
Empat tahun yang lalu. Kiara berumur 15 tahun. Dia seorang murid yang baru masuk SMA Lengkara. Kehidupannya biasa saja, mungkin?
Kiara kurang disayang kedua orang tuanya, karena dia tidak pintar. Raina adalah anak yang selalu didambakan mereka.
"Beruntung kamu bisa lulus SMP," ujar Elena.
"Beruntung? Aku udah berusaha belajar mati-matian, ma."
"Kalau gak pinter ya sama aja bohong. Lihat kakakmu, selalu juara satu di lomba."
"Itu, kan kakak, ma. Beda!"
"Sama-sama makan nasi saja kok kamu tidak bisa," sahut Evan.
"Sama-sama makan nasi juga kok papa di PHK?"
"Jaga bicaramu!" bentak Evan.
Namun, Raina sayang dengan adiknya. Apapun yang akan Kiara lakukan, Raina akan mendukungnya, walaupun kedua orang tua mereka tidak mendukung Kiara.
"Dek Kiara?" panggil Raina. "Dek?"
Raina membuka pintu kamar Kiara. Raina mendapati Kiara yang menangis di bawah selimut.
"Kiara." Raina mendekati Kiara.
"Aku mau sendirian, jangan ganggu."
Raina membuka selimutnya. Ia merangkul bahu Kiara. "Kenapa?"
Kiara menggeleng, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Soal mama? Jangan dipaksain pinter kalau memang nggak bisa. Semua orang punya kelebihannya masing-masing."
"Tapi, aku nggak punya kelebihan, kak."
"Punya, pasti punya. Mau kakak sebutin kelebihanmu?"
Kiara mengangguk. "Kamu itu cantik dan punya tubuh sempurna. Suara kamu juga bagus," ucap Raina.
Raina melepaskan rangkulan bahu pada Kiara. "Sekarang lihat deh tangan kakak." Raina menunjukkan tangannya pada Kiara.
"Loh, kok jari kelingkingnya nggak ada?"
Raina tersenyum. "Ini gara-gara kejadian dulu sewaktu kecelakaan. Makanya kamu nggak boleh putus asa, jari-jari kamu masih lengkap."
Kiara memegang tangan Raina. "Iya. Makasih, kak" Dia pun memeluk Raina. Raina membalas pelukannya.
"Jangan suka cengeng, ya?"
Kiara adalah seseorang yang introvert. Di saat teman-teman di sekolahnya tidak ada yang mau bergaul dengan Kiara, hanya Dira yang selalu di sampingnya.
"Kalian buat kelompok sendiri berjumlah 4 orang! Lalu, ikuti langkah-langkah yang ada di buku paket," perintah guru.
Orang-orang sibuk berkeliling mencari anggota kelompok. Menawari gabung ke kelompoknya ke sana dan kemari.
Kiara diam di bangkunya. Dia menelungkupkan wajahnya di lengan. Tidak ada yang mau menawari Kiara untuk bergabung di kelompok mereka.
Waktu berjalan semakin lambat, Kiara masih dalam posisi yang sama. Rasanya ingin cepat-cepat pulang.
Seseorang mengetuk meja Kiara. Kiara mengangkat wajahnya.
"Lo kenapa diem aja? Ayo gabung kelompok gue," ajak Dira.
Sudut bibir Kiara terangkat. "Aku kira kamu nggak masuk."
"Makanya noleh ke kiri sama kanan dong, jangan main hp aja."
__ADS_1
Kiara juga tidak pernah punya pacar. Wajah Kiara juga tidak lebih cantik daripada kakak kelasnya.
Suatu saat, Kiara dengan iseng mencoba aplikasi mencari pacar bernama 'Finder' di ponselnya. Dia sengaja memasang umur 25 tahun
Hormon remajanya sedang meronta-ronta sekarang. Akhirnya, Kiara match dengan salah satu pria berumur 31 tahun.
Kiara: Halo, om!
Ar: Om? Kamu umur 25, bukankah terlalu tua untuk memanggilku dengan sebutan om?
Kiara: Jangan kaget, tapi sebenarnya aku 15 tahun.
Ar: Gosh. Sekolah dulu yang bener, jangan main aplikasi begini.
Kiara: Om, aku udah sekolah yang bener. Aku juga iseng main aplikasi ini.
Ar: Iseng karena?
Kiara: Ya, iseng! Nggak ada alasannya!
Ar: Jangan galak-galak. Ingat, mungkin aku seumuran papamu.
Kiara: Aku aja nggak tahu papaku umur berapa.
Ar: Masa papa sendiri tidak tahu?
Kiara: Ya, dia nggak pernah peduliin aku. Aku juga nggak peduliin dia. Bisa aja om seumuran papa.
Ar: Kamu bisa anggep aku sebagai papamu aja, dari pada om. Kalau dipanggil om, rasanya aku seperti om-om pedofil.
Kiara: Siap, daddy!
Ar: Jangan panggil daddy, mungkin ayah saja.
Kiara: Nggak mau. Maunya daddy!
[Kiara sent a pic] daddy jangan marah, nanti kalau marah aku lempar pisang!
Ar: Gosh. You're so cute.
Kiara: Apa? Aku nggak bisa bahasa inggris.
Ar: Artinya? Kamu jelek.
Kiara: Daddy lebih jelek!
Ar: Kamu mewarnai rambutmu?
Kiara: Nggak. Rambutku asli pirang, makanya aku diejek kayak nenek-nenek. Memang iya sih.
Ar: No. You're beautiful.
Kiara: Pasti jelekin aku lagi, huh.
Ar: Haha.
Seiring berjalannya waktu, Kiara dan Ar semakin dekat. Kiara yang merasa kehidupannya tiak pernah diisi dengan sesosok pria yang baik, sudah terisi oleh kehadiran Ar.
Empat bulan kemudian.
Kiara: Daddy! Aku mau liat wajah daddy.
Daddy: Gak, privasi.
Kiara: Yahh, pasti daddy jelek, ahaha!
Daddy: Memang jelek, makanya kamu gak usah liat.
__ADS_1
Kiara: Ayolah daddy! Nanti aku kirim fotoku juga deh.
Daddy: Tidak ya tetap tidak.
Kiara: Ya udah, nggak usah deh. Daddy jelek.
Daddy: Good girl.
Panggilan masuk dari Daddy. Kiara menerimanya. Ini pertama kalinya mereka bertelepon.
"H--halo?"
"Gak perlu foto. Suara aja, ya?"
Rasanya Kiara ingin berteriak sekarang juga. Suaranya benar-benar membuat dirinya kecanduan.
"Ayo bicara banyak-banyak! Aku suka suara daddy!"
"Iya, sayang."
Kiara tersentak. "Sayang?"
"Ada yang aneh dengan panggilan itu?"
"Ya, jelas aneh! Itu menjijikan! Kenapa bisa manggil itu? Ew!"
Argan terkekeh. "Ini penyebab kenapa aku suka menggodamu."
Sejak saat itu, hubungan Kiara dan Ar layaknya orang berpacaran. Namun, jika disebut berpacaran juga tidak. Intinya, Kiara sangat sayang dengan Ar, dan juga sebaliknya.
Saat Kiara berpacaran dengan Josep, ponselnya pernah dibanting Josep. Jadi, Kiara kehilangan semuanya, dan perlahan melupakannya.
...----------------...
"Gila kali ya om Argan!" gerutu Kiara kesal.
"Sabar aja dah. Niatnya gue mau ke sini biar ketemu Arsen, tapi gue lupa kalau Arsen habis ngancem kita."
"Kabur aja yuk?"
Dira menggeleng. "Enggak, ah. Udah enak-enak rebahan gini."
Cacing-cacing di perut Kiara melambai-lambai. "Aku pengen ayam geprek."
"Ya Tuhan, tengah malem gini masih aja laper."
"Dira yang paling cantik sedunia, ayo bikinin aku makanan dong," rayu Kiara.
"Nggak mau. Suruh aja pembantu yang ada di sini," tolak Dira dengan malas.
"Mana? Nggak ada orang selain kita di sini."
Dira diam dan setia memainkan ponselnya. "Ya udah, aku ke dapur sendiri aja," ujar Kiara menyerah.
Kiara berdiri. Dia menyusuri segala penjuru rumah Argan. Kiara berkeliling di tempat yang sama berkali-kali hanya untuk mencari dapur. Berkeliling hingga hafal letak setiap ruangannya.
"Di mana sih dapurnya? Apa jangan-jangan nggak ada dapurnya? Nggak mungkin."
Kiara menuju ruangan kerja Argan yang seingatnya berada tak jauh dari ruang tamu. Dia mengetuk pintunya.
"Om Argan!"
Argan yang sedang melihati isi foldernya tertegun. Dia mengembalikan isi laptopnya ke beranda asalnya.
"Masuk."
To be continued
__ADS_1
Hari ini double up yeay! J**angan lupa like, vote, dan komen, yaa**.