
Semalaman aku tidak bisa tidur dan memikirkan banyak hal. Terutama mengenai malam itu, aku benar-benar tidak ingin lagi membahas malam naas itu.
Aku pun memutuskan untuk bertemu dengan Kak Nathan, dan berbicara dengan nya sepulang aku kuliah. Kami bertemu di sebuah Restoran Siap Saji yang tak jauh dari kampus ku.
"Maaf menunggu lama." Ucap seseorang yang kemudian duduk di samping ku.
"Tidak apa-apa." Ucap ku sedikit gemetar, namun aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat lemah di depan nya.
"Jadi bagaimana? Kamu bersedia menikah dengan saya?" Tanya Kak Nathan to the point.
Deg.
"Apa? Menikah?" Ucap ku terkejut, karena tidak pernah membayangkan kata-kata itu yang terucap dari mulut Kak Nathan.
"Benar! Saya akan bertanggung jawab atas kejadian malam itu dan kita akan menikah." Ucap nya datar.
"Tidak." Ucap ku menolak.
"Apa alasannya?" Ucap Kak Nathan heran.
"Pernikahan itu bukan main-main Ka, dengan gampangnya Kakak bicara seperti itu?" Ucap ku tak percaya.
"Lantas kamu pikir saya laki-laki yang akan lepas dari tanggung jawab?" Ucap nya datar.
"Bu-kan begitu Ka, bukannya Kakak punya pacar? Gimana kalau pacar Kakak nanti marah?" Ucap ku gugup.
"Itu bukan urusan kamu, yang jelas kita akan menikah!" Ucap nya.
"Tidak ada lagi yang akan di bahas bukan? Kalau begitu saya permisi, persiapkan diri kamu. Lusa saya akan ke Rumah kamu." Ucap nya kemudian beranjak pergi meninggalkan ku.
'Bukan pernikahan yang aku mau, tapi mengapa jadi begini?' ucap ku dalam hati.
Cukup lama aku termenung, hingga akhirnya aku pun pulang ke Rumah dan bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Aku pun tak berbicara apa pun kepada Ibu mengenai apa yang terjadi kepada ku dan mengenai ucapan Kak Nathan yang akan datang ke Rumah lusa.
Waktu pun berlalu, aku melakukan aktivitas seperti biasa dan hari ini adalah hari yang di janjikan oleh Kak Nathan kepada ku. Sedari pagi aku deg-degan, sehingga sedikit tidak fokus dengan apa yang aku kerjakan. Begitu pun saat mata kuliah di mulai, beruntung saat ini tinggal persiapan menuju pengajuan judul skripsi.
"Kita jalan-jalan yuk!" Ucap Neysa setelah Dosen keluar kelas.
__ADS_1
"Ke mana?" Tanya Ega.
"Gimana kalau ke Mall? Kita cuci mata." Ucap Neysa sambil cekikikan.
"Boleh aja." Ucap Ega.
"Gimana Va? Kamu ikut kan?" Tanya Neysa sambil melirik kepada ku.
"Sebentar aku izin Ibu dulu." Ucap ku, kemudian menghubungi Ibu dan meminta izin.
"Aku ikut, Ibu sudah mengizinkan." Ucap ku tersenyum.
"Ayo kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucap Neysa semangat, sambil menarik tangan kami berdua.
Sepanjang jalan, kamu bercanda tawa. Tak terasa kami pun sampai di Mall yang kami tuju dan berjalan bersama-sama.
"Seneng banget deh! Hari ini bisa liat senyum kamu lagi Va." Ucap Neysa bahagia.
"Iya bener, udah beberapa hari ini kamu murung terus. Seperti ada masalah, kalau ada apa-apa itu cerita dong ke kita. Siapa tau kita bisa bantu, atau ngga mengurangi sedikit beban kamu." Ucap Ega lembut.
"Sedih tau, liat kamu murung terus. Jangan sungkan sama kita, kalau ada apa-apa cerita aja oke!" Ucap Neysa.
'Apa nanti saat kalian tau semuanya, kalian akan tetap seperti ini kepada ku?' Ucap ku dalam hati.
"Pokoknya mulai sekarang kamu jangan sedih-sedih lagi iya, ada kita yang akan selalu bersama kamu." Ucap Neysa memeluk ku.
"Betul, betul, betul. Kita akan selalu bersama selamanya." Ucap Ega yang ikut memeluk ku dan kami seperti Teletubbies yang berpelukan.
"Terimakasih iya! Kalian memang yang terbaik." Ucap ku terharu sambil membalas pelukan mereka.
"Sekarang saatnya kita happy, lest go." Ucap Neysa, menarik tangan kami dan kami pun tertawa saat kami menjadi pusat perhatian orang sekitar.
Kami berjalan-jalan, mengelilingi Mall dan berakhir di food court. Itu lah yang selalu kami lakukan jika ke Mall, hanya berkeliling melihat-lihat dan makan di tempat yang terjangkau bagi kami.
Kami memesan makan dan membayar masing-masing, itulah kami. Yang tidak pernah mau memanfaatkan siapa pun, dan membeli apa pun semampu kami, terkecuali Neysa. Hehe. . .
"Ney. . . Ney. . ." Ucap Ega sambil mengguncang pelan tangan Neysa.
__ADS_1
"Eh. . . Iya apa?" Tanya Neysa bingung.
"Kamu kenapa Ney? Ko bengong aja?" Tanya ku heran.
"Iya ikh! Aku ngomong di cuekin!" Ucap Ega kesal.
"Hehehe. . . Maaf deh maaf! Tadi aku kaya liat Kakak aku di sana." Ucap Neysa menyesal sambil menunjuk tempat tadi dia melihat Kak Nathan.
Deg.
'Kak Nathan ada di sini?' ucap ku dalam hati, dan perasaan ku menjadi tak menentu.
"Masa sih? Ko aku ngga liat? Salah liat kali kamu?" Ucap Ega yang sedang melihat ke arah mana Kak Nathan berada.
"Ikh beneran deh! Tadi aku liat Kak Nathan sama pacar nya, yang waktu itu aku ceritain ke kalian." Ucap Neysa.
"Iya udah sih! Biarin aja! Ini tempat umum, wajar dong mereka di sini." Ucap Ega santai.
"Tapi kan aku itu ngga suka banget sama pacar Kak Nathan, mudah-mudahan aja mereka cepet putus." Do'a Neysa bersungguh-sungguh.
"Dih berdo'a ko kaya gitu." Ucap Ega menggelengkan kepala.
"Ikh kalian ngga tau sih gimana pacarnya, pasti kalian akan berkata hal yang sama dengan aku." Ucap Neysa kesal.
"Ini lagi gantian yang bengong, woy!! Va. . . Va. . ." Ucap Ega menyadarkan ku dari lamunan.
"Aku ngga bengong ko, cuman pengen diem aja." Ucap ku sambil meminum es teh manis yang ku beli.
"Tuh. . . Tuh. . . Bener itu mereka." Ucap Neysa sambil menunjuk ke arah salah satu butik yang tak jauh dari tempat kami makan.
Deg.
Pemandangan yang sangat menyesakkan, baru beberapa hari yang lalu Kak Nathan mengatakan akan bertanggung jawab dan akan menikahi ku. Tapi di hari dia berjanji akan datang ke Rumah ku, dia malah menggandeng mesra pacarnya.
"KAK NATHAN. . . KAK. . ." Teriak Neysa memanggil Kak Nathan dan menghampiri nya.
Deg.
__ADS_1
Tak sengaja pandangan kami bertemu, dan Kak Nathan langsung melepaskan tangan pacarnya. Dia terus menatap ku, sambil berjalan ke arah kami. Sedangkan aku langsung membuang muka, tak ingin memandang nya.
Melihat kebersamaan mereka, membuat aku tersadar. Bahwa aku hanyalah sebuah kesalahan, yang tak perlu di pertahankan. Mencoba kuat, dan sabar menghadapi segalanya. Berharap tak akan ada hal yang terjadi lagi, hanya berserah diri kepada yang maha kuasa.