ini suasananya sepi, karena Raina sudah kembali ke luar kota untuk kuliah. Biasanya, Raina yang membangunkannya sambil mengomel-ngomel.
Seusai bersiap-siap. Kiara mengambil ranselnya dan meninggalkan kamar. Kiara sengaja akan pergi ke sekolah diam-diam. Karena jika tidak, mamanya mungkin akan melarangnya juga.
Beruntung tidak ada Evan. Evan lembur, sebab itu dia masih berada di kantornya. Jika di rumah ada Evan, maka dia akan berpatroli mengelilingi rumah layaknya seorang polisi.
Kiara berjalan kaki menuju ke sekolahnya. Memang lumayan jauh, dan Kiara tidak terbiasa. Namun, Kiara bosan berada di rumahnya setiap hari.
Kiara setia memainkan ponselnya saat berjalan. Dia hanya ingin menikmati alam tanpa berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Kemarin malam hujan deras, karena itu pohon dan tumbuhan lain beraroma segar.
Setelah setengah jam, Kiara baru sampai di gerbang sekolahnya. Semua mata tertuju pada Kiara. Tentu saja, siapa yang tidak tahu tentang kejadian itu? Kiara saja berjanji, jika ada seseorang di sekolah itu yang tidak tahu, maka Kiara akan buru-buru menikahinya, hehe.
"Pagi, Kak Kiara!" sapa adik kelas yang tiba-tiba menjadi ramah.
Kiara hanya menanggapinya dengan senyum. Dia melangkahkan kaki masuk ke kelasnya.
"Kiara? Lo masih sakit, kenapa masuk?" Arsen bertanya seraya mendekati Kiara.
"Aku udah nggak sakit kok. Aku juga bosen ada di rumah mulu."
"Mending jangan masuk hari ini," saran Dira.
"Kenapa?"
Dira menunjuk ke arah luar menggunakan dagunya. Kiara menoleh. Empat orang laki-laki sedang tertawa-tawa seraya mengobrol di bangku panjang taman, salah satunya adalah Josep.
"Soalnya diskors-nya besok."
Kiara membelalakkan matanya. "Berapa lama diskros-nya?"
"Kayaknya tiga bulan, tapi gue nggak tau juga."
"Terlalu berat hukumannya buat Josep, mungkin?"
"Enggak lah. Dia aja gak mikirin lo, terus kenapa lo mikirin dia?"
"Dira," panggil Arsen menyadarkan Dira. Dira terdiam sesaat. Dia bersalah karena memarahi Kiara.
"Maaf, Kiara. Gue cuma ...."
"Nggak apa-apa, Dira. Kamu bener kok." Kiara duduk di kursinya yang berada di belakang bangku Dira.
"Omong-omong, di mana Manda?"
"Hari ini Manda nggak masuk. Dia kayaknya ngehindar dari gue juga," kata Dira.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu bahwa Manda juga ikut dalam perkara itu. Cara mereka semua mengetahui kejadian itu pun juga tidak ada yang tahu, kemungkinan besarnya adalah gosip.
Karena sewaktu Josep dan Kiara berpacaran, satu sekolah heboh. Josep dan Kiara dicap sebagai couple goals.
Satu-satunya yang tahu hanya Arsen.
"Ra, kalau lo ngerasa nggak enak badan bilang ke gue, ya," Arsen mendudukkan dirinya di samping Kiara, "gue takut lo kenapa-napa."
"Jangan khawatir, aku nggak apa-apa! Aku cuma takut nggak lulus lagi karena selalu nggak ikut pelajaran."
"Gue jadi inget, gue dulu sengajain nggak lulus biar masih ada di deket lo."
"Iya, emang terbaik deh kamu!"
"Terbaik apanya, gara-gara sengajain nggak lulus gue digeprek sama mama gue,"
"Sekarang kok masih utuh? Dulu juga kok nggak sekalian dimakan sama mama kamu?"
"Ya kali. Mama gue masih berbaik hati."
Arsen terkekeh untuk sesaat, mengingat mamanya juga begitu waktu dia kecil.
"Mama, tadi Alsen dapet pelingkat satu loh!" seru Arsen dengan bangga.
"Wah, tumben banget. Biasanya peringkat terakhir dari delapan puluh lima murid."
"Iya, dong! Arsen, kan pintel."
"Coba sini mama lihat rapor-nya"
"Kamu beneran peringkat satu, Ar?"
"Iya loh, ma. Katanya bu gulu tadi Alsen pelingkat satu dali telakhil."
"Sini kamu! Makanya jangan main terus, belajar!" Arsen melarikan diri, Jenna mengejarnya.
Bel masuk berdering keras. Para murid langsung berlari masuk ke kelas dan sigap duduk di kursinya masing-masing.
"Kalau nanti malem lo ada waktu senggang, ayo kita ke klub," bisik Dira.
"K--klub? Ngapain?"
"Ya cuci mata, lah. Kita, kan udah cukup umur juga."
...----------------...
Sudah jam delapan malam. Kiara memilih-milih dress yang akan ia pakai seraya menelepon Dira.
"Aku nggak punya baju seksi, Dir! Lagian kenapa aneh-aneh sih," gerutu Kiara.
"Lo nggak penasaran isinya klub malem gimana?"
__ADS_1
"Ya, enggak. Pasti isinya tuh dosa semua."
"Ya, iya sih. Tapi apa salahnya ke sana?"
"Salah! Salah besar! Pasti pulangnya aku diamukin mama sama papa,"
"Mama lo, kan pergi? Dan papa lo lembur."
"Oh, iya juga. Tapi aku nggak punya baju bagus,"
"Gue beliin buat lo. Ini kebetulan gue lagi ada di mall,"
"Oke, siap!" Kiara mematikan teleponnya. Dia ingin bersantai dahulu dengan menonton drama kesukaannya.
Pukul sembilan malam, Dira baru saja sampai. Dia memasuki kamar Kiara. Kiara tertidur pulas dengan layar televisi yang masih menyala.
"Kir, Kiara!"
Kiara bangun, ia mengucek matanya. Dira mengeluarkan isi paperbag-nya, beberapa dress seksi mencolok.
"Cobain bajunya nih."
Setelah lama mencoba-coba dress itu, akhirnya Kiara menemukan yang cocok. Gaun pendek berwarna merah yang menunjukkan setiap lekuk tubuh Kiara. Dan itu gaun yang terwaras.
Dira memakai gaun pendek berwarna hitam yang menunjukkan lebih detail setiap lekukan tubuh Dira. Mungkin karena warnanya hitam lekukannya tidak terlalu kelihatan.
"Aku paling males kalau disuruh pakai beginian," keluh Kiara. Dira memakaikan Kiara jaket untuk menutupi lekukan tubuhnya.
Sesampainya di klub malam, Dira dan Kiara langsung duduk di kursi bar. Dira meminta segelas wine kepada bartendernya.
"Lo mau apa?" tanyanya pada Kiara.
"Susu cokelat ada nggak?" tanya Kiara yang masih setia memakai jaketnya.
Dira menginjak pelan kaki Kiara dengan sepatu hak tingginya. "Ya, nggak ada lah. Namanya juga klub."
Kiara meringis pelan. "Iya, iya. Aku nggak mau apa-apa."
Bartender itu memberikan segelas wine pada Dira. Dira meneguknya hingga habis.
Ada seorang pria yang duduk di samping Dira. Dia mengajak Dira mengobrol. Dira menanggapinya dengan baik. Tiba-tiba Dira berdiri dan mengikuti pria itu, entah ke mana.
"Dir, jangan tinggalin aku," tahan Kiara.
"Bentar aja kok. Nanti gue kenalin lo ke temen gue."
Sekarang Kiara tampak seperti anak hilang di tempat itu. Kiara menoleh ke kanan dan kiri kebingungan.
Seorang pria menghampiri Kiara, dia duduk disampingnya. Kiara belum menyadarinya.
"Dua gelas Vodka," ucap pria itu pada bartender.
__ADS_1
To be continued
Jangan lupa like dan vote untuk mendukung author yaa! Tinggalkan jejak dengan berkomentar juga, oke?