One Night Stand (Membawa Kehancuran)

One Night Stand (Membawa Kehancuran)
Tak Saling Mengenal


__ADS_3

Bugh . . .


Tanpa sengaja aku menabrak seseorang, namun aku yang terjatuh dan dia pun mengulurkan tangannya membantu ku berdiri.


"Maaf saya tidak sengaja." Ucap ku, sambil menerima uluran tangan nya.


Deg. .


Kak Nathan. .


"Kalau jalan pakai mata!" Ucap Kak Nathan dingin, kemudian berlalu meninggalkan ku.


'Dia benar-benar tidak mengenali ku.' Ucap ku dalam hati, sambil memandang punggung nya yang semakin menjauh.


'Apa yang aku harapkan dari orang yang tidak mengingat ku lagi, cukup Eva. Lupakan semuanya, mulai semua dari awal!' Ucap ku dalam hati.


Dengan langkah gontai aku pun pulang ke Rumah, sesampainya di Rumah aku membantu Ibu berjualan seperti biasa dan sore ini saat aku baru membuka kembali warung kue kami. Ada sebuah mobil mewah berhenti, aku pun memandang dengan heran.


"Mobil mewah siapa itu? Mungkin nyari alamat." Gumam ku, sambil terus merapihkan kue-kue yang ada.


"Saya mau masing-masing 5 untuk semua kue yang ada!" Ucap tegas seorang laki-laki yang membuat ku terkejut, karena tanpa permisi langsung memesan dalam jumlah yang cukup banyak.


Deg . .


Kak Nathan. . .


"Dengar tidak! Cepat lah!" Ucap nya kesal.


"Ba-ik. . . Tu-ng-gu sebentar." Ucap ku gugup.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar, aku pun membungkus kan kue pesanannya.


"I-ni kue nya." Ucap ku gugup, sambil menyerahkan bungkusan kue. Dan tanpa kata dia pergi, setelah menyimpan uang yang memang lebih dari harga kue nya.


Aku pun menghembuskan nafas kasar, dan tiba-tiba Ibu datang menghampiri ku.


"Kamu kenapa? Pasti cape iya? Istirahat dulu sana." Ucap Ibu sambil menyusun kue yang di bawanya.


"Ngga apa-apa ko Bu, aku ngga cape." Ucap ku sambil tersenyum.


"Jangan di paksain, nanti kamu sakit gimana? Udah sana istirahat iya sayang." Ucap Ibu lembut.


"Ibu tenang aja, kalau aku cape pasti istirahat. Lebih baik Ibu yang istirahat aja, dari subuh kan ibu bikin kue." Ucap ku sambil memeluk Ibu.


"Kamu ini keras kepala sekali! Iya udah gimana kamu aja iya! Oh iya, tadi Ibu dengar suara mobil?" Ucap Ibu.


"I-ya Bu, tadi ada yang ke sini pake mobil mewah." Ucap ku.


"Ibu kenal?" Tanya ku terkejut.


"Iya sayang, dia hampir setiap hari ke sini kalau lagi ada di Indonesia. Dia kerjanya di Luar Negeri, tapi keluarga nya orang sini." Ucap Ibu menjelaskan.


'Jadi Kak Nathan adalah orang yang sering Ibu ceritakan, saat malam hari. Anak muda baik hati yang selalu membeli banyak kue ibu dan memberikan uang lebih. Kenapa dunia ini sempit sekali, aku sedang berusaha melupakannya. Namun nyatanya dia kenal baik dengan Ibu, tapi dia melupakan aku.' Ucap ku dalam hati sendu.


"Va. . . Va. . ." Panggil Ibu sambil menggoyangkan bahu ku.


"Eh. . . Iya Bu! Maaf." Ucap ku merasa bersalah.


"Itu ada yang beli." Ucap Ibu yang sedang membungkus kue pembeli yang lain.

__ADS_1


"Aduh Maaf banget iya! Ibu mau kue yang mana? Silahkan di pilih dulu." Ucap ku ramah kepada pembeli.


Kami pun berjualan hingga sebelum magrib, semua kue dan gorengan kami sudah habis.


"Alhamdulillah, habis semua. Ayo kita siap-siap shalat Magrib." Ajak Ibu sambil membawa wadah kotor, tempat kue tadi dan aku pun mengikuti Ibu dari belakang.


Kami segera bersih-bersih dan juga shalat berjamaah di Rumah, dan saat makan malam tiba.


"Ayo sayang makan yang banyak! Kamu ko semakin kurus saja Ibu lihat!" Tegur Ibu.


"Iya Bu! Ibu juga makan yang banyak, biar sehat selalu." Ucap ku sambil tersenyum dan Ibu pun mengelus rambutku dengan sayang.


"Gimana badan kamu ngga kurus! Itu nasi nya dikit banget, makan sayur sama lauk doang! Nasi nya juga sayang, nanti kamu sakit lambung." Ucap Ibu sambil mengambil kan nasi kembali untuk aku.


"Eh. . . Ngga usah Bu, ini kan belum habis. Sayang tau! Nanti mubazir." Ucap ku sambil cemberut, ntah kenapa sekarang aku tidak terlalu nafsu makan nasi putih.


Rasanya kurang enak di lidah ku, padahal dulu aku biasa saja saat makan nasi putih.


"Kamu ini! Kaya Ibu aja dulu! Ibu waktu hamil kamu, ngga doyan makan nasi putih. Bapak kamu sampe ngomel setiap hari, karena Ibu ngga mau makan nasi. Akhirnya, setiap hari Bapak kamu masakin Ibu nasi goreng. Dari nasi goreng kunyit sampe nasi yang cuman di kasih kecap, biar warna nya ngga putih." Ucap Ibu terkekeh sambil mengingat kembali kenangan saat hamil aku dulu.


"Terus Bu, terus dong ceritain lagi. Seneng denger cerita Ibu tentang Bapak." Ucap ku semangat.


"Iya dulu itu, padahal Bapak kamu yang muntah-muntah setiap hari. Tapi tetap saja harus bikinin Ibu nasi goreng, kalau ngga Ibu ngga mau makan nasi. Sampe pernah saking lemes nya Bapak kamu, ngga bisa bikinin Ibu nasi goreng. Ibu maksa makan nasi tanpa di bikinin Bapak kamu, eh malah Ibu yang di Rawat di Rumah Sakit." Ucap Ibu terkekeh.


"Loh ko bisa? Bapak yang lemes, tapi Ibu yang masuk Rumah Sakit?" Tanya ku heran.


"Iya gimana ngga masuk Rumah Sakit, orang Ibu makan nasi campur sambel 1 piring kecil. Biar warna nasi nya ngga putih, soalnya Ibu lupa kalau kecap nya habis." Ucap Ibu langsung tertawa dan aku pun melongo di buat nya.


"Habis Ibu makan, ibu langsung diare bolak balik kamar mandi dan di marahi Bapak kamu. Besok nya Ibu di bawa ke Puskesmas dan malah di suruh di Rawat." Ucap Ibu terkekeh kembali, aku hanya bisa menepuk kening ku.

__ADS_1


Bisa ku bayangkan betapa pusing nya Bapak dulu, saat Ibu hamil aku. Tapi aku bahagia, setiap kali Ibu menceritakan tentang Bapak. Yang tak pernah bisa aku lihat hingga saat ini dan aku tak tau apakah Bapak masih hidup atau sudah tiada, karena Ibu pun tak tau ke mana Bapak. Yang menghilang tiba-tiba, saat aku berumur 3 tahun.


Bahagia nya membayangkan memiliki suami seperti Bapak, yang selalu ada di saat Ibu mengandung ku. Hingga tanpa sadar aku pun mengelus perut rata ku, seolah membayangkan ada janin yang hadir di rahim ku.


__ADS_2