Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Empat


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul satu sore. Kiara sedang sibuk memakan makan siangnya, begitu juga dengan Dira. Seusai makanannya habis, Kiara membantu Dira mencuci piring.


"Eh, iya, Ra,"


Kiara menatap Dira. "Apa?"


"Cokelat yang dikasih para cowo ke elo pas valentine masih ada gak?" tanya Dira.


"Lho, iya! Aku lupa, masih ada gak, ya di kulkas?"


"Kalau masih ada, gue minta dong. Akhir-akhir ini gue lagi ngidam permen cokelat banget,"


"Ngidam? Kamu hamil?"


"Buk ...."


"Hayo, sama siapa?" tanya Kiara memotong jawaban Dira.


Dira menoyor kepala Kiara. "Dengerin dulu, jangan asal motong aja! Gue gak hamil."


"Tangan kamu masih ada sabunnya!" histeris Kiara saat melihat di rambutnya terdapat busa sabun.


"Eh, iya. Maaf-maaf." Dira membilas tangannya dengan air mengalir. Dia pun membersihkan rambut Kiara.


"Gimana sih," gerutu Kiara.


"Ya, maaf atuh."


Kiara dan Dira lanjut menyelesaikan cuci piringnya kembali. Setelah selesai, mereka duduk santai di sofa ruang tamu Dira.


Dira melirik jam dinding. "Omong-omong, kenapa papanya Argan belum dateng, ya?" Dira bertanya heran.


"Nggak tau. Mungkin gak bisa ke sini."


Ponsel Dira bergetar, tertera nama Arsen. "Panjang umur." Dira mengangkatnya.


"Sorry, Dir. Papa gue nggak bisa."


"Oh gitu, ya udah,"


"Sorry banget, ya."


"Iya, gak apa-apa. Nanti gue pikirin ide lain. Gue tutup teleponnya, ya."


Telepon itu dimatikan oleh Dira.


"Gimana?" tanya Kiara penasaran.


"Papanya gak bisa. Kalau gitu, gue aja yang anter lo."


Kiara lega. Mungkin dia akan dimarahi setelah pulang. Namun, akan lebih buruk lagi jika dia bersama Argan.


"Ayo,"


"Eh, iya-iya. Ayo," Kiara menyahut.


Mereka berdua pergi dari rumah Dira dan menuju ke rumah Kiara dengan berjalan. Padahal lumayan jauh.


Saat sampai di depan rumahnya, Kiara sudah seperti mandi keringat. Sedangkan Dira tidak sama sekali.


"Kamu ... kok bisa sih nggak keringetan sama ... sekali?" Kiara bertanya dengan terengah-engah. Karena mereka bukannya berjalan tadi, malah beradu lari, dan Dira yang menang.


"Kurang dari 2 kilometer aja jaraknya, gue kebiasaan lari 10 kilometer," ucap Dira menyombongkan diri.


"Terus pas lomba kalah?" Kiara bertanya lagi sambil menahan tawanya.


"Ya, iya, sih. Harapan gue terlalu besar, seperti gue mengharapkan dia jadi milik gue."

__ADS_1


"Aku bilangin ke Glen, ya? Dari pada kamu berharap tanpa kepastian."


"Eh, jangan! Gue sambet lo."


Ceklek.


Kiara dan Dira menengok ke arah pintu rumah Kiara. Kiara terkesiap saat melihat kakaknya.


"Kak Rain kapan pulangnya? Kok aku nggak tau?" tanya Kiara


"Kemarin malem. Lu kenapa nggak pulang semalem?" tanya balik Raina. "Yang punya rumah udah ngamuk gegara elu kemarin."


"Eemm." Kiara bingung menjawabnya. Dia makin takut untuk masuk ke rumah


"Dia nginep di rumahnya Arsen," Dira menyahut.


Kiara dan Raina membelalakkan matanya ke arah Dira. "Eng ... enggak, kak! Aku nginep di rumahnya Dira!" bantah Kiara. Kiara menatap tajam Dira.


"Gue salah ngomong?" tanya Dira tanpa bersuara.


"Lu nginep di rumahnya cowok? Gua bilangin lu." Raina berbalik badan, hendak masuk kembali ke rumah. Kiara berlari menahan lengan Raina.


"Jangan, kak!"


"Telat." Raina menarik lengannya, ia masuk ke dalam rumah. Kiara mengikuti kakaknya, meninggalkan Dira di depan. Mamanya sudah menyambutnya duluan.


"Habis nginep di mana kamu semalam, Kiara?" Elena bertanya seperti sedang menginterogasi Kiara.


"A ... anu, di rumahnya Dira."


"Nggak, ma. Kiara nginep di rumahnya Arsen," sahut Raina. Kiara menyenggol siku kakaknya.


"Bagus. Nanti mama beliin kamu testpack," ujar Elena sembari meninggalkan mereka berdua.


Kiara menatap tajam kakaknya. Raina tersenyum usil. "Habis ini punya keponakan nih gua."


Kiara mengejar mamanya. "Bukan gitu, ma! Aku jelasin dulu!"


"Masa? Tadi Dira kok bilang kamu nggak ada di sana?"


Kiara semakin susah untuk menjelaskan. "Ya, pokoknya aku nginep di rumahnya Dira tadi ma, soalnya kemarin aku dianterin Arsen ...."


Kiara tak melanjutkan kata-katanya. Rangkaian ceritanya semakin rumit.


"Arsen siapa? Anaknya Argan?"


Dugaan Kiara benar. Bundanya Manda telah memperkenalkan Argan kepada mamanya.


"Mama kenal om Argan?"


"Ya, kenal lah. Om Argan itu sahabatnya papa sejak SMP."


"Hah! Sahabatnya papa?" Kiara terkejut bukan main. Dugaan Kiara sebelumnya salah. Karena dulu sewaktu kecil dan sampai sekarang, ia tidak pernah melihat interaksi keakraban antara papanya dan papa Arsen.


"Papa nikah muda sama mama?"


"Iya. Malah satu tahun sebelum nikahannya om Argan. Buktinya, sekarang umur kamu sembilan belas, umurnya papamu tiga puluh lima, sama kayak om Argan."


"Oh, iya. Arsen masih umur delapan belas."


Kiara kembali bertanya. "Kok bisa? Kak Raina anak di luar nikah?


"Bisa dibilang begitu."


Kiara tak menyangka sama sekali akan diberi kejutan rahasia oleh mamanya.


"Udah sana, nanti mama beliin testpack di apotek," usir Elena.

__ADS_1


"Kiara nggak ngapa-ngapain sama Arsen, ma."


"Bahkan mama tadi gak bilang kalau kamu ngapa-ngapain sama Arsen."


"Ish, mama,"


Elena tak menanggapi lagi. Ia membaringkan tubuhnya di sofa.


Kiara kembali ke luar menghampiri Dira.


"Gimana?" tanya Dira.


"Nggak tau sih. Dibilang gagal juga enggak, dibilang berhasil juga enggak."


"Lah, ya udah, katanya mau ngasih cokelat?"


"Oh, iya!" Kiara berlari masuk ke rumah. Mengambil cokelat di kulkasnya dan kembali ke Dira.


"Ini. Sisanya udah hilang, mungkin kak Raina yang makan." Kiara memberikan tiga permen cokelat pada Dira.


"Makasih." Dira segera membuka bungkus salah satu permen cokelat dan melahapnya. "Oh, iya. Katanya lo suka cokelat, gak mau ini?"


"Enggak deh. Aku lagi males, pengennya cuma liatin cowok ganteng."


"Emangnya bisa kenyang liatin cowok?"


Kiara menggeleng. "Tapi aku mau liatin cowok."


"Noh, liatin noh." Dira menunjuk tetangga Kiara yang sedang duduk-duduk di teras rumah.


"Gak mau. Maunya yang brewokan."


"Kalau gitu, incer aja bapaknya Arsen!"


"Kamu tau dari mana om Argan brewokan?"


To be continued


...Visual...


Kiara Deliecia Vedoure


Ceria, sifatnya kekanak-kanakan. Berparas cantik dan imut. Kiara juga cewek yang populer di sekolah.



Arganta Hajoxe


Pria duda yang memiliki anak satu. Argan mempunyai nafsu yang cukup tinggi. Namun, hanya wanita tertentu yang bisa membangkitkan nafsunya.



Arsenio Hajoxe


Anak dari Argan. Arsen peduli dengan sahabatnya dan keluarganya walaupun tidak ia tunjukkan secara langsung.



Nadira Chaenie Agatha


Cewek yang ceria juga, tetapi sifatnya dewasa, tidak seperti Kiara. Dira merupakan sahabat yang paling dekat dengan Kiara, bahkan sampai menganggap Kiara sebagai adiknya karena sifat kekanak-kanakannya itu.



Amanda Leviona Zevora


Sama seperti Dira, memiliki sifat dewasa. Hobinya belanja dan Manda selalu memperhatikan penampilannya. Manda menganggap Kiara sebagai adiknya juga.

__ADS_1



Like dan vote untuk mendukung author, yaa. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan berkomentar jugaa. See u next episode!


__ADS_2