Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Tiga


__ADS_3

"Gimana kalau kita sekalian pacaran aja, om?" Kiara mengangkat satu alisnya. Sebenarnya, air matanya sudah hampir jatuh, tetapi Kiara menahannya. Ia bercanda untuk lebih membantu menghambat air matanya.


Argan berdiri dari jongkoknya. "Saya nggak minat sama bocah."


Kiara memegang lengan Argan. "Nanti om jadi sugardaddy aja deh."


Argan menatap tajam Kiara. "Masih kecil, mikir sugardaddy."


"Pa, Arsen pulang!" ucap Arsen yang tiba-tiba sudah pulang. "Kiara? Kok di sini?" tanyanya. Kiara menghembuskan napas lega.


Kiara melirik Argan sekilas. "Aku tadi ke sini nyari kamu, hehe."


Argan lebih memilih untuk meninggalkan mereka dan menuju ke dalam kamarnya. Argan duduk di samping ranjangnya, ia merenung.


"Gadis itu berhasil membangkitkan nafsuku, aku tidak bisa menahannya lagi," gumam Argan.


"Tapi segila apa diriku sampai-sampai ingin memakai gadis SMA?"


Argan meratapi dirinya sendiri. Tak lama, ponselnya berdering. Ia pun mengangkatnya.


"Ar, Kiara belum pulang juga, bagaimana kalau nanti ditunda dulu?"


"Kiara berada di rumahku."


Evan terdiam sesaat, dia terpukau. "Bagaimana bisa? Kamu sudah kenal?"


"Sudah. Dia teman anakku."


"Wah, hebat. Langsung saja jadwalkan pertunanganmu dengan anakku!"


"Tidak, Van."


"Kenapa? Apa dia tidak cocok denganmu?"


Argan menarik napas berat. "Sepertinya begitu."


"Sayang sekali. Kalau dengan anakmu? Apa cocok?"


"Aku tidak tahu."


Argan mematikan teleponnya. Di sisi lain, Arsen dan Kiara sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Kiara masih teingat kejadian tadi, perasaannya menjadi aneh. Lebih baik dia pulang sekarang.


"Sen, anterin aku pulang,"


Arsen mendongakkan wajahnya. "Sekarang?"


"Enggak, satu abad lagi."


"Ya udah."


Kiara menggoyang-goyangkan lengan Arsen. "Ayolah, Sen. Aku mau pulang."


"Iya, iya." Arsen berdiri, ia mencomot kunci mobil papanya yang berada di meja. "Ayo," ajaknya. Kiara berjalan mengekor Arsen.


Argan keluar dari kamarnya. Dia melihat Arsen dan Kiara menuju ke luar. "Mau ke mana?" tanyanya pada mereka.


Langkah Arsen dan Kiara terhenti, mereka sama-sama menengok ke belakang. "Mau ngedate," jawab Arsen.


Kiara menoleh ke Arsen, ia memelototkan matanya pada Arsen. Arsen melirik Kiara, Arsen tersenyum jahil dan mengedipkan satu matanya.


Argan mengangguk pelan. "Ya udah, sana."


Kiara kembali menatap Argan. Kiara menundukkan badannya dan tersenyum kaku kepada Argan. "Saya duluan, om Argan."


Kiara berjalan sembari mendorong Arsen. Di luar rumah, Arsen tertawa keras.


"Awas kamu!" Kiara menginjak kaki Arsen.


Arsen mengernyih kesakitan. "Jahat banget sih lo. Padahal gue, kan cuma bercanda."


"Garing."

__ADS_1


"Lo pulang sendri, ya. Gue nggak bakalan anter lo."


Kiara melengkungkan sudut bibirnya ke bawah, memasang muka sedih.


"Udah jelek, tambah jelek," tawa Arsen.


Tetapi mata Kiara memang benar-benar berkaca-kaca. Dia merasa tidak aman dan tidak nyaman di sini. Arsen segera menyadarinya.


Tidak dapat membendungnya lagi, air mata Kiara berjatuhan membasahi pipinya. Arsen tertegun, ia menarik Kiara ke dalam pelukannya.


"Lo ada masalah apa?"


Kiara menggeleng. Dia tidak ingin menceritakannya.


Argan melihat semuanya dari balik jendela. Argan merasa bersalah, ia pun pergi menjauh dari mereka.


"Aku mau ... pulang," ujar Kiara sesenggukan. Arsen menuntun Kiara masuk ke dalam mobil Argan.


...----------------...


"Arsen, aku nggak mau pulang ke rumahku."


"Loh, ini udah deket sama rumah lo," sahut Arsen.


Kiara menggeleng. "Jangan,"


"Kenapa lo gak mau pulang ke rumah?"


"Aku ... takut dimarahin." Kiara menundukkan kepalanya.


"Dimarahin? Ada yang salah sama lo?"


Kiara hanya diam. Tentu saja, ia takut dimarahi karena pulang malam, ditambah matanya bengkak.


Arsen bertanya, "sekarang mau ke mana?"


Kiara sedang memikirkan tempat yang akan ia tinggali malam ini. "Rumah Dira aja."


"Gue nggak tau alamatnya."


Beruntung, rumah Dira satu arah dengan rumah Kiara. Rumah Dira dan Kiara hanya selisih enam rumah. Mobil Argan berhenti di depan rumah Dira, Kiara turun dari mobil.


Kaca jendela mobil terbuka. "Kalo masih kurang sehat, besok gak usah sekolah." Lalu mobil itu pun menjauh dari pandangan Kiara. Kiara mengetuk pintu rumah Dira.


Tok tok tok.


"Iya, sebentar!" Dira membuka pintu rumahnya. "Loh, Kiara? Ada apa?"


"Aku boleh nginep di rumah kamu dulu nggak?"


"Boleh. Ayo, masuk."


Kiara pun menuju ke dalam rumah Dira. Kiara dan Dira masuk ke kamar Dira. Kiara duduk di samping ranjang.


"Lo habis nangis?" Dira sadar dengan mata bengkak Kiara.


Kiara menggeleng. Namun, air matanya tidak bisa bekerja sama dengan Kiara. Air matanya turun kembali membasahi pipi Kiara. Dira duduk di samping Kiara.


"Lo kalau ada masalah cerita. Jangan di pendam sendiri, kebiasaan deh." Dira mengusap air mata Kiara.


Kiara tetap diam. Dia benar-benar tidak mau ada yang tahu hal ini selain dirinya dan Argan. Ini sudah menjadi bagian dari keburukannya.


"Kalau lo tetep gak mau cerita, gue maklumin juga sih. Semua orang juga punya masalah tertutupnya sendiri."


Kiara memeluk Dira. "Nangis aja dulu, sampai puas."


Malam ini hanya dipenuhi tangis kesedihan Kiara. Dia masih syok dengan papa Arsen. Entah kapan kesedihannya akan berakhir.


...----------------...


Kiara bangun dari tidurnya, ia melihat Dira berada di sampingnya sedang bermain ponsel.


"Jam berapa sekarang?" tanya Kiara.

__ADS_1


Dira menunjuk ke jam dindingnya dengan dagunya.


Kiara membelalakkan matanya. "Hah! Jam delapan? Nggak mati itu jamnya?"


"Enggak. Masih sehat kok," jawab Dira.


"Kamu nggak sekolah emangnya?"


"Gak. Gue males."


"Mataku bengkak banget nggak?" tanya Kiara yang memajukan wajahnya pada Dira.


"Banget. Lo kemarin kebanyakan meneteskan air kehidupan."


Kiara meraba-raba kelopak matanya. "Aish, gimana ngilanginnya?"


"Nanti juga ilang-ilang sendiri, pokoknya jangan nangis lagi aja," ujar Dira yang masih fokus ke ponselnya. "By the way, tadi mama lo nyariin ke sini."


"Terus, kamu bilang aku ada di sini?"


"Enggak."


Mata Kiara melotot, dia menjitak dahi Dira. "Akh! Apaan dah," ringis Dira.


"Kamu harusnya bilang aja kalau aku ada di sini! Aish, mati aku!" Kiara memegangi dahinya yang pusing memikirkan cara pulang agar tidak dimarahi.


"Bilang dong dari kemarin! Gue udah terlanjur bilang,"


"Aku harus gimana ini?" tanya Kiara cemas.


"Minta Arsen nganter aja, nanti lo tinggal bilang habis nginep di rumah Arsen."


"Tambah dimarahin lah, mana itu rumah cowok," tolak Kiara.


"Ya, enggak. Kan, kata lo, Arsen temen lo pas kecil. Pastinya orang tua lo udah kenal, lah!"


"Iya ... tapi mereka belum kenal Arsen."


"Ya udah, terus, gimana?"


"Eh, bentar. Kata Manda, papanya Arsen tuh temennya bundanya. Sedangkan, bundanya Manda tuh akrab sama mamaku. Harusnya mamaku tau tentang papanya Arsen," ujar Kiara.


"Kok bisa? Kan temennya bundanya Manda, kenapa mama lo bisa tau tentang papanya Arsen?"


"Ah, itu soalnya bundanya Manda suka ngenal-ngenalin temennya ke mamaku. Sampai pernah, aku hampir punya papa baru gara-gara mamaku kepincut sama kenalannya bundanya Manda."


Dira tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai matanya berkaca-kaca. Kiara tersenyum, akan tetapi ia teringat sesuatu, kejadian tadi malam.


"Eh, jangan papanya Arsen deh."


"Kenapa? Kan, papanya Arsen bisa nolong lo? Yaudah, gue teleponin Arsen dulu."


"Jangan!"


Terlambat, Arsen sudah menerima panggilan Dira.


"Sen, Kiara di rumah gue, dia takut pulang ke rumahnya, lo bisa tolongin dia gak?"


"Ya, caranya, lo suruh bapak lo ke rumah gue, nanti bapak lo biar nganterin Kiara pulang."


"Yaudah." Telepon ditutup oleh Dira.


"Gimana kata Arsen? Dia nggak bisa, kan?" tanya Kiara.


"Iya, gak bisa."


Kiara tersenyum puas. "Tapi nanti sepulang sekolah dia bisa," lanjut Dira.


Seketika itu Kiara memasang ekspresi murung. "Yah," keluh Kiara.


"Tunggu aja, jam satu sore nanti."


To be continued

__ADS_1


Halo, jangan lupa like+vote yaa hehe. Oh iya, tinggalkan jejak dengan berkomentar juga ya!


__ADS_2