Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Sepuluh


__ADS_3

"Dua gelas Vodka," ucap pria itu pada bartender. "Kiara, ya?"


Kiara tertegun. "Kok tau?"


Pria itu terkekeh. "Gua Deon, temennya Dira."


"Ah, aku Kiara,"


"Udah kenal kok, kamu suka vodka?"


Kiara mencengir. "Enggak, hehe. Aku suka susu cokelat."


Deon tertawa geli. Betapa polosnya gadis di hadapannya ini. Bartender memberikan apa yang dipesan Deon.


"Cobain vodka-nya, barangkali kamu suka."


Kiara mengambil segelas vodka itu dan meminumnya sedikit. "Pahit."


"Kalau gitu jangan diminum," Deon mengambil kembali gelas yang dipegang Kiara, "by the way, umur berapa?"


"Coba tebak,"


"Kamu umur ... 26?"


Kiara mendelik. "Aku setua itu, ya?"


Deon tertawa kembali. "Iya. Bener umur 26, kan?"


"Kamu bercandanya nggak lucu. Aku 19 tahun." Kiara mengerucutkan bibirnya.


"Aku memang bercanda kok. Malah kamu keliatan kayak 5 tahun lebih muda dari umurmu."


"Jangan bohong, dosa."


"Aku serius. Tanya aja ke orang di sebelahmu."


Kiara menoleh ke samping kanannya. Kebetulan ada wanita yang sedang meneguk minuman.


"Permisi, kak. Boleh aku tanya?"


Wanita itu menaruh gelasnya dan menanggapi Kiara. "Tanya apa?"


"Aku keliatan masih muda, ya?"


Dengan kebingungan, wanita itu menjawab. "Memang."


Kiara menoleh lagi ke arah Deon. "Bener, kan?" ujar Deon dengan bangga.


"Sip!" Kiara mengangkat jempolnya. "Kalau kamu?"


"Aku 26 tahun."


"Jauh banget sama umurku. Boleh aku jadi temenmu, kak Deon?"


"Boleh banget, dan panggil Deon aja."


"Nggak mau. Nanti nggak sopan."


"Mau tukeran nomor hp?" tanya Deon.


"Boleh." Kiara menyerahkan ponselnya. Deon mengetikkan nomor ponselnya, lalu mengembalikannya pada Kiara. Dan sebaliknya.


"Nan ...."


Ponsel Deon berdering, tidak tertera nama di panggilannya. Deon dengan waspada mengangkatnya.


"Di mana kamu? Cepet balik ke kantor."


"Maaf, tapi ini siapa, ya?"

__ADS_1


"Jangan pura-pura nggak kenal. Pak bos Argan nyariin kamu!"


Deon menyadari yang menelepon dia adalah Lio. "Baik, Pak. Saya on the way." Cepat-cepat ia menutup teleponnya.


"Kiara, aku pamit dulu, ya. Nanti aku chat."


"Iya. Hati-hati. Eh, tunggu, Dira di mana sekarang?"


"Di lantai dansa. Maaf, aku buru-buru." Deon melangkah cepat ke luar dari klub.


"Oke, oke." Kiara melompat dari kursi bar yang tinggi. Dia pergi mencari lantai dansa.


...----------------...


Deon sampai di kantor. Dia bergegas menuju ruangan Argan. Dia mengetuk pintunya dan Aragn memperbolehkannya masuk.


"Ada apa mencari saya, Bos?"


Argan menatap Deon dari atas hingga ke bawah. "Lihat pakaianmu. Memalukan."


Deon reflek menatap pakaiannya. Dia menepuk jidatnya. Deon memakai kaos berlengan pendek dengan celana panjang santai. "Maafkan saya, Bos."


"Sudah, lupakan saja. Saya ingin kamu segera merubah sikap amatirmu, karena sebentar lagi kamu akan menggantikan posisi Lio sebagai asisten pribadi saya."


"Maksud anda?"


"Lio tidak akan menjadi asisten pribadi saya lagi. Namun, dia akan tetap menjadi sekretaris di sini."


"Mengapa?"


"Tanyakan sendiri alasannya padanya. Pokoknya, mulai lusa kamu menjadi asisten pribadi saya."


"Maaf, tapi kenapa harus ... saya, Bos?" Deon jelas tidak mau. Satu-satunya alasannya adalah karena Argan terlalu kejam padanya hanya karena ia anak baru.


"Lalu siapa lagi? Jika saya mempunyai istri lagi, pria selain kamu akan menggoda istri saya," jelasnya.


"Saya yakin kamu tidak akan menggoda istri saya nanti, karena," Argan menggantung jawabannya.


Deon menatap Argan penuh dengan rasa penasaran. Argan menunggingkan senyumannya.


Deon tahu apa yang dimaksud oleh Argan. Detak jantung Deon berpacu cepat. "Baik, Bos. Saya akan berusaha semaksimal mungkin!"


"Untuk sekarang, kamu boleh pulang."


Deon membungkukkan badannya 90 derajat. Dia ke luar ruangan Argan.


...----------------...


Kiara tidak menemukan Dira di mana pun. Kiara mulai berpikiran negatif. Dia duduk di sofa pojok klub.


Menelepon Dira adalah satu-satunya solusi terbaik saat ini. Namun, tidak terangkat. Kiara semakin frustrasi.


Mata Kiara terus bergerak dari sudut kiri ke sudut kanan. Matanya berhenti bergerak saat mendapati seseorang yang tidak asing.


Orang itu merangkul bahu pacarnya. Oang itu adalah Josep. Dan gadis yang dibawanya bukanlah Manda, tetapi gadis yang duduk berdua dengan Josep saat di kantin.


"Gila, ya? Nggak khawatir besok mau diskors, tapi malah nge-klub," Kiara bergumam dengan kesal.


Josep tidak sengaja melihat sekilas sosok Kiara. Kiara terburu-buru untuk pindah ke toilet. Beruntung, Josep tidak sadar.


Kiara menemukan Dira di ruangan itu, ia menghembuskan napas lega.


"Dira! Kamu di mana aja sih? Aku nyariin dari tadi loh," gerutu kesal Kiara.


"Gue sengaja biar lo panik." Dira tertawa kecil.


"Dira jahat! Aku jadi kayak anak hilang."


Tawa Dira semakin lepas.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku sama temen kamu bisa cepet akrab, soalnya dia asik."


"Temen gue?"


"Iya, yang namanya kak Deon."


"Tapi temen gue yang mau gue kenalin ke lo bukan Deon. Baru aja tadi dia ngobrol sama gue."


"Loh, berarti Deon siapa?"


"Temen gue juga. Kenapa dia bisa tau lo temen gue, ya?"


"Ya nggak tau, kok tanya saya."


"Ya udah lah. Gue nggak usah ngenalin lo lagi, sama Deon aja."


"Kenapa? Lebih banyak temen kan lebih enak?"


"Temen lo nggak usah banyak-banyak. Soalnya lo masih polos."


"Polos? Aku tadi minum vodka kok."


Dira membelalakkan matanya. "Hah! Serius lo? Vodka kadar alkoholnya terlalu tinggi buat lo yang pertama kali minum alkohol!"


"Emang nggak boleh?"


"Ya jelas enggak boleh. Kalau ketahuan Arsen bisa-bisa dimarahin nih gue. Selain itu, alkohol nggak baik buat kesehatan lo."


"Nggak usah takut sama Arsen, dia aja nggak tau kita di sini. Aku tadi minumnya cuma sedikit kok," ujar Kiara menenangkan Dira.


"Gak tau gimana? Tadi gua pasang foto gua sama lo di story ig!"


Kiara mendelik. "Pantesan! Hapus sekarang, cepet!"


"Eh, iya, iya. Gue hapus dulu." Dengan cepat, jemari Dira menghapus story ig-nya.


Ting! Ting!


Kiara menyalakan ponselnya. Notifikasi dua pesan masuk.


Arsen: Lo ada di klub malem? Diajak Dira?


Arsen: Awas aja besok lo sama Dira. Gue cincang! Dan awas juga lo, kalau besok mulut lo bau alkohol.


"Dir, Arsen chat aku,"


"Mana-mana liat."


Kiara menunjukkan pesan Arsen. Dira semakin panik dan khawatir.


"Besok, kan sabtu? Jangan khawatir." Lagi-lagi Kiara menenangkan Dira.


"Lo kok tenang banget sih, gue udah ketar-ketir ini. Lo gak tau gimana Arsen kalau ngamuk."


Kiara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe, emang iya sih."


"Kan!" Dira menjitak dahi Kiara.


Ceklek.


Seorang laki-laki dan seorang perempuan mausk ke toilet yang Kiara dan Dira tempati.


Kiara dan Dira bergegas bersembunyi di salah satu bilik toilet.


Siapa lagi yang datang kalau bukan Josep dan pacarnya itu.


To be continued


Haloo! Jangan lupa like dan vote, yaa. Tinggalkan jejak dengan berkomentar juga. See u on next episode!

__ADS_1


__ADS_2