Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Tiga Belas


__ADS_3

Pintu ruang kerja Argan terbuka. Kiara masuk dengan muka yang ditekuk.


"Kenapa?" Argan terkejut dengan gaun Kiara yang terbuka, tetapi Argan diam saja tentang itu.


"Di mana dapurnya? Aku udah keliling rumahnya om loh."


"Di dekatnya ruang tamu."


"Nggak ada."


"Pasti ada."


"Nggak ada, om. Tadi aku udah keliling!" balas Kiara dengan sedikit meninggikan nadanya.


"Kamu laper? Pesen aja kalau gitu."


"Udah tengah malem, om. Nggak ada yang buka."


Argan bangkit dari kursinya. Argan ke luar dari ruangannya. "Om? Mau ke mana?" Kiara berjalan cepat menyusul Argan.


Kiara dan Argan melewati ruang tamu, Kiara melihat Dira yang sudah terlelap. Dia kembali membuntuti Argan. Argan membuka pintu dapur.


Kiara mendelikkan matanya. Bisa-bisanya sejelas itu dia tidak kelihatan. Kiara mengalihkan pandangannya, dia tersipu malu.


Argan menarik napas. "Jangan galak-galak. Itu tandanya kamu udah ngantuk, Kiara," ucap Argan.


Kiara membuka lebar-lebar matanya. "Aku belum ngantuk, ini liat mataku masih lebar."


Senyum tipis Argan mengembang, saking tipisnya Kiara sampai tidak melihatnya. A


"Sudah. Jangan ganggu saya lagi, saya mau kerja lagi." Argan melangkahkan kaki menjauh dari Kiara.


"Om, tunggu!"


Argan berhenti dan menoleh. "Apa lagi?"


"Boleh om temenin Kiara? Dira udah tidur. Kiara takut sendirian."


"Tadi kamu keliling sendirian, sekarang di dapur minta ditemani. Kamu modus?"


"Eng--enggak. Ya udah kalau om nggak mau nemenin Kiara." Kiara melesat masuk ke dapur.


Argan tersenyum, dia mengikuti langkah Kiara masuk ke dapur. Kiara berjongkok di pojok dapur.


"Ngapain jongkok di pojokan?"


"Aku udah ng--nggak laper, om, tapi aku ... kedinginan," ucap Kiara dengan suara getir. Badannya menggigil.


Argan menghela napas. Gadis satu ini memang benar-benar random. Satu detik yang lalu dia lapar, sekarang kedinginan.


Argan berjalan memapah Kiara ke sofa ruang tamu. Kiara duduk seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


"Tunggu di sini." Argan berjalan meninggalkan Kiara menuju kamarnya.


Argan menatap luar jendela. Di luar hujan deras, pantas saja Kiara kedinginan.


Tak lama kemudian, Argan kembali dengan membawa selimut dan secangkir cokelat panas. Dia meletakkan cangkir itu di meja, lalu menyelimuti tubuh mungil Kiara.


Argan hendak pergi ke ruang kerjanya, tetapi Kiara memegang lengan Argan. Kiara menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan ninggalin Kiara, om," pinta Kiara.


Kiara benci ditinggal sendiri, apalagi saat dia sedang kedinginan.

__ADS_1


Argan duduk di samping Kiara, dia menyandarkan punggungnya. Kiara mengambil secangkir cokelat panas itu, dan meminumnya hingga tak tersisa. Tentu saja karena itu minuman favoritnya.


"Kenapa bajumu terbuka sekali?"


"Habis dari klub malam, om."


Mata Argan terbelalak. "Masih kecil kenapa ke klub malam?"


"Diajak Dira. Rezeki nggak boleh ditolak."


"Pantes bau alkohol. Itu tadi kamu bawa jaket, kenapa dilepas?"


"Panas, tapi habis itu dingin lagi."


Argan mengacak-acak rambut Kiara. "Saya bilangin ke papa kamu nanti."


Kiara menatap mata Argan dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu kenapa, Kiara?" Apakah Argan melakukan kesalahan?


"Aku udah kangen sama daddy. Maaf, dulu hpku rusak."


Argan terdiam heran. Dia melihat Kiara dari atas ke bawah, barangkali ada yang salah dengan Kiara.


"Aku tau, kamu memang daddy-ku." Kiara memeluk Argan seraya meneteskan air mata.


"Jangan nangis, Sayang." Argan membelai lembut puncak kepala Kiara. Argan kemudian mengusap air mata yang jatuh di pipi Kiara.


Kiara melepaskan pelukannya. "Aku mau di samping daddy terus."


"Daddy gak mungkin ninggalin kamu, Kiara."


"Sayang kamu juga. Tidur sana, udah jam setengah satu. Gak baik begadang."


"Aku mau tidur di bahu daddy, boleh?"


Argan mengangguk. Kiara memegang lengan Argan sembari menutup matanya. Wajah Kiara menggemaskan saat sedang tidur.


Argan mengambil ponselnya dan memotret Kiara.


...----------------...


Matahari menampakkan dirinya. Kiara membuka matanya. Argan masih ada di sampingnya dengan mata yang terpejam.


Kiara melihat ke sekitar. Dira masih tertidur dan Arsen belum terlihat. Dia membangunkan Argan.


"Daddy, bangun!" Kiara menggoyang-goyangkan tubuh Argan. Argan membuka matanya.


"Nanti takutnya Dira sama Arsen tau."


"Tenang aja, mereka belum bangun," ujar Argan.


Kiara mengecup bibir Argan. "Morning kiss, hehe."


"Udah berani sama daddy, ya? Dulu aja dicium sampai nangis."


"Ya kan itu belum tau kalau itu daddy!"


"Kalau sekarang udah tau, gimana? Mau cium lagi?" goda Argan.


Kiara mengerucutkan bibirnya. "Enggak. Napas daddy bau."

__ADS_1


Argan mencium bibir Kiara. Kiara memegang tengkuk Argan seraya terus memperdalam ciuman.


"Hoam." Dira meregangkan tubuhnya.


Kiara memukul-mukul punggung Argan. Argan cepat-cepat melepaskan tautan bibirnya dengan Kiara dan berdiri dari sofa. Argan melangkah cepat menuju ke kamar mandinya


Dira perlahan membuka matanya. Dia tak melihat siapapun selain Kiara.


"Kamu udah bangun?" tanya Kiara yang jantungnya masih berdetak cepat.


"Ya, kan bisa diliat gue buka mata atau nggak."


"Ayo pulang sebelum kita ketemu Arsen."


"Oh, iya. Ayo. Gue mandi di rumah lo aja."


Lalu apa gunanya mereka membawa koper? Tidak ada yang tahu.


Ceklek.


Pintu kamar Arsen terbuka. Kiara dan Dira tersentak, mereka berpencar mencari tempat persembunyian.


Saking paniknya, Kiara masuk ke ruang kerja Argan. Ia mengunci pintunya.


Kiara lebih kaget lagi saat melihat Argan yang sedang memperhatikannya. "Loh, tadi bukannya daddy di kamar mandi?"


"Kenapa dikunci? Mau ngapain?" Argan menatap Kiara yang terengah-engah.


"Jangan bilang ...."


Kiara mendelikkan matanya. "Daddy jangan salah paham. Aku sembunyi dari Arsen."


"Ada masalah sama Arsen?"


"Nggak, dad. Cuma kemarin Arsen ngancem aku sama Dira gara-gara pergi ke klub."


"Kamu takutnya sama Arsen? Bukan sama daddy?"


"E--eh, dad, bukan begitu ...."


"Kamu kira daddy gak marah karena kamu pergi ke klub?" tanya Argan. Argan berjalan mendekat ke Kiara.


"Dad, maaf," lirih Kiara.


Argan memojokkan Kiara ke dinding.


Sebenarnya, yang ada di bawah Argan sudah tegak dari kemarin karena melihat Kiara menggunakan gaun seksi.


Argan lagi-lagi mencium bibir Kiara. Namun, kali ini dengan kasar. Dia turun ke leher Kiara. Kiara menggeliat, bisa-bisa dia mati kegelian karena jenggot Argan. Argan membuat tanda kepemilikan di leher Kiara. Kiara menahan suara erangannya.


"Dan juga, jangan pernah sekali-sekali kamu dekat dengan pria lain," tegas Argan


Kiara menatap Argan, lalu menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap Argan.


Argan mengangkat dagu Kiara. Argan mendekatkan mulutnya dengan telinga Kiara. "Kamu hanya milikku, seterusnya juga milikku, Kiara," bisiknya


To be continued


Maaf, ya, author cuma bisa up 1 bab perhari. Tapi kadang kalau libur atau hari minggu bisa double up. Soalnya author banyak kesibukan, hehe. Sekali lagi maaf, yaa.


Like dan vote untuk mendukung author ya! Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak dengan berkomentar, oke?

__ADS_1


__ADS_2