Om Duda Milikku

Om Duda Milikku
Empat Belas


__ADS_3

Tok tok tok.


Ketukan di pintu ruang kerja Argan membuat Kiara dan Argan terkejut. Kiara melepaskan diri dari Argan, ia bersembunyi di kolong meja Argan.


Argan membuka kuncinya. Arsen masuk ke dalam. "Tumben dikunci, pa?"


"Gak apa-apa."


"Mukanya papa kenapa kusut? Ada masalah?"


"Gak. Kenapa kamu ke sini?"


"Itu di ruang tamu kopernya siapa? Mirip kopernya Kiara."


Argan menatap tajam Arsen. "Koper papa. Baru beli."


"Sejak kapan papa suka warna pink?" tanya Arsen dengan ekspresi heran, lalu dia tertawa.


"Jangan suka mengejek papa. Uang jajan kamu papa kurangin 70%."


"Eh, jangan! Maaf, pa!" Arsen bersujud di hadapan papanya.


Kiara yang mendengarkannya membatin. Ancemannya orang tua selalu aja ngurangin uang jajan, huft.


Kiara menguap. Sudah lama sekali Arsen tidak keluar-keluar dari ruangan kerja Argan. Kiara hanya mendengar samar-samar pembicaraan mereka.


Jangan tidur, Kiara. Kalau kamu tidur bisa habis di tangan daddy! Ini juga sama aja ke luar dari kandang macan masuk ke kandang singa.


Selain mudah menangis, Kiara juga mudah mengantuk jika lama berada di tempat gelap dan sempit.


Akhirnya Arsen ke luar juga. Argan mendekati mejanya dan berjongkok di hadapan Kiara.


Kiara memalingkan wajahnya, dia takut Argan melakukan hal aneh.


"Sudahlah. Daddy gak marah lagi, Kiara."


Kiara tetap memalingkan wajahnya. Argan mengecup pipi bulat Kiara. Kiara menahan senyumnya, pipinya menjadi merah merona.


DUKH!


"Akh!" Kepala Argan terbentur meja saat dirinya hendak berdiri.


Kiara tertawa terpingkal-pingkal. "Kepala daddy kepentok meja!" serunya.


Argan mengelus-elus kepalanya. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat tawa Kiara. "Jangan ngambek lagi, ya? Nanti cantiknya hilang."


Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Kamu mandi dulu sana. Jangan pulang dulu."


"Iya, dad. Tapi Arsen ...."


"Arsen nggak marah kok, percaya daddy."


"Iya deh, tapi aku mau di sini."


Argan mengangkat tubuh Kiara. Argan menggendongnya ala bridal style.

__ADS_1


"Daddy! Kok digendong sih?" gerutu Kiara seraya menatap tajam Argan.


"Aku bawa ke kamar mandi mau?"


"Nanti bisa diliat orang satu rumah!"


"Nggak apa-apa. Kan kamu calon istriku."


Lagi-lagi pipi Kiara memerah. "Tetep nggak mau, turunin Kiara!"


Argan menurunkan Kiara. Kiara berlari membuka pintu dan meninggalkan ruang kerja Argan.


Arsen berada di sofa ruang tamu. Dia memainkan permainan di ponselnya.


"Aku harus nyari Dira," gumam pelan Kiara. Kiara meraba-raba sakunya "Oh, iya. Hpku di meja ruang tamu."


Kiara mengendap-endap menuju dapur, karena tadi arah lari Dira menuju selatan.


Arsen berdehem. Kiara tersontak, dia mengintip Arsen di balik sofa, tampaknya Kiara belum ketahuan. Kiara lanjut mengendap-endap sampai ke dapur.


Tidak. Dapur penuh dengan pembantu. Kiara kembali menyusuri setiap sisi rumah Argan. Apakah Dira sudah meninggalkannya sendiri? Tidak mungkin.


Kiara memasuki satu per satu ruangan yang ada di rumah Argan, sampai pada saat dia memasuki salah satu ruangan yang terlihat seperti gudang.


Ada kotak kardus berisi foto-foto. Karena penasaran, Kiara melihati isi kardus itu.


"Ah, ini pasti fotonya daddy sama mommy Jenna."


Kiara mengambil salah satu foto itu. "Eh, bentar. Ini bukan sama mommy Jenna. Ini siapa, ya?"


Kiara menoleh ke kanan dan ke kiri. "Siapa itu?"


"Ini gue!"


"Dira? Di mana kamu?"


Dira ke luar dari persembunyiannya. "Beruntung banget lo ke sini! Gue udah ketakutan di sini."


"Aku udah nyariin kamu ke mana-mana! Besar banget rumahnya dad-- om Argan."


"Iya, bener banget. By the way, lo ngapain ngeliatin fotonya om Argan?"


"Nggak apa-apa. Aku kan kepo, hehe." Kiara menaruh kembali foto itu.


Dira melihat Kiara dengan ekspresi heran. "Ya udah, ayo ke luar."


Kiara mengangguk. Dira dan Kiara ke luar dari gudang. Kiara berjalan menuju ke Arsen.


"Heh, heh, Kiara!"


"Halo, Arsen!"


Arsen meloncat dari kursinya. "Aaaa! Hantu!" pekiknya.


"Hah?"


"Ka--kamu pasti hantu! Hantu Kiara!"

__ADS_1


"Sen? Kamu sehat, kan?" Kiara memegang dahi Arsen, suhunya normal.


"Jangan pegang-pegang!" Arsen menyingkirkan tangan Kiara.


"Kamu kenapa?"


"Lo beneran Kiara?"


"Ya, iya lah! Masa aku hantu?"


"Ngapain aja lo ke club? Hah?" tanya Arsen dengan nada tinggi.


Kiara menunjuk ke arah Dira menggunakan jari telunjuknya. "Diajak Dira!"


"Heh, enak aja! Lagian lo juga mau-mau aja, kan?"


"Dira! Lo ngajak orang yang nggak tau apa-apa. Nanti bisa diapa-apain om-om genit dia."


"Lo nggak khawatirin gue, Sen?"


"Enggak."


"Gue suka sama lo! Lo selalu mikirin Kiara, kenapa bukan gue?"


Arsen terdiam. Arsen menatap Dira. Kiara melongo, ia bingung dengan situasi saat ini.


Arsen berdiri dan mengambil jaket Kiara. Dia berjalan ke arah Dira. Arsen memakaikan jaket Kiara pada Dira.


"Selama ini gue udah tau."


Jantung Dira berpacu cepat. Dira menatap Arsen dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Maaf gue udah gak ngehargain perasaan lo."


Kiara mengambil ponselnya, dia merekam Arsen dan Dira secara diam-diam.


"Tapi gue juga suka sama lo, Dira."


Dira memeluk Arsen. Dia tak menyangka bahwa Arsen juga menyukainya. "Gue kira lo suka sama Kiara," tangis Dira.


"Gue peduli sama Kiara karena gue sahabatnya, selain itu gue udah nganggep Kiara sebagai adik gue."


Dira menangis. Arsen membelai puncak kepala Dira. "Maafin gue, ya, Dira."


"Gak usah minta maaf. Gue yang salah paham."


Senyum Kiara teukir. Dia senang karena Dira sudah mengalihkan pembicaraan agar Kiara tidak dimarahi, sekaligus Dira dan Arsen akan berpacaran.


Dira melepas diri dari pelukan Arsen. "Jadi, kita pacaran?"


Arsen tersenyum. "Pastinya, sayang."


Dira memeluk Arsen kembali dengan erat-erat.


To be continued


Akhirnya Dira dan Arsen pacaran yaa. Like dan vote agar author semangat update, dan juga komentar unruk meninggalkan jejak, oke? ><

__ADS_1


__ADS_2