
"Loh Kak! Ini bukan jalan ke kampus!"
Ucap ku heran dan tanpa menjawab pertanyaan ku, mobil pun belok ke Rumah Sakit Harapan Sehat yang memang tak jauh dari posisi kami.
"Cepat turun." Ucap Kak Nathan, sambil membukakan pintu mobil untuk ku dan membantu ku turun.
"Ngapain kita ke sini Kak?" Tanya ku heran dan lagi-lagi ucapan ku tidak di jawab.
"Kamu tunggu di sini." Ucap nya dan aku pun duduk di Ruang Tunggu, tak lama dia pun menghampiri ku.
"Ayo!" Ucap nya dan memapah ku menuju Ruang Pemeriksaan, ntah mengapa aku hanya menuruti apa perkataan nya.
Ceklek. . .
"Selamat pagi ayah, bunda." Sapa Dokter ramah.
Mendengar panggilan seperti itu membuat perasaanku menghangat, dan kami pun duduk di depan Dokter.
"Pagi Dok." Ucap ku.
"Ini anak pertama iya! Pasti sangat di nantikan kehadirannya, apa ada keluhan bunda?" Tanya Dokter ramah.
"Tadi tiba-tiba perutnya keram, apa itu bahaya dok?" Tanya Kak Nathan.
"Apa masih keram saat ini bunda?" Tanya Dokter.
"Ngga Dok! Sudah tidak keram, hanya sebentar saja keram nya." Ucap ku.
"Keram perut saat hamil itu wajar, karena proses perkembangan janin membuat rahim semakin berkembang. Jika keram yang di rasakan bunda masih dalam tahap wajar, yang berarti tidak berkepanjangan. Maka tidak ada yang perlu di khawatirkan, namun berusaha untuk mengatasi dan mengurangi faktor keram tersebut. Banyak faktor yang bisa menyebabkan hamil mengalami keram atau bahkan pendarahan, seperti hal nya. Stres berlebih, terlalu lelah, tegang, atau pun hal-hal yang membuat emosi sang Ibu tidak stabil. Kalau boleh saya tau, apa yang bunda lakukan sebelumnya?" Tanya Dokter.
"Tadi saya terkejut karena sesuatu dan terlalu tegang Dok." Ucap ku dan Kak Nathan menatap ku.
"Lalu apa yang bunda lakukan saat perut bunda keram?" Tanya Dokter lagi.
"Saya tidak berbuat apa-apa Dok, tapi saat Kak Nathan mengelus perut saya. Keram nya langsung hilang." Ucap ku jujur dan Dokter pun tersenyum.
"Wah seperti nya baby sangat nyaman dengan elusan sang ayah, itu sangat bagus untuk tumbuh kembangnya. Sering mengelus dan mengajak berbicara, bisa membuat ikatan ayah dan bayi semakin erat. Mari kita lihat keadaan baby nya." Ucap Dokter kemudian Dokter melakukan USG, awalnya aku ragu karena ada Kak Nathan.
__ADS_1
Kak Nathan yang menyadari nya mengalihkan pandangan dan kemudian fokus menatap layar dan mendengarkan dengan jelas apa saja perkataan Dokter.
Tanpa di sadarinya, Kak Nathan tidak mengelak saat di sangka ayah bayi ku dan berlaku sebagai suami yang baik di depan Dokter. Menanyakan banyak hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh ku. Meski pun memang benar ini adalah anaknya, namun dia yang lupa ingatan membuatnya melupakan ku.
Namun aku tetap bersyukur, mungkin ini pertama dan terakhir kali nya kami memeriksa kandungan bersama. Karena tak mungkin ada kesempatan kedua lagi, namun aku berharap suatu saat ingatannya akan kembali dan dia akan mencari ku.
"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Kak Nathan.
"Tidak Kak terima kasih, aku sudah kenyang." Ucap ku menolak, namun tiba-tiba mobil berhenti dan Kak Nathan keluar dari mobil tanpa bicara apa pun.
"Mungkin ada perlu dulu, iya sudah aku tunggu saja." Gumam ku dan aku pun asik membalas pesan dari sahabat ku, sehingga tak menyadari Kak Nathan sudah masuk.
"Ini." Ucap nya, sambil memberikan bungkusan keresek kepada ku.
"Apa ini?" Tanya ku dan mulai membuka keresek tersebut.
"Rujak?" Tanya ku heran.
"Orang hamil suka rujak kan?" Tanya nya balik dan aku pun menelan ludah.
Memang benar, sudah beberapa hari ini aku ingin sekali makan rujak. Namun tidak ada penjual rujak yang keliling, jadi niatnya hari ini sepulang dari kampus aku akan membeli rujak. Tanpa di sangka Kak Nathan membelikan untuk ku, membuat aku terharu dengan sikapnya.
"Kak mau tidak?" Tanya ku sambil menawarkan rujak yang akan aku makan.
"Kamu tidak lihat saya sedang membawa mobil?" Ucap nya yang membuat aku menggaruk leher belakang ku yang tidak gatal.
"Iya juga iya! Iya sudah makan nya nanti saja kalau begitu." Ucap ku, sambil menutup kembali bungkusan rujak.
"Suapi." Ucap nya datar dan membuat aku terkejut.
"Kak mau aku menyuapi Kakak?" Tanya ku terkejut dan dia hanya berdehem, bergegas aku membuka kembali bungkusan rujak dan mulai menyuapi Kak Nathan rujak.
"Kamu jijik makan bekas saya?" Tanya nya.
"Maksud Kakak?" Ucap ku heran, tapi tetap menyuapi nya rujak. Ternyata dia menyukai rujak juga, apa mungkin ini bawaan bayi?
"Kenapa kamu tidak makan? Ucap nya.
__ADS_1
"Memang Kakak tidak jijik jika aku juga makan bareng sama aku?" Tanya ku, karena memang aku belum berani memakan rujak ini.
"Makan." Ucap nya dan akhirnya aku pun mulai memakan rujak bersama kak Nathan.
"Enak sekali." Ucap ku gembira, hingga tak terasa kami pun sampai di depan gerbang Kampus.
"Terimakasih banyak Kak." Ucap ku, kemudian aku pun turun.
Aku pun menghela napas dan memejamkan mata, tidak pernah menyangka bisa merasakan sedekat ini dengan Kak Nathan dan aku pun harus kembali kepada realita bahwa ini hanya kebetulan.
Hari ini aku pun sibuk membantu sahabat ku untuk mengerjakan skripsi mereka, setelah itu kami jalan-jalan dan menikmati kebersamaan kami hingga sore hari.
"Bye Ega!" Ucap aku dan Neysa sambil melambaikan tangan, setelah kami sampai di pantai asuhan tempat Ega tinggal.
"Bye! Hati-hati iya di jalannya." Ucap Ega yang juga melambaikan tangan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah ku.
"Va perut kamu semakin terlihat, apa Ibu tidak curiga?" Tanya Neysa sambil mengelus perut ku yang memang semakin membuncit, karena usia kandungan ku sudah 14 Minggu.
"Ibu belum curiga Sya! Aku bingung, harus apa? Ingin sekali jujur, tapi takut Ibu kecewa dan tidak mau memaafkan aku." Ucap ku sendu.
"Yang sabar iya! Tapi cepat atau lambat, kamu harus jujur sama Ibu. Aku yakin ibu pasti ngertiin kamu dan mau maafin kamu, semangat iya Va!" Ucap Neysa memberi semangat.
"Makasih banyak iya Sya." Ucap ku tulus, tak lama kami pun sampai di rumah ku.
"Sama-sama, sudah sana masuk!" Ucap Neysa.
"Oke! Kamu hati-hati iya di jalannya, assalamualaikum." Ucap ku.
"Siap! Wa'alaikum salam." Jawab nya dan mobilnya pun melaju meninggalkan rumah ku.
Aku pun berjalan masuk ke dalam rumah, setelah mengucapkan salam dan mencari Ibu di dalam.
"Bu. . . Ibu. . ." Panggil ku, namun ibu tidak menyahut dan aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Ceklek. . .
"Ibu kenapa?" Ucap ku terkejut melihat ibu terduduk di lantai sambil menangis, aku pun menghampiri ibu dan memeluk nya.
__ADS_1
"Ibu kenapa menangis? Ada apa? Cerita sama Eva." Ucap ku lembut.
"Siapa yang menghamili kamu?" Tanya Ibu di isak tangis nya.