
"IBUUUU. . . " Teriak ku, bergegas aku berlari menghampiri Ibu yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Bu. . . Bangun Bu. . . Ibu kenapa?" Ucap ku berusaha membangunkan Ibu dan memindahkan Ibu ke kasur, namun Ibu tidak merespon sama sekali membuat aku benar-benar khawatir.
"Ya Allah Ibu kenapa?" Ucap ku sambil menangis, kemudian aku keluar dari kamar untuk mencari pertolongan.
"TOLONGGGG. . . TOLONG. . . TOLONG. . ." Teriak ku histeris dan beberapa warga pun datang.
"Ada apa Eva? Kenapa kamu?" Tanya tetangga ku.
"I-bu. . . Tolong. . . Ibu pingsan di kamar." Ucap ku terbata-bata, sambil menangis.
"Sudah jangan nangis, ayo kita lihat Ibu kamu." Ucap Ibu-ibu membantu ku berjalan ke kamar, dan beberapa warga masuk untuk melihat keadaan Ibu.
"Ibu kamu harus di bawa ke Rumah Sakit, Pak Heru bisa pinjam mobil nya Pak? Untuk membawa Ibu Elin ke Rumah Sakit." Ucap Pak Dzaki tetangga ku yang sedang memeriksa denyut nadi ibu.
"Boleh. . . Boleh. . . Sebentar saya bawa dulu mobil nya." Ucap Pak Heru yang akan keluar dari kamar, namun terhenti saat mendengar suara seorang laki-laki.
"Tidak perlu, biar pakai mobil saya saja. Mobil saya sudah ada di depan, boleh tolong bantu saya membawa Ibu ini ke mobil Pak?" Tanya laki-laki itu yang ternyata Kak Nathan.
"Bisa Nak, ayo pak! Kita angkat bersama." Ucap Pak Dzaki dan mereka pun membawa Ibu menuju mobil Kak Nathan, kami pun keluar semua.
"Nak Eva jangan lupa KTP ibu kamu sama B**S nya Nak!" Ucap tetangga ku dan aku pun menganggukkan kepala, kemudian kembali ke dalam kamar Ibu.
"Sudah semua Bu, saya ke Rumah Sakit dulu Bu, Pak! Terimakasih banyak, assalamualaikum." Ucap ku kemudian bergegas berlari menuju mobil Kak Nathan.
Kami pun menuju Rumah Sakit terdekat dari Rumah ku, sepanjang perjalanan rasa cemas menghantui ku. Tak henti aku berdoa dalam hati, berharap keajaiban datang dan tak lama kami sampai di Rumah Sakit.
"Kamu tunggu sebentar." Ucap Kak Nathan, kemudian keluar dari mobil dan datang kembali dengan belangkar dan para suster. Ibu pun di bawa masuk ke dalam IGD, untuk di tangani dan kami menunggu di luar.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu, saya akan mengurus administrasi Ibu kamu dulu." Ucap Kak Nathan dan aku pun memberikan KTP ibu dan B**S. Tak lama Kak Nathan pun kembali, dan duduk di samping ku.
"Minum dulu." Ucap Kak Nathan sambil memberikan sebotol air mineral kepada ku.
"Aku ngga haus Kak." Ucap ku menolak.
"Bayi kamu bisa dehidrasi, apalagi kamu nangis terus. Cepat minum!" Perintah nya dan aku pun meminum air itu sedikit, tak lama Dokter pun keluar.
"Keluarga Ibu Elin!" Panggil Dokter.
"Saya anak nya Dok! Bagaimana keadaan Ibu saya?" Tanya ku khawatir.
"Mba yang tenang iya! Ibu Elin mengalami serangan jantung, beruntung cepat di bawa ke Rumah Sakit. Sehingga nyawanya dapat tertolong, namun saat ini Ibu Elin masih dalam kondisi kritis dan harus berada di ruang ICU hingga keadaannya stabil." Ucap Dokter menjelaskan.
"Se-serangan jan-tung Dok?" Tanya ku terbata-bata, dan terkejut.
"Tapi selama ini Ibu baik-baik saja Dok! Bahkan Ibu tidak pernah mengeluh sakit dadanya atau apa pun Dok!" Ucap ku bingung.
"A-pa? 1 tahun Ibu sakit jantung? Dan aku sebagai anak tidak tahu! Ya Allah aku benar-benar anak durhaka! Selama ini Ibu berjuang sendiri dengan sakit nya dan aku sama sekali tidak tau." Ucap ku lirih, dengan air mata mengalir dan badan ku limbung. Beruntung Kak Nathan menahan ku.
"Perbanyaklah berdoa! Kami akan berusaha semaksimal mungkin, anda dapat melihat pasien dari kaca ruang ICU. Saat ini Pasien sudah di bawa ke ruang ICU." Ucap Dokter.
"Baik Dok! Terimakasih." Ucap Kak Nathan, sedangkan aku hanya diam sambil menangis. Mengetahui fakta yang mengejutkan ini, membuat aku benar-benar sedih dan tanpa sadar aku menangis di pelukan Kak Nathan.
"Pasti ada alasan Ibu tidak menceritakan penyakitnya, mungkin Ibu tidak ingin membuat kamu khawatir dan sedih. Lebih baik sekarang kita melihat Ibu, jangan menangis lagi. Ayo cepat." Ucap Kak Nathan, sambil memapahku menuju Ruang ICU.
"I-bu. . ." Ucap ku sambil menyentuh kaca Ruangan ICU, lagi-lagi air mata ku pun keluar tanpa perintah.
"Ma-af Bu." Ucap lirih.
__ADS_1
"Sekarang bukan waktu nya untuk menangis! Perbanyaklah berdoa, memohon kesembuhan Ibu. Jangan lupa pikirkan bayi yang kamu kandung, dia akan ikut sedih jika Ibu nya sedih. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Ibu dan anak kamu membutuhkan kamu." Ucap Kak Nathan.
"A-ku anak yang tidak berbakti Kak! Bisa-bisanya aku ngga tau Ibu sakit, Ibu selalu tampak baik-baik aja. Bahkan tidak pernah Ibu mengeluh sakit, kenapa kak? Kenapa harus Ibu? Kenapa bukan aku?" Ucapku lagi dengan air mata yang terus mengalir.
"Ibu pasti tidak ingin kamu khawatir seperti ini, makanya Ibu tidak memberitahu kamu. Sekarang kamu duduk dan tenangkan pikiran kamu, tunggu sebentar. Saya tinggal dulu." Ucap Kak Nathan yang kemudian pergi sebentar, yang ternyata membeli makanan untuk ku.
"Ayo kamu makan dulu, kamu pasti belum makan." Ucap Kak Nathan lembut.
"Aku belum lapar Kak." Ucap ku menolak.
"Kalau kamu tidak lamar, makan lah untuk bayi mu. Ayo buka mulut mu." Ucap Kak Nathan, sambil menyuapi ku makan dan aku pun terpaksa makan. Benar apa yang di katakan nya, tidak hanya ibu yang harus aku perhatikan. Tetapi bayi ku pun harus aku perhatikan dan aku jaga baik-baik.
"Terimakasih banyak iya Kak." Ucap ku tulus, setelah selesai Kak Nathan menyuapi ku.
"Iya." Ucap nya singkat.
"Kenapa kakak mau membantu ku?" Tanya ku heran.
"Saya juga tidak tahu, saat melihat di Rumah kamu banyak orang. Saya langsung berlari dan tanpa sengaja mendengar dan melihat semua, karena mobil saya yang paling dekat. Makanya saya tawarkan menggunakan mobil saya saja." Ucap Kak Nathan jujur.
"Buat apa Kak Nathan ada di dekat rumah aku?" Tahu ku lagi.
"Em- i-tu. . . " Ucap kak Nathan terbata-bata, kemudian dia menggaruk leher belakangnya dan aku pun mengernyitkan kening bingung.
"Kue. . . Iya bener kue. . . Saya ingin membeli kue." Ucap Kak Nathan.
"Oh. . . Kue iya! Tapi maaf Kak kue nya sudah habis semua, lain kali aku buat kan untuk kak Nathan iya." Ucap ku menyesal.
"Benar-benar tidak ada sisa?" Tanya Kak Nathan dan aku pun menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Nasi goreng kunyit? Pasti ada sisa kan?" Cecar kak Nathan dan aku pun menggelengkan kepala.
"Memang kamu habiskan semuanya? Kenapa tidak di sisakan untuk saya? Waktu itu saja banyak ko sisanya! Kenapa sekarang kamu habiskan? Apa tidak bisa sisakan untuk saya 1 piring saja?" Ucap kak Nathan marah.