Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Delapan


__ADS_3

Sore ini Kiara sudah pulang ke rumahnya, dan Arsen pergi bersama teman-temannya entah ke mana.


Argan masih berada di ruang kerjanya. Dia mengerjakan pekerjaannya. Ponselnya berdering, Argan mengangkatnya.


"Bos, apa saya sudah boleh mengantarkan informasinya ke rumah?"


"Ya. Pastikan Arsen tidak berpapasan denganmu."


"Baik."


Telepon itu dimatikan sepihak. Argan kembali fokus ke laptopnya. Sekitar dua puluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


Tok tok tok.


"Masuk."


Lio memasuki ruang kerja Argan dengan membawa map. "Ini informasinya, Bos." Map itu ia berikan pada Argan.


Argan membuka map itu. Dia membacanya dengan seksama.


Keluarga Gananta ada empat orang yang merupakan ibu Josep, ayah Josep, adiknya, dan Josep itu sendiri. Keluarganya Josep cukup mapan. Andre, ayahnya Josep, mempunyai rumah sakit bernama 'Seha Hospital'. Adiknya Josep, Joanna, adalah anak kelas 9 SMP yang nilainya sangat jauh di bawah rata-rata.


Sedangkan Josep adalah seorang pria brengsek yang selalu mabuk-mabukan, pergi ke klub, berganti-ganti pasangan, bahkan pernah membunuh orang, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


Seusai membaca, Argan menyeringai tipis. "Beli 90% saham mereka," perintahnya.


Lio mendelikkan matanya. "Bukankah nanti nereka malah bertambah kaya?"


"Aku ingin mereka menikmati sisa umurnya yang sudah tidak lama lagi. Dan kau, jangan banyak protes!"


"B--baik, Bos. Saya kembali ke kantor dulu," pamitnya.


"Tunggu." Lio berbalik badan. "Iya, Bos?"


"Kau yang mengelola rumah sakitnya."


"Saya? Apa saya tidak salah dengar?"


"Tidak."


"Terima kasih, karena anda telah mempercayai saya, Bos." Lio bersujud syukur kepada Argan.


"Berdiri, dan cepat ke luar dari sini."


"Saya pamit," Lio pun ke luar dari ruang kerja Argan. Lio adalah asisten kepercayaan Argan. Dia bekerja untuk Argan bukan hanya setahun, tetapi sudah lebih dari 10 tahun. Hanya saja, Lio 3 tahun lebih tua dibanding Argan.


Argan mengambil ponselnya, membuka percakapan pesannya bersama Kiara. Argan mengetikkan sebuah pesan.


Argan: Sudah membaik?


Kiara: Iyap. Makasih tadi udah nemenin aku ngobrol, om.


Argan: Tidak masalah. Get well soon, Kiara.


Kiara: Makasih banyak, om!

__ADS_1


Argan menarik ke atas kedua sudut bibirnya. Gadis ini seperti mengingatkannya pada seseorang.


...----------------...


Sudah seminggu sejak kejadian Kiara dengan Josep. Sejak itu, Kiara tidak pernah masuk sekolah. Dan juga, Manda tidak pernah menghubungi Kiara lagi.


Ceklek.


"Kiara," panggil Dira.


Kiara menengok ke arah pintu dan bangkit dari tempat tidurnya.


"Aku siap belajar sama bu guru Dira!" seru Kiara.


Dira mengukir senyumannya. Semakin hari, Kiara semakin membaik. Bahkan Kiara sudah bisa tersenyum cerah kembali.


"Hari ini ada tugas apa, Dir?" Kiara bertanya seraya mengambil bukunya.


"Enggak ada."


"Berarti kamu ke sini bukan buat ngajarin aku? Memangnya mau ngapain?"


"Ya elah, emangnya gue gak boleh ke sini, ya? Padahal gue mau ngajak nonton film."


"Boleh. Boleh banget malahan. Ya udah, ayo nonton film aja."


"Ayo. Film genre romantis ya!" Dira mendudukkan dirinya di sofa. Kiara menyalakan televisinya, menekan ikon Petflix.


Dira menyaut remot yang dipegang Kiara. Dira menekan film erotis.


"Heh! Nadira! Dosa loh," omel Kiara. Kiara merebut remotnya.


Dira tertawa terpingkal-pingkal. Otak Dira memang agak mesum. Kiara menyerang Dira dengan tatapan tajamnya.


Tek, tek!


Suara ketukan dari luar jendela Kiara mengelegar. Kiara dan Dira menoleh.


"Heh, heh! Itu Arsen, cepet matiin televisinya!" panik Dira sembari mencari keberadaan remot.


"Buka, Ra! Pintu rumah lo dikunci!" teriak samar-samar Arsen.


Sekuat tenaga Dira menekan tombol remot. Namun, tetap tidak berhasil. Kiara ikutan panik, dia menutup tirai jendelanya.


"Kamu ngajak Arsen ke sini?" tanya Kiara cemas.


"Iya! Gue ngajak Arsen nonton bareng di rumah lo. Ini gimana matiinnya?"


Setelah berkali-kali memencet tombol itu, akhirnya kembali ke beranda Petflix. Kiara menyampingkan tirainya dan membuka jendelanya.


"Lama banget lo buka jendelanya," gerutu Arsen. "Emangnya lagi ngapain sama Dira?"


Pertanyaan itu membuat keringat Dira berjatuhan. Kiara dan Dira mencengir seperti kuda.


"Oh, iya. Tadi katanya Arsen pintu rumahku dikunci, ya?"

__ADS_1


Arsen mengangguk. "Iya. Tumben dikunci?" Kiara melirik ke arah Dira.


"Hehe, ya, maaf. Tadi gue iseng kunci pintunya, eh, nggak bisa dibuka lagi," jelas Dira. "Mama papa lo juga di rumah, kan? Nanti biar mereka yang buka aja."


"Kirain ngapain. Ayo nonton. Gue mau genre horror."


"Sama! Aku juga mau genre horror!" seru Kiara.


"Yah. Gue doang yang pengen genre romantis."


Kiara mengambil alih remot dari tangan Dira. Kiara menyetel salah satu film horor yang populer akan keseramannya. Arsen menutup jendela dan tirainya, dan Dira mematikan lampunya.


Ketika film dimulai, mereka masih bersantai sembari saling mengejek.


"Jangan takut, ya, Kiara. Ada gue kok di sini," ejek Dira.


"Ih, siapa yang takut? Aku berani banget malah."


"Masa?" tanya Arsen tak percaya.


"Iya. Eh, mau cemilan nggak?"


"Mau dong!" seru Dira.


Kiara mengambil banyak cemilan yang berada di laci mejanya. Ia menaruhnya di meja depan televisi. Mereka menikmati cemilan seraya menonton filmnya.


Satu jam berlalu. Durasi film itu masih tersisa satu jam lagi. Mereka bertiga asyik menontonnya. Sampai saat ada hantu yang tiba-tiba muncul di layar televisi.


"Aaakh!" kompak mereka bertiga. Kiara memeluk Dira erat-erat seperti dua pohon pisang. Jantung mereka berpacu lebih cepat tiga kali lipat dari biasanya. Suasana kamar Kiara menegang.


Suara tabrakan mobil yang tiba-tiba luar biasa kencang membuat Kiara melompat kaget, ia semakin mempererat pelukannya pada Dira.


"Gitu doang lo kaget," ejek Dira.


"Ish, diem. Aku lagi seru nontonnya."


"Beneran nonton? Dari tadi kok nutup mata?"


"Iya beneran nonton, Dira. Aku nggak nutup mata juga kok," bantah Kiara.


"Masa sih?"


"Berisik. Kalian jangan ganggu gue nonton," omel Arsen. Kiara menarik diri dari pelukan Dira dan lanjut menonton.


Sekali lagi, hantu muncul dengan wajah jeleknya di layar televisi. Dira berteriak, "aaa mama!" Dira reflek memeluk Arsen yang di sampingnya. Arsen bukan terkejut karena hantunya, tetapi karena Dira memeluknya.


Kiara melihatnya, dia menahan senyumnya. Dira menengadah, dia bergegas menarik diri. Dia sadar jika berada di pelukan orang yang salah. Dira mulai salah tingkah sembari berusaha fokus ke layar televisi.


Arsen melihat ke Kiara mempertanyakan 'ada apa?', Kiara mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum. Arsen menarik napas panjang, ia melanjutkan menonton filmnya.


Kiara mendekatkan mulutnya ke telinga Dira. "Kerja bagus, Dir!" bisik Kiara.


Dira mendeliki Kiara. Ia mengancam Kiara dengan pergerakan jari telunjuknya yang menekan lehernya sendiri lalu mengesernya ke samping.


Kiara tertawa tanpa suara, ia memukul-mukul bahu Dira. "Semangat PDKT-nya!" bisiknya lagi.

__ADS_1


To be continued


Jangan lupa like dan vote untuk mendukung author agar cepat update yaa! Tinggalkan jejak dengan berkomentar juga, oke?


__ADS_2